
Sore itu, setelah pulang dari rumah sakit, Dicky mengajak Fitri untuk berbelanja kebutuhan Fitri dan Dirinya.
Mereka pergi ke sebuah mall yang terbesar di kota itu.
Fitri selalu senang saat Dicky mengajaknya jalan-jalan, melihat banyak orang dan keramaian membuat otaknya fresh dan bahagia.
Apalagi pergi bersama dengan orang yang sangat di cintainya. Sepanjang jalan tak henti-hentinya Fitri tersenyum bahagia dan menggandeng erat tangan suaminya itu.
"Kalau kau lapar dan menginginkan sesuatu, katakan saja Fit, kau jangan sungkan lagi, kau harus tau, hartaku adalah milikmu, apa yang aku punya itu juga adalah milikmu, termasuk diriku!" ucap Dicky.
"Mas Dicky, kau begitu manis memperlakukan wanita, pantas saja Ranti susah move on darimu!" sahut Fitri.
"Kau jangan sebut lagi nama itu sayang, sekarang yang ada dalam hatiku hanya Fitri, bukan Ranti! Kau harus ingat itu!" tegas Dicky.
"Iya Mas, maafkan aku!" ucap Fitri.
Mereka lalu masuk ke sebuah toko pakaian yang besar di dalam mall itu. Dicky ingin membeli beberapa kemeja untuk dirinya. Juga beberapa pakaian untuk Fitri.
"Fit, aku lebih cocok pakai yang mana?" tanya Dicky sambil membuka dua kemeja yang berbeda warna itu di hadapan Fitri.
"Mas Dicky pakai yang manapun sama-sama bagus dan cocok, ambil saja semuanya Mas!" sahut Fitri.
"Oke sayang, pilihanmu adalah pilihanku, aku ambil semua ya!" ujar Dicky sambil membawa beberapa kemeja pilihan Fitri.
Saat mereka ada di gerai pakaian wanita, Fitri nampak bingung karena semua pakaian itu bagus dan mahal harganya.
Dicky membantu memilihkan pakaian untuk istrinya itu, Fitri memang bukan tipe wanita yang pemilih dalam soal pakaian, pakaian jenis apapun dia dengan senang hati memakainya.
"Fit, sebentar lagi perutmu akan bertambah besar, kau harus membeli pakaian hamil beberapa lagi Fit!" kata Dicky.
"Mas, kita sudah terlalu banyak berbelanja, pakaian hamilku yang waktu itu kan masih ada, bahkan jarang di pakai lagi karena aku sudah keburu kehilangan bayiku!" tukas Fitri.
"Tambah sedikit lagi ya, sedikit saja Fit, aku ingin memilihkan sendiri pakaian hamil untukmu, ingat, ini adalah bayiku, jadi aku mau yang terbaik!" ucap Dicky.
Akhirnya Fitri menurut saja saat Dicky mulai memilihkan beberapa pakaian hamil untuknya.
Setelah membeli banyak pakaian, mereka lalu beralih ke supermarket yang ada di dalam mall tersebut.
Dicky mengambil beberapa stok makanan untuk di rumah, aneka buah dan tak lupa susu hamil dengan berbagai rasa.
Fitri terlihat bahagia melihat suami yang begitu perhatian padanya, dalam hati tak henti-hentinya mengucap syukur.
"Fit? Kok malah bengong? Kau butuh apa lagi sayang?" tanya Dicky mengagetkan lamunan Fitri.
__ADS_1
"Eh, sudah cukup Mas, ini juga sudah banyak, jangan berlebihan Mas!" sahut Fitri.
"Kalau untuk istri tidak ada yang berlebihan Fit!" ujar Dicky.
Setelah mereka selesai berbelanja, mereka kemudian mulai mengantri di kasir.
Dicky yang mengantri di kasir, sedangkan Fitri duduk menunggu di bangku yang ada di depan supermarket itu, Dicky melarangnya untuk ikut mengantri, takut Fitri menjadi lelah, karena mereka sudah banyak berjalan sedari tadi.
"Hai Bu Fitri, sedang menunggu siapa?" tanya sebuah suara dari arah samping, ternyata suara itu milik Pak Donny, rekan sesama guru di sekolah.
"Eh Pak Donny, aku sedang menunggu suamiku yang sedang antri, Pak Donny sendiri sama siapa? Lagi belanja ya Pak?" tanya Fitri balik.
"Biasa Bu, aku sedang refreshing sendirian, sambil belanja keperluan, maklum masih jomblo!" sahut Pak Donny tersipu.
"Wah, sepertinya Pak Donny harus segera mencari pendamping, masa perlu di carikan Pak!" ujar Fitri bercanda.
Pak Donny tertawa mendengar perkataan Fitri.
"Ternyata Bu Fitri bisa juga bercanda, aku sedang mengincar seseorang Bu, tapi sayang dia sudah ada yang punya!" kata Pak Donny.
"Wah Pak, bahaya kalau begitu, kenapa bapak tidak mencari yang single saja, banyak lho pak, sepertinya orang seperti Bapak tidak sulit mencari pendamping!" ujar Fitri.
"Yah, memang tidak sulit Bu, tapi yang klik di hati itu yang sulit, apalagi kita menyukai orang yang sudah di miliki orang lain, itu yang buat sulit!" sahut pak Donny. Kini Fitri yang tertawa.
"Oya Pak, Senin depan kita sudah mulai aktif mengajar kan? Mulai masuk semester baru, cepat sekali ya Pak!" ujar Fitri. Pak Donny mulai duduk di samping Fitri.
"Ehm!!" Tiba-tiba Dicky sudah muncul di hadapan mereka dengan membawa satu troli belanjaan.
"Eh, Mas Dicky sudah selsai?" tanya Fitri.
"Sudah dari tadi Fit, kau saja yang tidak sadar karena keasyikan mengobrol!" sahut Dicky.
"Selamat malam Pak Dokter!" sapa Pak Donny.
"Malam!" singkat Dicky.
"Silahkan di teruskan Pak Dokter, saya juga mau masuk, biasa, belanja bulanan!" ujar Pak Donny sambil mulai berdiri.
"Silahkan!" sahut Dicky.
"Mari Bu Fitri!" pamit Pak Donny sambil berjalan meninggalkan mereka.
Sepanjang perjalanan, Dicky diam tidak banyak bicara seperti biasanya. Bahkan saat mereka sudah di dalam mobil.
__ADS_1
"Mas ..." Panggil Fitri.
"Hmm ..." sahut Dicky.
"Mas Dicky kenapa?" tanya Fitri bingung.
"Kenapa apanya? Kau tidak mengerti?" tanya Dicky balik. Fitri menggelengkan kepalanya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Fitri.
"Fit, aku lihat tadi kau begitu akrab mengobrol dengan si Pak guru itu!" jawab Dicky.
"Pak Donny maksudnya? Wajar saja aku mengobrol dengan dia Mas, dia kan rekan sesama guru di sekolah, masa aku harus jutek sama dia sih!" ujar Fitri.
"Tadi kau terlihat akrab saat mengobrol dengannya, seolah kau adalah wanita bebas!" sahut Dicky.
"Lalu aku harus bagaimana Mas? Mengusirnya begitu? Atau menyuruhnya pergi begitu saja??" tanya Fitri.
"Tapi paling tidak kau jaga sikap, jangan terlalu akrab dengannya!" sahut Dicky.
"Mas Dicky ini keterlaluan!" dengus Fitri.
"Fit, itu karena aku ... cemburu terhadapnya! Kau ini tidak peka sama sekali! Terbuat dari apa perasaanmu Fit??" ujar Dicky gemas.
Mobil mereka mulai berhenti karena terhalang lampu merah.
"Cemburu? Mas Dicky cemburu??" gumam Fitri lirih.
Tiba-tiba Dicky menarik wajah Fitri, kemudian dengan cepat mengecup bibirnya, semakin dalam dan berkali-kali.
Fitri gelagapan karena tidak siap, kini Dicky terlihat semakin bergairah, tak memberikan sedikitpun kesempatan Fitri untuk berbicara.
"Biar kau tau Fit, sedalam apa perasaan ku padamu, maafkan aku kalau aku begitu posesif dan mudah cemburu!" ucap Dicky dengan nafas terengah-engah.
Fitri yang baru paham dan menyadari sikap Dicky, kemudian langsung membalas kecupan Dicky yang di rasakan nya begitu lembut dan hangat. Bibir yang membuat Fitri selalu mabuk kepayang dan tergila-gila.
****
Hai Readers semua ...
Mampir yuk ke karya Author yang baru yang berjudul "Perjaka Tampan & Wanita Malam"
Baru rilis hari ini guys ...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya, Like dan Favoritkan ...
Thank you 🙏😘😉❤️