
Mobil Fauzan membelah jalanan menuju pesantren Abi Ramadhan.
Ayesha tersenyum dari balik cadarnya, ia melihat jalanan yang ramai dengan aktivitas manusia.
Fauzan melirik Ayesha, ia heran dengan kepribadian Ayesha yang berbeda dari wanita pada umumnya.
Wanita menyukai kehidupan yang mewah dan nyaman, menginap di hotel berbintang dengan makanan yang mahal.
Namun, Ayesha memilih tidur di pesantren dengan ranjang yang kecil dan kamar yang sempit, serta makanan yang sederhana.
Mobil Fauzan memasuki perkarangan rumah Abi Ramadhan dan berhenti di halaman rumah.
Ayesha membuka pintu dan turun dari mobil, ia melihat anak-anak santri yang sedang bersih-bersih lingkungan.
Umi melihat kedatangan Ayesha dan Fauzan, ia berjalan mendekati Ayesha.
"Assalamualaikum Umi." Ayesha mengulurkan tangannya dan membungkukkan badannya untuk mencium tangan Umi.
"Waalaikumsalam." Umi tersenyum dan mengusap kepala Ayesha.
"Maaf Umi, Apa boleh kami berpuasa bersama di pesantren?" tanya Ayesha.
"Tentu saja Sayang, tetapi pesantren ini sangat sederhana dan tidak pantas untuk kalian berdua." ucap Umi.
"Aku mau menikmati kebersamaan di bulan Ramadhan." ucap Ayesha.
Fauzan hanya diam, ia melihat anak-anak yang bersemangat bekerjasama dan bercanda.
"Umi, ini biaya untuk keperluan selama bulan Ramadhan, jika masih kurang Anda bisa mengatakan kepada Ayesha." Fauzan menyerahkan amplop coklat berisi uang seratus juta.
"Masya Allah, tidak perlu nak." Umi menolak.
"Saya mohon terimalah." ucap Fauzan dan Ayesha mengangguk kepada Umi.
"Kamu bisa tidur di kamar Nisa." ucap Umi.
"Aku akan tidur di kamar santriwati, jika masih ada tempat tidur yang kosong." ucap Ayesha Tersenyum.
"Kakak akan tidur di mana?" tanya Ayesha.
"Mungkin ada hotel dekat dari sini?" Fauzan melihat ponselnya.
Fauzan tidak akan mau tidur di pesantren, ia harus bekerja dan butuh ketenangan.
"Tentu saja, di sebelah restoran kami ada hotel." ucap Umi.
"Terimakasih, Saya akan langsung check in." Fauzan meninggalkan Ayesha bersama Umi.
"Nak, kamu cukup berjalan kaki saja." ucap Umi mengikuti Fauzan ke pinggir gerbang.
"Lihatlah, kamu hanya perlu menyebrang jalan dan sebelah itu adalah hotel berbintang." Umi menunjukkan jarinya.
"Baiklah, Terimakasih." Fauzan tersenyum dan berjalan menuju hotel, ia hanya perlu menyebrang saja.
Ayesha dan Umi berjalan masuk ke rumah Umi.
Fauzan mendekati jalanan yang ramai dan sebuah mobil berhenti mendadak hampir menabrak Fauzan.
Mata tajam Fauzan menatap ke arah wanita yang berada di balik kemudi.
__ADS_1
Viona dan Mama Veronika segera keluar dari mobil dan meminta maaf.
"Maafkan saya Tuan, apa Anda baik-baik saja?" Viona mendekati Fauzan yang langsung menjauhkan diri.
"Jika anda tidak bisa mengendarai mobil sebaiknya tidak menyetir sendiri karena itu membahayakan diri anda dan orang lain." Fauzan menatap tajam kepada Viona dan melanjutkan langkah kakinya.
Viona gemetar dan merasa seluruh tubuhnya lemah.
"Sayang." Mama mendekati Viona yang terlihat syok.
"Ma, suara pria itu lebih mengerikan dari kak Stevent." Viona terduduk di pinggir jalan.
"Tatapan matanya seakan dapat melukai hati orang yang melihatnya." Viona menyentuh dadanya. Jantungnya berdetak kencang.
Mama melihat pria yang dengan gagahnya menyebrang jalan menuju hotel di samping restoran.
"Dia terlihat seperti Stevent." ucap Mama dan membantu Viona beranjak dari trotoar.
"Mama saja yang memasukkan mobil ke dalam pagar aku masih gemetaran." ucap Viona dan berjalan masuk ke perkarangan rumah Abi.
Mama dan Viona mengantarkan bahan makanan, buah - buahan dan minuman untuk berpuasa.
Viona melihat sebuah mobil berwarna hitam yang tidak pernah ia lihat sebelumnya terparkir di halaman rumah Abi.
"Sepertinya ada tamu." gumam Viona.
"Apakah kak Kenzo pulang?" tanya Viona dalam hatinya dan bersemangat.
Pintu terbuka, Viona melihat Umi sedang berbincang dengan seorang wanita yang tidak ia kenal.
Viona menunggu Mama Veronika, agar mereka bisa masuk bersama.
"Waalaikumsalam." jawab Umi dan Ayesha serempak.
Viona dan Mama masuk dan bergabung dengan Ayesha dan Umi.
Ayesha memperkenalkan dirinya sebagai adik seorang pengusaha yang sedang mengembangkan bisnisnya.
Sedang asyik berbincang terdengar suara seorang pria yang mengucapkan salam.
Semua menoleh ke arah pintu, Viona terkejut jantungnya berdetak kencang, seakan ia bertemu Stevent yang sedang marah.
Fauzan tersenyum kepada Ayesha dan Umi, ia tidak mau melihat Mama Veronika yang tidak menutup aurat.
"Ayesha kita berangkat sekarang." tegas Fauzan yang hanya berdiri di depan pintu dan tidak mau masuk karena ada tiga orang wanita asing di dalam rumah.
"Umi, Ayesha pamit dulu, setelah sholat ashar kami akan kembali." Ayesha menyalami Umi, Viona dan Mama Veronika.
"Kenapa tangan kamu dingin?" tanya Ayesha.
"Ah tidak apa-apa." jawab Viona gugup dan melirik Fauzan.
"Kalian mau kemana?" tanya Umi.
"Aku dan kakak akan bermain pedang." ucap Ayesha.
Setelah mengucapkan salam, Ayesha dan Fauzan meninggalkan rumah Umi.
"Siapa pria itu?" tanya Viona, ia merasa pernah melihat wajah Fauzan hanya karena terlalu terkejut membuat ia lupa.
__ADS_1
"Fauzan, kakaknya Ayesha mereka datang dari Arab." ucap Umi.
"Ahh, Wajah Fauzan pernah terpampang di majalah bisnis." ucap Viona.
"Maksud kamu?" tanya Mama.
"Dia bukan cuma seorang pengusaha tetapi pangeran tetua kerajaan Arab." Viona memijit kepalanya.
Fauzan adalah Idola dan banyak wanita yang mengikuti perkembangan kerajaan Arab yang memiliki 4 putra tampan dan sukses.
Fauzan membuat banyak Mahasiswi berkhayal bisa bertemu dengannya walaupun hanya dalam mimpi.
"Aku bertemu dengan pangeran Fauzan dalam situasi yang tidak bagus." Viona mengusap wajahnya.
"Viona, apa kamu mengenal dirinya?" tanya Mama bingung dengan kegalauan Viona.
"Ma, tidak ada yang tidak mengenal pangeran Fauzan." wajah Viona memerah.
Umi menatap Viona heran, Karena Umi tidak mengenal Fauzan dan Ayesha, mereka baru dua kali datang ke pesantren.
"Umi bagaimana mereka bisa datang ke pesantren?" tanya Viona penasaran.
"Mereka tiba-tiba datang dan memberikan bantuan dan hari ini mereka mau menginap di pesantren." jelas Umi.
"Apakah pangeran Fauzan akan menginap di pesantren?" tanya Viona.
"Dia akan menginap di hotel samping restoran." jelas Umi.
"Ahh, harusnya aku sangat beruntung bisa bertemu dengan seorang pangeran." Viona mengusap wajah teringat pertemuan pertama yang mengerikan.
"Sayang kamu membuat Mama bingung." ucap Mama.
"Mama, pria itu adalah seorang pangeran dan menjadi idola banyak wanita, Mama ketik saja pangeran Arab di pencarian maka akan muncul fotonya." jelas Viona yang masih tidak percaya bertemu dengan Fauzan.
Mama benar-benar melakukan apa yang dikatakan Viona dan benar saja foto Fauzan terpampang di layar ponselnya.
"Kamu benar lihatlah." Mama memperlihatkan ponselnya kepada Viona dan Umi.
"Dia seperti seorang model internasional." ucap Umi.
"Aslinya terlihat lebih cool dan tampan." ucap Mama.
"Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam." Viona berbicara di dalam hatinya.
Tiga wanita berbicang tentang Fauzan dan adiknya bernama Ayesha.
***
Marhaban ya Ramadhan.
Mohon maaf lahir dan batin
Selamat menjalankan ibadah puasa
Semoga amal ibadah kita dilipat gandakan, Aamiin 😇
Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.
Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"
__ADS_1
Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇