
Malam itu, setelah Dicky dan Fitri beristirahat, mereka lalu di ajak Donny untuk berkeliling kota Jogjakarta.
Bi Sumi dan Mbok Jum tidak ikut, mereka memilih di rumah saja, menemani Bu Eni yang sekarang ini mudah lelah kalau berjalan jauh.
Apalagi sebentar lagi Tahun baru, Bi Sumi dan Mbok Jum ingin mempersiapkan acara malam tahun baru yang sebentar lagi datang itu.
Donny dan Dicky jalan-jalan dengan satu mobil saja, dengan Fitri dan Anita, beserta anak-anak mereka.
Setelah berkeliling di kota Jogjakarta, Donny lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan Malioboro itu, mereka turun kemudian berjalan kaki menyusuri jalanan yang tidak pernah sepi itu.
Sejak perjalanan tadi Dicky nampak diam saja, padahal anak-anak begitu riang, jarang-jarang terjadi momen kebersamaan ini.
"Papa Dicky kenapa sih? Kok diam saja dari tadi? Capek?" tanya Fitri.
Dia menggandeng suaminya saat mereka mulai menyusuri sepanjang jalan itu.
"Ma, aku baru pertama ini ke Jogjakarta, aku ingat Ibuku dan Ayahku, mereka juga orang Jogjakarta, itu berarti, ini adalah kampung halaman mereka!" ungkap Dicky.
"Oh, apakah Kau tidak ingin mengunjungi saudara atau kerabatmu di kota ini?" tanya Fitri.
"Aku tidak tau apakah aku punya saudara atau tidak di kota ini, Ibuku tidak pernah menceritakan apapun, apalagi tentang silsilah keluarga!" jawab Dicky.
Fitri menganggukkan kepalanya, Dicky belum lama mengenal siapa orang tua kandungnya, namun belum lama mengenal, Bu Anjani sudah keburu meninggal.
Padahal masih banyak hal yang Dicky belum ketahui, terutama masalah silsilah keluarganya.
Mereka berhenti di sebuah restoran lesehan yang ada di pinggir jalan Malioboro itu.
Donny memesan meja yang paling besar, dan merekapun duduk makan mengelilingi meja itu.
Anak-anak terlihat sangat antusias memilih makanan mereka, ini adalah suasana yang sangat menyenangkan, bisa bermain dengan sepupu sepuasnya.
"Pa, Ma, aku senang tinggal di sini, kita lama-lamain saja liburnya ya!" kata Alex.
"Lho, memangmya Alex tidak mau masuk sekolah?" tanya Fitri.
"Oh, oya ya!" sahut Alex sambil menggaruk kepalanya.
"Sudah pindah saja ke Jogja, biar bisa main sama Reino terus!" ujar Anita.
"Jangan tante, kasihan Papa! Kan Papa kerja di rumah sakit Jakarta, nanti Papa sendirian!" jawab Alex.
"Nah, anak Papa memang paling pintar!" kata Dicky sambil mengelus rambut Alex saat mendengar jawaban Alex.
Makanan yang mereka pesan sudah siap tersaji di meja makan itu, semua terlihat sangat nikmat dan menggunakan selera.
Kemudian mereka mulai menikmati santap malam mereka, dengan diiringi lagu klasik yang dinyanyikan oleh pengamen jalanan, yang bertebaran di sekitar sepanjang jalan itu.
Dicky juga tampak menikmati makanannya, namun malam ini dia tidak terlalu banyak makan.
"Tumben kau makan sedikit sekali? Apakah menunya kurang cocok di lidahmu?" tanya Donny.
"Mungkin, aku tidak terbiasa makanan yang terlalu manis, entah mengapa sejak sampai di Jogja, semua makanan yang aku makan terasa manis, terutama saat aku makan gudeg di rumahmu! "jawab Dicky.
__ADS_1
"Itu kau karena tidak terbiasa dokter, coba kalau 1 tahun saja tinggal di sini, semua makanan khas Jogjakarta, menjadi makanan favoritmu!" ujar Donny.
"Ah rasanya aku kurang menyukai makanan di Jogja ini, semua rasanya manis dan membuat kepalaku menjadi pusing!" sahut Dicky.
"Kau bisa memesan menu yang lain dokter, di sini juga ada ikan bakar atau ayam bakar, kau jangan khawatir!" ujar Donny.
Akhirnya Donny memesankan menu yang berbeda untuk Dicky, Dicky memang tidak terlalu menyukai makanan kas daerah Jawa Tengah atau Jawa Timur, yang cenderung manis.
Dia lebih menyukai makanan khas dari Jawa Barat seperti empal gentong atau soto mie atau bubur ayam.
Setelah Donny memesankan makanan yang berbeda, Dicky berubah menjadi lebih banyak makan daripada sebelumnya.
Setelah mereka selesai makan, Donny mengajak mereka untuk mengunjungi rumah kakek nya yang terletak tidak jauh dari Jalan Malioboro.
Mereka kembali ke tempat dimana mobil mereka terparkir, setelah itu Donny mengendarai mobilnya itu menuju ke rumah kakeknya, yang tidak terlalu jauh dari tempat itu, sekedar untuk memperkenalkan saudara dari Jakarta.
"Kita akan ke rumah kakek Cipto, kakek Cipto ini adalah kakekku satu-satunya yang masih ada di Jogjakarta, Ayahku telah lama meninggal, jadi aku hanya punya kakek di Jogja, beserta saudara-saudara yang lain, apalagi Ibuku juga sudah tidak ada!" ungkap Donny pada saat mereka berjalan menuju ke sebuah rumah yang letaknya tidak jauh dari tempat itu.
Rumah itu terlihat sangat luas, walaupun kelihatan sudah tua dan kuno, namun rumah itu seperti rumah bangsawan, Dicky berdecak kagum, ternyata Donny adalah keturunan seorang bangsawan.
Selama ini Dicky selalu meremehkan Donny, entah kenapa Dicky selalu sentimen padanya sejak dulu Donny pernah melecehkan Fitri, walaupun kini mereka sudah menjadi ipar, tapi tetap saja Dicky selalu tidak mau kalah saing oleh Donny.
"Apakah kakekmu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" tanya Fitri.
"kakekku hanya tinggal sendirian saja ditemani oleh beberapa apa Asisten, seminggu sekali aku dan anakku Mengunjungi kakek Cipto, Dia sangat senang sekali jika saudara atau kerabat yang mengunjunginya!" jawab Donny.
Donny kemudian memarkirkan Mobilnya di halaman rumah kakeknya itu, yang terlihat begitu luas, di sekelilingnya ada pohon-pohon besar sehingga suasana agak sedikit angker, namun karena penerangan dalam rumah itu begitu terang sehingga rasa seramnya memudar.
seorang Abdi dalam membukakan pintu rumah yang besar itu dengan menunduk hormat dia mempersilakan Doni peserta yang lainnya masuk ke dalam rumah itu.
"Ini rumah kakek aku lho, kakek buyut aku!" kata Reino. Alex kemudian menoleh kepada Papanya, lalu menatapnya.
"Papa, kakek buyutku siapa? Reno punya kakek buyut, lalu kakek buyutku siapa?" tanya Alex.
Dicky bingung menjawab pertanyaan Alex, dia sendiri juga tidak tahu siapa kakeknya, kalau dari pihak Bu Eni, kedua orang tua Bu Eni sudah tidak ada, demikian juga Pak karta, itu berarti Alex memang tidak punya kakek buyut.
"Selamat malam kakek Cipto!" sapa Donny.
Seorang kakek tua dengan didorong dengan kursi roda, muncul dari arah dalam rumah itu, wajahnya yang keriput tersenyum melihat kedatangan Donny beserta dengan anggota keluarganya yang lain.
"Kau datang bawa rombongan Donny! Siapa Mereka? Apakah mereka saudaramu dari Jakarta itu? Yang pernah kau ceritakan pada kakek?!" tanya kakek Cipto.
"Iya kek, mereka adalah keluargaku dari Jakarta!" jawab Donny.
"Masuklah dan duduklah, aku senang kalau setiap hari aku dikunjungi banyak orang begini, aku jadi berasa lebih muda dari usia ku yang sebenarnya!" Ucap Kakek Cipto dengan suara bergetar.
Mereka kemudian duduk disebuah ruang tamu yang desain yang amat begitu klasik seperti Keraton, beberapa pelayan yang ada di situ mulai menyuguhkan minuman hangat dan beberapa makanan ringan, walaupun Kakek Cipto tinggal sendirian di rumah ini, namun banyak pelayan-pelayan yang menemaninya.
"Sekarang aku sendirian di rumah ini, dulu aku punya tiga orang istri, namun sekarang Ketiga orang Istriku itu sudah pergi mendahului aku, Donny Ini adalah anak dari istri kedua aku, sebenarnya aku memiliki anak-anak yang lain, aku memiliki 15 anak dari ketiga Istriku itu!" kenang Pak Cipto sambil menunjuk foto 3 orang wanita beserta 1 orang pria yang terpampang besar di dinding ruang tamu itu.
Dicky dan Fitri mengamati dengan seksama foto itu, walaupun dibuat pada zaman dahulu namun memiliki kualitas gambar yang sangat bagus, sehingga di zaman sekarang ini warnanya tidak pudar walaupun masih berwarna hitam putih.
"Dulu aku ini adalah seorang priyai dan sangat tampan, Banyak wanita yang tergila-gila padaku! Tapi aku hanya memilih 3 orang wanita saja untuk pendamping hidupku, tapi siapa sangka, mereka justru pergi satu persatu meninggalkan aku!" lanjut kakek Cipto.
__ADS_1
Mereka yang duduk di ruangan itu mendengarkan dengan seksama Kisah Kakek Cipto, yang dengan gamblang diceritakan pada mereka.
Orang tua memang senang menceritakan masa lalunya terhadap anak dan cucu mereka, itu adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka.
"Kalian mau melihat keluarga besarku? Ayo Ikutlah aku!" kata kakek Cipto sambil memberikan kode kepada seorang pelayan, untuk mendorong kursi rodanya itu ke ruang tengah.
Mereka semua yang ada di situ pun mengikuti kakek Cipto melangkah ke ruang tengah yang sangat luas, bahkan lebih luas daripada ruang tamu.
Di ruang tengah itu banyak terdapat lukisan-lukisan kuno, juga foto-foto zaman dahulu yang kualitasnya terlihat masih sangat bagus.
"Ini adalah foto ke-15 anak-anakku, mereka berasal dari 3 orang istri!" kata kakek Cipto sambil menunjuk ke sebuah foto yang paling besar yang terpampang di ruangan itu.
Ada 15 orang laki-laki dan perempuan yang berdiri berjajar dengan 1 orang pria dewasa dan 3 orang wanita, itu adalah keluarga besar kakek Cipto.
Tiba-tiba mata Dicky tertuju pada salah seorang laki-laki remaja, salah satu dari 15 anak pak Cipto itu.
Dicky mengernyitkan keningnya, seperti familiar wajah yang dilihatnya itu, tiba-tiba jantung Diki berdetak dengan keras.
"kakek, anak kakek yang ini kalau boleh tahu siapa namanya?" tanya Dicky sambil menunjuk wajah orang yang dimaksud dalam foto tersebut.
Kakek Cipto kemudian langsung menoleh kearah gambar yang ditunjuk oleh Dicky, tiba-tiba wajahnya berubah mendung.
"Itu adalah anak Pertamaku dari istri pertama ku, Dia adalah seorang dokter yang hebat, namanya adalah Rahmat Pradita!" ucap kakek Cipto.
Semua orang yang ada di ruangan itu membulatkan matanya, mereka sangat terkejut bukan kepalang, mereka semua tahu kalau Rahmat Pradita itu adalah Ayah dari Dokter Dicky Pradita.
Selama ini Dicky memang tidak mengenal silsilah keluarganya, dia hanya mengenal ayah dan ibu kandungnya, beserta dengan saudara-saudara ibunya termasuk Ken dan Karina.
Saudara dari pihak Ayah karena ayahnya telah lama meninggal, Dicky tidak pernah mengenalnya sama sekali.
"Benarkah kek?" tanya Fitri.
"Ya Rahmat itu adalah putra kesayanganku, Tapi semua keluarga menentang saat dia menikah untuk yang kedua kalinya, dengan seorang rakyat jelata, padahal kami semua disini keturunan darah biru, sejak saat itu Rahmat pindah ke Jakarta, dan mendirikan rumah sakit di sana, hanya sesekali saja dia datang menjenguk aku bersama istri mudanya, Anjani!" jelas Kakek Cipto.
Dicky langsung terkesiap mendengar penjelasan kakek Cipto, dia sama sekali tidak menyangka kalau laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah kakek kandungnya sendiri.
Ada perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata, ini bisa dikatakan suatu kebetulan.
"Kakek, aku adalah putra tunggal dari Pak Rahmat Pradita, namaku adalah Dicky Pradita, aku adalah cucumu kek!" seru Dicky sambil bersujud di hadapan kakek Cipto dan mencium kedua tangannya.
Kakek Cipto nampak terkejut, seolah dia tidak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya, tiba-tiba air mata berjatuhan di kedua pipi laki-laki tua itu.
Bersambung ...
****
Hai guys ...
Bagi yang bisa dengan cerita halu, bisa membaca karya author yang terinspirasi dari kisah nyata, yang berjudul "Permadani Cinta"
Banyak mengandung bawang, di jamin baper ...
Yuk kepoin yuuk ...
__ADS_1