Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sensitif


__ADS_3

Stevent memandang wajah Nisa yang telah terlelap, dalam mimpi yang Indah.


Hati Stevent sangat gelisah, ia berjalan menuruni tangga dan keluar dari rumah, ia memandangi sebuah mobil hitam terparkir di samping garasi mobil.


Mobil yang di pakai Nisa kembali ke rumah. Stevent berjalan ke ruang sebelah, rumah khusus para pelayan, pengawal dan Petugas keamanan.


Stevent duduk di ruang tengah meletakkan kakinya di atas meja dan melipat kedua tangannya di dada, seorang pelayan telah memanggil Lia yang berjalan dengan rasa takut dan gugup.


Lia berdiri di depan Stevent dengan menundukkan kepalanya tanpa berkata sepatah katapun.


" Siapa yang menolong kalian dari kecelakaan?" tanya Stevent menatap tajam.


Lia gemetaran, ia tidak tahu harus menjawab apa, terlalu takut.


" Jawab!" bentak Stevent.


" Tuan Nathan dan Roy" jawab Lia gugup.


" Brak" Stevent menendang meja kaca di depannya dan pecah, kaca berserakan di lantai. Lia memejamkan matanya.


Stevent berdiri berjalan mendekati Lia,


" Siapa yang menyelamatkan Nisa? apakah dia menyentuhnya?" tanya Stevent berdiri di depan Lia.


Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.


" Nyonya Nisa Pingsan, Tuan Nathan menggendong Nyonya ke mobilnya" jelas Nisa pelan, ia sudah di beritahukan, bahwa Stevent sangat protektif dan cemburu berlebihan.


" Aarrghhh" Stevent berteriak mengepalkan tangannya. Dia seakan frustrasi mendengarkan Nathan menggendong Nisa.


" Kenapa, kenapa harus Nathan yang menyelamatkan kalian" Stevent berteriak di hadapan Lia dan beberapa pengawal yang berdiri tegap tanpa suara dan terus menunduk kepala.


" Apa kamu tahu apa yang ia lakukan pada Nisa?" tanya Stevent, ia mengepalkan tangannya, begitu kesal.


Lia hanya menggeleng dan membeku, ia merasakan kaki dan tangannya telah sedingin es.


" Tunggu dulu, Apakah Roy selalu berada di rumah Sakit?" tanya Stevent, Jika Roy di rumah Sakit sepanjang malam berarti Nathan bersama Nisa sepanjang hari dan malam.


Ia bisa gila membayangkan Nathan dan Nisa berada dalam satu ruang dan hanya berdua.


Nathan akan mencuri ciuman Nisa, memeluk Nisa , atau membelai rambut Nisa ketika ia sedang tidur.


" Jawab!" bentak Stevent menahan pikiran gila yang ada di otaknya.


"Ii Iya Tuan" Jawab Lia gugup semakin gemetaran, kakinya seakan tidak sanggup lagi menahan beban tubuhnya.


"Aarrghhh Shit" Stevent berteriak dan mengumpat.


"Aku tidak boleh meninggalkan Nisa walaupun hanya sedetik saja" Stevent mengacak rambutnya.


" Apa yang dilakukan Nathan pada Nisa, aku harus bertanya kepada Nisa" Stevent berbicara sendirian.


Ia berlari kembali ke kamar, melihat Nisa masih tidur dalam senyum.


Stevent mondar-mandir di samping tempat tidur Nisa, ia tidak tenang dan tidak bisa tidur.


Ia harus berterima kasih kepada Nathan yang telah menyelamatkan Nisa tapi kebencian dan kecemburuan Stevent kepada Nathan sudah mendarah daging.


Dimata Stevent Nathan hanya ingin merebut Nisa dari dirinya dengan segala cara.


Stevent duduk di ujung tempat tidur dan terus memandangi wajah cantik Nisa.


" Kamu adalah milikku, tidak seorangpun yang dapat mengambil milikku" Stevent menyentuh bibir Nisa dengan jari jempolnya.


" Sayang, tidak ada yang boleh menyentuh dirimu selain diriku " Stevent Mencium bibir Nisa dengan lembut, membuat Nisa menggeliat dan membelakangi Stevent.


Stevent beranjak dari tempat tidur ia duduk di sofa dan tertidur.


Nisa Bangun sebelum azan subuh berkumandang, ia membuka mata perlahan dan meraba-raba tempat tidur mencari suaminya.


Nisa tidak mendapatkan Stevent di tempat tidur, ia segera duduk dan melihat Stevent tidur di sofa.


" Kenapa ia tidur di Sofa?" Nisa bertanya pada dirinya sendiri.


Nisa beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju Sofa mendekati Stevent.

__ADS_1


" Sayang, bangun" Nisa mengusap lembut pipi Stevent.


Stevent memutar tubuhnya membelakangi Nisa, ia sedang marah karena cemburu.


Nisa berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian.


Stevent kembali memutar tubuhnya melihat Nisa meninggalkan dirinya menuju kamar mandi.


" Kenapa ia tidak berusaha merayuku" kesal Stevent kembali memejamkan matanya.


Nisa keluar dari kamar mandi, aroma manis buah tercium dari tubuh Nisa menggelitik indera penciuman Stevent, ia membuka matanya dan melihat seorang wanita cantik hanya menggunakan handuk sebatas paha dan rambut digulung dalam balutan handuk.


" Istriku semakin cantik dan menggoda, ah , aku harus menahan diri" Stevent memutar tubuhnya kembali membelakangi Nisa.


Nisa berjalan mendekati Stevent, Aroma manis semakin menggoda.


" Kenapa ia berjalan kemari?" Stevent berbicara sendiri di dalam hati.


" Sayang, bangunlah sebentar lagi waktu sholat Subuh.


Nisa mencium pipi Stevent, bibir dingin dan lembut menempel di pipi Stevent.


" Sayang, jangan menggangguku" ucap Stevent kesal.


" Aku hanya membangunkan dirimu, jika kamu tidak suka aku tidak akan perduli " Nisa beranjak dari sofa dan menuju lemari, ia menggantikan pakaian dan segera mengenakan mukena.


Nisa telah berada pada ruang Sholat, ia membaca Alqur'an.


Stevent melongo, ia tidak percaya Nisa marah kepada dirinya, padahal Stevent yang ingin marah karena cemburu.


Terdengar adzan subuh, Nisa segera sholat tanpa menunggu Stevent yang sedang mandi.


Stevent keluar dari kamar mandi, ia melihat tempat tidur yang telah rapi dan pakaian ganti telah disiapkan, tetapi ia tidak melihat istrinya.


Stevent segera mengganti pakaian dan melaksanakan shalat subuh, selesaikan sholat Stevent segera menuruni tangga dan mencari istrinya.


Stevent berjalan ke dapur, ruang tengah, ruang tamu hingga perkarangan, ia tidak menemukan Nisa.


" Kemana Dia?" Stevent mulai gelisah.


" Cari sampai dapat!" Teriak Stevent.


" Maaf Tuan, mobil hitam di samping garasi tidak ada" ucap seorang pengawal ketakutan.


" Apa? Kenapa kamu membiarkan nyonya keluar rumah?" Bug sebuah pukulan mendarat di perut pengawal.


Stevent Berlari ke kamar, ia melihat tidak ada tas ransel yang biasa Nisa pakai, Stevent segera mengambil ponsel dan menghubungi nomor Nisa.


Ponsel berdering dari lagi meja rias, Nisa tidak membawa ponselnya.


"Oh Shit" Stevent segera mengambil jas dan kunci mobilnya Berlari menuju garasi mobil.


" Apakah dia bertemu Nathan?" pikiran Stevent kacau.


" Aku akan mencari ke Pesantren" Stevent mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang masih tampak sepi.


Stevent tidak melihatnya mobil hitam yang di kendarai Nisa di halaman rumah Abi.


" Tidak ada, kemana kamu Sayang" Stevent mulai kesal.


" Rumah Jhonny." pikir Stevent, ia kembali memacu mobil dengan kencang.


Stevent memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu rumah Jhonny.


Ia masuk tanpa mengetuk pintu, dan menuju laboratorium, ia hanya melihat Dokter Aisyah.


" Ada apa Stev?" tanya Aisyah heran.


" Apakah ada Nisa di sini?" tanya Stevent gelisah.


" Apa maksud kamu, jangan katakan Nisa hilang, aku baru mau mengunjungi Nisa" Tegas Aisyah.


" Aku hanya sedikit marah kepada dirinya, tapi ia marah besar kepadaku" Stevent sangat khawatir.


" Apakah Nisa sedang hamil?" tanya Aisyah.

__ADS_1


" ya" Jawab Stevent berjalan meninggalkan Dokter Aisyah


" Steve, kamu harus menjaga Nisa, seseorang sedang mengincar Nisa dan wanita hamil itu Sensitif, emosi mereka tidak stabil" ucap Stevent.


" Kemana aku harus mencarinya?" Stevent gusar.


" Pantai" Ucap Aisyah.


" Benar" Stevent segera berlari masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil menuju pantai.


Stevent dan Nathan sampai bersamaan di pantai. Bahkan mobil mereka bersebelahan.


Stevent mulai emosi, ada banyak pertanyaan di otaknya,


"bagaimana Nathan tahu Nisa ada di pantai?"


Stevent melihat Nisa duduk di atas batu di tepi pantai, ujung gamisnya telah basah.


Wanita berjilbab menikmati terbitnya Matahari dan angin laut yang menyegarkan memberikan ketenangan pada hari dan pikiran.


" Kenapa kamu kemari?" tanya Stevent menatap tajam ke arah Nathan.


"Aku hanya mengkhawatirkan Nisa" Jawab Nathan yang membuka pintu mobilnya untuk segera pergi.


Stevent menari kerah baju Nathan.


" Bagaimana kamu tahu Nisa ada di sini?" Stevent seakan siap melahap Nathan.


" Mobil yang Nisa pakai adalah mobilku dan Roy telah memasang alat pelacak" Nathan membalas tatapan tajam Stevent.


" lepaskan tanganmu, kamu tidak perlu berterimakasih karena aku telah menyelamatkan Nisa karena aku lakukan itu untuk Nisa Dan bukan untuk dirimu" tegas Nathan.


Stevent melepaskan tangannya dan membiarkan Nathan pergi.


" Seharusnya kamu bisa menjaga Nisa dan tidak membiarkan dia dalam bahaya, musuh kamu terlalu banyak" Nathan tersenyum menghina.


Stevent tidak bisa marah, apa yang dikatakan Nathan ada benarnya.


Stevent berjalan mendekati Nisa dan memeluknya dari belakang.


"Sayang maafkan Aku" Stevent terkejut ternyata Nisa sedang menangis.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Stevent bingung.


"Kamu membentak ku, hiks hiks" Nisa sesegukan.


"Apa, Aku membentak dengan lembut, membuat ia marah dan menangis" Stevent menggerutu dalam hati.


" Sayang, maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya" Stevent memeluk Nisa.


" Janji" suara lembut dan manja dari Nisa.


" Janji" ucap Stevent memeluk erat tubuh Nisa.


Menikmati hangatnya matahari pagi bertemu dengan dinginnya angin pantai.


***


**


*


*Terimakasih


*


**


**


Thanks for Reading


Terimakasih atas kunjungan dan Dukungan Readers semua yang selalu memberikan Like, komentar dan Vote.


Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.

__ADS_1


Love You Readers, muuach**


__ADS_2