Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menyelidiki


__ADS_3

Siang itu Dicky membereskan meja kerjanya sebelum dia keluar dari ruangannya.


Sudah jam 12 siang, Dicky janji akan kembali ke sekolah Internasional itu, untuk bertemu dengan Pak Hardi.


Dia sengaja melewatkan makan siang ya karena waktunya tidak banyak lagi.


"Dicky! Ayo ke kantin makan siang dulu!" ajak Dimas yang saat itu datang ke ruangan Dicky.


"Sorry Dim! Aku buru-buru tidak sempat!" tolak Dicky.


"Kau ini mau kemana sih Bro? Akhir-akhir ini kau terlihat sangat sibuk, mirip kayak pejabat saja!" cetus Dimas.


"Kenapa kau tidak mengajak Mia saja??" tanya Dicky sambil mulai berjalan keluar dari ruangannya. Dimas mengikutinya dari belakang.


"Sedang ada pasien yang mau melahirkan, jadi Mia sudah makan duluan!" sahut Dimas.


"Sorry Dim! Aku sedang buru-buru, ada hal hang harus aku selidiki!" ujar Dicky. Dimas tetap berjalan menyusul langkah cepat Dicky.


"Sedang menyelidiki apa kau? Buat orang kepo saja! Ajak-ajak dong!" kata Dimas.


Dicky lalu menoleh ke arah Dimas.


"Memangnya kau mau ikut aku Dim? Tidak ada praktek siang ini??" tanya Dicky.


"Tidak ada! Jadwalku hari ini hanya pagi hari, kebetulan ada Dokter gigi yang baru yang mengisi jadwal sore!" sahut Dimas.


"Ya sudah, ayo ikut aku!" ajak Dicky.


Mereka kemudian bergegas jalan ke parkiran, dan mulai naik ke mobil Dicky.


Dicky dengan cepat langsung melajukan mobilnya itu keluar dari rumah sakit nya.


"Sebenarnya kita mau ke mana sih Dic?" tanya Dimas.


Dicky menarik nafas panjang. Lalu dia mulai menceritakan soal Pak Hardi, soal Pak Donny dan soal kecurigaan Dicky mengenai Pak Hardi yang bisa jadi adalah orang yang sama dengan Doni yang pernah mencoba melecehkan Fitri.


Juga sebuah tanda tanya besar, apa motif Pak Hardi menyamar jadi guru les Dina dan Dara jika memang dia adalah orang yang sama dengan Donny.


"Wah! Seru nih! Aku selalu suka menjadi detektif, kenapa tidak dari dulu saja kau mengajakku Bro!" ujar Dimas sambil berdecak.


"Ini juga aku baru mulai menyelidiki, aku tidak mau orang itu punya maksud buruk terhadap keluargaku, terutama Fitri!" jawab Dicky.

__ADS_1


Drrt ... Drrrt ... Drrrt


Suara ponsel Dicky bergetar, Dicky mulai menepikan mobilnya dan mengangkat panggilan teleponnya dari istri tercintanya.


"Halo sayang!" sapa Dicky.


"Mas Dicky, kau di mana? Sudah makan siang belum? Mau aku titipkan makan siang sama Mang Salim?" tanya Fitri.


"Jangan Fit, aku sedang di luar bersama Dimas, nanti aku akan makan bersamanya, kau jangan khawatir!" jawab Dicky.


"Baiklah Mas, nanti Mas Dicky pulang jam berapa?" tanya Fitri lagi.


"Belum tau ini Fit, sudah ya, Mas lagi buru-buru ngejar waktu, nanti ku telepon lagi!" Dicky langsung memutuskan panggilannya dan kembali melakukan mobilnya.


"Duh enaknya yang di cariin istri, aku boro-boro di cariin Mia!" cetus Dimas.


"Sirik saja kau Dim!" sahut Dicky.


Mereka kemudian sampai di parkiran sekolah internasional itu, setelah memarkirkan mobilnya, mereka kemudian berjalan ke arah lobby.


Banyak mobil antar jemput dan anak-anak yang baru keluar dari sekolah.


Dicky lalu menghampiri seorang guru berseragam yang sedang berdiri di pintu lobby sambil menyalami murid.


"Lho, Pak Donny Suhardi baru saja pulang Pak, memangnya tidak ketemu tadi?" tanya Guru wanita itu.


"Tidak, mungkin karena banyak murid keluar masuk ya, jadi saya tidak memperhatikan!" sahut Dicky.


"Dia pakai kendaraan apa Bu?" tanya Dimas tiba-tiba.


"Dia pakai motor besar, kayak ninja gitu, warnanya merah, di belakang motornya ada box, kalau tidak salah belakang plat nomornya AB, coba kejar saja Pak, mungkin dia masih di parkiran!" jelas guru itu.


Tanpa menunggu lagi, Dicky dan Dimas langsung melesat kembali ke parkiran, benar saja, ada motor ninja merah yang di maksud guru tadi baru berjalan keluar dari parkiran.


"Ayo Dim kita kejar! Itu motor Pak Hardi yang selalu datang ke rumahku untuk ngelesin Dina dan Dara!" seru Dicky yang langsung naik ke dalam mobilnya dan melaju mengikuti motor besar itu dengan pengendaranya yang mengenakan helm.


"Kau tenang dulu Bro! Jangan grasak-grusuk! Nanti malah ketahuan!" sergah Dimas.


Motor itu terus melaju dan masuk ke dalam sebuah jalan yang agak sempit, Dicky jadi agak hati-hati mengendarai mobilnya, takut menyerempet karena jalannya sempit.


Kemudian mobil Dicky berhenti saat di lihatnya motor itu berhenti di sebuah rumah sederhana. Rumah minimalis yang kelihatan asri dan teduh walaupun kecil.

__ADS_1


Sang pengendara motor kemudian membuka helmnya.


Mata Dicky terbelalak ketika melihat wajah sang pengendara motor itu.


"Itu! Itu Donny si bajingan itu! Berarti dugaanku selama ini benar, Donny dan Hardi adalah orang yang sama!" seru Dicky.


"Sekarang kita intip saja lewat jendela kaca itu, dia tinggal dengan siapa, jangan terburu emosi dulu!" usul Dimas.


"Oke Dim, aku turun untuk melihat ke sana, kau mau ikut atau tunggu di mobil?" tanya Dicky.


"Aku ikut lah, biar saja mobil parkir di sini, aman kok depan warung!" sahut Dimas.


Mereka kemudian berjalan pelan menuju rumah yang memang tidak berpagar itu.


Pintu rumah itu masih nampak terbuka, dari luar Dicky dan Dimas melihat Doni sedang mencium tangan seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda.


Banyak foto-foto yang terpasang di dinding rumah itu.


Mereka terkesiap saat melihat foto yang paling besar yang terpasang di dinding rumah itu.


"Alamak Dicky! Itu kenapa foto istrimu ada di situ??" tanya Dimas dengan nafas tertahan.


Dicky mulai mengepalkan tangannya, emosi sudah memuncak sampai ke ubun-ubun.


Melihat wajah Dicky yang mulai merah padam, Dimas langsung menarik tangan Dicky menjauh dari rumah itu.


"Lepaskan Dim!!" sentak Dicky sambil menepiskan tangannya.


"Hei Bro! Kau mau cari mati?? Di sini pemukiman padat penduduk, kau berulah sedikit warga bisa memukulimu!!" sergah Dimas.


Karena emosi, Dimas langsung menarik Dicky dan mendorongnya masuk ke dalam mobil.


Kemudian dengan cepat Dimas melajukan mobil Dicky pergi dari tempat itu.


"Aku akan membuat perhitungan padanya!!" dengus Dicky kesal.


"Sabar Dicky! Kita jangan pakai jalur emosi, lebih baik selidiki dulu latar belakangnya, motivasinya, kita harus berpikir cerdas! Kau lupa kalau kau ini Dokter??" seru Dimas.


"Maafkan aku Dim! Tadi aku sangat emosi! Bisa-bisanya dia memajang foto istriku di rumahnya!" sahut Dicky.


"Sudah! Kau tahan dulu, aku lapar sejak tadi belum makan! Ayo traktir aku makan Bro!!" ujar Dimas sambil meringis memegangi perutnya.

__ADS_1


Bersambung ...


*****


__ADS_2