
Di Ruangan Rapat
Semua karyawan di dalam ruangan meeting membeku melihat ekspresi Stevent yang menahan emosi Setelah menerima panggilan yang mereka tidak tahu.
Stevent menerima panggilan dari Nisa ketika rapat sedang berlangsung, ekspresi wajah Stevent berubah menjadi manja dan lembut dan berubah lagi terlihat emosi ketika ia mendengar Nisa menyebutkan nama Kenzo.
Semua kebingungan ketika melihat Stevent meninggalkan ruangan rapat tanpa sepatah kata, ia buru-buru berjalan kembali ke ruangannya mengambil kunci mobil.
Stevent segera masuk ke dalam lift yang membawa dirinya menuju parkiran perusahaan.
Menghidupkan mesin dengan tergesa-gesa dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju pesantren.
Secepat kilat mobil Stevent telah sampai di depan rumah Abi Ramadhan, Stevent segera keluar dari mobil dan Berlari masuk ke rumah tanpa mengucapkan salam.
Stevent bertatapan langsung dengan Kenzo di ruang tamu, kilatan penuh kecemburuan terlihat jelas di mata Stevent.
Ia melihat ke segala penjuru ruangan dan mendapatkan Nisa sedang bersama Umi di dapur.
"Jika, aku melihat kamu dekat - dekat dengan Istri ku, aku tidak segan menghancurkan dirimu" ancam Stevent Melewati Kenzo dan menabrakkan bahu mereka.
Kenzo hanya tersenyum, ia sangat bahagia Stevent sangat mencintai Nisa, walaupun ia masih menyimpan rasa cinta yang terus terjaga hingga saat ini.
"Cinta tidak harus memiliki tapi melihat orang yang kita cintai bahagia adalah kebahagiaan yang sebenarnya" ucap Kenzo dalam hati.
Kenzo berjalan keluar rumah dan menuju pesantren.
"Sayang" Stevent memeluk Nisa dari belakang yang sedang membuat kue bersama Umi.
Stevent tidak memperdulikan keberadaan Umi yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Stevent.
"Sayang, kapan kamu datang?" Nisa mengangkat tangannya yang belepotan dengan tepung.
"Baru saja" ucap Stevent.
"Apa kamu sudah menyapa Kak Kenzo?" tanya Nisa.
"Sudah Sayang" Stevent terus memeluk Nisa.
"Bisakah kamu melepaskan pelukan dirimu?" Nisa tidak bisa bergerak.
"Kenapa?" Stevent merebahkan kepalanya di bahu Nisa.
"Sayang, lihatlah tanganku" Nisa menyentuh hidung Stevent dengan tangan yang penuh tepung.
Melihat Nisa dan Stevent Umi tersenyum, ia segera meninggalkan ruang dapur.
"Aaah" Istriku nakal Stevent mengambil tepung dan menyentuh hidung Nisa.
"Sayang, ini untuk bikin kue" Suara lembut dan manja Nisa begitu menggemaskan di telinga Stevent.
"Aku mau ciuman ku" Stevent menatap Nisa.
"Apa? Ada Umi" ucap Nisa mencari Umi.
__ADS_1
"Tidak ada siapapun" Stevent segera menghujam ciuman di bibir Nisa dengan begitu gairah.
Tangan Nisa mulai nakal, ia mengusap wajah Stevent dengan tepung yang ada di tangannya.
"Oh No, My Honey" Stevent menghentikan kenikmatan yang ia rasakan.
"Nakal" Nisa mengusap semua tepung di wajah Stevent hingga putih.
"Hahaha" Nisa Tertawa melihat wajah Stevent.
"My honey" Stevent kembali mencium bibir Nisa dengan gemas dan menggemaskan.
"Stop" Nisa menahan bibir Stevent dengan telapak tangannya.
"Kita bisa bermain di rumah, sekarang hentikan" ucap Nisa mencuci tangannya.
"Aaah, kamu selalu menghentikan di tengah jalan" Stevent duduk di kursi makan menatap Nisa manja dan menggoda.
"Sayang, kamu tidak pernah memperdulikan orang lain, dimana kamu berada" Nisa mengerikan tangannya.
"Karena hanya ada Aku dan dirimu" Stevent tersenyum.
"Baiklah Cintaku, di mana Jhonny? kamu meminta Aisyah pergi sendirian, aku sangat Khawatir, dia baru terlepas dari penculikan" Nisa memandang wajah suaminya yang gusar.
"Sayang, aku tidak mau kamu ikut campur urusan mereka, Jhonny sedang kacau karena mengira Aisyah sudah menikah" Stevent mencubit dagu Nisa.
"Aku sudah mengirimkan pengawal untuk menjaga Aisyah" lanjut Stevent.
Stevent melihat Kenzo Kembali ke ruang tengah berbicara dengan Umi.
"Sayang, aku harus merapikan dapur" Nisa menarik kembali tangan Stevent.
Stevent menarik Nisa dalam pelukannya.
"Apa kamu mau membuat diriku cemburu dan marah?" bisik bisik Stevent di telinga Nisa.
Nisa terdiam, ia melihat Kenzo yang tersenyum manis ke arah mereka dan senyuman itu dapat membuat Stevent meradang.
"Katakan padaku Sayang, kita pulang, atau Aku mengusir Kenzo dari negara ini" Stevent berbisik lembut tetapi penuh dengan tekanan.
"Maukah kamu membantu diriku membersihkan dapur, kasihan Umi" Nisa memeluk Stevent dan meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Tentu saja Sayang, jika pria itu berani ke dapur aku akan menghajarnya" Stevent melepaskan pelukannya menatap Nisa dengan senyuman yang mengerikan.
Namun, senyuman itu tidak membuat Nisa takut karena ia sudah terbiasa, hanya saja Nisa tidak mau memancing emosi Stevent.
"Duduklah, aku akan membersikan semuanya untuk kamu" Stevent mendorong tubuh Nisa duduk di kursi.
Bos besar merapikan dan membersihkan peralatan dapur, Kenzo tersenyum ke arah Nisa dan ingin berjalan mendekati Nisa.
Nisa menggelengkan kepalanya, melarang Kenzo mendekat, Pria paling keren sejagad raya sedang mencuci piring membelakangi Nisa.
Melihat Nisa memberikan kode larangan Kenzo menghentikan langkahnya dan kembali ke ruangan tengah.
__ADS_1
Nisa dapat bernafas lega, ia kembali melihat pria nomor satu menggunakan celemek di tubuh seksinya.
Nisa merebahkan kepalanya di atas meja, rasa kantuk dan lelah mulai mengganggu Nisa secara tiba-tiba.
Nisa tertidur di kursi makan, dengan lengannya sebagai bantal.
Stevent telah menyelesaikan pekerjaannya, ia tersenyum dan melihat Nisa telah tertidur.
" Oh My baby why are you like this?" Stevent mengusap kepala Nisa.
"Sayang" Stevent berbisik di telinga Nisa.
"Tidur seperti Ini akan menyakiti dirimu" Dengan perlahan dan sangat hati-hati Stevent mengendong Nisa menuju kamar Nisa.
Stevent meletakkan Nisa di atas Sofa, Stevent memperhatikan sekeliling, ia tahu ada orang lain yang menggunakan kamar.
Stevent segera menarik bed cover meletakkan di keranjang baju kotor dan menggantikan dengan yang baru dari lemari.
Stevent memindahkan Nisa ke tempat tidur, ia memeriksa isi lemari Nisa, menghitung pakaian, jilbab dan semua isi lemari.
"Kurang satu" gumam Stevent, ia menuju ke kamar mandi dan melihat pakaian kotor bukan punya Nisa.
"Dokter Aisyah, kenapa ia tidak menggunakan pakaian Umi" Stevent tidak suka.
"Nisa hanya milikku, aku tidak mau ada orang lain yang menggunakan pakaiannya" Stevent mengepalkan tangannya.
Bagi Stevent mengunakan pakaian Nisa Sama saja orang tersebut menyentuh Nisa.
Ia keluar dari kamar mandi, mengunci pintu kamar Nisa dan menghubungi nomor anak buah yang mengawasi Aisyah dan Jhonny.
Aisyah telah sampai di bar, Stevent mau mereka terus mengawasi Aisyah dan Jhonny.
Stevent mematikan ponselnya, ia membuka jas, dasi dan kemeja putih yang melekat indah di tubuhnya.
Stevent tertawa melihat wajahnya di penuhi tepung. Ia naik ke tempat membuka jilbab Nisa perlahan, ia hanya mengambil peniti agar tidak melukai Nisa.
Pria pencemburu itu menatap wajah cantik istrinya, Ia memeluk tubuh Nisa.
"Kamu hanya Milikku" Bisik Stevent di telinga Nisa yang sedang tertidur.
***
**
*
**Terimakasih telah membaca Karya Author
*
**
***
__ADS_1
Love You Readers.
Dukung terus Author dengan tinggalkan Like komentar dan Vote**.