
Sebuah helicopter terbang di atas Desa Sinjay dan berusaha untuk mendarat di lapangan bola, warga desa terkejut dan heran, tidak biasanya hal seperti itu terjadi. Semua warga berlari ke lapangan bola untuk melihat siapa yang datang ke desa mereka menggunakan helicopter.
Afifah yang baru selesai mandi dan berganti pakaian dengan gamis berbahan katun lembut berwarna biru langit dan jilbab panjang merah muda, ikut penasaran dengan kehadiran helicopter.
Nathan tersenyum, ia berpikir itu adalah helicopter kiriman dari kepala pelayan yang membawa buket bunga, balon, coklat dan cincin berlian untuk melamar Afifah secara resmi dan romantis.
Afifah berlari menuju lapangan bola yang tidak jauh dari rumahnya, ia melihat helicopter telah mendarat, baling-baling memberikan angin yang kencang menerbangkan debu dan membuat jilbab dan gamis Afifah melambai-lambai.
Belum lama helicopter pertama mendarat, sebuah helicopter kembali berada di atas langit desa Sinjay ribuan tangkai mawar merah berjatuhan dari helikopter memberikan warna merah yang indah pada langit dan lapangan bola. Warga desa berteriak kegirangan melihat bunga bertebaran dan jatuh di hijaunya rumput.
Afifah yang masih melihat kelangit dengan meletakkan jari-jari indahnya di dahi untuk menutupi mata agar tidak terkena debu dan silau Matahari tidak menyadari dua pria tampan telah berada di depannya dan memandangi dirinya.
Melihat mawar merah yang berjatuhan, Afifah menadah kedua tangannya yang dengan cepat dipenuhi mawar merah, Fauzan mengadahkan kepalanya ke atas dan menyadari ada helicopter lain yang menghamburkan bunga mawar merah. Asraf terus memandangi wajah kakak yang sangat ia rindukan.
Afifah baru menyadari seorang berdiri dengan tegap di depannya, ia mengangat wajahnya untuk melihat wajah pria yang tidak asing. Air mata Afifah mengalir tanpa perintah membasahi wajahnya, ia memeluk tubuh Asraf. Pertemuan pertama setelah lima tahun di hiasi dengan bunga mawar yang menghujani mereka dari langit.
“Asraf.” Afifah terisak, dia sangat merindukan Asraf, satu-satunya keluarga yang ia punya.
“Kak Afifah, aku sangat merindukan kakak.” Asraf memeluk erat tubuh Afifah yang membenamkan wajahnya di dada bidang Asraf.
Fauzan yang masih mendongak ke atas, membaca sebuah tulisan yang baru saja di lepaskan bersama balon yang diikat dengan coklat berkelas, membuat warga kegirangan dan tidak menyadari kedatangan Asraf.
“Merry Me Afifah.” Fauzan membaca pelan tulisan kemudian melihat kearah Afifah dan Asraf yang masih berpelukan, tidak memperdulikan keramaian yang terjadi di lapangan bola.
“Apakah ini lamaran untuk kakak Asraf, sangat mewah dan berkelas.” Fauzan kembali melihat kelangit, helicopter tidak mendarat tetapi berputar haluan meninggalkan lapangan bola.
“Kenapa Heli itu tidak mendarat?” Fauzan bertanya kepada dirinya sendiri.
Seorang pria yang berada di balik pohon mengepalkan tangannya, ia sangat marah dan cemburu, lagi dan lagi wanita yang ia inginkan diambil orang. Nathan meninju pohon yang ada di depannya sehingga tangannya mengeluarkan darah. Roy hanya bisa terdiam, ia tidak menyangka Nathan telah jatuh cinta kepada Afifah bahkan langsung melamarnya.
“Siapa pria itu, Dia memeluk Afifah dan kenapa ada Fauzan, dunia ini benar-benar sempit?” Nathan berteriak dan kembali meninju pohon.
“Aarrrg.” Nathan menatap tajam pada Afifah dan Asraf.
“Dengar Roy, dia adalah wanita terakhir yang aku inginkan dan harus menjadi milikku, lakukan segala cara untuk mendapatkan Afifah, jangan menyakiti dirinya.” Nathan berjalan meninggalkan Roy yang diam membeku dalam kebingungan.
“Cari tahu semua tentang Afifah!” Nathan menghentikan langkanya sebentar dan kembali berjalan.
“Apa yang harus aku lakukan Tuan Nathan?” Roy bertanya kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak akan menyakiti Afifah tetapi bagaimana dengan dirimu yang bahkan tega menculik Nisa dan memberikan obat tidur dengan efek panjang menghilangkan ingatan.” Roy menjambak rambutnya. Ini pertama kalinya ia jatuh cinta dan langsung terluka.
“Aaarrrg, kenapa ini harus tejadi kepada diriku dan Nathan, kenapa wanita itu harus memberikan harapan kepada semua orang, kenapa senyumannya bagaikan magnet dengan kekuatan magis.” Roy terduduk di tanah.
“Adik kecilku.” Afifah tersenyum dengan air mata yang terus membasahi wajahnya, ia mencubit pipi Asraf yang hanya terdiam memperhatikan wajah cantik kakaknya.
“Kakak semakin cantik.” Asraf tersenyum.
“Adikku semakin tinggi dan tampan.” Afifah menyentuh pipi Asraf dengan lembut.
“Ayo kita pulang ke rumah.” Afifah menarik tangan Asraf.
__ADS_1
“Tunggu Kak!” Asraf menahan tangan Afifah.
“Ya.” Afifah menghentikan langkahnya, ia mengusap air mata dan tersenyum kepada Asraf.
“Kak, perkenalkan Tuan Fauzan, orang yang telah berjasa menolong diriku di Arab.” Asraf menarik tubuh Afifah hingga berhadapan langsung dengan Fauzan, mata mereka saling bertemu.
“Terimakasih atas bantuan anda untuk Adik saya.” Mata coklat Afifah sangat berkilau, ia tersenyum kepada Fauzan dengan ramah.
“Saya Afifah kakak Asraf.” Afifah menunduk memberi hormat.
“Saya Fauzan Arsyad.” Fauzan tersenyum.
“Apa kamu tahu helicopter yang satu lagi?” tanya Fauzan penasaran, ia menebak lamaran itu untuk Afifah kakak Asraf.
“Aku tidak tahu, sebaiknya kita kerumah.” Afifah tersenyum dan menggandeng tangan adiknya berjalan menuju rumah, Asraf menoleh kebelakang merasa tidak nyaman berjalan di depan Fauzan.
“Mari Tuan.” Asraf menghentikan langkah kakinya.
“Mari berjalan bersama.” Afifah tersenyum ramah kepada Fauzan.
“Ya, tentu.” Fauzan berjalan di samping Asraf.
Fauzan terkejut melihat rumah sederhana yang sangat rapi dan terawat dengan bunga yang indah dan perpohonan yang rindang, sayuran dan buah-buahan segar tertata di halaman dan teras rumah. Afifah membuka pagar dan masuk bersama dengan Asraf dan Fauzan.
“Kak, rumah ini sangat terawat dan semakin indah.” Asraf berlari masuk kedalam rumah meninggalkan Fauzan dan Afifah di halaman.
“Apa kamu sendiri yang menanam dan merawat semua tanaman ini?” Fauzan memperhatikan sayuran yang ada di pot.
Fauzan berkeliling perkarangan Afifah, ia sangat kagum dengan apa yang ia lihat, selain bunga yang ada di halaman depan ternyata perkarangan belakang ditanamai buah dan sayuran, tidak ada sejengkal tanah yang tidak ditanami.
“Tuan, kenapa anda tidak masuk?” Asraf menyusul Fauzan yang telah berada di kebun belakang rumah.
“Bagaimana kakak kamu bisa merawat semua tanaman yang begitu banyak hingga bisa tumbuh subur dan berbuah lebat?” Fauzan tersenyum, ia menyentuh buah Stroberry yang berwarna merah besar dan siap untuk dipetik.
“Kamu boleh memanennya.” Afifah tersenyum, ia membawa keranjang cantik dari rotan dan menyerahkan kepada Fauzan.
“Terimakasih.” Fauzan menerima keranjang dari tangan Afifah dan tersenyum, ini pertama kalinya ia merasa menjadi rakyat biasa tanpa ada yang tahu identitasnya seorang pangeran yang kaya raya.
“Jangan memakan buah sebelum mencucinya!” Afifah tersenyum dan kembali kedalam rumah.
“Aku sangat menyukai tempat ini.” Fauzan berjalan mendekati kebun sayuran dan buah, ia memetik buah Stobery dan tomat. Asraf mengikuti Fauzan yang berkeliling kebun sayur yang tumbuh subur.
“Tuan, maafkan kakak saya yang tidak mengenali anda.” Asraf menunduk, ia merasa bersalah.
“Kamu tidak perlu minta maaf aku sangat suka, ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini dan ini sangat menyenangkan.” Fauzan tersenyum.
Aroma masakan menggoda hidung membuat rasa lapar pada perut dan memanggil untuk segera menuju ruang makan. Asraf dan Fauzan saling pandang dan tersenyum, mereka berdua berjalan masuk kedalam rumah. Makanan telah tersedia di atas meja.
“Tuan Fauzan bisa mencuci buah dan sayuran di sini.” Afifah tersenyum, ia tidak tahu bahwa pria itu adalah seorang pangeran dan Afifah tidak akan perduli dengan hal itu baginya semua manusia sama di mata Tuhan.
“Aku saja Tuan.” Asraf ingin mengambil keranjang buah dari Asraf.
__ADS_1
“Tidak apa, aku bisa melakukannya.” Fauzan tersenyum, ia berjalan menuju tempat pencuci piring yang berada tepat di samping Afifah.
“Setelah di cuci dengan air kran, masukan buah dan sayuran kedalam sini, ini adalah air matang.” Afifah meletakkan sebuah mangkuk besar berisi air di depan Fauzan.
“Baiklah.” Fauzan tersenyum, Afifah adalah wanita pertama yang berani memerintah dirinya dengan tanpa beban dan rasa bersalah.
“Adik kecilku yang tampan, siapkan piring, kita akan makan siang bersama.” Afifah berjalan mendekati Asraf yang mematung melihat Fauzan menuruti perintah Afifah untuk mencuci sayuran dan buah.
“Kamu melamun apa sayangku.” Afifah mencubit pipi Asraf.
“Baiklah kakakku.” Asraf memeluk Afifah dan segera menata piring di atas meja makan.
“Ini pertama kalinya aku bertemu wanita yang bersikap biasa saja terhadap.” Fauzan tersenyum melirik Afifah.
Fauzan telah selesai mencuci buah dan sayuran, ia memperhatikan makanan yang berada di atas meja terlihat begitu asing tetapi sangat menggoda.
‘Silakan duduk Tuan Fauzan.” Afifah tersenyum, ia menarik kursi untuk Fauzan, membalik piring dan menuangkan segelas air putih dan melakukan hal yang sama untuk Asraf.
“Kamu bisa memanggil saya Fauzan.” Fauzan duduk di kursi.
“Baiklah.” Afifah tersenyum dan duduk di samping Asraf.
“Apa kamu suka?” Afifah mengusap kepala Asraf.
“Terimakasih Kak, aku sangat merindukan masakan kakak.” Asraf memeluk Afifah.
“Saya berharap Tuan Fauzan juga akan suka dengan masakan saya.” Afifah tersenyum.
“Saya akan mencobanya dan jangan panggil saya Tuan.” Fauzan memperhatikan semua makanan yang ada di meja.
“Sebaiknya kita mulai makan dan tidak berbicara lagi.” Afifah tersenyum, ia mencuci tangannya dan menaruh nasi di piring Asraf dan Fauzan.
“Apakah begini rasanya dilayani seorang istri di meja makan?” Fauzan bergumam di dalam hatinya.
Setelah membaca doa, mereka memulai makan siang tanpa suara. Fauzan mengambil tumis daun singkong, meletakkan di atas nasinya dan memasukan ke mulut.
"Ini sangat enak." Fauzan berbicara di dalam hati, ia mengambil ikan yang di gulai kuning dengan asam nanas muda, rasa yang fantastis, pedas dan asam.
Fauzan mencicipi semua laun pauk dan sayur mayur yang telah dimasak oleh Afifah dan semuanya enak, ia sangat suka, tanpa sadar Fauzan telah menghabiskan satu piring nasi.
Afifah menyuapi Asraf dengan tangannya, ia tidak melihat Fauzan yang begitu menikmati masakannya.
Namun Asraf menyadari itu, ia tersenyum melihat Tuannya yang sangat berselera dan menyukai masakan Afifah.
***(Keep Smile My Readers, Muuucah 😘)
Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.