Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mulai Masuk Sekolah


__ADS_3

Pagi itu setelah sarapan, seperti biasa Dicky dan Fitri akan segera berangkat, hari ini adalah hari di mana sekolah sudah mulai aktif kembali.


Sebenarnya Dicky ingin Fitri di rumah saja, namun untuk aktifitas supaya Fitri tidak bosan di rumah, Dicky mengijinkan Fitri terus mengajar, dengan catatan harus di antar jemput oleh Dicky.


Karena Fitri juga menolak Dicky memberikan asisten pribadi untuknya, Fitri tidak mau Dicky bersikap berlebihan dan over protektif.


"Bi Sumi, mulai sekarang, kalau masak tolong perhatikan kandungan gizinya ya, harus empat sehat lima sempurna!" ujar Dicky.


"Baik Pak Dokter!" sahut Bi Sumi.


"Tiap hari Bibi wajib memasak berbagai jenis ikan, sayuran juga harus sayuran hijau, jangan lupa variasi buah juga harus selalu ada di meja makan, aku mau calon anakku sehat dan pintar!" lanjut Dicky.


"Iya Pak Dokter!" sahut Bi Sumi.


"Pokoknya masaklah makanan yang sehat untuk istriku, untuk cemilannya buatkan variasi puding buah, kacang hijau, atau jus buah, bisa juga di selingi dengan kue-kue!" kata Dicky lagi.


"Sudahlah Mas! Jangan terlalu Banyak memberi beban pada Bi Sumi, selama ini juga Bibi selalu memasak yang sehat buat kita!" sergah Fitri.


"Iya iya, aku hanya mengingatkan saja kok!" tukas Dicky.


"Mengingatkan jangan panjang lebar juga kali, mentang-mentang kau Dokter!" sungut Fitri.


"Oke deh Nyonya Dicky, jangan cemberut lagi! Ayo kita berangkat!" Dicky kemudian menuntun Fitri naik ke dalam mobilnya.


Sesampainya di sekolah, tidak seperti biasa, hari ini Dicky turun dari mobilnya dan hendak mengantarkan Fitri sampai ke lantai dua.


"Hei Pak Dokter!" panggil seseorang di belakang Dicky dan Fitri. Mereka kemudian menoleh kebelakang.


Bu Romlah, Ibunya Dara sudah berdiri di belakang mereka sambil menuntun Dara.


"Selamat pagi Bu Romlah, tumben nih mengantar Dara ke sekolah!" sapa Fitri ramah.


"Jangan basa-basi dulu Bu Fitri, ini gimana sih? Katanya Pak Dokter mau kasih uang bulanan tepat waktu, kok bulan ini terlambat?? Biasanya yang terlambat itu akan kena denda lho 10 persen!" ujar Bu Romlah.


"Maaf Bu Romlah, kemarin ini kan sekolah libur, jadi wajar dong terlambat, toh tidak setiap bulan juga terlambatnya!" sahut Dicky.


"Tapi kan harus sesuai perjanjian dong Pak, Dara dan Kakaknya kan sudah tidak mengamen lagi, pokoknya bulan ini Pak Dokter harus tambah 10 persen karena terlambat!" cetus Bu Romlah.


"Lho Bu, memangnya kita punya hutang ya sama Ibu, kenapa jadi ibu yang menuntut 10 persen? Kami kan tidak merugikan Ibu?" tanya Fitri.


"Ya rugi lah! Saya kan jadi menunggu-nunggu, saya rugi waktu tau tidak? Harusnya mulung dapat uang, ini malah nungguin uang dari bapak!" sahut Bu Romlah.


"Hmm, baiklah Bu, kalau Ibu menuntut saya harus tambah 10 persen, saya akan tambah, jangan khawatir!" Dicky kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya sebesar satu juta rupiah, di tambah denda terlambat seratus ribu rupiah, lalu di serahkan nya pada Bu Romlah.

__ADS_1


Bu Romlah nampak tersenyum senang, sambil mengipas uang nya itu.


"Nah gitu dong Pak! Kalau begini sih, tiap bulan saja Bapak terlambat setor uang ke saya! Sana masuk Dara! Emak mau belanja dulu!" ujar Bu Romlah. Kemudian dia segera pergi meninggalkan tempat itu.


Fitri hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya.


"Apa ada orang tua yang seperti itu, benar-benar deh Bu Romlah!" gumam Fitri.


"Sabar Fit, sabar ya ... ingat kandunganmu!" ucap Dicky lembut.


Dicky kemudian menggandeng tangan Fitri masuk ke dalam gedung sekolah dan mengantarnya naik ke lantai dua. Dara mengikutinya dari belakang.


"Nanti pulangnya kau jangan turun dulu Fit, tunggu aku naik ke atas dan kau turun bersamaku!" ujar Dicky.


"Iya!" sahut Fitri.


Fitri kemudian langsung masuk ke dalam kelasnya, karena bel masuk sekolah sudah berbunyi.


Dicky juga ikut masuk ke kelas Fitri, membuat Fitri heran menatapnya.


"Mau ngapain lagi Mas?" tanya Fitri.


"Ssst, aku mau memberi pengumuman dulu pada anak-anak!" bisik Dicky.


Kemudian Dicky berdiri di depan kelas, sementara murid-murid sudah duduk di tempatnya masing-masing.


"Oke Om Dokter!!" sahut para murid serempak.


"Bagus!! Itu baru anak-anak pintar!" puji Dicky.


Kemudian Dicky segera keluar dari ruang kelas Fitri. Wajah Fitri memerah menahan malu.


"Bu Fitri mau punya dedek bayi ya?" tanya Rio.


Fitri mengangguk sambil tersenyum.


"Tapi kok perut Bu Fitri tidak gendut? Kalau ada dedek bayi kan biasanya gendut kayak Mami!" celetuk Meira.


Fitri menggaruk kepalanya bingung.


"Kata Om Dokter kita harus jaga Bu Fitri, jadi kalau Bu Fitri mau apa-apa bilang kita ya Bu...!" ujar Dara.


"Anak-anak, sudah jangan bahas dedek bayi lagi, sekarang kita mulai pelajaran ya, keluarkan buku tulis kalian masing-masing!" titah Fitri.

__ADS_1


Kemudian para murid dengan antusias langsung mengeluarkan buku tulis mereka.


Sementara Dicky yang setengah berlari karena buru-buru, terpaksa menghentikan langkahnya saat di depannya sudah ada Bu Sita yang menghadangnya.


"Apa kabar Pak Dokter, lama juga ya kita tidak bertemu!" sapa Bu Sita.


"Maaf Bu, saya buru-buru, sudah terlambat ke rumah sakit, tidak ada waktu untuk mengobrol!" sergah Dicky.


"Lagian pakai mengantar istri manja itu sampai ke atas, jadi terlambat kan!" cetus Bu Sita.


"Bu, sekarang Fitri sedang hamil anakku, jadi wajar saja aku mengantarnya, kenapa jadi ibu yang sewot? Aku yang memanjakannya, bukan dia yang manja padaku!" sahut Dicky.


Bu Sita langsung terdiam mendengar perkataan dari Dicky.


"Bu Fitri hamil?" tanya Bu Sita terkesiap.


"Iya Bu, jadi aku mohon, jangan ganggu dia lagi, apalagi menyakiti hatinya dengan ucapan mu, permisi!!" Dicky kemudian maju menerobos dan langsung berjalan cepat menuju ke mobilnya.


"Huh! Dasar wanita! Mulutnya persis seperti ember!! Sungut Dicky sambil melajukan mobilnya.


Drrtt ... Drrt ... Drrt


Ponsel Dicky bergetar, kemudian Dicky langsung mengusap layar ponselnya dengan pengeras suara karena dia sedang menyetir.


"Halo ... ada apa suster?" tanya Dicky.


"Halo Dokter, ini pasien anak Chika kondisinya sedang drop, trombositnya makin turun Dok!" sahut Suster Wina panik.


"Chika? Apakah orang tuanya menunggu di situ?" tanya Dicky.


"Tidak ada Dok, saya sudah menghubungi Ibunya, teleponnya tidak aktif, sementara Ayahnya masih ada meeting di kantornya, bagaimana ini Dok?" Jawab suster Wina.


"Tolong kau pantau dia terus, aku masih di jalan, tidak lama lagi aku sampai!" ujar Dicky.


"Baik Dok!" sahut Suster Wina sebelum menutup ponselnya.


Dicky segera menambah kecepatan laju mobilnya.


****


Halo guys ....


Jangan lupa mampir yuk ke karya Author yang baru "Perjaka Tampan & Wanita Malam"

__ADS_1


Selalu di tunggu dukungan ya guys ...


Terimakasih 🙏😘


__ADS_2