
Praaang!!
Terdengar suara benda jatuh dan pecah dari ruang keluarga, Dicky, Fitri dan Dio yang sedang asyik mengobrol nampak terkejut.
Fitri kemudian langsung berdiri dan berjalan ke ruang keluarga.
Nampak olehnya, sebuah guci mahal hadiah dari rekan sesama Dokter Dicky dari Turki jatuh berkeping-keping.
"Siapa yang memecahkan guci ini?!" tanya Fitri.
"Itu Ma, ada anak nakal yang lari-lari, di bilangin malah melempar barang, pas lari nyenggol guci!" sahut Dara yang baru sampai dari tokonya Bu Romlah sambil menunjuk ke arah Chika.
Chika bukanya merasa bersalah malah kembali berlari sambil tertawa emenag karena ulahnya itu.
Bi Sumi langsung membersihkan pecahan guci itu.
Fitri kemudian kembali ke ruang tamu itu dan duduk kembali bersama dengan Dicky dan Dio.
"Pasti Chika yang berbuat ulah!" keluh Dio.
Chika datang dan langsung duduk di samping Dio sambil tertawa senang.
"Chika! Apa yang kau lakukan??" tanya Dio melotot ke arah Chika.
"Hahaha aku berhasil, Barang itu bisa pecah!! Semua orang takut hahaha!" jawab Chika cengengesan, tidak ada rasa bersalah sama sekali di wajahnya.
"Chika!! Minta maaf sama Om Dokter dan Tante Fitri!!" Hardik Dio yang merasa tidak enak karena ulah Chika.
"No!" sahut Chika dengan jari telunjuk yang di goyang-goyangkan di udara.
"Chikaaa!!" Dio terlihat hilang kesabaran.
"Sabarlah dulu Dio, dia masih kecil!" sergah Dicky.
"Asal kau tau Dokter, dia baru saja di keluarkan dari sekolah play group nya karena memukul kepala teman sampai berdarah, orang tuanya menuntut, dan akhirnya pihak sekolah mengeluarkan Chika dari sekolah akibat demo beberapa orang tua murid!" ungkap Dio.
"Ya ampun Chika, apa sampai separah itukah? Kenapa dia jadi seperti itu Dio??" tanya Fitri yang merasa prihatin.
"Aku juga tidak tau Bu Fitri, semakin hari kelakuannya semakin menjadi-jadi, sudah berapa suster dan asisten rumah tangga yang berhenti kerja gara-gara tidak kuat menghadapi Chika, aku sendiri bingung dan hampir putus asa!" ungkap Dio.
__ADS_1
"Kasihan sekali kau Dio, pasti sangat berat beban hidupmu, istrimu masih koma, sementara Chika semakin besar, butuh perhatian dan kasih sayang, sedangkan kau harus bekerja juga sebagai single parent!" ucap Dicky.
"Sekarang aku sedang mencari sekolah lagi untuk Chika, berharap dia akan bisa berubah melakui sosialisasi, mungkin kalian ada rekomendasi?" tanya Dio.
"Mas, itu si Dinda pacarnya Ken, dia kan guru TK, bukankah dia mengajar di sekolah yang bagus ya?" kata Fitri.
"Iya, tapi Ken kan sedang di Jepang!" sahut Dicky.
"Kenapa harus bertanya pada Ken, aku tau kok nomor ponselnya Dinda!" ujar Fitri.
"Ya, mungkin kau bisa mendaftarkan Chika di sekolah itu Dio, mudah-mudahan dia bisa berubah, jangan lupa kau sering-sering mendampinginya, dia bukannya nakal, dia hanya butuh perhatian!" ucap Dicky.
Dio menganggukan kepalanya.
Chika kini nampak tertidur di samping Dio, mungkin dia lelah karena terus lari-larian sedari tadi.
"Dokter, sepertinya aku harus pamit, mumpung Chika sedang tidur, atau dia akan berulah lagi!" ujar Dio yang langsung berdiri dan menggendong Chika.
"Kau hati-hayilah menyetir Dio!" kata Dicky memperingatkan.
"Iya, sekali lagi aku terimakasih ya, atas semua masukan kalian!" sahut Dio yang langsung berjalan keluar dan meletakan Chika di jok mobilnya, kemudian dia segera naik ke dalam mobilnya dan melajukannya perlahan keluar dari rumah Dicky.
"Kasihan Dio ya Mas, dia pasti beban berat mengurus Chika sendirian, Ranti juga tidak ada perubahan, kasihan keluarga mereka!" ucap Fitri prihatin.
"Iya Fit, Chika tumbuh tanpa adanya kasih sayang Ibu, dulu aku juga begitu, tapi untung ada Ibu Nuri yang merawat aku dengan kasih sayang, di sini aku sadar, betapa pentingnya peran seorang Ibu!" lanjut Dicky.
"Kau benar Mas, aku tidak ingin anak-anakku kurang kasih sayang, makanya sebisa mungkin aku selalu ada di sisi mereka!" ucap Fitri sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dicky.
Dicky kemudian menuntun istrinya itu masuk ke dalam rumah, matahari mulai terlihat gelap, Bu Eni terlihat sedang menyuapi Alex, ternyata anak itu sudah bangun.
"Sini Bu, biar aku yang teruskan suapin nya!" kata Fitri sambil menyodorkan tangannya hendak menggendong Alex.
Sementara Dicky nampak duduk menghadap meja makan bersiap akan makan malam.
****
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, semua penghuni rumah nampak tertidur karena lelah seharian ini dengan aktifitas yang padat.
Dicky dan Fitri juga akan beranjak tidur, tubuh mereka terasa remuk redam, ingin rasanya berbaring dan memejamkan mata.
__ADS_1
Tok ... Tok .. Tok
Pintu kamar mereka di ketuk dari luar, Fitri kemudian membukakan pintu kamarnya itu.
Bi Sumi sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa Bi? Kirain sudah tidur Bi Sumi!" tanya Fitri.
"Itu Mbak, di depan ada Ibunya Dina dan Dara, mereka ingin bertemu dengan Pak Dokter dan Mbak Fitri!" kata Bi Sumi.
"Lho, bukanlah tadi sudah di kirimkan makanan dan bingkisan ya, ya sudah deh, aku dan Mas Dicky keluar sekarang!" sahut Fitri yang langsung menggandeng tangan suaminya itu turun menuju ke ruang tamu, Bu Romlah sudah menunggunya di sana.
"Selamat Malam Pak Dokter, Bu Fitri, maaf saya datang malam-malam, ini mau kasih kado buat Alex, maaf tidak sempat datang tadi, lagi rame di toko, kan sayang kalau di tutup!" ujar Bu Romlah sambil menyodorkan Kado berwarna biru untuk Alex.
"Terimakasih Bu, seharusnya Bu Romlah jangan repot-repot begini!" sahut Fitri.
"Tidak apa-apa Bu Fitri, saya kesini sekalian ada yang mau di bicarakan juga!" ujar Bu Romlah.
"Oya, soal apa Bu?" tanya Dicky.
"Begini Pak Dokter, saya sangat bersyukur dan trimaksih karena Dina dan Dara di adopsi oleh Pak Dokter dan Bu Fitri, kebutuhan mereka di cukupi, bahkan berlebih, tapi ..." Bu Romlah menghentikan ucapannya, wajahnya terlihat mendung.
"Tapi kenapa Bu Romlah?" tanya Fitri tak sabar.
Tiba-tiba Bu Romlah menangis, Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Mereka tidak mau lagi mengakui saya sebagai Ibunya, mereka bilang malu katanya, saya takut Pak, kalau mereka besar nanti, mereka akan melupakan saya dan menganggap saya tidak ada, itu sungguh menyakitkan!" Isak Bu Romlah.
"Kalau begitu masalahnya, besok saya akan menegur mereka, mereka juga tidak boleh bersikap seperti itu!" sahut Dicky.
"Pak Dokter, Bu Fitri, saya punya permintaan!" kata Bu Romlah.
"Katakan, apa yang kau inginkan Bu?" tanya Fitri.
"Bolehkan saya mengambil kembali Dina dan Dara? Saya cuma memiliki mereka sebagai harta saya, saya takut kehilangan mereka Pak, Bu!" ucap Bu Romlah sambil menangis.
Dicky dan Fitri kembali saling berpandangan.
Bersambung ...
__ADS_1
****