
Malam itu, hujan mengguyur begitu lebatnya, suasana begitu dingin dan mencekam, karena hujan lebat di sertai dengan petir dan kilat yang silih berganti dnegan suara menggelegar.
Semua penghuni di rumah Dicky sudah berada di dalam kamarnya masing-masing, kecuali dua orang security yang masih berjaga di pos security yang berada di sudut dekat gerbang, sayup-sayup terdengar musik dangdut dari arah pos security itu, untuk menghilangkan rasa sepi dan dingin mereka.
Fitri sudah tidur dan berselimut, sementara Dicky masih terlihat asyik di depan laptopnya, membaca keluhan pasien secara online.
Kini Dicky sudah punya aplikasi kesehatan yang di buatnya sendiri, untuk memudahkan komunikasi antara Dokter dan pasien.
"Sini Mas!" panggil Fitri dari arah tempat tidurnya.
"Ya sebentar lagi!" sahut Dicky yang matanya masih fokus ke layar laptop.
"Sini Mas!" panggil Fitri sekali lagi.
"Ada apa sih? Ini aku masih membalas pertanyaan pasien, kasihan kan kalau di cuekin!" sahut Dicky.
"Sini dulu!" panggil Fitri dengan suara yang agak ketus.
Dicky menoleh kemudian langsung mendekati Fitri yang kini terlihat cemberut.
"Ada apa sih sayang?" tanya Dicky.
"Mas, kok aku tiba-tiba pengen deh makan sate ayam!" ujar Fitri.
"Makan sate ayam? Aku suruh Bi Sumi buatkan ya?" tawar Dicky.
"Tidak mau Mas, aku ingin Mas Dicky yang beli sate ayam, yang dekat sekolahan itu ya Mas, itu yang paling enak!" jelas Fitri.
"Yang dekat sekolahan? Itu kan jauh Fit, mana di luar hujan lebat lagi, kita pesan online saja ya?" usul Dicky.
"Jangan pesan online Mas, kelamaan!" cetus Fitri.
"Ah, kamu kok tumben ngidam ngerjain suami, ini sudah malam Fit, sudah jam sepuluh malah!" ujar Dicky.
"Please Mas, lagi pengen banget ini, kamu tidak mau kan kalau adiknya Alex jadi ileran gara-gara keinginannya tidak di penuhi??" tanya Fitri.
"Hmm, kalau masih di rumah lama dulu sih dekat Fit, paling cuma setengah jam, tapi kalau dari rumah ini lumayan jauh, ngelewatin rumah kita dulu, yang sekarang di tempati si kampret!" jawab Dicky.
"Pokoknya aku mau makan sate ayam yang di situ! Demi anak kenapa sih Mas??" rengek Fitri.
"Iya deh sayang, apa sih yang tidak buat kamu, sejak dulu mana bisa aku menolak semua keinginanmu!" sahut Dicky yang langsung mengambil jaket nya dari dalam lemarinya, karena cuaca begitu dingin.
"Hati-hati ya Mas!" ucap Fitri saat Dicky akan bersiap pergi.
__ADS_1
Dicky hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, kemudian dia keluar dari kamarnya, lalu menuruni tangga dan berjalan ke arah pintu depan.
Kebetulan saat melewati ruang makan, Bu Eni nampak sedang membuat minuman hangat, dia mengerutkan keningnya saat melihat Dicky yang berjalan ke arah luar.
"Kamu mau kemana Dicky??" tanya Bu Eni.
"Mau keluar sebentar Bu, Fitri mau makan sate ayam!" sahut Dicky.
"Makan sate ayam? Kok makan sate ayam malam-malam begini, kayak orang ngidam saja!" gumam Bu Eni heran.
"Ya memang sedang ngidam!" batin Dicky.
"Kamu hati-hati Nak, hujan begini lebat, biasanya kan Jakarta banjir!" ujar Bu Eni memperingatkan.
"Terimakasih Bu! Aku lewat jalan alternatif yang bebas banjir!" jawab Dicky.
Dicky kemudian berjalan ke arah garasi mobilnya Mang Salim kebetulan sedang duduk di teras sambil minum kopi, memandang hujan yang masih belum reda.
"Lho, pak Dokter mau kemana malam-malam begini?" tanya Mang Salim.
"Mau keluar Mang, istriku sedang ingin makan sate ayam!" jawab Dicky.
"Biar saya yang belikan Pak Dokter, kebetulan saya lagi tidak ada kerjaan ini!" tawar Mang Salim.
Security kembali menutup gerbang rumah yang tadi terbuka itu.
Dicky terus menyusuri jalan yang kini masih hujan rintik-rintik.
Sepanjang jalan terlihat sepi dan lengang.
Saat Dicky sedang berjalan menuju ke arah sekolah, di halte sisi sebelah kiri jalan, mata Dicky menangkap sosok yang berdiri di depan halte tersebut.
Dengan reflek Dicky lalu berhenti di depan halte itu.
"Anita??" Dicky lalu membuka kaca mobilnya.
"Hei! Ngapain kau di halte sendirian?? Mana suamimu?!" teriak Dicky dari dari dalam mobil.
"Tidak apa-apa! Aku sedang menunggu taksi!" sahut Anita.
"Berbahaya perempuan pulang sendirian malam-malam, apalagi naik taksi, ayo ku antar pulang!" tawar Dicky.
"Tapi ..."
__ADS_1
"Jangan pikir aneh-aneh, kebetulan aku melewati rumah kalian, aku mau beli sate buat Fitri di depan sekolah!" potong Dicky cepat.
"Sebenarnya aku ..."
"Ayo cepat naik, waktuku tidak banyak!" titah Dicky.
Anita kemudian naik di jok tengah mobil Dicky. Dicky kemudian melanjutkan perjalanannya.
"Sebenarnya kau mau kemana? Mau pulang kan?" tanya Dicky.
"Sebenarnya aku ... sedang mencari Donny, dia belum pulang ke rumah sejak dari pulang mengajar, aku sudah mencarinya ke tempat teman-teman sesama guru, ponselnya juga tidak aktif!" jawab Anita.
"Huh! Si kampret nyusahin saja!" dengus Dicky.
"Dicky, aku tidak ingin merepotkan mu, nanti turunkan aku di depan rumah saja!" ujar Anita.
"Oke!" sahut Dicky.
Jalanan menuju ke sekolah nampak macet karena ada genangan air yang cukup dalam, Dicky tidak bisa memutar arah karena di belakangnya sudah panjang antrian kendaraan.
"Ah sial! Kenapa jadi terjebak macet begini!" sungut Dicky.
"Kalau begitu, biar aku jalan kaki saja pakai payung, rumah nya tidak jauh lagi kan!" kata Anita.
"Jangan Ta, mana mungkin aku tega membiarkan saudara istriku jalan kaki, sementara aku naik mobil!" sahut Dicky.
Anita terdiam beberapa saat lamanya, pantas saja keluarga Fitri nampak begitu harmonis dan bahagia, lelakinya selalu menghormati dan menghargai wanita.
Sekitar lima belas menit terkena macet, akhirnya mereka sampai juga di depan rumah itu.
Pintu gerbang rumah nampak terbuka, dan lampunya menyala terang, menandakan ada orang di dalam sana.
Anita kemudian turun dari mobil di susul oleh Dicky.
Baru saja beberapa langkah mereka berjalan ke arah gerbang, Donny sudah berdiri di depan gerbang dengan sorot mata yang menatap tajam.
Buggghh!!!
Tiba-tiba Donny maju dan menonjok wajah Dicky, hingga Dicky jatuh tersungkur.
Bersambung ....
****
__ADS_1