Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dicky Mulai Posesif


__ADS_3

Pagi itu, saat matahari baru muncul di ufuk timur, Fitri bangun kemudian langsung turun dari ranjangnya. Dicky nampak masih tidur dengan begitu nyenyak, mungkin terlalu lelah semalam dia menumpahkan hasratnya pada Fitri, mereka bercinta sebanyak lima kali dalam semalam.


Perlahan Fitri keluar dari kamarnya, lalu dia turun ke bawah, berniat membuat sarapan pagi.


Bi Sumi nampak sedang menjemur pakaian di taman belakang, bahan untuk sarapan juga sudah di siapkan oleh Bi Sumi, Fitri langsung membuatkan sarapan nasi goreng spesial.


Setelah selesai dan menyajikannya di meja makan, Fitri kembali naik ke atas menuju ke kamarnya.


Dicky terlihat sudah mandi dan rapi, hari ini dia ada jadwal ke rumah sakit.


"Wah, kau sudah rapi Mas, sudah tampan dan wangi!" ucap Fitri.


"Hari ini aku yang akan mengantar jemputmu ke sekolah, jadi kau jangan naik ojek lagi!" sahut Dicky.


"Tapi Mas ..."


"Jangan membantahku sayang, sekarang kau lekas lah mandi, aku akan menunggumu di sini!" potong Dicky cepat sambil mengecup pipi Fitri.


"Mas Dicky ini apaan sih, aku belum mandi tau, jangan cium-cium!" cetus Fitri.


"Masih harum kok sayang, hanya sedikit, terimakasih ya untuk tadi malam!" ucap Dicky sambil mengelus dagu Fitri.


Tanpa menunggu lagi Fitri langsung bergegas masuk ke kamar mandi, dia mulai mandi.


Saat selesai mandi Fitri lalu keluar dari dalam kamar mandi, dia terkejut saat Dicky tiba-tiba memeluknya.


"Sayang, aku menginginkannya lagi!" bisik Dicky yang membuat bulu kuduk Fitri meremang seketika.


"Mas, kita harus berangkat sekarang, kau harus ke rumah sakit, aku harus mengajar di sekolah!" sergah Fitri sambil mengurai pelukan Dicky.


Fitri lalu mulai mencari pompa ASI nya, biasanya pagi-pagi dia selalu memompa ASI nya.


"Mas Dicky, pompa ASI ku di mana ya? Seingatku aku menaruhnya di meja ini!" tanya Fitri.


"Aku sudah membuangnya Fit!" sahut Dicky.


"Kenapa di buang Mas?" tanya Fitri lagi.


"Selama ini kau sudah menyumbang begitu banyak ASI, dan sekarang produksi ASI mu sudah sedikit, jadi tidak usah pakai pompa lagi!" jawab Dicky.


"Dari mana Mas Dicky tau kalau ASI ku tinggal sedikit?" tanya Fitri sambil menatap suaminya itu.


"Semalam aku sudah menghisapnya begitu kuat dan berkali-kali, tapi hanya beberapa tetes yang keluar, sudahlah sayang, jika kau ingin memompanya lagi, kau bisa panggil aku!" jawab Dicky sambil tersenyum.


Wajah Fitri langsung memerah mendengar ucapan Dicky.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi dia langsung bersiap-siap, menyisir rambutnya dan sedikit memoles wajahnya.


Fitri agak risih karena Dicky selalu menatap dan memperhatikannya, terlihat dari pantulan di cermin meja rias.


Mereka kemudian turun ke bawah untuk sarapan. Dicky terlihat makan dengan lahapnya.


"Kau yang masak nasi goreng ini sayang?" tanya Dicky.


"Iya Mas, rasanya aneh ya, maklum aku terburu-buru membuatnya!" sahut Fitri.


"Rasanya luar biasa nikmat, senikmat pelayananmu tadi malam!" bisik Dicky.


"Jangan bicarakan itu lagi Mas! Kau mulai nakal!" cetus Fitri.


"Entah mengapa, baru kali ini aku merasakan kebahagiaan, terimakasih ya Fit, kau memberi warna dalam hidupku!" ucap Dicky sambil menggenggam hangat tangan Fitri, kemudian menatapnya dalam.


Bi Sumi yang memperhatikannya dari dapur hanya senyum-senyum sendiri melihat kemesraan Dicky dan Fitri.


Mereka kemudian berangkat ke sekolah.


"Pokoknya jam 12 nanti kau jangan pulang sendiri ya Fit, aku akan menjemputmu!" kata Dicky sambil mengendarai mobilnya.


"Tapi Mas, aku baru pulang jam 1 hari ini, kenapa sih kau begitu repot mengantar jemputku, seolah-olah aku anak kecil!" tukas Fitri.


"Aku hanya tidak rela kau berboncengan dengan tukang ojek!" sahut Dicky.


"Itu karena aku cemburu!" cetus Dicky.


"Cemburu? Kau cemburu dengan tukang ojek? Tidak masuk akal!" gumam Fitri.


"Sudahlah sayang, harusnya kau bangga aku mengantar jemputmu, itu namanya suami siaga, siap antar jaga!" ucap Dicky sambil mencubit gemas pipi Fitri.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di parkiran sekolah.


Fitri segera beranjak turun dan berjalan cepat menuju ke lobby, karena bel tinggal lima menit lagi.


"Fitri!!" panggil Dicky dari arah mobilnya yang belum beranjak.


Fitri menoleh dan melihat Dicky yang melambaikan tangannya memanggilnya.


Akhirnya Fitri kembali menghampiri suaminya itu.


"Ada apa lagi Mas?" tanya Fitri.


"Kau belum cium tanganku!" jawab Dicky sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, maaf Mas, aku lupa karena buru-buru!" Fitri dengan cepat mencium tangan Dicky.


"Kau juga belum mencium aku!" tambah Dicky.


"Kalau itu sih kemauanmu!" cetus Fitri yang langsung mencium pipi dan bibir Dicky sekilas. Ada senyum cerah yang terpancar di wajah Dicky.


Kemudian dengan cepat dan setengah berlari Fitri segera masuk ke dalam. Dia naik menuju ke lantai atas ke kelasnya.


Saat dia sudah masuk kelas, batu bel sekolah berbunyi, Fitri menarik nafas lega.


Di lihatnya semua murid masuk semua, ada rasa senang dalam hati Fitri.


Dia lalu segera menghampiri Dara dan melihat ke bawah, ke arah sepatunya, Fitri agak sedikit terkejut saat melihat Dara memakai sepatu bekas, bukan baru, padahal uang yang Fitri berikan sangat cukup untuk membeli sebuah sepatu baru.


"Dara, sepatu siapa yang kau pakai?" tanya Fitri.


"Ini sepatu beli di tukang loak Bu, tapi masih bisa di pakai!" jawab Dara jujur.


"Kenapa ibumu tidak membelikan mu sepatu baru?" tanya Fitri lagi.


"Kata Emak uangnya sayang Bu, mending buat beli makan dan bayar hutang!" sahut Dara sambil menunduk.


Tiba-tiba Meira mendekati Dara dan mengulurkan bungkusan besar untuk Dara.


"Ini sepatu-sepatu aku Dara, sepatuku banyak, kamu pakai saja, kata Daddy kita harus berbagi dengan orang lain, ini buat Dara semua!" kata Meira.


Dara menerima bungkusan itu dan dia langsung membukanya. Ada dua pasang sepatu yang masih sangat bagus milik Meira, ukurannya juga pas, ada senyum kegembiraan dari wajah Dara.


"Terimakasih Meira, ini bagus banget!" seru Dara senang.


"Sama-sama Dara!" Meira pun kembali duduk ke bangkunya.


Tanpa sadar, ada cairan bening yang menetes di pipi Fitri, dia terharu melihat seorang anak kecil yang sudah mengerti arti berbagi, perkara kecil tapi sangat menyentuh hati.


Fitri kemudian kembali ke meja kerjanya. Dia menatap satu persatu murid-muridnya yang berbeda latar belakang dan kebudayaan itu.


"Anak-anak, ayo kita lanjutkan pelajaran hari ini! Keluarkan buku cetak Matematika!" ujar Fitri sambil mulai mengeluarkan buku pelajarannya.


"Saya tidak punya buku Bu!"


"Saya juga Bu!"


"Buku-bukunya mahal Bu!"


Beberapa murid tiba-tiba mengacungkan tangan mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2