Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Persiapan Liburan


__ADS_3

Malam itu Dicky sekeluarga tengah bersiap-siap membereskan perlengkapan dan pakaian untuk di bawanya ke Jogjakarta, dalam rangka liburan akhir tahun.


Bukan hanya Dicky sekeluarga saja yang pergi, Bi Sumi dan Mbok Jum pun turut serta, juga Mang Salim, jadi hanya ada dua orang security saja yang tinggal di sini dan berjaga di depan gerbang rumah Dicky.


Besok subuh mereka sudah harus berangkat ke Jogjakarta, mereka sengaja melakukan perjalanan dengan jalur darat, Mang Salim yang mengendarai mobil besar, karena momennya adalah liburan.


Terlalu cepat sampai jikalau mereka menggunakan pesawat terbang, sekalian anak-anak juga bisa melihat pemandangan, saat mereka dalam perjalanan nanti ke Jogjakarta.


Alex dan Alena nampak antusias sekali membereskan pakaian mereka, dan memasukkannya ke dalam koper mereka masing-masing.


"Alena, bawa pakaian secukupnya Nak, jangan satu lemari kalau taruh di dalam koper, sini mama bantu ya!" ucap Fitri yang melihat Alena memasukkan semua pakaiannya dari dalam lemarinya kedalam kopernya itu.


"Mama! Aku sudah selesai memasukkan pakaianku! Tapi mainanku tidak muat di dalam Ma, bagaimana dong?!" tanya Alex yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Alena.


"Mainanmu jangan dibawa Lex, kan nanti di sana kau akan bermain dengan Reino, Reino pasti akan punya mainan yang banyak, dan kau bisa bermain bersamanya!" sahut Fitri.


"Iya juga ya, kalau begitu aku tidak usah bawa mainan! Tapi kenapa Alena membawa bonekanya Ma?" tanya Alex lagi.


"Alena kan hanya membawa satu boneka saja, lagi pula Alena selalu ingin tidur dengan boneka kesayangannya itu, biarkan saja Nak, Dedek Alena kan masih kecil!" jawab Fitri.


Setelah mengerti, Alex kemudian keluar lagi dari kamar Alena, dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan mulai merapikan barang-barang yang tadi berantakan di kamarnya itu.


Setelah Fitri selesai membantu Alena membereskan pakaiannya, dan menyiapkan kopernya, dia mulai menidurkan putrinya itu.


Setelah Alena tertidur, Fitri kemudian mulai membawa koper Alena keluar dari kamarnya, dikumpulkan bersama dengan koper-koper yang lain, setelah itu Fitri langsung beranjak menuju ke kamarnya. Dicky terlihat masih sibuk membereskan pakaian yang akan dibawanya.


"Papa Dicky belum selesai beres-beres nya?" tanya Fitri.


"Sebentar lagi Ma, nanti kira-kira kita akan tinggal dimana ya? Apakah kita akan tinggal di rumahnya si kampret?" tanya Dicky.


"Aku tidak tahu juga Pa, tapi kata Anita, mereka sudah menyiapkan kamar untuk kita, untuk anak-anak kita, juga untuk Bi Sumi dan Mbok Jum, kata Anita rumah Pak Donny sangat besar di Jogjakarta!" jawab Fitri.


"Hebat si kampret! Bisa punya rumah besar juga dia!" gumam Dicky sambil memasukkan beberapa pakaian dalamnya ke dalam koper.


"Papa Dicky jangan begitu, namanya orang usaha kan pasti ada rezekinya, tidak heran kalau Pak Donny sekarang berubah jadi kaya raya, secara dia kan sekarang pengusaha pendidikan!" harga Fitri.


"Terus aja kau Puji dia Ma! seharusnya kau Pujilah suami yang ada di hadapanmu ini!" sungut Dicky.


Fitri tertawa mendengar ucapan suaminya itu, yang bernada iri, sejak dulu Dicky memang selalu murah hati terhadap orang lain dan begitu rendah hati, kecuali terhadap Donny, dia merasa kalau Donny adalah saingan nya, entah apa yang menyebabkan dia jadi seperti itu.


"Papa Dicky kan sudah aku puji setiap hari, lagipula kita harus menghargai orang lain dong, mengapresiasi apa yang telah mereka capai, Karena itu adalah jerih lelahnya mereka!" ucap Fitri.

__ADS_1


"Iya iya Bu guru! Dasar guru, omongannya pasti selalu benar!" sahut Dicky.


Tok ... Tok ... Tok


Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar, Dicky dan Fitri sedikit terkejut, karena ini sudah lumayan malam, waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, anak-anak juga sudah tidur semua.


Fitri kemudian beranjak dan berjalan ke arah pintu, lalu membukanya, Bi Sumi sudah berdiri dihadapannya.


"Ada apa Bi Sumi?" tanya Fitri.


"Itu Mbak, diluar ada yang mau bertemu dengan Pak dokter dan Mbak Fitri!" jawab Bi Sumi.


"Siapa sih malam-malam begini bertamu, Ya sudah deh Bi, nanti aku dan Mas Dicky turun ke bawah!" ucap Fitri. Bi Sumi kemudian langsung bergegas meninggalkan kamar itu.


"Siapa Ma?" tanya Dicky.


"Aku juga tidak tahu Pa, kalau kau sudah selesai, kita turun ke bawah yuk siapa sih tamu yang datang malam-malam itu!" kata Fitri. Dicky menganggukan kepalanya.


Dicky dan Fitri sedikit tertegun, saat melihat siapa orang yang mencarinya itu, dia adalah Agus dan Bu Sita.


Mereka tidak mengerti, Bagaimana Agus dan Bu Sita bisa bertemu, dan mereka sekarang datang ke rumah Dicky dan Fitri.


"Lho Agus, Bu Sita, kalian janjian di mana? Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Fitri terkejut.


"Maaf mengganggu malam-malam, maksud kedatangan kami kesini, tak lain dan tak bukan adalah ingin memberikan undangan pernikahan kami, yang akan dilangsungkan setelah tahun baru nanti!" ucap Agus dengan senyum yang terpancar di wajahnya.


"Apa? Kalian akan menikah? Apa aku tak salah dengar, lalu bagaimana kalian bisa bertemu dan berkenalan?!" tanya Dicky kepo.


"Sebenarnya aku putus asa Fit, ternyata orang yang mirip dengan mu yang adalah kembaran itu sudah menikah dengan orang lain, Aku frustasi dan untuk mengobati rasa rindu ini padamu, aku main-main di sekolah tempatmu mengajar dulu, eh malah ketemu dengan Sita, aku baru putus harapan, dia juga baru putus harapan, akhirnya kami sama-sama galau dan memutuskan untuk bersama, mudah-mudahan saja Dia adalah tempat pelabuhan Ku yang terakhir!" ungkap Agus.


"Benar Bu Fitri, Pak dokter, kalau aku masih terus mengejar sesuatu yang tidak bisa digapai, sampai kapanpun nanti, aku pasti akan jadi jomblo, dan akan semakin tua untuk mendapat jodoh, makanya aku terima saja lamaran si Agus, walaupun dia agak sedikit culun dan kampungan!" tambah Bu Sita.


Dicky dan Fitri tersenyum dan saling berpandangan, mereka sama sekali tidak menyangka, bahwa Agus yang selama ini mengejar Fitri, dan terakhir mengejar Anita, malah bertemu dengan Bu Sita yang juga patah hati karena si Adi, mantan tunangannya itu, sudah menikah dengan orang lain.


"Baiklah kalau begitu, kalian tenang saja, sehabis tahun baru kami juga sudah kembali dari liburan di Jogjakarta, kami pasti akan datang ke pesta pernikahan kalian!" ucap Dicky.


"Terima kasih Pak dokter! jangan lupa ya amplopnya yang tebal Buat modal kami nanti! kan Pak Dokter tahu sendiri Si Agus ini cuma kerja di kantor ekspedisi, gajinya pas-pasan!" ujar Sita.


"Tenang saja, kalau untuk urusan itu kalian jangan khawatir, tapi kalian harus tahu bahwa kebahagiaan itu bukan dari banyak atau sedikitnya uang, tapi dari hati yang ikhlas bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya!" jawab Dicky.


"Siap Pak Dokter! Saya belajar banyak dari Pak Dokter, dan saya juga minta maaf kalau selama ini saya sudah jahat sama Pak Dokter dan Bu Fitri!" ucap Bu Sita.

__ADS_1


"Sebelum Bu Sita minta maaf, saya sudah maafin Ibu duluan kok!" ujar Fitri.


"Baiklah kalau begitu, kami mau pamit pulang, Ditunggu kehadirannya Pak dokter, Fitri!" pamit Agus yang langsung berdiri dari tempatnya disusul oleh Bu Sita.


Kemudian Dicky dan Fitri mengantar mereka sampai ke teras depan rumah mereka.


Agus mulai menyalakan motornya, kemudian Bu Sita naik dibonceng oleh Agus, sambil memeluk pinggangnya, kemudian setelah itu motor yang dikendarai Agus pun melaju meninggalkan rumah Dicky.


"Hahaha lucu sekali si Agus sontoloyo itu! Akhirnya dia bisa juga menemukan cinta sejatinya, dan anehnya cinta sejatinya itu adalah Bu Sita, guru yang paling menyebalkan di sekolahmu yang dulu Ma!" ujar Dicky Sambil tertawa melihat mereka berdua.


"Hush! Jangan suka menertawakan orang Pa, yang penting mereka cocok dan bahagia, itu sudah lebih dari cukup, akhirnya Si Agus bisa juga move on dari aku dan Bu Sita bisa juga melupakan Si Adi!" kata Fitri.


Dicky kemudian menggandeng Fitri berjalan masuk kembali ke dalam rumahnya, dan naik ke atas menuju ke kamar mereka.


Semua barang dan pakaian sudah disiapkan untuk besok, mereka harus menyiapkan tenaga ekstra untuk perjalanan panjang Besok subuh.


****


Auara alarm berbunyi mengagetkan Dicky dan Fitri, yang langsung melompat karena kaget, waktu sudah menunjukkan jam setengah empat subuh, mereka akan berangkat subuh itu juga ke Jogjakarta.


Setelah mengangkat koper dan menurunkannya ke bawah, Mang Salim kemudian memindahkan koper-koper itu ke dalam bagasi mobil besar mereka.


Bi Sumi dan Mbok Jum nampak sibuk menyiapkan bekal untuk di perjalanan.


Sementara Fitri sibuk mengurus Alex dan Alena yang terpaksa harus di gendong masuk ke dalam mobil, karena mereka tidak bisa langsung bangun dan masih sangat mengantuk.


Dicky kemudian memberikan 2 buah amplop coklat kepada dua orang sekuriti yang menjaga rumahnya itu.


"Tolong jaga rumahku dengan baik, walaupun kalian tidak aku ajak untuk berlibur ke Jogjakarta, tapi uang di dalam amplop ini cukup untuk membahagiakan keluarga kalian!" ucap Dicky.


Kedua orang security itu tersenyum senang, mereka sangat bersyukur mendapatkan kan uang dadakan menjelang akhir tahun, Dicky memang paling mengerti kebutuhan setiap orang yang membutuhkan.


Mereka kemudian mulai masuk ke dalam mobil besar itu, Mang Salim yang mengendarai mobil itu, Dicky duduk disamping Mang Salim, sementara Fitri duduk di jok tengah bersama dengan kedua anaknya, sementara di jok bagian belakang Bi Sumi dan Mbok Jum duduk berdua.


"Terima kasih ya Pak Dokter, Mbak Fitri, akhirnya Bibi bisa liburan juga!" ucap Bi Sumi dengan wajah yang berbinar, karena selama ini dia sangat jarang sekali pergi liburan.


"iya Bi, tidak apa-apa kita liburan sekali-kali bersama-sama, supaya lebih ramai!" ucap Dicky.


"Jogjakarta itu adalah kampung halaman saya, bolehkah saya mampir ke kampung halaman saya?" tanya Mbok Jum.


"Tentu saja boleh Mbok, kau boleh pulang kampung, sekalian bertemu dengan keluargamu!" jawab Dicky.

__ADS_1


Mbok Jum tersenyum senang, akhirnya dia bisa pulang kampung juga bersama dengan majikannya itu.


Bersambung ...


__ADS_2