
Dua bulan kemudian
Klinik baru tempat Dicky membuka klinik praktek Dokter 24 Jam sudah berdiri, Dicky memakai jasa konstruksi yang profesional, sehingga pembangunan klinik itu bisa selesai dalam waktu dua bulan.
Plang klinik juga baru selesai di pasang, dan mulai besok Dicky berencana sudah mulai membuka prakteknya.
Semua biaya pembangunan klinik murni dari uang tabungan Dicky selama ini, di tambah dengan uang pinjaman yang Dio kembalikan.
Entah mengapa estimasi pembangunan sungguh di luar dugaan, tidak ada kekurangan dana sedikitpun, meskipun Dicky harus merelakan uang tabungannya ludes, dan dia harus menabung lagi dari awal.
Pagi itu dengan penuh semangat, Dicky memulai aktifitasnya, dia mengepel dan mempersiapkan peralatan untuk prakteknya nanti yang akan mulai di buka pada jam 9 pagi.
Sementara Fitri juga bersiap pergi ke sekolah untuk mulai kembali mengajar.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Dicky mengijinkan Fitri untuk kembali mengajar.
"Kau sudah siap Fit?" tanya Dicky seusai sarapan pagi.
"Sudah Mas, aku dan anak-anak di antar Mang Salim saja, bukannya kau harus persiapan ya pagi ini?" sahut Fitri.
"Untuk hari pertama, biarkan aku yang mengantar Fit, aku ingin pastikan kau sampai dengan selamat!" ucap Dicky.
"Mas Dicky berlebihan ah! Lagi pula aku hanya mengajar sampai jam 1 siang, sisanya waktuku untuk suami dan anak-anakku!" kata Fitri.
"Iya, aku tau sayang, tapi masa Sumi mau mengantar istrinya tidak boleh!" rajuk Dicky. Wajahnya mulai cemberut.
"Ya boleh lah Mas, tapi bagaimana kliniknya? Masa di tinggal Dokternya, nanti kalau ada pasien yang mau periksa gimana?" tanya Fitri.
"Ya aku tutup sementara lah, lagi pula kan ini masih pagi, biasanya dulu pasienku akan datang di atas jam 9!" tukas Dicky.
"Hmm, baiklah suamiku yang ganteng, hari ini kau boleh mengantarku dan anak-anak!" ucap Fitri sambil mencubit gemas dagu suaminya itu.
Mereka kemudian mulai bersiap berangkat.
"Mang Salim, pagi ini biar Mas Dicky yang mengantar kami ya, nanti pas pulang mengajar dan sekolah baru Mang Salim jemput!" ujar Fitri pada mang Salim yang baru selesai mencuci mobil.
Dina dan Dara nampak naik ke dalam mobil dan duduk manis di dalam mobil.
"Iya deh Mbak Fitri, hati-hati ya!" sahut Mang Salim sambil menyerahkan kunci mobil ke arah Dicky.
__ADS_1
"Dah Alex, jangan cengeng ya, Mama mau ngajar dulu, main sama Bi Sumi ya, nanti siang kita ketemu lagi oke??" Ucap Fitri sambil mengecup Alex yang ada dalam gendongan Bi Sumi.
"Papa antar Mama dulu ya sayang, nanti Papa akan kembali main sama Alex!" tambah Dicky sambil mengelus rambut Alex.
Mereka berdua lalu segera naik ke dalam mobil.
Dina dan Dara nampak senang karena Papa Dicky yang mengantar mereka ke sekolah.
Setelah mengantar Dina ke sekolah SMP nya, mereka lalu ke sekolah Dara, karena Fitri juga akan mulai mengajar di sana.
Dicky mulai memarkirkan kendaraannya di parkiran sekolah, mereka kemudian turun dan langsung menuju ke ruang Pak Jamal kepala sekolah, sementara Dara langsung masuk ke kelasnya.
"Selamat Pagi Pak Dokter, Bu Fitri, senang sekali akhirnya Bu Fitri bisa kembali bergabung di sekolah ini, Pak Kevin pasti akan sangat senang, begitu pula dengan para murid di sini, mereka sangat merindukan Bu Fitri!" ucap Pak Jamal.
"Terimakasih Pak, saya titip istri saya di sini, pastikan dia selalu aman tanpa gangguan!" ujar Dicky.
"Siap Pak Dokter, pokoknya aman terkendali!" sahut Pak Jamal sambil memainkan janggutnya yang panjang.
"Terimakasih Pak, sekarang saya pegang kelas berapa ya Pak? Apakah masih sama dengan yang dulu? Kelas satu?" tanya Fitri.
"Bu Fitri sekarang mengajar kelas empat, karena kebetulan guru kelas empat baru cuti melahirkan, dan tidak tau apakah dia masih akan mengajar lagi atau tidak!" jawab Pak Jamal.
"Mas Dicky pulang saja, aku juga akan segera masuk kelas!" kata Fitri.
"Baiklah Fit, aku pulang ya, pokoknya kau harus sering-sering menelepon aku!" cetus Dicky.
"Ya ampun Mas, aku kan mengajar cuma setengah hari, bukan seharian!" tukas Fitri.
"Tapi tetap saja, kangen!" bisik Dicky.
Fitri mendorong lembut dada Dicky agar segera menjauhinya, karena bel masuk telah berbunyi.
"Cium dulu Fit sedikit!" pinta Dicky.
Dengan gerakan cepat Fitri lalu mencium kedua pipi Dicky. Dicky tersenyum senang.
Kemudian Dicky segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Saat Fitri telah sampai di ruang guru, para guru yang bersiap akan mengajar terkesiap melihat kedatangan Fitri.
__ADS_1
"Bu Fitri!!" pekik Bu Erna sambil memeluk Fitri. Di susul oleh guru yang lainnya.
Mereka semua saling berpelukan melepas rindu, kecuali Bu Sita yamg nampak duduk melamun di pojok ruangan di meja kerjanya.
"Bu Sita kenapa duduk sendirian dan melamun?" tanya Fitri pada Bu Erna dan Bu Ria.
"Ssst, dia sedang patah hati, sejak calon suaminya memutuskan hubungan dengannya dan kini telah menikah dengan wanita lain!" bisik Bu Erna.
"Ooo, jadi Bu sita sudah putus beneran ya sama Pak Adi pengacara itu?" tanya Fitri.
"Iya, sekarang sudah tidak ada lagi yang dia banggakan! Sebelumnya dia selalu memamerkan calon suaminya itu!" lanjut Bu Ria.
Mereka kemudian bergegas ke kelas masing-masing untuk mengajar.
****
Sementara itu di tempat kediaman Bu Anjani, wanita itu terlihat sedang menerima tamu dari rumah sakit, dia adalah Dokter Tika.
Sejak Dicky mengundurkan diri, untuk sementara Dokter Tika lah yang menggantikannya, karena Dokter Tika cukup senior di rumah sakit besar itu.
Mbok Jum nampak membawa nampan yang berisi minuman, lalu di letakan di atas meja tamu itu.
Kemudian dia segera kembali lagi ke belakang.
"Apa yang hendak kau bicarakan Dokter Tika?" tanya Bu Anjani.
"Begini Bu, sejak Dokter Dicky mundur, beberapa Dokter dan perawat juga ikut mengundurkan diri, entah dengan alasan apa, jumlah pasien semakin hari juga semakin berkurang Bu!" jawab Dokter Tika.
"Kenapa bisa terjadi seperti itu? Apakah mereka kekurangan gaji atau fasilitas?" tanya Bu Anjani.
"Bukan Bu, gaji mereka tetap, bahkan sesuai dengan perintah Ibu, gaji para Dokter dan perawat serta karyawan lainnya di naikan 10 persen, tapi tetap saja mereka banyak yang mundur!" jawab Dokter Tika.
"Lalu, kenapa pasien juga ikut berkurang jumlahnya? Apakah sudah jarang orang yang sakit? Atau pelayanan di rumah sakit kurang??" tanya Bu Anjani semakin cemas.
"Untuk pelayanan saya rasa tidak berkurang, hanya saja ... mereka selalu menanyakan Dokter Dicky, terutama pasien anak-anak!" jawab Dokter Tika.
Bu Anjani terdiam beberapa saat lamanya.
Bersambung ...
__ADS_1
****