Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mengantar Sekolah


__ADS_3

Pagi itu seperti rutinitas biasa, Fitri bersiap mengantar Alex ke sekolah barunya.


Karena kesibukan Dicky kini bertambah, Fitri mengantar Alex dengan di antar oleh Mang Salim, supir pribadi keluarga itu.


Dicky tidak membiarkan Fitri menyetir mobil sendirian, itulah sebabnya kemanapun Fitri pergi selalu di antar supir, supaya lebih aman.


Mobil yang di kendarai oleh Mang Salim berhenti di depan gerbang sekolah.


Sekolah besar yang terbentang luas itu memiliki fasilitas yang lengkap, mulai dari taman kanak-kanak sampai SMU, setiap jenjang pendidikan memiliki gedung masing-masing.


"Alex sekarang sudah berani kan sekolah sendiri? Jadi Mama tunggu di lobby ya, Alex masuk kelas!" kata Fitri sambil membelai rambut Alex.


"Iya deh Ma, tapi Mama jangan pulang ya, tunggu di lobby saja oke!" sahut Alex.


"Siap sayang, Mama tunggu di lobby, Alex harus belajar yang pintar, anaknya Papa Dicky kan selalu pintar dan baik!" ucap Fitri.


Alex menganggukan kepalanya, kemudian dia berjalan cepat ke arah gedung kelasnya, beberapa orang guru sudah berdiri di sana, untuk mengucapkan selamat pagi.


Setelah Alex masuk kelas, Fitri berjalan ke arah lobby umum, dia duduk menunggu Alex di sana.


Alex hanya sekolah dua jam, tanggung rasanya kalau dia pulang ke rumah dulu.


"Mbak Fitri sedang apa di sini?" terdengar suara dari arah belakang Fitri.


Fitri menoleh kaget. Seorang wanita manis sudah berdiri dan tersenyum padanya.


"Hei Dinda, kau mengajar di sini rupanya? Kenapa aku baru ketemu kamu ya? Perasaan sudah beberapa hari Alex masuk sekolah!" tanya Fitri.


"Iya Mbak Fitri, kepala yayasan meminta ku untuk mengajar SD sekarang, jadi aku tidak pegang kelas TK lagi!" jawab Dinda.


"Wah syukurlah, kamu sudah naik tingkat rupanya, sebentar lagi bukankah kau akan menikah? Kok masih ngajar? Memangnya tidak ambil cuti?" tanya Fitri.


"Ini hari terakhir aku mengajar Mbak, besok aku sudah mulai cuti, sekolah memberikan aku kebijakan cuti satu bulan!" jawab Dinda berbinar.


"Wah, kau bisa puas bulan madu kalau begitu, selamat ya Din, akhirnya kau jadi juga sama Ken!" ucap Fitri.


"Trimakasih Mbak, doakan ya semuanya berjalan lancar, undangan, gedung, catering semua sih sudah siap, tinggal menunggu hari H saja!" ungkap Dinda.


"Pasti Din, aku pasti akan selalu mendoakan kalian, apalagi kalian sudah aku anggap seperti adik sendiri, secara kan Ken sepupunya Mas Dicky!" jawab Fitri.

__ADS_1


"Trimakasih banyak Mbak, kalau begitu aku pamit mau masuk kelas dulu, sampaikan salam buat Bang Dicky!" pamit Dinda.


"Iya Din, kalau ada apa-apa, jangan sungkan hubungi aku ya, siapa tau kamu butuh bantuan!" ucap Fitri.


Dinda menganggukan kepalanya, setelah itu dia agak terburu-buru melangkah meninggalkan Fitri yang masih duduk di lobby.


Fitri lalu membuka ponselnya, sudah lama juga dia tidak berselancar di dunia maya.


Tring ... Tring ...


Terdengar suara notifikasi panggilan masuk, Fitri tersenyum saat melihat Dicky yang meneleponnya.


Dengan antusias Fitri mengusap layar ponselnya itu.


"Halo, ada apa Pa?"


"Kau di mana Ma? Di rumah atau di sekolah Alex?" tanya Dicky.


"Di sekolah Alex Pa, tanggung kalau pulang lagi, sekolah Alex kan cuma sebentar!" jawab Fitri.


"Oh, hari ini aku pulang cepat Ma, rencana mau ajak kau dan anak-anak makan di luar!" ujar Dicky.


"Makan di luar? Dalam rangka apa Pa?" tanya Fitri.


"Oh, selamat ya Pa, Papa Dicky memang hebat, Mama jadi tambah sayang deh!" ucap Fitri bangga.


"Hahaha, trimakasih sayang, sudah ya, Pak Walikota sedang menungguku, sampai ketemu nanti siang ya, muacch!" ucap Dicky sebelum menutup teleponnya.


Fitri tersenyum, menerima telepon dari Dicky serasa menerima telepon dari sang kekasih, selalu membuatnya berdebar dan bahagia.


****


Setelah Alex pulang sekolah, Fitri segera membangun Alex untuk mengganti seragamnya.


Sementara Alena masih asyik bermain dengan boneka barunya yang di belikan oleh Neneknya.


Subuh tadi, Donny dan Anita beserta Pak Karta dan Bu Eni sudah kembali ke Jogjakarta, setelah mereka menginap selama dua hari di rumah Fitri.


"Ah, sayang sekali Bapak dan Ibu cepat sekali kembali ke Jogja, padahal hari ini adalah hari spesial!" gumam Fitri saat selesai menggantikan baju Alex dan kini mulai menyuapi Alena.

__ADS_1


"Hari spesial apa to Mbak?" tanya Bi Sumi.


"Mas Dicky kan baru di angkat jadi ketua ikatan Dokter se Asia lho Bi, rencananya siang ini kita semua mau di ajak makan di luar!" jawab Fitri.


"Bener Mbak? Duh, Pak Dokter buat Bibi makin meleleh saja, padahal dulu dia cuma Dokter anak biasa, kenapa sekarang jadi luar biasa?" ucap Bi Sumi.


"Yah Bi, mungkin itu yang di namakan orang buah ketekunan, Mas Dicky itu kan orangnya sabar sekali, tulus lagi kalau membantu orang!" sahut Fitri.


"Iya Mbak, Pak Dokter sangat pantas mendapatkan prestasi itu!" tambah Bi Sumi.


"Aku mau buat minuman segar untuk Mas Dicky Bi, tolong teruskan sedikit lagi suapin Alena, Alena sama Bi Sumi dulu ya, Mama mau biarkan Papa minuman, nanti keburu Papa datang!" Fitri mengecup kening Alena sebelum dia pergi ke dapur.


Bi Sumi langsung mengambil alih, menyuapi Alena makan di piring nya yang sisa sedikit itu.


Baru berapa menit Fitri membiarkan minuman dingin itu, Bi Sumi datang tergopoh-gopoh menghampiri Fitri.


"Ada apa Bi? Kok lari-lari? Nih es buah buat Mas Dicky sudah jadi, aku taruh kulkas dulu ya Bi!" ujar Fitri sambil menaruh beberapa gelas ke dalam kulkas.


"Mbak, itu lihat berita di TV Mbak, ayo Mbak!" ajak Bi Sumi.


"Berita di TV? Berita apa Mbak?" tanya Fitri bingung.


"Ayo lihat saja cepat!" sahut Bi Sumi.


Fitri kemudian berjalan mengikuti Bi Sumi, hingga mereka di ruang makan, Bi Sumi menunjukan sebuah berita di TV.


Mata Fitri melotot saat melihat berita yang di siapkan secara langsung itu.


"Apa? Sebuah toko kelontong kebakaran siang ini, merembet ke semua toko yang ada di sepanjang jalan itu, itu kan toko nya Bu Romlah!" pekik Fitri.


"Iya Mbak, itu memang toko nya Bu Romlah, makanya saya panggil mbak Fitri!" jawab Bi Sumi.


"Ya Tuhan, apakah ada korban jiwa Bi? Sepertinya aku harus melihat ke lokasi!" kata Fitri yang langsung menggendong Alena.


"Jangan kesana dulu Mbak, kebakaran itu besar sekali, pemadam kebakaran saja belum datang karena jalanan yang macet!" sergah Bi Sumi.


Tin ... Tin ... Tin ...


Terdengar suara klakson mobil Dicky dari arah gerbang.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2