
Nisa telah menggantikan pakaian, ia menggunakan celana panjang berwarna hitam dengan banyak saku dan baju tunik sebatas lutut berwarna putih, dengan kerudung berwarna hitam, Nisa menggunakan sweater Hoodie berwarna putih menutup kepalanya dan masker wajah. Nisa menggantikan pakaian Stevent dengan kaos casual dan celana dasar berwarna hitam, dan sweater Hoodie berpasangan dengan Nisa dan masker penutup wajah. Ia melakukan dengan lembut dan telaten.
Nisa di bantu bodyguard menyamar sebagai perawat membawa Stevent di atas brankar dorong menuju mobil baru yang telah di siapkan Jhonny, Ketika tidur tubuh Stevent menjadi lemah dan mudah untuk di pindahkan.
Nisa membaca doa dan berharap Allah akan selalu menjaga dan membantunya. Nisa segera menjalankan mesin, Ia menoleh ke arah kursi penumpang di samping dirinya yang direbahkan menatap sedih Stevent yang tertidur tidak berdaya, menyentuh lembut pipi Stevent.
Nisa akan menjadi pembalap untuk menyelamatkan suaminya, menuju Klinik Dokter Aisyah. Kaki Nisa menginjak pedal gas dan meluncur meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Di dalam hati Nisa terus melafalkan kalimat Allah dan fokus mengemudi.
Nisa telah meninggal perkotaan dan mulai memasuki kawasan perbatasan yang rawan dengan para penjahat, anak muda yang menghabiskan waktu dengan sia - sia, menikmati minuman beralkohol.
" Aku berharap ketika Zuhur telah sampai di klinik Dokter Aisyah" Nisa melirik jam tangannya dan menambah kecepatan mobilnya, jalanan yang sepi memudahkan Nisa untuk melaju dengan kecepatan penuh, seakan mengejar pembalap lainnya.
Di ujung jalan terlihat beberapa motor melintang di tengah jalanan, dan para pemuda duduk di atas motor menghalangi jalan Nisa.
" Astagfirullah ya Allah, Jika aku tabrak, hmmm" Nisa menarik nafas dalam-dalam memperlambat laju kendaraan dan menghitung jumlah pemuda nakal, ia memperhatikan sekeliling.
" Baiklah, aku akan melakukan pemanasan" Nisa menoleh ke belakang, ia melihat ada pistol kesal suara, samurai, pisau lipat, dan ada banyak lagi perlengkapan keamanan yang bisa di gunakan untuk perlindungan diri, Nisa tersenyum sebagai mantan atlet bela diri tentu buka hal sulit untuk Nisa menggunakan barang - barang berbahaya.
Nisa mengambil pisau lipat dan pistol kecil, membuka pintu mobil dan menguncinya, ia tidak mau para pemuda nakal menyakiti Stevent yang sedang tidur.
" Mereka masih beruntung bertemu dengan diriku, jika Stevent sadar, tidak akan ada yang pulang dengan selamat " Nisa tersenyum melihat suaminya yang lelap dalam tidurnya.
Aroma khas dari minuman yang telah di oplos menusuk hidung membuat rasa mual.
Para pemuda tidak tahu jika yang keluar dari mobil adalah seorang wanita yang sangat cantik karena Nisa menutupi kepala dengan sweater Hoodie dan mengunakan masker penutup wajah.
" Bisakah kalian menyingkirkan motor dari jalanan" Nisa menekan suaranya.
" Hahaha, Tuan kami kekurangan uang untuk membeli minuman nikmat dari surga " seorang berjalan mendekati Nisa dengan memutar-mutar sebilah pisau di tangannya.
" Jika ku tabrak dengan mobil pasti mereka akan mengejar ku sampai Desa" pikir Nisa
Pria yang memutar pisau menepuk pundak Nisa, tanpa basa basi Nisa menarik tangan dari bahunya, melintir tangan ke belakang dan memberikan tendangan bertubi-tubi pada perut preman, menjatuhkan pisau ke jalanan.
Nisa lebih banyak menggunakan kaki, ia tidak mau merusak tangan lembut dan halus miliknya. Preman yang dianggap sebagai ketua tergeletak di dekat mobil Nisa.
Para pemuda yang kesadaran hampir hilang tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk berkelahi dengan seorang ahli seperti Nisa, walaupun kekuatan Nisa tidak sebanding dengan Stevent atau Nathan yang selalu mengasah diri.
Namun hanya preman kampung tanpa dasar kuat dari ilmu beladiri diri hanya berkelahi dengan naluri dengan mudah Nisa robohkan.
Satu persatu para preman dirobohkan Nisa dengan tenang tanpa emosi sehingga gerakan lebih teratur. Nisa tidak ingin melukai para preman ia hanya membuat mereka kewalahan dan tidak berdaya untuk melawan.
" Singkirkan motor dari jalanan atau aku akan menabrak dengan mobil!" perintah Nisa menatap dengan mata tajam miliknya.
Para pemuda dengan susah payah menyingkirkan motor dari jalanan, Mereka takut di tabrak Nisa, karena hanya itu harta yang mereka punya, jika motor hancur mereka tidak bisa pergi - pergi lagi.
Nisa berjalan mendekati mobilnya, Melewati preman yang masih tergeletak di pinggir mobil, ketika Nisa membuka pintu mobil, preman beranjak dan berusaha menusuk perut Nisa dengan pisau, Namun dengan posisi sempoyongan preman hanya Berhasil menggores perut Nisa.
Nisa kembali menutup pintu mobil dan menendang preman dengan kekuatan penuh hampir membuat preman jatuh ke jurang, ia terbentur pembatas jalan hingga kepalanya berdarah dan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Pisau yang sangat tajam telah merobek sweater Hoodie dan Tunik hingga perut Nisa.
Nisa masuk ke dalam mobil, membuka sweater Hoodie putih miliknya telah berwarna merah oleh darah dan mengikat pada perutnya.
Nisa segera menginjak gas, ia harus segera meninggalkan tempat itu sehingga ia tidak sempat untuk mengobati lukanya.
Darah terus mengalir dari perut Nisa, ia merasakan perih.
" Luka ini tidak dalam hanya goresan " pikir Nisa, menekan perut yang telah dibungkus sweater dan terus mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Perih pada perut Nisa cukup bisa membuat Nisa meringis, Sweater putih telah berubah warna merah.
Nisa tidak ingin menghentikan mobil hanya untuk mengobati lukanya, ia khawatir Nathan akan lebih cepat mengetahui kepergian Nisa dan Stevent dari rumah sakit.
Nisa telah melihat sebuah klinik sederhana milik Dokter Aisyah. Nisa segera menghentikan mobilnya dan mematikan mesin mobil, membuka pintu.
Dokter Aisyah telah menunggu di depan pintu dan terkejut ketika Nisa keluar dari mobil dengan tubuh penuh darah.
" Astagfirullah ya Allah, Nisa " Dokter Aisyah segera membawa Nisa ke dalam ruangan.
" Dokter aku tidak apa, adakah orang yang bisa membantu Anda mengangkat suami saya?" Nisa menahan sakit pada perutnya.
Dokter Nisa membuka sweater Hoodie dan mengangkat baju Nisa ia segera memberikan suntikan penahan sakit dan antibiotik.
" Istirahatlah, aku akan meminta bantuan para tetangga " Dokter Aisyah menatap sedih kepada Nisa.
Dokter Aisyah memindahkan mobil Nisa kebelakang klinik dan meminta bantuan kepada para tetangga yang lumayan jauh dari klinik, Dokter Nisa harus berbohong, ia mengatakan kepada orang yang membantu mengangkat Stevent adalah keponakan dari kota.
Para pria paruh baya yang membantu sangat senang mendapatkan upah yang lumayan besar. Di desa untuk mendapatkan uang sangatlah sulit, apalagi setelah bencana alam, mereka tidak bisa menjual hasil kebun ke kota.
Nisa melihat Stevent yang berbaring di sebelahnya.
" Aku akan mengobati lukamu terlebih dahulu" Dokter Aisyah tersenyum.
" Lukaku tidak terlalu dalam" Nisa melihat goresan pisau di perut indah miliknya.
" Iya, cukup dengan menempelkan dedaunan ini insyaallah luka kamu akan sembuh dan perut yang mulus ini akan kembali seperti semula" Dokter Aisyah tersenyum menggoda Nisa.
" Ah, Dokter bisa saja" Nisa ikut tersenyum dan melirik Stevent, yang belum sempat melihat tubuh Indah dan seksi milik istrinya.
" Sudah selesai dan jangan bergerak!" tegas Dokter Aisyah.
" Berapa lama?" tanya Nisa
" Tenang saja , Besok kamu sudah sembuh" Dokter Aisyah tersenyum dan berjalan mendekati Stevent.
" Dokter bisakah dekatkan tempat tidurku dengan suamiku" Nisa tersenyum sedih.
" Tentu saja , pasangan pengantin baru tidak boleh jauh - jauh" Dokter Aisyah mendorong brankar Stevent mendekati Nisa.
__ADS_1
" Aku tidak ingin Stevent berpikir aku meninggalkan dirinya ketika dia sakit" Nisa mengusap lembut rambut Stevent.
Dokter Aisyah tersenyum haru memandang Nisa.
" Apa dia bisa mendengarkan suara?" tanya Dokter Aisyah
" Alat inderanya berfungsi dengan baik, ia bisa mendengarkan suara dan merasakan sentuhan" Nisa terus memandang wajah Stevent dan mengusap rambutnya, ia berharap Pria di depannya segera membuka mata.
" Dokter laporan kesehatan Stevent ada di dalam mobil" ucap Nisa
" Saya sudah mengambilnya, Bagaimana suamimu bisa terkena virus yang bahkan belum pernah menyerang manusia ataupun hewan?" Dokter Aisyah menatap Nisa penasaran.
" Tentu Bisa Dok, seorang yang sangat cerdas dan ahli di bidangnya telah menciptakan virus ini" ucap Nisa penuh kekecewaan.
" Dok, di dalam mobil ada banyak perlengkapan medis, Jhonny telah menyiapkan semuanya, " Nisa menatap Dokter Aisyah.
" Saya akan mengambilnya jika dibutuhkan" ucap Dokter Aisyah yang telah selesai memasang impuls.
" Kamu tidak usah khawatir, saya telah menyiapkan cairan sterilisasi untuk virus dalam tubuh suamimu, hanya saja karena virus telah 3 hari berada di dalam tubuh Stevent maka kita juga butuh 3 hari untuk membunuh bersih virus " Jelas Dokter Aisyah yang telah menyuntikkan satu ampul cairan berwarna merah ke tubuh Stevent.
" Berarti kita butuh pengamanan" Ucap Nisa membuat Dokter Aisyah menoleh ke arah Nisa.
" Kenapa?" tanya Dokter Aisyah
" Apa Dokter masih ingat Nathan?" tanya Nisa
" Tentu saja Pria tampan dengan wajah babak belur di pukul suamimu" Dokter Aisyah tertawa.
" Dia adalah pemilik virus dalam tubuhku dan tubuh Stevent" Nisa memejamkan matanya.
" Apakah ini pertarungan dua orang pria hebat memperebutkan Cinta seorang Dokter Nisa?" Dokter Aisyah tersenyum melihat Nisa yang juga tersenyum.
" Saya akan menyuntikkan 3 ampul setiap 3 waktu, Stevent akan segera pulih secara perlahan hingga Virus benar-benar bersih dari tubuhnya" Dokter Aisyah menjelaskan, ia melihat Nisa tertidur karena pengaruh obat yang ia suntikkan. Tangan Nisa menggenggam tangan suaminya.
Dokter Aisyah dapat menebak Nisa pastilah seorang wanita idola banyak orang, Secara fisik tercipta dengan sempurna, Sholehah, berhati mulia bagai seorang bidadari dan memiliki banyak kelebihan lainnya.
♥️
💓
♥️
Thanks for Reading 😊
jangan lupa berikan Author like dan komentar 😘
Alhamdulilah jika Ada yang memberikan Vote 😘
♥️ Love You Readers 💓
__ADS_1