
Rumah Stevent Lu
Jhonny berada di ruang kerja bersama dengan Stevent, ia melaporkan semua kejadian di rumah Aisyah dan Aula pernikahan serta kepergian Nathan yang tergesa-gesa. Pria dengan wajah datar itu juga bercerita tentang Afifah yang menjadi pusat perhatian para pria yang ada di rumah termasuk Fauzan.
“Apakah Afifah cantik?” tanya Stevent.
“Iya Tuan, wajahnya terlihat imut seperti gadis remaja, ia suka memasak masakannya enak, tersenyum dan tertawa lepas,” jelas Jhonny.
“Jika Fauzan terlihat menyukai Afifah , ia pasti wanita yang luar biasa seperti Nisa.” Stevent duduk di kursi kerja.
“Nathan memilih wanita yang memiliki sisi lembut dan cerdas seperti Nyonya.” Jhonny duduk di sofa.
“Kamu benar, pergilah beristirahat.” Stevent merapikan ruang kerjanya.
“Baik Tuan.” Jhonny keluar dari ruangan.
Seorang gadis cantik bersembunyi di balik dinding pembatas, tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan Stevent dan Jhonny yang menyebutkan Fauzan menyukai Afifah tetapi ia tidak tahu jika wanita itu telha menikah dengan Nathan.
Dada Viona terasa sesak, ia berpikir Fauzan tidak memperdulikan dirinya karena pria itu telah mencintai seorang wanita yang istimewa dan pantas bersanding dengan pangerannya. Tanpa sadar air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya, ia terduduk di lantai meratapi nasibnya yang kembali terluka karena cinta.
“Apa yang anda lakukan di sini Nona.” Ayumi berdiri menatap tajam pada Viona.
“Ayumi.” Viona memeluk wanita Jepang itu dengan erat dan menumpahkan air matanya di pundah Ayumi.
“Jangan katakan kamu menangis karena pria.” Ayumi berbisik di telinga Viona.
“Apa kamu tahu ini untuk kedua kalinya aku terluka.” Viona berlari ke taman dan Ayumi mengikuinya.
“Jangan pernah jatuh cinta!” Ayumi duduk di samping Viona.
“Siapa yang tidak jatuh cinta pada pria sempurna seperti Kenzo dan Fauzan?” Viona memeluk kedua kakinya duduk di bawah pohon.
“Aku.” Ayumi menatap tajam pada Viona.
“Suatu hari nanti kamu juga akan jatuh cinta.” Viona kesal.
“Mulailah dari dicintai dan bukan mencintai.” Ayumi berdiri menatap langit malam.
“Maksud kamu?” tanya Viona.
“Seperti Nyonya Nisa yang dicintai Tuan Stevent terlebih dahulu barulah, ia mencintai suaminya.” Ayumi menoleh Viona.
“Jadilah wanita hebat yang dikagumi dan dicintai banyak orang termasuk para pria luar biasa.” Ayumi menatap tajam pada wajah kusut Viona.
“Apa yang harus aku lakukan?” Viona menatap Ayumi.
“Menghapus rasa cinta pada seorang pria.” Ayumi tersenyum cantik.
__ADS_1
“Akan aku lakukan.” Viona menyenderkan tubuhnya pada pohon dan menatap langit malam yang cerah.
“Pria menyukai wanita yang cuek dan tidak suka mencari perhatian, meskipun anda mengagumi atau mencintai seseorang berusahalah untuk menutupinya agar menjadi harga diri yang tinggi sebagai seorang perempuan.” Ayumi duduk di samping Viona.
“Ayumi, apa kamu bisa terus bersama dengan diriku?” Viona merebahkan kepalanya di pundak Ayumi.
“Anda harus mulai menjadi wanita mandiri dan bisa melindungi diri sendiri.” Suara Ayumi terdengar pelan.
“Apa kamu akan pergi?” tanya Viona menatap Ayumi.
“Aku hanya seorang pengawal.” Ayumi tersenyum, tidak ada yang tahu bahwa dia adalah putri dari Kaisar Jepang yang disembunyikan dan memiliki banya orang tua asuh. Wanita itu berkeliling dunia setelah menyelesaikan pendidikan dan pelatihan khusus.
“Aku berharap kamu terus berada disisiku.” Viona memeluk tangan Ayumi.
“Aku hanya kontrak kerja lima tahun dan itu bisa dibatalkan jika pekerjaanku tidak memuaskan.” Ayumi tersenyum cantik.
“Tidak akan ada yang akan membatalkan kontrak kerja dengan dirimu.” Viona menatap Ayumi, gadis itu merasa nyaman berada di dekat pengawal sekaligus temannya.
Stevent melihat Viona dan pengawalnya dari jendela kamar, ia memperhatikan kedekatan dua wanita yang baru saja bersama.
“Sayang, apa yang kamu lihat?” Nisa memeluk tubuh telanjang suaminya dari belakang.
“Viona sepertinya akrab dengan Ayumi.” Stevent memutar tubuhnya menghadap Nisa.
“Karena usia mereka tidak berbeda jauh.” Nisa melihat keluar jendela.
“Jepang memiliki aturan yang sangat ketat untuk orang-orang tertentu.” Nisa menghadap Stevent.
“Maksud kamu Ayumi bukan orang biasa.” Stevent menatap Nisa.
“Kamu perlu memeriksa latar belakang Ayumi.” Nisa menyentuh pipi suaminya.
“Tentu saja sayang.” Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut dan durasi yang cukup lama.
***
Kamar Jhonny
Pria itu terlihat masih sibuk dengan pekerjaan yang ia tinggalkan ketika mereka pergi kerumah mertuanya. Aisyah menatap suaminya dari tempat tidur, ia merasa bersalah atas ucapan orang tuanya yang menghina dan merendahkan Jhonny.
“Apakah dia marah?” Aisyah mengigit kuku jarinya dan berjalan mendekati Jhonny.
“Sayang, apa kamu tidak lelah?” Aisyah berdiri di samping Jhonny.
“Tidak.” Pria itu menjawab tanpa melihat Aisyah dan fokus pada komputerya.
“Apakah kamu marah pada diriku?” Aisyah menatap Jhonny.
__ADS_1
“Tidak.” Jhonny masih dengan jawaban yang sama.
“Marah atau tidak dia sama saja, tetapi aku tahu pasti dia terluka.” Aisyah menatap sedih pada Jhonny, ia berjalan menuju ruang ganti. Pria itu melirik istrinya yang meninggalkan dirinya.
“Maafkan aku yang tidak memiliki derajat tinggi sehingga dirimu dihina dan malu.” Jhonny mengepalkan tangannya, ia tidak marah pada Aisyah tetapi ia kecewa dan sedih pada dirinya sendiri. Pria itu ingin selalu bisa membahagiakan istrinya.
Aisyah menganti pakain tidurnya dengan lingerie cantik berwarna merah terang, memperlihatkan tubuh seksi padat berisi dan sangat menggoda, ia berjalan mendekati Jhonny dan memainkan jari indahnya di telinga pria itu.
“Jika kamu tidak lelah aku mau bercinta.” Aisyah berbisik di telinga Jhonny memberikan hembusan napas hangat dan gigitan kecil. Tubuh Jhonny seketika memanas, darahnya mendidih dan siap memuntahkan magma panas dari dalam dirinya.
Pria itu beranjak dari kursi dan menatap tubuh seksi istrinya dengan lingerie yang mereka beli bersama sepulang dari pernikahan Nathan. Tidak ada pria yang sanggup menolak godaan seorang wanita cantik yang telah menjadi miliknya. Jhonny mengangkat tubuh Aisyah dan menghempaskan di atas tempat tidur empuk.
Aisyah tersenyum, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menenangkan suaminya, yang terlihat sedih dan kecewa sejak kepulangan mereka dari kota Musium Menara. Wanita itu membuka kancing kemeja Jhonny dengan perlahan, tetapi pria itu sudah tidak sabar dan merobek kemeja mahal yang ia gunakan dengan tangannya.
“Ya Tuhan, sudah berapa lama kita tidak bercinta?” Aisyah mengelus dada bidang Jhonny dan pria itu langsung memakan bibir istrinya dengan kekuatan penuh memberikan gigitan pada lidah yang menari di dalam rongga mulut.
Aisyah membiarkan Jhonny menggila untuk menumpahkan kesedihan pada tubuhnya, ia akan memberikan kepuasan dan kenikmatan pada suaminya agar kelelahan dan bisa tertidur nyenyak. Wanita itu akan mampu bertahan dengan permainan Jhonny karena ia telah meminum ramuan herbal buatan diirnya sendiri.
Seluruh tubuh Aisyah telah merah, leher jenjang itu hampir tidak menyisakan tempat untuk menambahkan tanda cinta. Aisyah hanya bisa mengerang menahan kenikmatan yang Jhonny ciptakan melalui ciuman, jilatan, gigitan dan sentuhan tangan nakal yang menyusup kemanpun ia suka.
Pria itu menghentikan gerakannya menatap wajah cantik dengan senyuman tulus Asiyah, matanya terlihat sendu menyembunyikan kesedihan. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher Jhonny dan menariknya.
“Selesaikan atau masih mau bermain?” Aisyah berbisik di telinga Jhonny, pria itu segera melepaskan celana yang ia gunakan dan memperlihatkan senjata perkasa yang siap menembakan percikan api hangat pada istrinya.
Gempa bumi terjadi di atas tempat tidur, bergoncang dan bergetar. Napas mereka terengah-engah ditemani desahan dan teriakan nakal dari bibir Aisyah. Jari-jari Asiyah menjambak rambut Jhonny dan tangan pria itu mencengkram seprai hingga sobek untuk menyelesaikan permainan panas.
Ketika sampai pada puncak tertinggi kenikmatan dunia, senjata Jhonny telah menembakkan peluru panas pada gua terdalam Asiyah, tubuh basah keringat terhempas lelah di atas kasur. Mengatur napas, menenangkan detak jantung serta menstabilkan tubuh yang bergetar dahsyat. Memejamkan mata untuk sebentar saja sebelum membersihkan diri.
***
Fauzan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur empuk, ia tidak menyangka akan dengan mudah kehilangan wanita dengan masakan yang menggoda selera. Fauzan meliaht layar ponselnya, sebuah pesan dari Ayesha. “Kami akan tiba besok.”
“Aku merindukan dirimu.” Fauzan tersenyum melihat foto profil Ayesha bersama Kenzo. Pria tampan itu mematikan ponselnya dan memejamkan matanya.
Asraf berbaring di atas tempat tidur, tatapan mata menerawang langit-langit kamar, pikirannya melayang pada Afifah yang bukan saudaranya dan telah menikah dengan Nathan. Padahal ia berharap wanita itu akan menikah dengan dirinya jika mereka tidak memiliki hubungan darah.
“Aku berharap kami segera meninggalkan Negara ini dan kembali ke Arab.” Asraf memijit batang hidungnya, ia merasakan pusing karena pikiran yang kacau.
“Aku bisa mencintai wanita lain, aku harus melupakan Afifah.” Asraf memejamkan matanya dan tidur dalam kegelisahan.
***Love You All***
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.