Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Sebuah Kejutan


__ADS_3

Siang itu sepulang mengajar, Fitri nampak duduk menunggu di lobby. Siang ini Dicky akan menjemputnya.


"Selamat siang Bu Fitri, apakah hari ini di jemput?" tanya Pak Donny.


"Iya Pak, suami ku akan datang menjemputku!" jawab Fitri.


"Baiklah kalau begitu, aku duluan ya Bu!" ujar Pak Donny yang langsung berlalu menuju ke parkiran.


Tak lama kemudian, Dicky datang dengan agak terburu-buru, wajahnya penuh keringat karena cuaca siang ini amat terik.


"Maafkan aku Fit, tadi di jalan agak macet, makanya aku sedikit terlambat datang!" ucap Dicky menyesal.


"Tidak apa-apa Mas, baru juga terlambat sepuluh menit, kau pasti lari-lari ya, wajahmu sampai berkeringat Mas!" kata Fitri sambil menyeka wajah suaminya itu dengan sapu tangannya.


"Tadi di parkiran, aku melihat si guru laki-laki itu, apakah dia menggodamu Fit?" tanya Dicky.


"Tidak kok, Mas Dicky kenapa jadi suka curiga sama orang sih?" tanya Fitri balik.


"Bukan begitu Fit, aku hanya tidak suka ada orang lain yang diam-diam menyimpan rasa padamu, karena suatu hari pasti akan meledak!" sahut Dicky.


"Meledak apa sih Mas, kau terlalu lebay ah!" tukas Fitri.


Mereka baru saja berjalan keluar dari lobby. Tiba-tiba ada yang memanggil dan mengejar mereka.


"Tunggu!" Bu Sita nampak berlari kecil dari tangga ke arah mereka.


"Bu Sita? Ada apa Bu?" tanya Fitri.


"Bolehkan aku numpang lagi dengan kalian?" tanya Bu Sita.


Dicky dan Fitri saling berpandangan.


"Kalau aku sih, terserah Mas Dicky saja, karena dia yang bawa mobil!" sahut Fitri.


"Maaf Bu, sepertinya siang ini aku akan mengajak istriku makan siang di suatu tempat, jadi sepertinya kau harus pulang sendiri!" timpal Dicky tiba-tiba.


Wajah Bu Sita berubah masam, kemudian dia pun langsung membalikan tubuhnya meninggalkan mereka.


"Mas Dicky kenapa bilang begitu?" tanya Fitri saat dalam perjalanan.


"Sengaja Fit, aku risih dengan guru bawel itu, sekarang katakan kau ingin makan apa?" tanya Dicky.


"Aku sangat ingin makan gado-gado Mas, kita beli gado-gado ya!" jawab Fitri.


Dicky mengerutkan keningnya heran, tidak biasanya Fitri meminta sesuatu dengan begitu sungguh-sunggih dan setengah merengek. Namun dia tetap Menganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Iya sayang, kita cari dulu ya, Oya Fit, nanti sore aku akan ada jadwal operasi lagi, ada salah satu pasien anak yang baru mengalami kecelakaan, dan salah satu kakinya harus di amputasi!" jelas Dicky.


"Ya Tuhan, kasihan sekali!" gumam Fitri.


"Mungkin aku pulang agak sedikit malam ya Fit, paling lama jam 9 lah!" ujar Dicky.


"Iya Mas, pokoknya nanti malam aku akan menunggumu, karena aku punya kejutan buatmu!" ucap Fitri.


"Kejutan apa Fit? Kau jangan membuatku penasaran!" tanya Dicky.


"Ada deh!" sahut Fitri.


"Kau ini Fit, selalu membuatku gemas saja!" kata Dicky sambil mencubit pipi Fitri.


Mereka terus mencari penjual gado-gado, hingga akhirnya ada sang penjual gado-gado yang mangkal di pinggir jalan, mereka lalu mulai memesan dan menyantap makanan mereka dengan nikmat.


****


Malam itu, setelah selesai operasi di rumah sakit, Dicky berniat akan langsung pulang di rumahnya, karena dalam benaknya, Fitri pasti sudah menunggunya.


"Dokter Dicky, kau akan langsung pulang?" tanya Dokter Anwar, Dokter ahli bedah sambil melepaskan masker dan jubah hijau mereka.


"Iya, istriku sudah menunggu!" jawab Dicky.


Beberapa ruang praktek Dokter mulai nampak sepi.


"Tenang Dok, suster ku selalu memberitahu aku jika ada yang gawat darurat!" sahut Dicky.


Kemudian mereka berpisah di persimpangan itu, Dicky langsung menuju ke ruangannya untuk mengambil tasnya.


Dicky kemudian langsung masuk ke dalam ruangan nya, dia duduk sejenak di kursi kebesarannya, tubuhnya terasa letih.


Ceklek!


Seorang office girl datang membawa secangkir minuman hangat.


"Selamat malam Dokter, ini di minum minumannya, karena cuaca di luar sedang hujan deras!" kata office girl itu.


Kemudian sang Office girl segera balik keluar dari ruangan Dicky.


Terdengar suara hujan yang cukup deras, cuaca memang sangat dingin malam itu, perlahan Dicky mulai meneguk minuman yang ada di hadapannya itu.


Dicky yang berniat akan langsung pulang mendadak di serang rasa kantuk yang luar bisa, kepalanya pusing seperti berputar-putar, Dadanya terasa panas dan agak sesak.


Tak lama kemudian Dicky menelungkupkan wajahnya di meja kerjanya. Dia tertidur.

__ADS_1


Ceklek!


Tak lama setelah Dicky tertidur, datang seorang wanita, yang ternyata adalah Ranti.


Dia tersenyum melihat Dicky yang kini sudah benar-benar tak sadar itu.


Perlahan Ranti mendekat ke arah Dicky. Kemudian mengelus rambut Dicky.


"Maafkan aku Dicky, kau begitu sulit dan Licin bagai ular, terpaksa aku melakukan cara ini, aku rela jika karena perbuatanku ini aku di pecat dari rumah sakit ini!" gumam Ranti.


Kemudian Ranti melemparkan sebuah kain di kamera cctv yang menghadap ke arahnya.


****


Sementara di rumah, Fitri menunggu dengan gelisah, dia sudah menyiapkan makan malam, juga sebuah kejutan untuk Dicky.


Alat tes kehamilan yang di berikan Tania kemarin dengan hasil positif, sengaja Fitri letakan di atas bantal Dicky, dengan sebuah tulisan tangan Fitri dalam Sebuah kartu.


Fitri berharap kejutan yang dia berikan pada Dicky membuat suaminya itu senang dan bahagia.


Makanan spesial juga sudah tersedia di meja makan, dengan dua buah lilin besar, sudah sejak sore Fitri menyiapkan semua itu untuk Dicky.


Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, lilin di meja makan pun sudah padam karena sudah lama menyala.


Makanan juga sudah mulai dingin, beberapa kali Fitri menoleh ke arah jendela depan, berharap sinar lampu mobil Dicky akan masuk ke dalam halaman rumahnya.


"Sebaiknya Mbak Fitri istirahat saja, nanti kalau Pak Dokter pulang Bi Sumi akan kasih tau Mbak Fitri!" kata Bi Sumi yang melihat kegelisahan Fitri sejak tadi.


"Tidak Bi, aku akan menunggu Mas Dicky di sini saja, siapa tau sebentar lagi dia datang!" tukas Fitri.


"Apakah Mbak Fitri sudah telepon Pak Dokter?" tanya Bi Sumi.


"Sudah Bi, tapi belum di angkat-angkat, barangkali operasinya di undur, jadi dia masih sibuk! Atau bisa jadi dia terjebak macet karena di luar hujan sangat deras!" jawab Fitri.


Drrrt ... Drrt ... Drrrt


Terdengar suara getaran ponsel Fitri yang ada di atas meja makan, buru-buru Fitri mengambilnya berharap bahwa itu Dicky yang meneleponnya.


Ada sebuah pesan singkat dari nomor tak di kenal. Pada saat Fitri membuka pesan singkat itu, isinya adalah foto-foto.


Mata Fitri terbelalak saat melihat foto yang ada di ponselnya itu, Dicky bersama Ranti sedang berdua dan berpelukan di ruangan Dicky, dengan tubuh yang setengah polos.


Air mata Fitri luruh seketika.


****

__ADS_1


Tenang guys jangan panas ... akan indah pada waktunya ...😉😘


__ADS_2