
Klinik Dokter Aisyah
Aisyah, telah membereskan perlengkapan Jhonny, ia telah membuatkan bekal untuk Perjalanan Jhonny.
Beberapa anak buah telah membawakan bahan bakar untuk mobil Jhonny.
" Baiklah Tuan Jhonny, ini bekal anda di perjalanan supaya tidak kelaparan" Aisyah tersenyum dan meletakkan bekal di atas meja di depan Jhonny yang duduk santai menatap Aisyah.
" Hey hey, Pulanglah" Aisyah melambaikan tangannya didepan wajah Jhonny.
" Ikut denganku" perintah Jhonny.
" Tidak Mau" Jawab Aisyah singkat dan Berlalu meninggalkan Jhonny yang dengan sigap menarik tangan Aisyah hingga jatuh ke pelukan Jhonny yang sedang duduk di kursi.
Jhonny menatap lekat wajah Aisyah yang begitu dekat dengan wajah dirinya.
Aisyah kaget, ia berusaha beranjak dari pelukan Jhonny namun kesulitan, gamis panjang miliknya diinjak Jhonny.
" lepaskan aku, apa yang kamu lakukan?" mata Aisyah melotot, tangannya menekan di pundak Jhonny.
" Jika kamu tidak ikut pulang bersamaku, aku akan mencium dan menggigit bibirmu" Jhonny menatap tajam ke arah Aisyah, ia belajar kalimat itu dari Stevent.
" Pria gila lepaskan aku" Aisyah geram
" Aku tidak menyentuh dirimu tapi tangan kamu di tubuhmu" ucap Jhonny santai.
Aisyah melihat tangan Jhonny berada di tangan kursi dan tangan Aisyah lah yang memegang pundak Jhonny, namun Aisyah merasa ada dorongan, jika ia melepaskan tangannya maka tubuhnya akan jatuh sepenuhnya ke pelukan Jhonny.
Aisyah tidak tahu, jika Jhonny menginjak gamisnya dan menarik tali gamis yang di lilitkan di kursi.
" Baiklah bisakah kamu membantu aku berdiri, sepertinya gamis ku terangkut" Nisa melihat ke bawah samping kiri dan kanan, ia tidak sadar wajahnya sangat dekat dengan Jhonny sehingga Jhonny dapat dengan puas melihat wajah wanita yang sedang panik.
" Apa kamu yakin butuh bantuan diriku" Jhonny menatap Aisyah Tanpa ekspresi.
" Ya, kamu tinggal mendorong tubuh ku" ucap Aisyah kesal, ia telah lelah menahan tubuhnya.
" Jika aku mendorong kuat tubuhmu, kamu akan jatuh ke lantai" ucap Jhonny.
" Terserah, daripada Jatuh ke pelukanmu lebih baik aku jatuh ke lantai" Aisyah benar-benar tidak sanggup lagi bertahan.
" Benarkah?" Jhonny ikut kesal, ia terus menahan diri untuk menyentuh Aisyah tali sikap jutek Aisyah seakan menantang Jhonny untuk melawannya.
" Apa , apa yang akan kamu lakukan?" Aisyah merasa ngeri melihat Jhonny yang akan berdiri dengan wajah Emosi.
" Jangan berdiri" Teriak Aisyah.
" Kenapa?" tanya Jhonny datar.
" Bergeser, bergeser saja kamu ke samping" Aisyah berteriak menahan kesal, namun Teriakan itu terdengar lembut di telinga Jhonny.
" Bagaimana aku bergeser, tangan kamu menekan pundak ku " ucap Jhonny cuek.
" Terserah, terserah" Aisyah sudah tidak sanggup lagi menahan tubuh yang seakan ada yang menariknya, Aisyah memejamkan matanya.
Ia tidak melihat Jhonny yang tersenyum puas berhasil membuat Aisyah menyerah dan kalah.
Jhonny melepaskan ikatan tali gamis Aisyah, semakin mendekatkan wajahnya, Aisyah dapat merasakan hembusan hangat nafas Jhonny.
Jantung Aisyah berdetak kencang, tangan dan kakinya gemetaran.
" Sampai kapan kamu akan seperti ini, menggoda diriku" Jhonny meniupkan angin melalui mulutnya ke mata Aisyah.
Aisyah mendorong tubuh Jhonny hingga jatuh kembali ke kursi dan Aisyah hampir jatuh ke lantai, dengan sigap Jhonny menarik tangan dan menahan tubuh Aisyah.
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan, jika kamu jatuh kepala kamu akan terbentur ke lantai" Jhonny menatap wajah Aisyah khawatir.
" Kamu, kamu mengejutkan diriku" mereka tidak menyadari posisi mesra Aisyah yang berbaring di atas paha dan lengan Jhonny.
Jhonny menatap wajah manis Aisyah seakan tidak puas.
" Jhonny, bisakah kamu angkat tubuhku pelan - pelan" ucap Aisyah lembut, ia tidak mau memancing Jhonny dengan membuat keributan.
" Aku masih sanggup menahan tubuhmu dengan posisi seperti ini?" Jhonny tersenyum, ia sangat bahagia melihat kekalahan Aisyah.
" Tapi aku yang tidak sanggup" Aisyah tersenyum paksa.
"Kenapa tidak sanggup, aku yang menahan tubuhmu dan kamu hanya berbaring saja" Jhonny kembali tersenyum.
" Hmmm" Aisyah menarik nafas panjang ia mulai emosi dan menjambak rambut Jhonny.
" Aku sudah menahan diri, angkat akuuu" Aisyah kesal ia menarik rambut Jhonny.
" Awww, baiklah" Jhonny menarik tubuh Aisyah hingga mereka berdiri bersama.
Jhonny mengusap kepalanya, ia merasakan perih akibat jambakan Aisyah.
" Sekarang kamu pulang dan jangan pernah kembali lagi" bentak Aisyah kesal berjalan meninggalkan Jhonny, masuk ke kamar dan mengunci pintu.
" Bagaimana aku membawa dia kembali?" Jhonny meringis sakit kulit kepalanya.
" Hmm, aku akan gunakan Dokter Nisa" Jhonny tersenyum.
" Aisyah, benar kamu tidak mau ikut?" Jhonny mengetuk pintu.
Aisyah tidak menjawab ia berusaha menenangkan dirinya, ia merasa panas di wajahnya.
" Aku akan pergi, aku harus mengurus kecelakaan Dokter Nisa" ucap Jhonny.
" Apa, Nisa kecelakaan?" Aisyah segera membuka pintu.
" Ya Tuhan , bagaimana keadaan Nisa?" Aisyah khawatir.
" Aku tidak tahu, tapi kecelakaan ini telah di rencanakan untuk membunuh Dokter Nisa" jelas Jhonny serius dan kembali duduk di sofa.
" Kenapa, apa Nisa punya musuh?" tanya Aisyah penasaran.
" Dokter Nisa tidak ada musuh tapi Stevent lah yang punya banyak musuh dengan sikap arogannya" jelas Jhonny.
" Bagaimana, ikut atau tidak?" tanya Jhonny yang berharap Dokter Aisyah akan ikut, ia bisa benar-benar di bunuh Stevent jika tidak segera kembali.
Aisyah duduk di Sofa jauh dari Jhonny, ia seakan berpikir.
"Tapi aku tidak mau dikurung di rumah kamu." ucap Aisyah.
"Aku akan memberikan kebebasan kepada dirimu." Jhonny tersenyum puas.
"Baiklah, aku akan berkemas" Aisyah berjalan menuju kamarnya.
"Cepatlah aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." ucap Jhonny bahagia.
"Tidak usah bawa banyak baju kita bisa beli baru."
Dokter Aisyah, berjalan keluar dari kamar, Jhonny tersenyum bahagia melihat Aisyah.
Jhonny segera mengambil koper Aisyah dan membawanya ke mobil.
Aisyah menghubungi Valentino memberitahukan ia akan berangkat ke kota bersama dengan Jhonny.
__ADS_1
Tidak betapa lama Valentino telah sampai di klinik Dokter Aisyah.
" Valen, kamu kapan ikut ke kota?" tanya Aisyah
" Secepatnya" Valentino menyerahkan beberapa bibit tanaman yang akan di bawa ke kota.
Ponsel Jhonny berdering, panggilan dari Stevent, Jhonny segera menjawab panggilan.
" Halo Tuan" jawab Jhonny santai
" Kapan kamu kembali?" Teriak Stevent di telinga Jhonny.
" Secepatnya Tuan." ucap Jhonny.
" Apa kamu sudah tidur dengan Dokter Aisyah?" tanya Stevent.
" Belum, Tuan" jawab Jhonny gugup dan melirik Dokter Aisyah.
" apa yang kamu dapatkan di sana?" Tanya Stevent penasaran.
" Ciuman bibir, pelukan, apa yang kamu dapatkan, sehingga kamu Betah di desa itu?" Bentak Stevent.
Jhonny menatap Aisyah yang telah duduk di dalam mobil menunggu
" Saya, segera berangkat" Jhonny mematikan ponselnya.
Ia bergegas naik ke mobil dan segera menginjak habis pedal gas, membuat Aisyah berteriak terkejut.
" Aahh, kamu ngapain?" Aisyah melotot kepada Jhonny.
Jhonny kesal dengan perkataan Stevent, jangankan ciuman bibir pegang tangan saja susah.
" Kamu kesal kenapa?" tanya Aisyah lagi, ia melihat wajah Jhonny terlihat emosi.
Jhonny tidak memperdulikan Aisyah, ia terus mengendarai mobil tanpa mengurangi kecepatan.
" Hentikan Mobilnya" bentak Aisyah menatap Jhonny.
Jhonny segera menghentikan mobilnya, dan menatap tajam ke arah Aisyah.
" Kenapa?" tanya Aisyah menatap tajam ke arah Jhonny.
"Tidak apa - apa " Jhonny melihat Aisyah sekilas, ia tidak berani melihat Aisyah, ia terbayang ucapan Stevent.
Jhonny tidak mau sampai memperhatikan bibir Aisyah. Karena setiap sudut dari bagian tubuh wanita adalah menggoda, walaupun di tutup serapat mungkin.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
**
Thanks for Reading
Terimakasih atas kunjungan dan dukungan, dengan selalu memberikan Like, Komentar dan Vote.
__ADS_1
Semoga Readers semua Sehat selalu dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.
Love You Readers 💓**