Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Setelah 3 hari Fitri di rawat di rumah sakit pasca operasi, kini dia di perbolehkan pulang oleh Dokter. Fitri akan menjalani rawat jalan.


Dicky membereskan baju-baju dan barang yang akan di bawa pulang ke rumah.


"Apakah Fitri akan memakai kursi roda?" tanya Suster.


"Tidak suster, saya bisa berjalan sendiri!" sahut Fitri.


"Baiklah kalau begitu, tapi biasanya orang setelah operasi tidak bisa berjalan panjang dan lama, makanya saya menawarkan kursi roda!" jelas suster.


Setelah itu suster keluar dari ruangan itu.


"Kau yakin Fit akan bisa jalan sampai ke parkiran?" tanya Dicky.


"Bagaimana tau kalau tidak mencobanya? Aku bukan orang cacat yang harus memakai kursi roda!" jawab Fitri.


Setelah selesai, mereka berjalan perlahan keluar dari ruangan itu, Fitri jalan tertatih dan lambat karena luka bekas operasinya yang terasa nyeri jika berjalan.


Batu saja beberapa langkah berjalan, Fitri sudah menghentikan langkahnya, dia bersandar di tembok koridor rumah sakit itu.


"Hmm, makanya jangan sok kuat, sudah kau tak usah berjalan lagi, aku akan menggendongmu!" kata Dicky yang langsung mengangkat Fitri dalam gendongannya.


Dicky terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil menggendong Fitri, dia terus berjalan ke arah parkiran mobil, hati Fitri menghangat seketika berada dalam gendongan Dicky yang kuat dan gagah itu, aroma tubuh Dicky yang maskulin membuat candu bagi Fitri sehingga dia merasa sangat nyaman dan damai.


Setelah sampai di parkiran, Dicky lalu membuka pintu mobilnya dan menurunkan Fitri di jok depan, dengan posisi setengah berbaring.


"Nah, kau sudah nyaman di sini!" ucap Dicky sambil menutup pintu mobil lalu dia langsung memutar dan duduk di depan kemudi.


Dicky lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju ke rumah.


"Terimakasih Dokter, kau pasti capek menggendongku, aku kan berat!" ucap Fitri.


"Tidak Fit, sebagai laki-laki aku memang harus menjaga dan melindungimu, juga membuatmu nyaman!" kata Dicky.


"Ya, entah aku harus membalas bagaimana terhadapmu Dokter, selain memberimu kebahagiaan!" ucap Fitri.


"Kebahagiaan??"

__ADS_1


"Iya, kebahagiaan Dokter adalah kebahagiaanku, kalau Dokter bahagia dengan Ranti, karena Dokter mencintainya, aku ikhlas jika Dokter menceraikan aku, sungguh Dokter!" ujar Fitri.


"Kenapa kau harus membahas itu lagi Fit? Aku tidak pernah berpikir untuk menceraikanmu, sudahlah, lebih baik fokus pada kesehatanmu!" sergah Dicky.


Fitri terdiam mendengar perkataan Dicky, Dicky adalah laki-laki yang baik, tidak mungkin dia begitu saja akan menceraikan Fitri dengan alasan apapun, Dicky adalah tipe pria sejati, dambaan kaum wanita, juga dambaan Fitri dalam hati. Fitri selalu tidak tahan jika berada dekat dengan Dicky, bahkan dia tidak dapat mengontrol detak jantungnya sendiri.


Tak lama mereka sudah sampai di rumah. Bi Sumi bergegas membukakan pintu gerbang, membantu membawakan barang dan baju-baju kotor.


"Makanan sudah siap di meja makan Pak Dokter!" kata Bi Sumi.


"Iya Bi, nanti tolong di antar ke atas saja, aku mau mengajak Fitri istirahat dulu di kamarnya, lagi pula dia belum bisa naik turun tangga!" ujar Dicky.


Kemudian Dicky kembali menggendong Fitri untuk naik ke atas menuju ke kamarnya.


Setelah sampai di kamar, Dicky segera membaringkan Fitri di tempat tidurnya.


"Kau pasti lelah, istirahatlah Fit!" ucap Dicky.


"Terimakasih Dokter!" sahut Fitri.


Tak lama kemudian Bi Sumi muncul sambil membawa makan siang untuk mereka.


"Makanlah dulu sebelum istirahat, supaya kau ada tenaga!" kata Dicky sambil menyuapkan sendok makanan ke mulut Fitri.


Mau tidak mau Fitri membuka mulutnya. Sebenarnya Fitri sangat sungkan di perlakukan seperti itu oleh Dicky, perlakuan Dicky terhadapnya hanya akan menambah perasaan kagum pada Fitri. Fitri tidak mau terlalu dalam memiliki rasa terhadap Dicky, dia takut kecewa, karena kenyataan tidak sesuai harapan.


Setelah selesai menyuapi Fitri, Dicky mulai makan makanannya sendiri.


"Dokter, kapan kau akan menceraikan aku?" tanya Fitri tiba-tiba.


Dicky terhenyak mendengar pertanyaan Fitri, dia bahkan tidak pernah berpikir akan menceraikan Fitri.


"Fitri, apa kau sudah tak lagi nyaman bersamaku? Sehingga kau minta cerai dariku?" tanya Dicky balik.


"Bukan begitu Dokter, aku hanya ingin Dokter mendapat kebahagiaan Dokter, karena hanya dengan Ranti Dokter bahagia, walaupun Dokter berusaha untuk menutupinya dariku, tapi aku tau Dokter!" jelas Fitri.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin??" tanya Dicky.

__ADS_1


"Saat Dokter sakit, Dokter pernah meracau menyebut nama Ranti, saat aku membuka lemari Dokter, ada foto Ranti di sana, saat aku tak sengaja membuka ponsel Dokter, ada begitu banyak foto Ranti, apa itu belum cukup sebagai bukti kalau dalam hati Dokter hanya menyimpan nama Ranti??" jawab Fitri.


Dicky terdiam mendengar semua ucapan Fitri, dia tidak dapat menyangkal lagi.


"Baik, kalau itu yang menjadi alasan mu untuk aku menceraikanmu, aku akan membuang Foto Ranti di lemari ku!" Dicky lalu menuju ke lemarinya dan membuka lacinya lalu mengeluarkan semua foto-foto Ranti, setelah itu dia mencampakkannya di tempat sampah.


Setelah itu Dicky mengambil ponselnya, lalu dia menghapus semua galeri yang ada di ponselnya itu tanpa tersisa. Kemudian di tunjukan ya pada Fitri.


"Besok aku akan membakar foto-foto Ranti, dan kau juga lihat di ponselku tak ada satupun fotonya, apa kau tetap menginginkan aku untuk menceraikanmu??" tanya Dicky sambil menatap dalam wajah Fitri.


Fitri terdiam sambil meneteskan air mata, Dicky bisa bertindak seekstrim itu, membuang semua foto Ranti, mantan kekasih yang sangat di cintainya, bahkan menghapus semua galeri di ponselnya.


"Dokter maafkan aku!" ucap Fitri sambil menangis.


Dicky lalu mendekati Fitri yang terduduk disisi tempat tidur, lalu memeluknya dengan sangat erat.


"Fitri, walaupun aku sudah tak tau lagi apa itu cinta, tapi beri aku kesempatan untuk lebih lama lagi bersamamu, hingga benih cinta itu tumbuh dengan sendirinya di dasar hatiku yang terdalam!" bisik Dicky.


Fitri menganggukan kepalanya sambil menangis.


"Iya Dokter, maafkan aku, maafkan aku!" ucap Fitri.


Dicky menghapus air mata Fitri dengan kedua tangannya, kemudian di belainya rambut Fitri dan membenamkan kepala wanita itu di dadanya yang bidang.


"Lupakan kejadian hari ini, kita menatap masa depan, masa depanmu dan masa depanku! Masa depan kita!" bisik Dicky.


Tok ... Tok ... Tok


Suara pintu kamar Dicky di ketuk. Dicky lalu berdiri dan bergegas membukakan pintu kamarnya.


Bi Sumi nampak sudah berdiri di depan pintu. Raut wajahnya terlihat cemas.


"Ada apa Bi?" tanya Dicky.


"Anu Pak Dokter, di bawah ada tamu, ingin bertemu dengan Pak Dokter!" jawab Bi Sumi.


****

__ADS_1


Hai Guys ... selalu di tunggu dukungannya ya untuk cerita sederhana ini, jangan lupa Like, vote dan komen ...


Trimakasih ...


__ADS_2