Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Tetaplah Bersamaku


__ADS_3

Nisa berada di rumah barunya.


Ia telah selesai melaksanakan sholat Zuhur dan membaca Alquran, Nisa membuka pintu belakang.


Ia merasakan ketenangan dan kenyamanan, menikmati taman bunga yang indah dan pohon-pohon di sekeliling rumah memberikan kesejukan.


Nisa terus berpikir perkataan Papa Alexander, ia adalah putri dari Mark, berarti Papa tahu siapa orang tua Nisa.


Nisa tidak tahu harus sedih atau Bahagia dengan apa yang ia dengarkan.


Ia tidak ingin perceraian, tapi ia juga tidak mau Stevent durhaka kepada Papanya.


" Apa yang harus aku lakukan Ya Allah" Nisa memejamkan matanya, ia menghentakkan kakinya membuat ayunan melambungkan tinggi bersama tubuh Nisa.


Nisa terus menggoyangkan ayunan sehingga ayunan semakin tinggi berada di udara, tidak ada rasa takut sedikitpun pada diri Nisa.


Air mata Nisa terus mengalir ia berharap dengan menangis dapat mengurangi rasa sesak di dadanya.


***


Stevent hanya berpikir Nisa pasti kembali ke rumah mereka. Ia segera menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi menuju rumah rahasia yang hanya ada 3 orang yang tahu yaitu Stevent, Jhonny dan Nisa.


Stevent melaju perlahan menuju garasi mobilnya, ia melihat mobil Putih terparkir di perkarangan rumah, Stevent segera menghentikan mobilnya dan mencari Nisa di dalam rumah. Ia memanggil Istrinya dengan penuh kasih sayang.


" Sayang, kamu dimana?"


Ia memeriksa setiap sudut ruangan, namun tidak menemukan Nisa, Stevent melihat Pintu belakang terbuka.


Stevent berlari menuju pintu belakang, ia melihat ayunan yang melambung tinggi di udara dan seorang wanita yang duduk diatasnya, gamis dan jilbab yang melayang.


" Apa yang dia lakukan" Stevent berlari, mendekati Nisa, ia tidak bisa menggapai ayunan yang terus melambung tinggi.


" Sayang, hentikan ayunannya" Stevent berteriak, mendengar suara Stevent Nisa memperlambat ayunan, matanya telah sembab karena menangis.


Stevent segera menahan ayunan Nisa. Ia melihat Nisa yang berusaha menutupi wajahnya dan tersenyum.


" Apa kamu sudah makan siang?" tanya Nisa dan tersenyum.


" Kemarilah" Stevent menurunkan Nisa dari ayunan dan memeluknya.


Nisa merasa sangat lemah, ia menangis di pelukan Stevent menumpahkan rasa sesak di dadanya.


Nisa tidak tahu apa yang harus di lakukan pertama sekali, mencari Papanya yang bernama Mark, atau menanyakan yang terjadi antara Papa Alexander dan Papa Mark.


Atau pertanyaan yang paling mengerikan.


" Apakah kamu akan menceraikan aku?"


Stevent menggendong Nisa dan membawanya duduk di rumput di bawah pohon yang rindang.


" Katakan kepadaku, apa yang ingin kamu ketahui?" tanya Stevent khawatir.


Nisa merebahkan kepalanya di pangkuan Stevent.


" Aku harus memulai dari mana? terlalu banyak pertanyaan yang ada di otakku" ucap Nisa tanpa melihat Stevent.

__ADS_1


" Apakah kamu mendengarkan semuanya ?" Stevent mengusap kepala Nisa yang tertutup hijab, Nisa hanya mengangguk.


" Aku akan menegaskan beberapa hal kepada Dirimu" ucap Stevent mengangkat tubuh Nisa dan menatap mata Nisa yang telah bengkak.


" Pertama, Aku tidak akan pernah menceraikan dirimu, Kedua, Aku tidak akan membiarkan kamu meninggalkan diriku walau apapun yang terjadi !" Mata Stevent memerah menatap Nisa yang hanya tertunduk.


Stevent mengangkat dagu Nisa dengan jarinya agar Nisa membalas tatapannya.


" Aku tidak tahu masa lalu Papa dan Mark, tapi aku akan mencari tahu siapa Mark" Stevent menatap Nisa penuh keyakinan.


" Aku akan mencari orang tua kamu, jika saham yang aku kelola adalah milik Papa kamu, aku akan mengembalikannya" Stevent memeluk Nisa yang terus menangis seakan air matanya tidak ingin berhenti mengalir.


" Sayang, Aku mohon jangan menangis lagi, air mata kamu menyakiti hatiku" Stevent mengeratkan pelukannya, ia kembali merasakan kebencian kepada Alexander yang selalu merebut kebahagiaannya.


" Maafkan aku" suara lembut dan serak terdengar oleh Stevent seakan menyayat hatinya.


" Tidak Sayang kamu tidak salah " Hati Stevent benar-benar sakit, ini pertama kalinya ia melihat air mata Nisa.


" Dengarkan aku, Aku sangat mencintai dirimu, Maut pun tidak akan aku izinkan memisahkan kita" Stevent terus memeluk Nisa seakan tidak ingin melepaskan.


" Tetaplah bersamaku" bisik Stevent di telinga Nisa.


Ia sudah sangat khawatir Nisa akan pergi meninggalkan dirinya dan berlari Kepada Kenzo, ya pria yang ada di otaknya adalah Kenzo.


Pria terbaik yang bisa menjaga Nisa tapi tidak akan pernah Stevent relakan.


Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil atau memisahkan Nisa dari dirinya,, meskipun ia harus melawan Papanya sendiri.


" Sayang, kamu pasti belum makan" Stevent menatap wajah Nisa yang tetap cantik walaupun dengan mata yang sembab.


" Kita makan di restoran Jepang" bisik Stevent di telinga Nisa.


" Kamu belum sholat" Nisa tersenyum.


" Baiklah aku sholat dulu, bersihkan wajah kamu supaya segar kembali " Stevent menggosokkan hidungnya pada hidung Nisa dan membuat Nisa tersenyum.


Stevent menurunkan Nisa dari gendongannya di atas tempat tidur.


" Sayang, aku mandi dulu" Stevent Mencium dahi Nisa dan berjalan menuju kamar mandi.


Stevent mengunci pintu kamar mandi, ia mengeluarkan ponsel dari saku jas miliknya dan segera menghubungi Jhonny.


" Apa yang kamu dapatkan dari perjalanan Mama ke Jepang?" tanya Stevent ketika panggilan telah tersambung.


" Nyonya sengaja ke Jepang untuk mencari seorang pria bernama Mark, yang kemungkinan ayah dari Nona Nisa yang perusahaan dan keluarganya di hancurkan oleh Tuan Alexander" jelas Jhonny


" Apakah kamu telah mendapatkan tentang Mark?" tanya Stevent lagi.


" Sudah Tuan, ia adalah orang yang akan bekerjasama sama dengan Anda, pengusaha Robot dari Jepang" jawab Jhonny yakin.


" Kapan pertemuan saya dengan Tuan Mark?" tanya Stevent lagi.


" Besok siang Tuan, pada jam makan siang " jelas Jhonny lagi.


" Hubungi Tuan Mark, tanyakan apakah dia bisa bertemu dengan diriku malam ini, di tempat yang sama pada jam makan malam, kabarin saya secepatnya" tegas Stevent.

__ADS_1


" Baik Tuan, akan saya usahakan" panggilan terputus.


Stevent segera membersihkan dirinya, untuk menyegarkan tubuh.


Stevent keluar dari kamar mandi, ia melihat Nisa telah berganti pakaian dan terlihat cantik.


Nisa telah menyiapkan 2 pakaian ganti Stevent, satu stelan Koko untuk sholat dan satu lagi kemeja dan jas lengkap.


" Terimakasih Sayang" Stevent mengecup kening Nisa dan mengantikan pakaian dengan Stelan Koko.


Ia segera melaksanakan sholat Zuhur di ruangan khusus tempat sholat.


***


Alexander kembali ke kantor cabang miliknya, ia segera memanggil Bobby, tangan kanannya.


" Bobby, periksa semua saham milik Stevent !" Alexander mengepalkan tangannya, ia teringat sikap Stevent yang telah berani membantah dirinya.


" Baik Tuan !" Jawab Boby.


" Tuan, hari ini Tuan Stevent mengadakan rapat dan telah mengumumkan 50% Saham miliknya telah di pindahkan atas nama Annisa Salsabila " jelas Bobby.


" Braak" Alexander memukul Meja kerjanya, membuat komputer yang berada di mejanya jatuh ke lantai.


" Kurang Ajar, Apa yang dipikirkan Stevent!" mata Alexander memerah.


" Tarik saham kita dari Kantor cabang !" perintah Alexander.


" Maaf Tuan, Semua saham kepemilikan anda telah berganti nama Stevent" Bobby khawatir.


" Apa?" Alexander kembali memukul meja.


" Anda hanya memiliki saham pada kantor cabang Perusahaan yang belum dikelola Stevent sama sekali, sepertinya Tuan Stevent belum punya waktu untuk mengurusnya" jelas Bobby.


" Segera Urus perusahaan itu,, ambil alih semuanya ! " perintah Alexander yang berjalan meninggalkan ruangannya.


" Baik Tuan" Bobby menunduk memberi hormat.


Alexander berjalan menuju mobilnya dan segera kembali ke rumah.


Ia juga harus mengawasi Veronika agar tidak bertemu dengan Mark.


*


*


*


**Thanks for Reading


Terimakasih Like dan Komentar pada setiap episode 😘


Terimakasih Votenya, semoga Rangking Cinta Untuk Dokter Nisa bisa naik ke puncak, Aamiin 😇**


Love you Readers 💓

__ADS_1


__ADS_2