
Om Robet mengantarkan Viona ke ruang kerjanya ditemani David, Fauzan dan Asraf berkeliling taman untuk menikmati udara segar. Mereka melihat Ayumi menyender di batang pohon dan dua orang pria dengan pakaian serba hitam berlutut di hadapan wanita itu.
“Asraf, diamlah di sini.” Fauzan menahan tangan Asraf.
“Ada apa Tuan?” tanya Asraf.
“Sshh.” Fauzan meletakkan jari telunjuk di mulutnya, ia berjalan perlahan mendekat kea rah Ayumi.
“Tuan Putri, kami datang untuk menjemput anda.” Seorang pria yang masih berlutut berbicara dengan pelan.
“Aku akan kembali, berikan waktu satu hari.” Ayumi menatap tajam pada dua orang pria didepannya.
“Baik, kami akan mengawasi anda.” Dua pria menghilang dengan cepat dari pandangan, mereka adalah ninja terlatih. Ayumi duduk di kursi taman, ia melihat ponselnya.
“Satu hari dan aku harus kembali.” Ayumi mengepalkan tangannya dan berjalan kembali ke ruangan Viona.
“Tuan Putri.” Fauzan melihat kepergian Ayumi.
“Tuan, data diri Ayumi sengaja ditutupi karena dia seseorang yang dirahasiakan.” Asraf melihat Fauzan.
“Hubungi Agen Rahasia Kerajaan, kirim data dan foto Ayumi!” Fauzan kembali berkeliling.
“Baik Tuan.” Asraf mengikuti Fauzan.
***
Ruangan Viona.
Tuan Alexander duduk di Kursi kerja yang seharusnya milik Viona, ia menatap tajam pada Robet dan putrinya yang terdiam. David sedang pergi ke toilet. Ayumi membuka pintu dan melihat langsung ke arah Alexander.
“Ada apa Nona?” Ayumi menggenggam tangan Viona.
“Papa meminta berkas kepemilikan Peruahaan yang telah aku tanda tangan.” Viona memeluk tangan Ayumi, ia ketakutan pada Papanya.
“Tuan Alexander, Perusahaan telah diserahkan Stevent pada Viona dan para pemegang saham telah setuju dan mendukung keputusan itu.” Om Robet membela Viona.
“Robet, apa kamu kembali menjadi anak buah Stevent? Kamu sudah pernah berkhianat.” Alexander tersenyum sinis.
“Stevent memaafkan saya dan memberikan kesempatan kedua.” Om Robet melihat kearah Alexander.
“Kamu pasti masih bisa berkhianat.” Alexander memutar kursinya.
“Maaf Tuan Alexander, anda tidak punya hak meminta berkas itu.” Ayu,I mentap tajam pada Alexander.
“Kamu tidak perlu ikut campur.” Alexander beranjak dari kursinya.
“Nona, sebaiknya kita pulang, semua berkas penting ada di tas saya.” Ayumi berbisik di telinga Viona.
“Baiklah.” Viona tidak melepaskan tangan Ayumi, mereka berdua segera keluar dari ruangan.
“Viona,berhenti!” Alexander berteriak. Ayumi menarik tangan Viona dan segera berlari memasuki lift.
“Ayumi, papa tidak akan melepaskan diriku.” Viona mengikuti Ayumi dan pintu lift tertutup yang akan membawa mereka ke lantai paling dasar.
“Jika percaya kepada saya, anda harus mengatakan semuanya.” Ayumi menatap Viona dan gadis itu mengangguk. Selama berada di dalam lift Viona menceritakan ancaman Papa Alexander. Ketika lift terbuka, mereka kembali berlari hingga hampir bertabrakan dengan Fauzan.
“Ada apa?” Fauzan menatap tajam pada Ayumi dan Viona.
“Tuan, Tolong antarkan Nona Viona kembali ke rumah Tuan Stevent.” Ayumi menatap pada mata Fauzan.
“Ada apa?” Fauzan mengulangi pertanyaannya.
“Asraf, ayo kembali ke parkiran” Ayumi menarik tangan Viona dan berlari menuju parkiran.
“Tuan?” Asraf melihat kearah Fauzan.
“Ikuti mereka.” Fauzan berjalan menuju tempat parkir. Asraf berlari dan segera membuka pintu unutk Viona.
“Ayumi, kamu segera pulang.” Viona memegang tangan Ayumi.
“Aku akan terlambat.” Ayumi tersenyum dan menutup pintu mobil.
“Kamu mau kemana?” Fauzan menghalangi Ayumi.
“Aku ada sedikit urusan, tolong pulanglah, keselamatan anda juga sangat penting.” Ayumi manatap tajam pada Fauzan.
“Apa maksud kamu?” Fauzan membalas tatapan tajam Ayumi.
“Aku mohon, waktuku tidak banyak lagi, aku hanya berusaha melindungi Viona.” Ayumi meloncat keatas mobil untuk melewati Fauzan.
“Pulanglah.” Ayumi terjun dari mobil dan berlari ke belakang kantor.
“Tuan, bagaimana?” tanya Asraf.
__ADS_1
“Hubungi David.” Fauzan melihat kearah Viona yang menatap dirinya dari balik kaca mobil, menyadari pria pujaan melihat dirinya gadis itu segera menunduk.
Fauzan membuka pintu bagian depan, duduk di samping Asraf, ia melihat Asistennya yang masih berbicara dengan David melalui ponsel.
“Viona, apa yang terjadi?” Fauzan melihat Viona dari cermin dashboard.
“Papa ku meminta berkas Perusahaan Manufaktur.” Viona melihat Fauzan.
“Tuan David dalam perjalanan kemari.” Asraf menyimpan ponselnya di saku jas.
“Aku akan menyusul Ayumi.” Fauzan akan keluar dari pintu mobil.
“Tuan, sebaiknya kita mengantarkan nona Viona.” Asraf menahan tangan Fauzan.
“Aku percaya Ayumi tidak akan membahanyakan dirinya.” Asraf melihat Viona yang ketakutan.
“Baiklah.” Fauzan memakai sabuk pengaman. Asraf segera menjalankan mobil menuju rumah Stevent.
Ayumi menunggu Alexander keluar dari perusahaan, tubuh kecil dan ramping itu bersembunyi di sela dinding, tidak ada yang bisa melihat Ayumi. Pria paruh baya keluar dari pintu utama dan berjalan menuju mobilnya. Gadis itu menembakkan jarum kecil dengan pistol khusus teapt di leher.
“Aw.” Alexander menyentuh lehernya, ia melihat setetes darah dan jarum hancur dalam darah.
“Ada apa Tuan?” tanya Sopir dan membuka pintu untuk Alexander.
“Sepertinya leherku di sengat lebah.” Alexander masuk ked lam mobil.
“Apakah anak buah kamu telah menyelesaikan tugasnya?” tanya Alexander pada sopirnya.
“Saya belum melihat mereka berdua.” Sopir itu menutup pintu mobil. Ia merasakan ada seseuatu di lehernya dan mendapatkan setetes darah. Ayumi menembakkan jarum yang sama tetapi racun berbeda pada sopir.
“Sepertinya banyak lebah di sini.” Pria itu melihat sekeliling dan masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi pengemudi.
“Anda mau kemana Tuan?” tanya sopir.
“Perusahaan Utama Stevent.” Alexander terlihat marah.
“Baik Tuan.” Pria itu segera menjalankan mobil, meninggalkan tempat parkir. Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang.
Sopir merasakan kepalanya berputar, pandangan semakin tidak fokus, ia bingung dengan jalan yang seakan bergelombang, tidak bisa membedakan rem dan gas. Alexander merasakan hal yang sama, pria itu tidak bisa berbicara seakan lidahnya kelu. Mobil semakin tidak stabil hingga menabrak pembatas jalan.
Ayumi mengikuti mobil Alexander dengan motornya, ketika terjadi kecelakaan, ia tetap melanjutkan perjalanan menuju perusahaan Papa Viona, memasuki ruangan rahasia , mencari berkas penting, wanita itu memindahkan kepemilikan Alexander. Tidak ada yang tidak bisa dilakukan Ayumi, ia hanya butuk computer dan tanda tangan Alexander.
Wanita itu keluar dan masuk perusahaan tanpa ada yang tahu, bahkan cctv telah ia kacaukan dengan ponselnya. Mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju sebuah hotel yang jauh dari rumah Stevent. Ayumi menyuruh seseorang mengantarkan berkas penting kerumah Stevent dan email izin pulang ke Jepang.
Viona bersama Stevent dan Jhonny berada di ruang kerja, meraka membahas rencana kedepan Perusahaan Manufaktur yang telah dipegang Viona. Terdengar ketukan pintu, seorang pelayan membawakan amplop berwarna coklat.
“Maaf Tuan, ada paket untuk Nona Viona.” Pelayang wanita masih berdiri di depan pintu dan Jhonny segera mengambil paket dari pelayan.
“Apa kamu memesan sesuatu Viona?” tanya Stevent.
“Tidak.” Viona mengelengkan kepalanya.
“Buka!” Stevent menatap pada amplop coklat besar di tangan Jhonny yang sedang ia buka dengan perlahan.
“Apa itu?” tanya Stevent memicingkan matanya.
“Berkas penting perusahaan Tuan Alexander.” Jhonny menyerahkan amplop beserta isinya pada Stevent.
“Bagaimana ini bisa di serahkan semuanya kepada dan Nisa?” Stevent membuka berkas yang telah ditandatangan oleh Alexander.
“Ada apa Kak?” tanya Viona bingung.
“Perusahaan Papa Mark yang diambil Papa Alexander telah pindah nama Nisa dan perkilangan Minyak di luar kota di berikan pada Viona.” Stevent menatap Viona.
“Tidak mungkin, bahkan Papa meminta perusahaan Manufaktur dariku.” Viona berjalan mendekati Stevent dan Jhonny.
“Siapa yang melakukan ini semua, tidak mungkin Papa menyerahkan dua perusahaan ini begitu saja.” Stevent duduk di kursi kerjanya melihat Jhonny yang hanya diam. Ponsel mereka bertida berbunyi bersamaan, sebuah emai masuk dari Ayumi, gadis itu meminta izin unutk kembali ke Jepang.
“Apa? Kenapa Ayumi tidak berbicara langsung pada diriku?” Viona terlihat sedih, Ia segera mengubungi ponsel Ayumi tetapi sudah tidak aktif.
“Kak, apakah Ayumi akan kembali?” tanya Viona.
“Ya, dia ada urusan keluarga.” Stevent kembali membuka berkas yang ada di atas mejanya. Ponsel Viona kembali berdering, panggilan dari Mamanya. Gadis itu segera menggeserkan icon hijau.
“Halo Ma.” Viona menjawab panggilan, Stevent melirik adikknya.
“Sayang, papa kecelakaan, sekarang Mama di rumah sakit Swasta N&N.” Mama terisak.
“Viona akan menemani Mama.” Viona memutuskan panggilan.
“Ada apa?” tanya Stevent.
“Papa kecelakaan, sekarang di rumah sakit N&N.” Viona melihat kearah Stevent.
__ADS_1
“Rumah Sakit Nathan.” Stevent merapikan semua berkas.
“Aku akan menyimpan berkas ini, kita akan kerumah sakit.” Stevent keluar dari dari ruang kerja diikuti Jhonny.
“Jhonny, kamu dirumah saja menemani Aisyah, Nisa dan anak-anakku, jangan sampai Nisa tahu tentang berkas dan kecelakaan ini.” Stevent berhenti dan menatap tajam pada Jhonny dan Viona.
“Baik Tuan.” Jhonny menunduk.
“Viona, bersihkan dirimu dna ganti pakaian, kita akan pergi bersama.” Stevent berjalan menuju kamar mereka, ia menyimpan berkas penting di dalam lemari besi dengan kunci sidik jari dan kornea kata.
Stevent berjalan menuju kamar Azzam dan Azzura , ia melihat Nisa tertidur di Sofa. Pria itu tersenyum da mencium dahi istrinya.
“Sayang, apa kamu sudah mandi?” Nisa duduk di sofa dan menatap lembut pada Stevent.
“Aku baru mau mandi dan akan pergi kerumah Papa Alexander.” Stevent tersenyum.
“Kalian berdua?” Nisa menatap suaminya.
“Ya, Viona baru saja menjadi Ceo perusahaan Manufaktur tentu saja Papa dan Mama harus tahu.” Stevent memeluk Nisa menyembunyikan wajahnya.
“Baiklah, sampaikan salamku pada Papa dan Mama.” Nisa melepaskan pelukannya.
“Aku belum mandi sayang.” Stevent mencium bibir Nisa.
“Aku belum gosok gigi.” Nisa menutup mulutnya.
“Aku tidak perduli, berikan ciuman untukku.” Stevent memancungkan bibirnya dan Nisa mengecup bibir suaminya.
“Mandilah.” Nisa mendorong tubuh Stevent kembali ke kamar mereka hingga masuk ke kamar mandi.
“Apa kamu akan mandi bersamaku?” Stevent menarik tangan istrinya dan memeluknya.
“Aku sudah selesai mandi sayang.” Nisa tersenyum. Stevent membuka keran shower hingga air mengalir dengan deras dan membasahi tubuh mereka berdua.
“Sayang.” Nisa terkejut, Stevent telah menempelkan menyumbat mulut istrinya dengan bibir basah tetapi hangat di bawah guyuran air shower. Mereka berdua begitu menikmati ciuman intim dan tangan Stevent mulai nakal menjelajahi tubuh istrinya, menyentuh bagian yang sangat sensitive dan menggoda.
“Kamu akan terlambat.” Nisa membuka kancing kemeja Stevent, agar pria itu segera mandi dan membersikan diri.
“Sayang, aku mau bercinta.” Stevent kembali mencium bibir Nisa dan tak ingin melepaskannya.
“Sayang, Viona sudah menunggu dirimu, kita punya banyak waktu untuk bercinta.” Nisa meletakkan kemeja basah Stevent di keranjang baju kotor.
Pria itu membuka semua kain yangada di tubuhnya dan hanya meninggalkan pakain dalam menutupi senjatanya. Nisa membantu Stevent mandi dengan memberikan sampo pada rambut suaminya dan menyikat tubuh kekar itu dengan lembut.
“Ah, sentuhan kamu membangunkan adik kecilku.” Stevent memeluk tubuh Nisa.
“Kamu bis abertahan cukup lama tidak menyentuhku.” Nisa tersenyum.
“Baiklah.” Stevent segera menyelesaikan mandinya. Mereka berganti pakaian bersama di ruang ganti.
Stevent dan Viona berangkat ke rumah sakit dengan mobil sport hitam, melaju dengan kecepatan sedang untuk mengunjungi papa mereka.
***
Ayumi duduk seorang diri di dalam pesawat jet pribadi yang sangat mewah, matanya menatap kosong pada langit yang mulai yang mulai berwarna merah karena cahaya Matahari telah bersembunyi di bagian barat bumi. Gadis itu adalah putri Kaisar Jepang yang di serahkan kepada Ketua Mafia yang baru saja kehilangan putrinya tepat di hari kelahiran Ayumi.
Orang tua Ayumi dan Papa Mafianya yang seorang Atheis, sedangkan Mama angkatnya beragama Islam sehingga ia dididik secara Islam. Ayumi tidak tahu agama yang ia anut tetapi identitasnya seorang muslimah. Ia menggunakan hijab pertama kalinya ketika menjadi pengawal Viona karena menutup aurat adalah syarat utama yang Stevent berikan kepada semua peserta seleksi bodyguard.
***
Fauzan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, panggilan dari Raja meminta ia segera pulang ke Arab karena telah memasuki usia tiga puluh tahun dan pria itu harus menikahi seorang putri dari kerajaan atau Negara lain. Berkas tentang kebenaran Ayumi berserakan di atas meja kerjanya.
“Kenapa Ayumi harus datang ke Negara ini dan menjadi seorang pengawal, apa yang ia cari?” Fauzan mengambil foto Ayumi dari atas mejanya.
“Apa agama kamu?” Fauzan berbicara dengan foto Ayumi.
"Tidak ada yang tidak aku ketahui." Fauzan meletakkan foto Ayumi di samping bantalnya, ia sangat lelah dan mengantuk.
Pria itu memejamkan matanya, ia hanya tahu Ayumi adalah anak dari seorang Ketua Mafia Jepang yang sangat disegani dan ditakuti negara lain.
Rahasia akan terbongkar pada waktunya, tidak ada yang bisa disembunyikan, jika Tuhan berkehendak untuk membuka semuanya. Waktu terus berputar hingga pada akhirnya kebenaran akan terungkap.
"Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga"
"Sebaik-baik menyimpan bangkai akan tercium busuknya"
***Love You All***
Jika Suka bisa berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Unfogettable Lady" cari di aplikasi Innovel.
Baca juga Novel Kakakku atas nama Fitri Rahayu. Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.