
Kamar Angel
Dini melakukan kunjungan ke ruangan Angel sebelum ia keluar dari rumah sakit.
" pagi Angel" sapa Dini
" Pagi" jawab Angel singkat dengan mata yang masih melihat ke pintu berharap Nisa datang.
" Selamat pagi Nyonya Davina" Dini mendekat Nyonya Davina.
" Selamat pagi" Jawab Nyonya Davina dan tersenyum.
" Hari ini, Angel sudah bisa kembali ke rumah, ini surat keterangan dari Dokter Nisa" Dini menyerahkan surat untuk di tandatangani oleh Nyonya Davina.
" Suster, dimana Mama saya?" Angel menatap penuh harap.
Dini Bingung, bagaimana ia bisa tahu dimana Mama anak itu, iya saja baru tahu Angel adalah putri presedir Samuel.
" mmm" Dini berpikir.
" Dokter Nisa" bisik Nyonya Davina di telinga Dini.
" Oh, Dokter Nisa tidak bekerja lagi Sayang, hampir lupa, ada surat buat Angel" Dini menyerahkan sebuah amplop pink cantik.
Dengan cepat Angel mengambil surat dari tangan Dini dan membukanya.
**Selamat pagi Angel sayang,
Angel yang cantik secantik bidadari, selalu semangat menjalani harimu, sekarang Angel sudah sehat, bisa kembali ke sekolah, belajar dan bermain bersama teman.
Jangan Marah sama Papa yang sibuk bekerja karena Papa bekerja untuk membahagiakan Angel.
Banyak anak jalanan yang harus hidup susah untuk membeli makanan dan peralatan sekolah.
Bagaimana dengan Angel? Angel punya segalanya, jadi jalani kehidupan ini dengan rasa bahagia dan penuh syukur. Selalu jaga kesehatan dan ikuti perintah Oma. Semangat!
Angel harus jadi anak yang baik, penuh dengan rasa cinta dan kasih kepada semua orang.
Peluk cium dan Sayang
Mama Nisa*.
Angel tersenyum*,
" Suster kenapa, Mama Nisa berhenti bekerja?" tanya Angel polos
" mmm, Suster Dini tidak tahu" jawab Dini ragu.
" Apa suster Dini berbohong? kata Mama Nisa, orang berbohong akan terlihat jelas kebohongan di matanya" jelas Angel cerdas.
" Tuan Samuel telah memecat Dokter Nisa" ucap Dini pelan.
Nyonya Davina terkejut, ia hanya menahan emosi, ia akan menunggu Samuel di kamar Angel.
Angel hanya terdiam, ia membalik tubuhnya menghadap Diding membelakangi Dini.
Dini pamit kepada Nyonya Davina setelah membereskan peralatan medis yang ada di kamar Angel.
Angel memejamkan matanya, ia masih menghadap dinding dan menangis.
" Sayang, nanti Papa yang akan mengantarkan kita pulang" Nyonya Davina telah selesai merapikan pakaian.
Angel hanya diam tanpa menjawab.
Pintu terbuka, seorang pria tampan menghampiri Putrinya.
" Angel Sayang, ayo kita pulang" Samuel mendekat Angel.
Angel tidak memperdulikan Samuel, ia tetap diam dengan mata terpejam.
" Sayang, apakah kamu tidur?" Samuel melihat sebuah surat di tangan Angel dan mengambilnya.
Nyonya Davina menatap Angel yang kembali terdiam dan tidak memperdulikan Samuel, ia hanya menahan emosi menunggu waktu yang tepat.
Samuel duduk di Sofa dan membaca surat dari Nisa.
" Siapa Mama Nisa?" tanya Samuel Emosi.
" Aku tidak pernah mau mencarikan Angel Mama baru" lanjut Samuel menggenggam surat dan melemparnya ke lantai.
Nyonya Davina mengambil surat dari lantai dan membacanya.
" Apa kamu tahu siapa yang menulis surat ini?" tanya Nyonya Davina.
" Aku tidak perduli, aku sangat membenci wanita yang mau mendekati aku ataupun putriku" tegas Samuel emosi.
" Plak" sebuah tamparan mendarat di pipi Samuel
" Apa kamu tahu, wanita ini adalah Dokter Nisa yang telah melakukan operasi putrimu, bahkan ia merawat Angel dengan telaten melebihi ibunya" bentak Nyonya Davina menahan emosi.
__ADS_1
Samuel dan Nyonya Davina menoleh ke arah Angel yang telah sesegukan menahan tangisnya.
Dada Angel turun naik tidak teratur, ia mulai kejang - kejang dan tidak sadarkan diri.
" Angel " Samuel dan Nyonya Davina berteriak
Samuel segera menekan tombol panggilan Dokter.
Dokter dan perawat bergerak cepat memasang kembali peralatan medis di tubuh Angel.
" Apa yang terjadi pada Putriku?" tanya Samuel Emosi.
" Putri Anda baik-baik saja Tuan, ia hanya tertekan" jelas seorang Dokter.
" Kamu harus segera mencari Dokter Nisa" bentak Nyonya Davina khawatir.
" Apa kamu tahu, Dokter Nisa menghabiskan waktunya menemani Angel selama dalam pemulihan, Apa kamu tahu betapa bahagianya putrimu bersama Dokter Nisa, hanya Mama yang melihat kebahagiaan di mata Angel" Nyonya Davina kesal
Samuel berjalan meninggalkan ruangan Angel menuju ruang pribadinya.
Ruang Presedir.
Dini berada di ruangan presedir, ia berdiri tepat di depan Samuel, mata tajam Samuel menatap Dini.
Erick duduk di sofa dan memperhatikan Samuel yang hanya diam.
" Sampai kapan dia akan menyiksa assisten Dokter itu?" gumam Erick.
" Siapa nama kamu?" tanya Samuel
" Dini Tuan"
" Apakah kamu assisten Dokter Nisa?" tanya Samuel menyelidiki dengan tatapan dingin.
" Benar Tuan" jawab Dini singkat dan hanya menunduk.
" Apakah kamu tidak bisa membawa Dokter Nisa kembali ke mari?" tanya Samuel seperti seorang wartawan.
" Saya telah menghubungi Dokter Nisa tapi sepertinya dia tidak akan kembali lagi" Jawab Dini khawatir, karena ia hanya berhasil menghubungi Nisa satu kali setelah itu nomor ponselnya telah di blokir dan ia yakin pasti Stevent yang memblokir nomornya.
" Dimana rumah Dokter Nisa?" Samuel beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Dini.
" Dokter Nisa punya dua rumah Tuan, satu di pesantren dan satu lagi saya tidak tahu" jawab Dini dengan jantung berdetak kencang.
" Erick, berangkat ke rumah Dokter Nisa!" perintah Samuel, mengambil jas dan berjalan ke luar dari ruangan.
" Mari Nona Dini, kita bertamu ke rumah Dokter Nisa" Erick dan Dini mengikuti Samuel.
Samuel duduk di samping Erick di kursi bagian depan dan Dini duduk sendirian di belakang.
Jantung Dini berdetak kencang berada satu mobil bersama dua orang pria tampan.
Mobil berhenti tepat di pintu gerbang pesantren, Samuel memperhatikan gedung Seperti sekolahan dan sebuah rumah sederhana di samping pesantren berada dalam satu kawasan.
Dini segera membuka pintu pagar di samping gerbang. Ia berjalan masuk ke dalam perkarangan diikuti oleh Samuel dan Erick.
Samuel memperhatikan rumah terlihat keci di matanya.
" Apakah seorang Dokter hidup miskin" Pikir Samuel.
Erick merasakan kesejukan dan kenyamanan dari rumah sederhana dengan halaman yang dipenuhi rumput, pohon yang rindang dan bunga warna-warni.
Dini mengucapkan salam dan mengetuk daun pintu yang terbuka.
" Waalaikumsalam" suara Umi lembut menjawab salam dan berjalan mendekat Dini di depan pintu.
" Maaf Umi, apakah Dokter Nisa ada?" tanya Dini bersalaman dengan Umi.
" Masuk dulu, bicara di dalam" Umi menarik tangan Dini dan duduk di sofa diikuti Samuel dan Erick tanpa mengucapkan salam.
" Silahkan duduk, Umi akan buatkan minuman" ucap Umi meninggalkan tamunya.
Samuel berdiri, ia melihat foto seorang wanita cantik berkerudung dari kecil hingga dewasa tersusun rapi di dinding.
Tanpa sadar Samuel berjalan ke ruang tengah, ia melihat lemari kaca yang dipenuhi mendali dan tropi, foto - foto Nisa ketika mengikuti kejuaraan dan perlombaan dan keluar sebagai pemenang.
" Cantik" gumam Samuel memandang foto Nisa bersama Abi dan Umi.
" Usianya belum cukup 25 tahun tetapi sudah menjadi Dokter ahli Bedah, berapa tahun ia menyelesaikan pendidikan" Samuel berbicara sendirian.
" Tuan, silahkan minumannya" Umi menyapa Samuel yang berada di ruang tengah dan kembali ke ruang tamu.
" Terimakasih, apakah Dokter Nisa putri Anda?" tanya Samuel langsung.
" Iya, apa ad sesuatu?" tanya Umi pemasaran.
" Tidak, saya hanya ingin bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih" ucap Samuel.
Erick meneguk kopi hangat dan memakan cemilan, Dini curi - curi pandang melihat Samuel dan Erick.
__ADS_1
" Jika, anda berterimakasih atas bantuan putri saya anda tidak usah repot, Nisa sudah terbiasa, dia Ikhlas" Umi tersenyum.
" Baiklah Nyonya, bolehkah saya bertemu dengan Dokter Nisa?" tanya Samuel tidak sabar, ia menghawatirkan Angel.
" Saya akan mencoba menghubungi Nisa" ucap Umi, mengeluarkan ponsel dari saku kanan gamis.
Umi segera melakukan panggilan, namun Nomor Nisa tidak aktif.
" Maaf Tuan, nomor ponsel Nisa tidak aktif" Umi meletakkan ponselnya di atas meja.
" Apakah saya tidak bisa meminta alamat rumahnya?" Samuel benar-benar tidak sabaran.
" Tidak ada yang tahu rumah Nisa yang baru, setiap hari ia datang di sini" jelas Umi.
" Tolong, katakan kepada Dokter Nisa untuk menemui saya, secepatnya" Samuel memperhatikan Erick dan Dini.
" Maaf Tuan, anda siapa ingin bertemu dengan Nisa?" tanya Umi penasaran.
" Saya adalah presedir Rumah Sakit" jawab Samuel.
" Berarti Anda bisa bertemu dengan Nisa setiap hari di Rumah Sakit" tegas Umi yang tidak suka dengan sikap angkuh dari Samuel mirip Stevent.
" Erick Jelaskan!" perintah Samuel.
" Maaf, Nyonya, Presedir Samuel salah pecat orang" jelas Erick tersenyum.
" Maksud Anda Nisa sudah tidak bekerja di Rumah Sakit?" tanya Umi menyakinkan diri.
" Begitulah Nyonya" ucap Erick.
"Maaf Umi, ini semua kesalahan saya" ucap Dini.
Umi hanya menarik nafas, ia tahu dipecat dari Rumah Sakit bukan masalah bagi Nisa, jangankan membangun Rumah Sakit, istana megah saja Stevent bisa, asalkan Nisa meminta kepadanya.
" Saya akan menyampaikan pesan anda untuk Nisa" ucap Umi.
"Terimakasih, kami permisi dulu " ucap Erick
Mereka segera meninggalkan rumah Umi dan kembali ke Rumah Sakit.
Samuel duduk di kursinya dan melamun, Erick memperhatikan Samuel.
" Kenapa aku kesulitan bertemu dengan wanita itu?" Samuel bertanya kepada Erick.
" Karena Kalian tidak berjodoh" ucap Erick.
" Siapa yang mau berjodoh dengan wanita itu" ucap Samuel angkuh.
" Hahaha, " Erick Tertawa membuat Samuel mengangkat sebelah alisnya.
" Hey Bro, kamu belum pernah bertemu bidadari, menyesal kamu nantinya" Erick menepuk pundak Samuel.
Samuel membayangkan foto Nisa yang terpajang di rumah Umi dengan senyuman manis tulus dan cantik alami, rambut yang tidak terlihat karena tertutup hijab dan pakaian panjang menutupi seluruh tubuhnya, namun tidak bisa menutupi kecantikan Nisa.
" Hey, jangan berkhayal dengan orang yang belum kamu kenal, nanti kecewa, hahahaha" Erick tertawa dan kembali duduk di Sofa.
" Aku memikirkan Angel yang selalu memanggil nama wanita itu" kesal Samuel.
" Apa sesulit ini bertemu dengan Dokter Nisa?" gumam Samuel penasaran dengan Nisa
Samuel memejamkan matanya, merebahkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Annisa Salsabila, Dimana kamu berada?" Ucap Samuel dalam hati
****
***
**
*
*"* *TerimakasiH*"*
*
**
***
***
~ Thanks for Reading ~
Selalu Tinggalkan Like, komen dan Vote yang banyaaaaaak :)
Terimakasih semuanya, semoga Readers selalu sehat dalam limpahan rezeki, aamiin
~Love You Readers** ~
__ADS_1