Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Keganjilan Di Rumah Sakit


__ADS_3

Malam itu Dicky tidak bisa tidur, dia terus memikirkan soal perubahan sikap Pak Bram, walaupun ini terlihat soal sepele, tapi Dicky belum menemukan jawaban mengapa Pak Bram bisa bersikap seperti itu padanya, di tambah lagi, Pak Bram yang mengurus soal administrasi rumah sakit sendirian, apakah Bu Anjani mengetahui soal ini?


Suasana rumah sudah terlihat sepi, Fitri belum lama tertidur sehabis menyusui Alex, Alex pun nampak nyenyak tertidur di tempat tidurnya.


Dicky kemudian beranjak bangkit dari posisi berbaringnya, lalu dia melangkah keluar dari kamarnya.


Di dapur juga nampak sepi, Bi Sumi mungkin juga sudah tidur di kamarnya, Dicky berjalan menuju ke teras rumahnya, kemudian dia duduk di teras itu.


Matanya tertuju pada tumpukan barang yang ada di sudut teras rumahnya itu.


Tumpukan barang itu seperti paket yang tidak pernah di buka. Dicky mulai mengerutkan keningnya.


"Pak Dokter belum tidur? Sedang apa di sini?" tanya Mang Salim mengejutkan Dicky.


"Eh, Mang Salim juga belum tidur?" tanya Dicky balik.


"Belum Pak, saya keliling lihat-lihat suasana, eh malah melihat Pak Dokter lagi duduk di sini!" sahut Mang Salim yang kini duduk di sebelah Dicky.


"Aku belum bisa tidur Mang, itu ngomong-ngomong bungkusan apa ya Mang? Kok di tumpuk di situ?" tanya Dicky.


"Oh, ini paket-paket buat Bu Fitri, yang pengirimnya tidak jelas itu Pak, Bu Fitri kan tidak mau terima, si kurir tidak tau mau mengembalikan ke mana, akhirnya saya tumpuk saja di situ, bingung mau di apain!" sahut Mang Salim.


"Kurang ajar! Dia ternyata masih berani mengirimkan istriku sesuatu!" geram Dicky.


"Pak Dokter kenal sama yang kirim?" tanya Mang Salim.


"Ya kenal lah! Siapa lagi kalau bukan si kampret!" cetus Dicky sambil beranjak meninggalkan teras itu lalu menuju kembali ke kamarnya.


"Si kampret? si Kampret siapa ya?" gumam Mang Salim bingung.


Setelah sampai di kamarnya, Dicky langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang nya itu, hingga membuat Fitri kaget dan terbangun.


"Mas Dicky dari mana? Kok keringetan Mas?" tanya Fitri sambil mengusap wajah Dicky dengan tangannya.


Dicky tidak langsung menjawab, hatinya sedang kesal.


"Mas, kenapa sih? Apa ada masalah?" tanya Fitri lagi.


"Iya, besok aku mau melabrak si kampret itu! Tidak kapok ternyata dia aku ancam!" cetus Dicky.


Fitri mengerutkan keningnya.


"Si kampret siapa Mas?" tanya Fitri bingung.


"Siapa lagi kalau bukan guru gadungan itu!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Guru gadungan? Pak Donny maksudnya??" tanya Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.


"Oalaa Mas ... Mas, kamu kok lucu kasih julukan sama Pak Donny, ya kampret lah, guru gadungan lah, ada-ada saja!" ucap Fitri sambil tertawa.


"Sudah jangan sebut nama si kampret itu lagi! Aku muak dengan caranya yang kampungan! Segala kirim paket, bikin sampah makin menumpuk saja di rumahku!" cetus Dicky.


"Sudah ah Mas, lebih baik Mas Dicky tidur sekarang, katanya besok mau berangkat pagi, ada yang mau di lihat di kantor administrasi katanya!" ujar Fitri mengingatkan.


"Iya Fit, sampai aku lupa deh besok ada misi, gara-gara si kampret!" sahut Dicky.


Fitri tersenyum kemudian menyelimuti tubuh suaminya itu dan mengecup keningnya, supaya suaminya itu dapat segera tidur dan menjadi tenang.


****


Keesokan harinya, sebelum ke rumah sakit, Dicky menyempatkan diri pergi ke rumah Donny untuk memberinya perhitungan.


Namun setelah sampai di depan warung di dekat rumah Donny, dan Dicky menunggu Donny keluar dari rumahnya, sudah hampir setengah jam Donny belum muncul juga, rumah Donny juga terlihat sepi, biasanya Ibunya Donny suka berjemur di depan rumahnya dengan kursi roda.


Akhirnya Dicky berjalan ke warung yang ada di depannya, sekedar untuk menanyakan soal Donny.


"Selamat pagi Bu!" sapa Dicky pada sang pemilik warung.


"Pagi, eh kayaknya pernah lihat deh, di mana ya?!" gumam si pemilik warung.


"Pernah Bu, yang dulu cari alamat Donny Suhardi!" sahut Dicky setengah geli menyebut nama Donny.


"Oya? Sejak kapan?" tanya Dicky.


"Sejak sebulan yang lalu, setelah ibunya meninggal, Pak Donny memutuskan untuk pulang kampung, karena dia tidak sanggup tinggal di rumah itu lagi, karena selalu ingat ibunya terus katanya!" jelas si ibu pemilik warung.


Dicky terkesiap, berarti sudah sebulan ini Donny pulang kampung karena ibunya meninggal, lalu siapa yang mengirimkan paket-paket itu setiap hari untuk Fitri?


Akhirnya Dicky bergegas pergi meninggalkan tempat itu, dia terus bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah yang mengirimkan paket itu untuk istrinya selain Donny.


Hingga tak sadar Dicky sudah sampai di rumah sakit, sesuai niat awal, dia langsung bergegas menuju ke ruang administrasi.


Tanpa bertanya lagi Dicky segera masuk ke dalam ruangan itu, ada beberapa staf di sana yang bekerja di bagian administrasi.


Mila, kepala bagian administrasi langsung menghampiri Dicky saat melihatnya datang ke ruangan.


"Selamat pagi Dokter Dicky!" sapa Mila.


"Pagi, bagaimana Mila, sudah kau print out laporan administrasi bulan lalu?" tanya Dicky.


"Sudah Dokter, sebentar ya!" Mila segera ke bagian dalam dan mengambil beberapa berkas, lalu menyodorkannya di depan Dicky.

__ADS_1


"Ini laporan bulan lalu, lumayan omset meningkat drastis Dokter, biasanya Pak Bram yang mengambil berkas ini, lalu di laporkan ke Bu Anjani!" jelas Mila.


"Baiklah, kalau begitu aku bawa dulu ya berkasnya!" kata Dicky.


"Silahkan Dokter!" jawab Mila.


"Terimakasih!" ucap Dicky sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


Dicky lalu segera masuk ke dalam ruangannya yang baru, yang lebih luas dan nyaman, bukan ruangan praktek, tetapi ruangan pribadi.


Kemudian dia segera duduk di kursi kebesarannya yang maha empuk dari sebelumnya, dia mulai membaca dan mempelajari berkas yang kini ada di tangannya.


"Wah, lumayan besar juga omset rumah sakit ini, padahal banyak pengobatan gratis, di tambah lagi dengan biaya gaji para Dokter dan perawat, di tambah staff dan karyawan lainnya!" gumam Dicky.


Tok ... Tok ... Tok


Pintu ruangan Dicky di ketuk dati luar, Bu Anjani masuk sambil tersenyum ke arah Dicky.


"Selamat pagi Nak, betah tidak di ruangan barumu?" tanya Bu Anjani.


"Selamat pagi Ibu, ruangan ini sangat bagus dan nyaman, aku suka berlama-lama ada di ruangan ini!" sahut Dicky.


Bu Anjani kemudian duduk di hadapan Dicky.


"Kapan-kapan ajak Fitri dan Alex ke sini, sambil menemanimu bekerja memeriksa pasien, kau pasti akan lebih semangat!" ucap Bu Anjani.


"Ibu benar, aku pasti akan lebih semangat bekerja jika ada mereka bersamaku, nanti setelah Alex agak besar pasti aku akan membawanya ke sini!" jawab Dicky.


"Kau sedang membaca apa Nak?" tanya Bu Anjani.


"Ini Bu, laporan keuangan bulan lalu, dari kantor administrasi!" jawab Dicky sambil menyodorkan berkas itu.


"Mana sini Ibu lihat!" Bu Anjani lalu segera membaca isi laporan itu.


"Hah??!" Tiba-tiba Bu Anjani membulatkan matanya saat melihat isi penting dari berkas itu.


Bersambung ...


****


Buah mangga si manalagi


Sampai jumpa besok lagi ...


Jangan lupa dukungannya guys

__ADS_1


Like, rate, vote, komen, juga hadiah


Terimakasih 😘🙏


__ADS_2