
Pagi itu saat bangun dari tidurnya, Dicky membuka tirai jendela dan duduk termenung di balkon kamarnya.
Banyak hal yang dia pikirkan, terutama hal yang terjadi belakangan ini, juga perubahan-perubahan yang mereka alami dalam hidup mereka.
Hari ini ini tanggal 27 Desember, Dicky genap berusia 34 tahun.
Namun tidak ada satupun orang yang mengingat tanggal kelahirannya, termasuk Fitri.
Sejak pagi Fitri bangun dia langsung turun ke bawah. Dia sibuk menyiapkan sarapan untuk anggota keluarganya, sampai dia lupa kalau hari ini adalah hari yang bersejarah bagi Dicky.
Dengan lesu Dicky mengambil handuknya, lalu bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan menyiramnya dengan shower.
Kemudian setelah selesai, dia langsung keluar kamar dan berganti pakaian, lalu dia turun ke bawah duduk di ruang makan seperti biasanya, aneka sarapan pagi sudah tersedia di sana.
"Eh Papa Dicky sudah bangun! mau langsung sarapan pa?" tanya Fitri.
"Ma, sepertinya kau lupa sesuatu? kau ingat tidak ada hal penting yang yang terjadi hari ini?" tanya Dicky balik.
Fitri nampak berpikir sesuatu keningnya mengerut, namun sejangka waktu kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada hal yang penting hari ini, Alex libur, nanti dia akan ambil rapot di hari Sabtu, Setelah itu kita liburan berangkat ke Jogjakarta, cuma itu yang ku ingat!" sahut Fitri.
Dicky sedikit kecewa, namun dia berusaha menyembunyikan raut wajah kekecewaannya itu.
"Baiklah kalau begitu, Hari ini aku akan pergi ke rumah sakit, ingin sekedar mengontrol Rumah Sakit, sekalian mengobrol dengan teman sesama dokter!" kata Dicky sambil mulai menyantap sarapan yang ada di hadapannya itu.
"Iya Pa, aku di rumah saja ya menjaga anak-anak, katanya hari ini mereka mau berenang, aku menemani mereka saja!" ujar Fitri.
"Okelah kalau begitu, aku berangkat sekarang saja, mumpung masih pagi!" ucap Dicky yang langsung menyelesaikan sarapannya.
Kemudian dia berdiri dan melangkah menuju ke depan, tempat dimana mobilnya terparkir.
Dalam hati dia kecewa dan sedih, karena Fitri melupakan hari ulang tahunnya yang jatuh pada hari ini.
__ADS_1
Padahal di tahun-tahun yang lalu, Fitri selalu ingat dan memberikan Dicky kejutan di hari ulang tahunnya, namun hari ini semua orang seolah lupa, sibuk dengan urusan masing-masing.
"Papa hati-hati ya!" ucap Fitri sambil mengecup bibir Dicky.
Dicky hanya tersenyum sambil mengelus rambut Fitri, kemudian dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukan nya keluar dari rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Dicky terus memikirkan Fitri dan seisi rumahnya yang lupa kalau hari ini dia berulang tahun, mereka seolah tidak menyadari tanggal berapa hari ini. Hal itu membuat Dicky sedikit sedih.
Ketika sampai di rumah sakit, Dicky terperangah karena di sepanjang parkiran sampai ke lobby, ada banyak karangan bunga untuknya yang mengucapkan selamat ulang tahun.
Dicky tersenyum, ternyata banyak orang yang tidak melupakan hari ulang tahunnya, bahkan di rumah sakit hari ini begitu meriah terlihat umbul-umbul dan aneka bunga yang sengaja diletakkan di sepanjang jalan itu.
Dicky kemudian turun dari mobilnya dan melangkah masuk melewati lobby menuju ke ruangannya.
"Selamat ulang tahun dokter Dicky!" ucap beberapa suster dan dokter yang kebetulan berpapasan dengannya.
Ketika sampai di ruangannya, Dicky kemudian membuka pintunya, dan dia sedikit terkejut karena melihat banyak bingkisan yang ada di meja kerjanya.
"Thanks Dim! ngomong-ngomong Siapa yang memberikan bingkisan ini padaku ya? Banyak sekali!" tanya Dicky.
"Paling juga dokter-dokter baru itu, mereka kan penggemar mu Dic! Kau tidak tahu saja, kau sering jadi bahan gibahan kalau mereka sedang berkumpul!" sahut Dimas yang langsung duduk di sofa ruangan Dicky itu.
"Masa sih?" tanya Dicky.
"Yah kau ini bagaimana sih, aku kan tiap hari praktek di sini, jadi aku tahulah apa yang jadi bahan omongan para dokter dokter dan suster baru itu!" sahut Dimas.
"Iya sih, mereka saja masih mengingat ulang tahunku, tapi Fitri sepertinya melupakan hari ini!" gumam Dicky yang juga duduk di sofa itu dengan menyandarkan punggung dan kepalanya ke belakang.
Dimas tertawa mendengar ucapan Dicky, Dicky persis seperti anak kecil yang mengharapkan mendapat ucapan selamat ulang tahun, beserta hadiah dari Fitri.
"Kau ini bro! Wajar kali Seorang Istri melupakan ulang tahun suaminya, karena dia sibuk mengurus rumah tangganya, jadi dia tidak sempat melihat tanggal!" sahut Dimas.
"Ya tapi tidak begitu juga kali, ya kali selama bertahun-tahun dia selalu ingat, hanya tahun ini saja dia lupa, Aku kan jadi sedih!" ucap Dicky.
__ADS_1
Dimas kembali tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan Dicky.
"kalau begitu, biar aku menelpon Fitri dan memberitahu Kalau hari ini kamu ulang tahun!" kata Dimas sambil tertawa.
"Jangan! Awas aja kalau kau berani melakukan itu!" ancam Dicky.
"Ampun Bro! Okelah kalau begitu, aku harus kembali ke ruangan, sebentar lagi pasienku pasti mengantri!" ujar Dimas yang langsung berdiri dari duduknya, dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.
Dicky mulai berdiri dan beranjak menuju ke meja kerjanya, yang dipenuhi bingkisan kado itu, dia mulai menyingkirkannya dan menumpuknya di sudut ruangan.
Tidak ada hadiah yang lebih indah, daripada pemberian istrinya, tapi sayang saat ini istrinya lupa kalau dia ulang tahun.
Dicky lalu memencet nomor telepon suster Wina, dari telepon yang ada di atas meja kerjanya itu.
"Halo suster Wina, tolong kau datang ke ruanganku sekarang juga!" titah Dicky.
"Baik Dokter!" jawab suster Wina.
Sepuluh menit kemudian, suster Wina datang dan langsung masuk ke ruangan Dicky.
"Suster, tolong kau suruh orang bawa hadiah-hadiah ini, lalu langsung masukkan ke dalam bagasi mobil ku, hari ini aku akan mentraktir semua dokter dan perawat di cafe bawah Rumah Sakit, kalian boleh makan gratis khusus hari ini!" ujar Dicky.
"Asyik! sering-sering dong Dok! Nanti aku akan beritahu semuanya, di jam makan siang nanti, kita makan gratis di cafe, Terima kasih ya Dok, dan selamat ulang tahun juga Semoga panjang umur!" ucap suster Wina yang baru menikah itu.
"Ya ya, sekarang kalau langsung kerjakan tugasmu, minta tolong security untuk mengangkat bingkisan itu ke bagasi mobilku, aku ingin menunjukkan pada Fitri kalau banyak orang yang mengingat ulang tahunku!" ujar Dicky.
"Lho, memangnya Bu Fitri lupa kalau hari ini dokter Dicky ulang tahun?" tanya suster Wina.
Dicky menganggukkan wajahnya dengan sedih.
Bersambung...
****
__ADS_1