
Nathan berjalan mendekati Aisyah dan Valentino.
"Kita akan selesaikan formula ini!" ucap Nathan semangat. Valentino dan Aisyah tersenyum.
Ketiga Ahli kimia dan pengobatan herbal, bekerja sama untuk menghasilkan formula yang dapat membantu umat Manusia dalam Dunia kesehatan.
Roy hanya bisa jadi pengamat dari balik kaca ruangan, tatapan sedih Roy melihat pengorbanan Nathan untuk Nisa.
Sudah berapa bulan ini Nathan bahkan tidak mengurusi bisnis jual beli organ tubuh manusia.
Sejak ia tahu Nisa sakit, dan kondisi tubuh yang membahayakan keselamatan, Nathan telah menghabiskan hari - harinya di dalam laboratorium.
Entah apa yang dipikirkan oleh Nathan Mafia dibidang kesehatan dan kehidupan manusia.
Nathan bekerja sangat halus dan tidak akan pernah tercium oleh para petugas keamanan karena ia bukan bermain di bawah melainkan para pembisnis dan pejabat-pejabat negara.
Bukan hanya di negaranya melainkan seluruh Dunia.
Dari pagi hingga petang dan beristirahat di waktu solat dan makan, setelah itu lembar lagi ke laboratorium.
Kelelahan, tentu saja itu yang mereka rasakan, demi menyelamatkan seorang wanita yang biasanya menjadi penyelamat.
Aisyah bagaikan malaikat bagi Nisa dan Stevent, ia telah menyelamatkan nyawa Nisa dan Stevent.
Hanya ada dua wanita yang akan Stevent turuti perintahnya yaitu Nisa dan Aisyah yang telah menyelamatkan nyawa dirinya dan istrinya.
Dan Stevent tidak pernah membantah perkataan Aisyah.
***
Tarikan napas panjang dan membuangnya, menggambarkan perjuangan yang mereka lakukan setiap harinya.
Ketika di dalam ruangan laboratorium, ketiga manusia ini melupakan Dunia di luar.
Aisyah bahkan telah menyiksa Jhonny, menahan rindu, setiap malam Aisyah tidur cepat karena kelelahan, sehingga Jhonny hanya bisa melihat wajah Aisyah melalui layar ponsel sebentar saja.
Valentino dan Nathan jomblo sejati, sehingga tidak ada yang mereka rindukan.
Valentino lebih mencintai tumbuhan obat daripada wanita, ia menghabiskan waktunya bersama tanaman yang ia teliti.
Nathan hanya memikirkan kesembuhan Nisa, perjuangan cinta yang entah sampai kapan ia simpan.
Setiap orang memiliki pandangan hidup dan pemikiran masing-masing. Tidak ada yang bisa menebaknya.
Perbuatan Nathan telah membuat Nisa merasa tidak nyaman, pengorbanan terlalu berlebihan, tetapi dengan adanya Aisyah dan Valentino dapat memberikan ketenangan.
Ada banyak jenis cinta yang Tuhan ciptakan, cinta sesama manusia, cinta pada lingkungan, cinta pada Dunia dan cinta terindah adalah cinta kepada sang Pemilik Alam Semesta.
Senyuman kebahagiaan terlihat jelas di wajah seorang wanita cantik dan dua orang pria tampan.
"Alhamdulilah ya Allah." ucap Aisyah bersyukur kepada Allah
Valentino berpelukan dengan Nathan, dan ketika dua orang pria ingin memeluk Aisyah memundurkan langkahnya.
"Jangan lakukan itu!" Tegas Aisyah, sehingga mereka bertiga tertawa dalam lelah tetapi yang membahagiakan.
Walaupun mereka belum tahu tingkat keberhasilan formula yang telah mereka ciptakan untuk kesembuhan Nisa, tetapi bahan herbal pasti sangat bermanfaat tanpa efek samping.
Aisyah memandang wajah Nathan yang tersenyum tampan bagaikan malaikat, tetapi di balik senyuman itu tersembunyi dunia yang lain.
"Baiklah semuanya, kita telah menghabiskan satu bulan terakhir dan formula kita berhasil kita selesaikan, selanjutnya kita serahkan kepada Allah." Aisyah menarik napasnya.
"Semoga Allah, mengasihani perjuangan kita untuk Nisa sehingga Nisa bisa sembuh total." Tanpa sadar air mata Aisyah mengalir.
"Aamiin." jawab Valentino dan Nathan, mereka berdua kembali berpelukan.
"Andai aku juga seorang pria dengan dengan hati Aku meloncat bahagia dalam pelukan bersama." Aisyah berbicara dalam hatinya, tersenyum dan mengusap air matanya.
Kebahagiaan luar biasa melihat kebersamaan dalam kebaikan.
"Nathan, simpanlah formula ini dengan baik, jangan sampai hilang atau rusak, jika itu terjadi perjuangan kita selama ini sia - sia dan akan menjadi penyesalan seumur hidup kita." Aisyah menatap serius kepada Nathan.
"Dokter Aisyah benar, semoga tidak ada orang jahat disekitar anda." Valentino menepuk pundak Nathan.
Perkataan Valentino seakan menampar keras wajah Nathan.
"Nathan, hari ini telah selesai aku pamit pulang." Aisyah menundukkan kepalanya dan berjalan keluar meninggalkan ruang laboratorium.
"Saya juga permisi, semangat." bisik Valentino dan tersenyum.
Valentino mengejar Aisyah, mereka berjalan bersama kembali ke rumah masing-masing.
Nathan duduk sendirian di ruang laboratorium, ia menatap formula yang telah mereka ciptakan bersama-sama.
"Haruskah aku menjaga formula ini?" tanya Nathan pada dirinya.
"Nisa, tidak bisakah kamu mencintai diriku seperti cintamu kepada Stevent?" Nathan merebahkan kepalanya di atas meja.
"Aku tahu awalnya kamu tidak mencintai Stevent, tetapi kamu berusaha untuk mencintai orang yang ada di sampingmu, harusnya aku yang selalu berada di dekat dirimu." Nathan mengepalkan tangannya.
"Baiklah, untuk saat ini kesembuhan dirimu yang aku utamakan." Nathan tersenyum, ia menyimpan formula dalam brankas penyimpanan.
"Kita akan bersama selama perawatan dirimu." Nathan meninggalkan ruangan laboratorium.
Besok Nisa harus berada di rumah sakit dan mendapatkan perawatan intensif bersama Nathan, Valentino dan Aisyah.
Penyuntikan formula untuk Nisa, setiap hari satu Ampul hingga waktu yang ditentukan.
Berada di rumah Sakit selama pemakaian formula, agar mereka bertiga bisa melihat perkembangan dan reaksi formula pada tubuh, janin dan rahim Nisa.
Nisa akan menghabiskan hari - harinya di rumah sakit.
****
Jhonny mondar-mandir di dalam ruangan, membuat Stevent menatap tajam ke arah Jhonny.
Pria wajah datar itu tidak menyadari tatapan Stevent.
Kerinduan kepada Aisyah membuat Jhonny melupakan tugas utamanya, melayani Stevent.
"Brak." Stevent memukul meja, mengejutkan Jhonny.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Stevent dengan sorotan mematikan.
Jhonny terdiam dan mematung, menunduk menyadari kesalahan dirinya.
"Maafkan saya Tuan." Jhonny kembali ke kursinya.
"Jika kamu tidak bisa bekerja, sebaiknya kamu pulang dan bukan menjadi pengganggu di ruangan ini." bentak Stevent kesal.
"Baik Tuan." Jhonny menunduk, jarinya memutar-mutar ponsel.
Terdengar ketukan pintu, beberapa kali tetapi Jhonny tidak memperdulikannya, ia seakan tidak mendengarkan apapun.
__ADS_1
"Kenapa pria yang jatuh Cinta menjadi bodoh." kesal Stevent dan beranjak dari kursinya.
"Brak." Stevent menghempaskan berkas yang ada di meja Stevent.
"Ada apa Tuan?" tanya Jhonny seakan tidak bersalah.
"Aaarg, jika telinga kamu sudah bermasalah pergilah berobat." bentak Stevent.
Pintu terbuka, Stevent dan Jhonny menoleh bersama, tidak ada yang berani membuka pintu kecuali Nisa dan Aisyah.
Tidak ada wanita yang diijinkan masuk ruangan Stevent kecuali Nisa dan Aisyah.
"Aisyah," Ucap Jhonny dan Stevent bersama.
Senyuman cantik yang sangat dirindukan Jhonny.
"Assalamualaikum." salam Aisyah dengan senyuman.
"Waalaikumsalam, masuklah Dokter Aisyah." Stevent berjalan menuju sofa diikuti Aisyah.
Jhonny hanya melongo, ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Stevent hanya tersenyum dan tidak perduli dengan Jhonny, ia sudah merasakan indah dan uniknya jatuh cinta.
"Apa kabar Dokter Aisyah?" tanya Stevent.
"Alhamdulilah, saya sehat." Dokter Aisyah tersenyum.
"Aku ingin menyampaikan kabar bahagia untuk kamu dan Nisa," ucap Aisyah.
"Kamu selalu menjadi pembawa kebahagiaan untuk kami berdua." tegas Stevent.
Jhonny mengusap wajahnya, berusaha untuk menyadarkan dirinya dan berjalan mendekati Stevent.
"Tuan, bisakah kamu memukul ku?" ucap Jhonny pada Stevent, membuat Stevent dan Aisyah menatap heran pada Jhonny.
"Oh God, ada apa dengan dirimu?" Stevent menatap tajam pada Jhonny.
"Pukul saja aku, Tuan!" tegas Jhonny.
"Baiklah, itu permintaan dirimu." Stevent berdiri dan mendekati Jhonny.
"Bug." Pukulan keras mendarat di perut Jhonny, Stevent yang sudah kesal dari tadi akhirnya emosinya tersalurkan.
"Aw." Jhonny tersungkur di lantai merasakan sakit di perutnya.
"Bodoh." Stevent tersenyum dan kembali duduk.
"Astaghfirullah ya Allah, kalian Sam bodohnya." Aisyah beranjak dan mendekati Jhonny.
Stevent terkejut mendapatkan bentakan dari Aisyah, ia hanya terdiam.
"Kau, robot aneh, apa kamu berpikir bahwa dirimu benar-benar robot, sehingga minta dipukuli." Aisyah kesal melihat dua pria cerdas tapi bisa bertindak bodoh.
"Aisyah, Aku merindukanmu." Jhonny tersenyum, pukulan Stevent menyadarkan dirinya bahwa kedatangan Aisyah nyata.
"Hahaha." Stevent tertawa lepas hingga membuat Aisyah dan Jhonny menatap heran pada Stevent.
Tawa bebas dari lepas yang tidak pernah Stevent lakukan sebelumnya.
Stevent memegang perutnya, entah apa yang membuat dirinya merasa lucu.
"Kau, kau pria Aneh." Stevent menahan tawanya.
Stevent menutup mulutnya, Jhonny berusaha beranjak dari lantai dan memegang perutnya.
"Besok kamu harus membawa Nisa ke rumah sakit Nathan," ucap Aisyah.
"Apa, tidak, aku tidak mau membahayakan nyawa Nisa." wajah Stevent memerah seketika.
"Steve, aku, Valentino dan Nathan akan menjaga Nisa." tegas Aisyah.
"Aku tidak mempercayainya Nathan dan adik gilanya itu." Nathan beranjak dari kursinya.
"Steve, pikirkan keselamatan Nisa dan anak kalian, kami telah berkorban segala untuk Nisa." jelas Aisyah.
"Aisyah benar," ucap Jhonny yang duduk di kursi kerjanya.
"Kita akan memasang kamera pengawas di kamar Nisa dan banyak penjagaan di sekeliling kamar." ucap Jhonny.
Rumah Sakit Nathan jauh dari kantor Stevent dan pesantren Abi.
"Selama perawatan kamu tidak boleh masuk ke dalam ruangan Nisa ." tegas Aisyah.
"Apa, Apa kalian mau memisahkan diriku dengan Nisa?" Stevent kesal pikirannya mulai kacau.
"Ini pasti rencana Nathan." Stevent kembali duduk di sofa.
"Tidak Steve, ini adalah proses perawatan khusus, kamu bisa melihat Nisa dari balik dinding kaca." jelas Aisyah pelan.
"Apa Anda tahu, sedetik saja aku tidak bisa jauh dari Nisa, dia adalah napas ku." mata Stevent memerah.
Jhonny menatap Stevent dengan tatapan sedih, perjuangan cinta pertama yang luar biasa dari pertama mereka berjumpa hingga saat ini.
"Steve, hanya tiga bulan saja, hingga Nisa melahirkan anak kalian." ingin rasanya Aisyah menepuk pundak Stevent memberikan kekuatan dan ketenangan.
"Dan tiga bulan itu aku akan tersiksa karena terpisah dari Nisa." Stevent menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Jhonny dan Aisyah saling bertukar pandang. Apa yang akan terjadi jika Stevent benar-benar kehilangan Nisa?.
Tiga bulan hanya terpisah raga, tetapi ia tetap bisa melihat Nisa dari balik kaca telah membuat Stevent frustasi berlebihan.
Stevent beranjak dari kursi dan meninggalkan Aisyah dan Jhonny di dalam ruangan.
"Steve mau kemana?" tanya Aisyah khawatir.
"Menghabiskan hari ini bersama Istriku." Stevent keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa.
"Aku akan mengunjungi Nisa." ucap Aisyah yang tidak Stevent pedulikan.
Aisyah menarik napas dalam-dalam dan membuangnya, Sungguh besar rasa cinta dua orang pria yang ia temui.
"Stevent sangat mencintai Nisa." Aisyah beranjak dari kursi dan akan keluar ruangan.
"Aku sangat mencintaimu." Jhonny menarik ujung jilbab Aisyah hingga menghentikan langkah kaki Aisyah.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan!" Aisyah menarik jilbabnya.
Jhonny menekan pintu dan tidak membiarkan Aisyah keluar.
Mata Aisyah melotot, khawatir dan emosi, apa yang mau Jhonny lakukan.
"Kamu menyiksaku dan sekarang mau pergi begitu saja." Jhonny memandang Aisyah.
__ADS_1
"Siapa yang menyiksa dirimu, menyingkirlah." perintah Aisyah.
"Makan siang." Jhonny mulai menyerah.
"Baiklah." Aisyah tersenyum, mereka berjalan bersama menuju Kantin perusahaan.
Stevent berada di dalam mobil sport miliknya yang masih terparkir pada tempatnya.
Ia melekatkan kepalanya di stir mobil, pikirannya kacau.
Tiga bulan tanpa sentuhan dan ciuman Nisa, suara, canda tawa dan manjanya Nisa.
Semua itu akan sangat menyiksa Stevent hari - hari yang penuh kemesraan dan kebersamaan akan hilang dalam waktu tiga bulan.
"Kenapa Tuhan menyiksaku ketika aku mencintai dirimu?" Stevent menjalankan mobilnya, ia ingin segera bertemu Nisa.
Mobil Stevent memasuki halaman rumah Abi dan Umi, pesantren sepi karena mereka semua sedang belajar.
Umi sedang membuatkan makanan untuk makan siang.
Nisa duduk di sofa ruang tengah, ia melafalkan Alquran dengan mata terpejam.
Perlahan Stevent masuk ke dalam rumah tanpa salam.
Ia memeluk Nisa dari belakang, membenamkan wajahnya di lekuk leher Nisa beralaskan hijab.
"Assalamualaikum suamiku." Nisa menyentuh lembut rambut Stevent.
"Waalaikumsalam Sayang." Stevent mencium pipi Nisa.
"Sayang, belum waktu makan siang, kenapa sudah pulang?" tanya Nisa heran.
"Karena aku merindukan istriku." Stevent mencium dahi Nisa.
"Kemarilah." Nisa menarik tangan Stevent dan meletakkan di perutnya.
"Rasakan, mereka semakin kuat." Nisa tersenyum.
Stevent meletakkan telinganya di perut Nisa, berusaha mendengarkan detakkan kehidupan yang terjaga di dalam rahim Nisa.
Stevent mencium perut Nisa.
"anak Papa kapan keluar?" ucap Stevent membuat Nisa tertawa.
"Tiga bulan lagi papa." ucap Nisa manja, Stevent menatap Nisa lekat.
"Kenapa sayang?" Nisa menyentuh lembut pipi Stevent dan mencubit hidungnya.
"Tiga bulan itu kita akan berpisah." Stevent menatap Nisa dengan tatapan kehancuran.
"Sayang, kamu kenapa, kita tidak akan berpisah." Nisa memeluk Stevent.
"Aku akan selalu berada di pelukanmu." suara manja Nisa seakan menambah Sakit di hati Stevent mengingatkan tiga bulan perawatan.
"Sayang, Dokter Aisyah telah selesai membuatkan formula untuk dirimu dan besok kamu akan melakukan perawatan intensif." Stevent melepaskan pelukannya dan menatap mata Nisa.
"Kamu akan bersamaku?" tanya Nisa yang bingung dengan tatapan sedih Stevent.
"Aku akan selalu bersama dirimu tetapi tidak dalam satu ruangan." Stevent menempelkan hidung mereka berdua.
"Sayang, apa maksud kamu?" suara Nisa pelan.
"Dokter Aisyah akan menjelaskan kepada dirimu, hari ini aku mau kita berdua saja setelah makan siang." Stevent mencium dahi Nisa dan menaiki tangga menuju kamar Nisa untuk mengganti pakaian.
Nisa mengambil ponselnya dan segera menghubungi nomor Dokter Aisyah.
Tidak butuh waktu lama Aisyah dengan senangnya menerima panggilan dari Nisa.
Nisa menanyakan kabar Aisyah, Valentino dan Nathan. Dan tentang perawatan tiga bulan hingga melahirkan.
Aisyah menjelaskan, tiga bulan Nisa dalam perawatan dan penggunaan formula yang akan disuntik setiap hari hingga melahirkan.
Perawatan dilakukan untuk pengetahuan perkembangan dan pengaruh dari formula.
Nisa tersenyum bahagia, ia dan Stevent kembali diuji untuk menjemput kebahagiaan yang hakiki.
Panggilan diakhiri, Nisa mengucapkan banyak terima kasih kepada Aisyah, Valentino, Nathan dan semuanya.
"Alhamdulilah ya Allah, telah Engkau kirimkan orang-orang baik yang menyayangi dan mencintai diriku." Nisa tersenyum ditemani air mata bahagia yang mengalir membasahi pipinya.
Yang Nisa harapkan, ia bisa melahirkan anak kembar mereka dengan sehat dan selamat.
Stevent telah menggunakan pakaian santainya, hari ini ia akan mengabiskan waktu bersama Nisa hingga esok hari.
Nisa segera mengusap air matanya dan berjalan mendekati Stevent yang turun dari tangga.
"Sayang." Nisa memeluk Stevent.
"Aku pasti sembuh setelah tiga bulan." Nisa mendongakkan wajahnya tersenyum pada Stevent.
"Ya, kita akan berkumpul bersama setelah tiga bulan." Stevent mencium dahi Nisa.
"Setelah tiga bulan, kita akan menjadi empat." Nisa tersenyum bahagia dan memeluk Stevent.
"Yah." Stevent menahan kesedihannya.
Umi, menangis dari balik pembatas ruang makan dan ruang tamu.
"Ya Allah, bahagiakan mereka berdua dalam cinta dan ridho Mu." Doa Umi mengusap air matanya.
"Ehem." Umi tersenyum.
"Umi." ucap Stevent bersama Nisa.
"Stevent tidak sholat ke masjid?" tanya Umi.
"Aku akan sholat berjamaah bersama Nisa." ucap Stevent memandang Nisa.
"Baiklah." Umi mengusap kepala Nisa dan berjalan meninggalkan mereka.
Stevent menggendong Nisa menuju Villa kecil Mereka.
Menikmati kebersamaan yang tidak sampai 24 jam lagi.
***********************
Mohon dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇
Baca juga "Arsitek Cantik" dan "Cinta Bersemi di Ujung Musim"
Love You All 💓 Thanks for Reading 🤗
__ADS_1