
Rumah Utama Stevent.
Viona berjalan ke kamar yang biasa Nisa gunakan, ia mau mencoba gamis Nisa.
Viona melewati kamar Papa dan Mama, dan mendengarkan papa sedang berbicara di telepon.
"Halo Tuan Alex, kami telah mendapatkan kabar tentang Nona Nisa." ucap seorang dari sebrang.
"Katakan berapa lama lagi Nisa akan melahirkan?" tanya Papa.
"Lima bulan lagi, sekarang usia kehamilan empat bulan lebih dua Minggu." jelas seorang di sebrang.
"Kenapa papa berbicara dengan kehamilan Nisa?" Viona berbicara di dalam hatinya.
"Pastikan cucuku lahir dengan selamat tetapi biarkan wanita itu mati." ucap papa Alexander dan mengejutkan Viona.
Viona segera berlari masuk ke kamar Nisa dan menutup pintu. Ia merasakan seluruh tubuhnya gemetar.
"Siapa itu?" teriak Papa Alexander dan melihat keluar kamar.
Rasa takut membuat keringat mengalir membasahi wajah dan tubuh Viona yang telah dingin dan memucat.
"Papa, kenapa papa mau membunuh kak Nisa?" Air mata Viona mengalir.
"Kak Stevent, apakah dia tahu rencana Papa?" Viona masih terduduk di tempat tidur Nisa.
Ponsel Viona berdering, nomor baru terlihat di layar ponsel.
"Halo, Assalamualaikum." jawab Viona berusaha menenangkan diri.
"Waalaikumsalam, apakah kamu tidak ke kampus lagi?" tanya seorang pria.
"Anda siapa?" tanya Viona.
"Aku masa depanmu." ucap pria di sebrang.
Viona mengangkat alisnya dan melihat layar ponselnya.
"Maaf, saya tidak mengenali Anda." Viona mematikan ponselnya.
Ia harus segera hubungi Stevent, dan memberitahu tentang apa yang telah ia dengar.
Ponsel Viona kembali berdering, panggilan dari nomor yang sama.
"Apa lagi?" jawab Anna kesal.
"Saya profesor Zayn." ucap Zayn tegas.
"Aaah, maaf Prof ." Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia telah membentak Dosen.
"Apa kamu tidak ke kampus?" tanya Zayn.
"Saya, sedang bersiap." jawab Viona cepat.
"Baiklah, Datanglah ke ruangan saya." ucap Zayn memutuskan panggilan.
"Baik." panggilan telah terputus.
"Viona, apa yang kamu lakukan di kamar Nisa?" tanya Papa membuka pintu dan membuat Viona terkejut.
"Papa." Suara Viona lembut dan takut.
"Turunlah, sarapan telah siap!" perintah Papa memandang sekeliling ruangan.
"Iya Pa." jawab Viona cepat dan segera menuruni tangga mengikuti langkah papa.
Viona memandang punggung Papa Alexander dengan rasa ngeri. Ada banyak pertanyaan di pikiran Viona.
"Sayang, kenapa kalian lama sekali?" Mama menggandeng tangan Papa Alexander.
Papa Alexander mencium dahi Mama Veronika dan duduk bersama di kursi makan.
"Kenapa Papa mau membunuh Kak Nisa, apa salahnya?" pikir Viona kacau.
"Viona Sayang, habiskan makanan kamu jangan melamun." Mama menyentuh pundak Viona.
"Ah, iya Ma, maaf." Viona melirik Papa dan segera menghabiskan makanannya.
Tatapan tajam Papa penuh kecurigaan membuat Viona semakin takut berada di dekat Papa.
__ADS_1
"Ma, Pa Viona berangkat ke kampus." Viona pamit dan tergesa-gesa meninggalkan ruang makan.
"Ada apa dengan Viona?" tanya Papa.
"Iya hampir terlambat." jawab Mama.
"Apakah kamu akan ikut diriku ke kantor?" tanya Papa.
"Jika kamu menginginkannya, aku akan ikut." Mama Veronika tersenyum.
"Baiklah, kita akan pergi bersama." Papa mencubit hidung Mama Veronika.
Viona berlari menuju mobil yang telah di tunggu sopir dan pengawal.
"Ah, perutku sakit, setelah makan langsung berlari, aku benar-benar takut melihat Papa." Viona memeluk perutnya dan duduk di kursi penumpang.
"Kita akan kemana Nona?" tanya sopir.
"Kampus." jawab Viona.
Mobil hitam pekat melaju meninggalkan perkarangan rumah utama Stevent.
Viona segera menghubungi nomor Stevent tetapi tidak ada jawaban, mencoba berkali - kali.
"Kenapa Kakak selalu sibuk?" Viona kesal.
Mobil telah memasuki halaman kampus, seorang pria tampan tersenyum melihat Viona dari ruangannya.
Seorang pengawal membukakan pintu untuk Viona.
Viona berjalan melewati lorong belakang, ia berusaha menghindari keramaian.
"Aw." tangan Viona di tarik dan masuk ke dalam ruangan kosong.
"Jade, kenapa kamu suka menarik diriku seperti ini?" Viona memandang wajah imut Jade.
Jade sangat tampan dan cool, cowok pendiam dan cuek itu benar-benar tidak memperdulikan banyak wanita yang menyukainya.
"Maafkan aku." Jade melepaskan tangannya.
Viona berdiri tegak dan memperhatikan wajah Jade dengan bibir merahnya.
"Aku baru menyadari jika pria ini benar-benar tampan." gumam Viona.
"Jade, aku tidak akan mendapatkan izin dari Kakakku." ucap Viona.
"Mamaku akan menghubungi Mama kamu." ucap Jade.
"Benarkah?" tanya Viona.
"Kakak ku kembali dari Kairo, ia berlibur di rumah." ucap Jade bersemangat.
"So?" Viona memerhatikan wajah Jade seperti anak kecil.
"Kita akan makan malam bersama dia keluarga, aku berharap kamu datang." Jade memasang wajah sedih.
"Jika Papa dan Mama ikut, aku pasti ikut." ucap Viona tersenyum.
"Terimakasih Viona." Jade tersenyum puas.
Mereka berjalan bersama menuju ruang kelas.
"Jade, prof Zayn memanggil ku ke ruangannya." Viona mengentikan langkanya.
Beberapa pasang mata melihat kearah Jade dan Viona berjalan bersama.
Tidak ada yang bisa protes Viona dan Jade pasangan yang serasi.
Jade dengan wajah Korea dan Viona dengan wajah Eropa Asia.
Kecerdasan mereka berdua di akui oleh kampus dengan nama selalu di deretan paling atas.
"Apakah kamu mau aku menemani dirimu?" tanya Jade lembut dan cute.
"Ah, tidak terima kasih." Viona melambaikan tangannya dan berjalan menuju ruangan prof Zayn.
Viona mengetuk dan membuka pintu, ia melihat Zayn berdiri tegap di samping jendela kaca.
"Assalamualaikum." sapa Viona.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, kenapa kamu sangat lama?" tanya Zayn.
"Maaf Prof." ucap Viona lembut.
"Duduklah." perintah Zayn.
"Terimakasih." Viona duduk dan melihat ke arah Zayn.
"Pria ini lebih pantas jadi mahasiswa." pikir Viona dan memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu membolos dan pergi ke pesantren itu?" tanya Zayn.
"Aku hanya bosan." jawab Viona.
"Bosan atau mau bertemu dengan pria bernama Kenzo?" Tanya Zayn langsung.
Viona menatap tidak suka pada pernyataan Zayn.
"Saya, tidak tahu jika ada Kak Kenzo di pesantren." tegas Viona kesal.
"Bukankah dia tinggal di sana?" tanya Zayn.
"Kak Kenzo adalah pengusaha sukses di Kairo Mesir, ia hanya merindukan tempat ia dibesarkan." jelas Viona menahan Emosi.
Viona merasa seakan Zayn sedang merendahkan Kenzo, pria pujaan yang hangat walaupun cuek.
"Ooh, berarti Kenzo adalah pria tanpa keluarga." ucap Zayn.
"Dia memiliki keluarga." Viona kesal dan beranjak dari kursinya.
Zayn sengaja melakukan itu untuk melihat reaksi Viona atas pembelahan terhadap Kenzo.
Tangan Viona di tarik Zayn sehingga menahan langkah kaki Viona.
"Apa yang prof lakukan?" Viona berusaha melepaskan tangannya, ia sangat khawatir ada yang melihatnya.
"Kamu menyukai Kenzo." ucap Zayn.
"Itu bukan urusan anda prof." Viona menarik tangannya.
"Kamu benar, saya hanya penasaran pria seperti apa yang bisa membuat kamu jatuh cinta, tetapi sepertinya pria itu mencintai masa kecilnya." Zayn tersenyum tampan.
"Terimakasih, dan saya tahu semua itu, permisi." Viona bergesas meninggalkan ruangan Zayn dengan emosi.
"Apa yang prof Zayn pikirkan, mengapa Ia ikut campur urusan pribadi ku." kesal Viona dan berjalan cepat menuju kelasnya.
"Bruk." Viona menabrak seseorang.
"Rebecca, apa yang kamu lakukan di sini?" yang Viona.
Rebecca terdiam, ia hampir tidak mengenali Viona yang telah menggunakan jilbab.
Lama Rebecca memerhatikan wajah Viona.
"Hey, kenapa kamu melamun, aku Viona." Viona menarik tangan Rebecca yang terduduk di lantai.
"Oh my God, Viona." Rebecca segera memeluk Viona.
"Apa kabar dirimu Rebecca?" Viona mengusap rambut Rebecca.
"Aku baik, kamu semakin cantik, sejak kapan kamu menggunakan jilbab?" tanya Rebecca.
"Sejak kak Stevent menikah." Viona tersenyum, ia telah melupakan masalahnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Viona kembali mengulangi pertanyaannya.
"Aku akan pindah kuliah disini karena kakak kamu Stevent yang akan membiayai kuliahku." Rebecca tersenyum bahagia.
"Oh benarkah." Viona tersenyum.
"Baiklah Viona, aku harus segera melapor diri, bisakah kamu memberikan nomor ponsel dirimu?" tanya Rebecca bersemangat.
"Tentu saja." Viona mengetik nomor ponselnya di ponsel Rebecca.
Mereka berdua segera berpisah, karena Viona harus masuk ke kelas dan Rebecca melaporkan diri.
******************************************
Mohon dukungannya untuk selalu memberikan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih 🤗 baca juga (Arsitek Cantik) dan (Nyanyian takdir Aisyah)
__ADS_1
Semoga Readers semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Love You Readers 💓 Thanks for Reading 🤗