Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Pesona Ayesha


__ADS_3

Ayesha duduk di ayunan menunggu Fauzan, mereka akan pergi ke lokasi perusahaan baru yang akan di pegang Kenzo dengan 3 pemilik saham.


Kenzo berjalan mendekati Ayesha yang berayun-ayun pelan.


Gamis dan hijabnya melambai-lambai karena gerakan ayunan.


Kenzo duduk di kursi taman berhadapan langsung dengan Ayesha.


Ayesha tidak nyaman, ia terus menghindari Kenzo, baginya pertemuan dengan Kenzo adalah pengalaman buruk, Kenzo telah menyentuh dirinya.


"Apakah anda marah dan benci kepada saya?" tanya Kenzo melihat ke arah Ayesha yang terus menambah kecepatan ayunan.


Ayesha mengentikan ayunan dan melihat ke arah Kenzo sekilas.


"Saya tidak marah dan tidak benci tetapi saya malu bertemu dengan Anda karena kecelakaan itu." tegas Ayesha.


"Malu?" Kenzo bingung.


"Kenapa seorang putri harus malu bertemu dengan pria biasa seperti diriku?" tanya Kenzo melihat mata Indah Ayesha.


Ayesha menarik napas panjang dan membuangnya. Ia turun dari ayunan.


"Dengarkan saya Tuan Kenzo, bisakah kita seperti orang yang tidak pernah bertemu dan saya mohon jangan pernah membahas masalah kecelakaan." tegas Ayesha.


"Kenapa, Aku akan bertanggung jawab." tegas Kenzo.


"Bertanggung jawab dengan menikahi diriku." Mata Ayesha berkilau.


"Kenapa harus menikahi dirimu?" Kenzo pura-pura tidak tahu tentang perjanjian Fauzan dengan Ayesha.


"Lupakan saja." Ayesha berjalan menuju mobil Fauzan.


"Menikah, siapa yang akan menikah?" Fauzan membuka pintu mobil untuk Ayesha.


"Tuan Kenzo." Ayesha tersenyum kepada Fauzan.


Ayesha langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di belakang.


"Benarkah, Kenzo akan menikah?" tanya Fauzan kepada Kenzo yang baru saja duduk di samping Fauzan.


"Ya, menikah dengan adik Anda." Kenzo tersenyum melirik Ayesha dark cermin, ia melihat mata Ayesha melotot.


"Jika kamu beruntung, aku akan nikahkan kamu dengan Ayesha." Fauzan tersenyum.


Mobil Fauzan keluar dari perkarangan rumah Abi dan menuju kawasan perkantoran yang akan menjadi perusahaan baru kerjasama 3 pengusaha.


Ayesha hanya terdiam di kursi belakang, Fauzan dapat melihat perbedaan sikap Ayesha ketika bersama Kenzo


Fauzan sangat mengenali Ayesha, tidak ada yang bisa Ayesha sembunyikan dari dirinya.


"Sepertinya Ayesha menghindari Kenzo dari sejak meeting di Kairo." Fauzan melirik Ayesha dari pantulan cermin.


"Ada apa dengan mereka berdua?" gumam Fauzan dalam hatinya.


Mobil Fauzan telah sampai pada daerah perkantoran.


Ayesha keluar dari mobil, ia melihat ada banyak orang-orang yang berjualan di pinggir jalan depan perkantoran.


Bahkan ada anak kecil yang ikut berjualan dengan pakaian yang lusuh bahkan tidak layak pakai.


Ayesha berjalan mendekati para pedagang kaki lima yang berada di trotoar.


"Ayesha, kemarilah." teriak Fauzan.


"Aku akan menyusul." jawab Ayesha.


Melihat Ayesha yang tidak memperdulikan dirinya, Fauzan segera mendekat dan menarik tangan Ayesha.


"Kamu akan menyusul setelah kami selesai berkeliling." ucap Fauzan.


Kenzo tersenyum melihat tingkah Fauzan dan Ayesha.


Kenzo bisa melihat senyuman manja Ayesha yang penuh rasa bersalah ketika Fauzan menarik tangannya untuk segera masuk ke dalam perusahaan.


Stevent dan Jhonny telah menunggu di depan pintu perusahaan yang masih belum digunakan.


"Kenzo." ucap Stevent memperhatikan Kenzo yang berjalan bersama dengan Fauzan dan Ayesha.


Jhonny melihat Stevent sekilas dan memperhatikan Kenzo yang berjalan ke arah mereka.


"Assalamualaikum." salam Fauzan.


"Waalaikumsalam." jawab Stevent memerhatikan Kenzo.


Fauzan memperkenalkan Kenzo kepada Stevent dan Jhonny.


"Kami sudah saling kenal dengan baik." ucap Stevent menatap tajam kepada Kenzo.


"Benarkah, itu sangat bagus." Fauzan tersenyum.


"Tentu saja, aku adalah kakak Nisa istri dari tuan Stevent." Kenzo tersenyum dan berjabat tangan dengan Stevent.


"Alhamdulilah." ucap Fauzan.


Empat orang pria akan masuk ke dalam gedung untuk melihat ruangan kerja dan peralatan yang ada di dalam pabrik.


"Ayesha." Fauzan melihat Ayesha yang bersiap untuk pergi.


"Kakak, aku di luar saja." Ayesha tersenyum.


"Baiklah, jangan pergi jauh dari perusahaan ini!" tegas Fauzan dan Ayesha mengangguk tersenyum.


Empat orang pria melihat satu - satunya wanita yang mulai menjauh.


"Maafkan adikku." Fauzan tersenyum.


Kenzo memperhatikan Ayesha yang berjalan mendekati para pedagang dan anak-anak yang ada di pinggir jalan.


"Silahkan masuk." ucap seorang pria penanggungjawab gedung yang keluar dari dalam ruangan.


Empat orang pria tampan berjalan masuk bersama.

__ADS_1


Ayesha berjalan menuju anak kecil yang duduk di tepi trotoar menjaga jualannya.


"Assalamualaikum." salam Ayesha dengan lembutnya dan duduk di samping gadis berusia sekitar 10 tahun.


"Waalaikumsalam, kakak mau beli apa?" tanya gadis kecil.


"Kakak akan beli nanti, kakak mau tanya, Siapa nama kamu?" tanya Ayesha.


"Ane Kak." jawab Ane.


"Apakah kamu tidak sekolah?" tanya Ayesha.


"Tidak kak, Aku harus mengantikan ibu berjualan." Ane itu tersenyum.


"Ibu kamu kenapa?" tanya Ayesha merapikan rambut Ane yang berantakan.


"Ibu sakit dan harus menjaga adik - adik." wajah Ane terlihat sedih.


"Rumah kamu dimana?" tanya Ayesha penasaran.


"Di belakang gedung itu." Ayesha menunjukkan gedung yang akan menjadi perusahaan Ayesha.


"Apa kalian tidak diusir?" tanya Ayesha.


"Kami sudah diminta pergi sebelum gedung itu di buka, tetapi kami belum tahu pindah ke mana?" Ane sedih.


"Ada berapa banyak orang yang tinggal di belakang gedung?" tanya Ayesha.


"Teman-teman ku yang tidak punya orang tua." ucap Ane.


Ayesha tersenyum dan mengusap kepala Ane.


"Sabarlah dan banyak berdoa, Allah akan mengirimkan bantuan." Ayesha menyentuh pipi Ane.


"Apa kamu berpuasa?" tanya Ayesha.


"Iya kak, selain mendapatkan pahala juga dapat berhemat." Ane tersenyum.


Ayesha memperhatikan jualan Ane, berupa sayuran dan buah-buahan lokal di atas meja kecil yang tidak begitu banyak.


"Berapa semua harga jualan kamu?" tanya Ayesha mengambil tas punggungnya.


"Semuanya?" tanya Ane menyakinkan diri. Ayesha tersenyum dan mengangguk.


Ane mulai menghitung semua sayuran dan buah-buahan yang masih ada.


"Semuanya seratus ribu kak." Ane bersemangat.


"Ini uangnya, sayuran dan buah-buahannya untuk keluarga kamu dan teman-temanmu." Ayesha memberikan dua lembar uang seratus ribu.


"Terimakasih kak." Air mata Ane mengalir.


Ayesha berjalan berkeliling, mendekati dan bertanya kepada anak kecil dan para lansia yang berjualan di trotoar.


Ia menanyakan tempat tinggal dan alasan mereka berjualan.


Ayesha menatap sedih kepada nenek dan kakek yang sudah sangat tua tetapi masih berjuang untuk bertahan hidup.


Kenzo berdiri di pinggir jendela kaca melihat Ayesha dari atas gedung.


Fauzan memperhatikan Kenzo yang fokus melihat ke bawah gedung.


"Kamu tidak perlu heran dengan adikku." ucap Fauzan yang ikut melihat Ayesha begitu juga dengan Stevent dan Jhonny.


"Apakah adikmu seorang Putri?" tanya Stevent heran


"Ketika di istana, ia akan menjadi seorang Putri, ketika di perusahaan ia menjadi seorang CEO dan ketika di jalanan ia akan menjadi seorang malaikat." Fauzan tersenyum memperhatikan Ayesha.


"Aku tidak bisa melarang dirinya selama itu untuk kebaikan." lanjut Fauzan.


Setelah menghamburkan uangnya di jalanan untuk membantu orang, Ayesha berjalan ke belakang gedung bertingkat untuk melihat lokasi tempat tinggal Ane dan teman - temannya.


"Dia mau kemana?" tanya Kenzo melihat Ayesha yang memutari pagar Gedung.


"Mungkin ia menyelidiki belakang gedung ini." Fauzan tersenyum.


Mereka berempat kembali berkeliling gedung hingga ke pabrik belakang.


Kenzo berjalan sendirian memeriksa mesin yang akan di gunakan perusahaan.


Kenzo memperhatikan Ayesha dari balik dinding kaca Gudang Pabrik.


Ayesha berbicara dengan seorang ibu yang sedang sakit dengan beberapa orang anaknya.


Kenzo tidak bisa memalingkan wajahnya dari cantiknya kepribadian Ayesha yang tidak ada rasa jijik sama sekali dengan tempat kumuh dan kotor.


Gamis cantik menyapu tanah dan duduk di gubuk berdinding kardus dan triple bekas perusahaan.


Kenzo mendengarkan percakapan Ayesha dengan seorang, Ayesha tidak segan bermain dan memeluk anak-anak dengan ramahnya.


Kaki Kenzo melangkah tanpa perintah mendekati Ayesha.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Kenzo mengejutkan Ayesha.


"Aku sedang bertamu." jawab Ayesha, ia pamit kepada ibu beserta anak-anaknya setelah memberikan sejumlah uang untuk keperluan berobat dan kebutuhan sehari-hari.


Kenzo mengikut Ayesha dari belakang, berjalan menuju parkiran.


Ayesha mengehentikan langkah kakinya sehingga Kenzo hampir menabrak dirinya.


Kenzo segera mundur beberapa langkah, ia tidak mau Ayesha kembali marah jika meraka sampai bersentuhan walaupun tanpa sengaja.


"Apakah kamu orang asli sini?" tanya Ayesha pada Kenzo.


"Ya." jawab Kenzo singkat.


"Berarti kamu mengenali seluruh wilayah ini." Ayesha memutar tubuhnya menghadap Kenzo.


"Tentu saja, untuk beberapa daerah terdekat." jawab Kenzo.


"Negara ini sangat kaya, tetapi kenapa begitu penduduk yang miskin?" Ayesha menatap tajam kepada Kenzo.

__ADS_1


"Apakah aku harus menjawab pertanyaan dirimu?" Kenzo balik bertanya dan melihat ke arah Ayesha yang langsung memalingkannya wajahnya.


"Tidak perlu, ketika perusahaan ini berjalan mereka akan diusir kemana kamu akan memindahkan mereka?" Ayesha melihat sekilas ke arah Kenzo.


"Ini pertama kalinya aku kemari, aku harus mempelajari lingkungan dan perusahaan ini." jelas Kenzo.


"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk belajar dan menyelesaikan masalah ini?" tanya Ayesha dan Kenzo hanya terdiam, ia belum mendapatkan kesepakatan dengan Stevent dan Fauzan untuk memastikan perusahaan mulai beroperasi.


"Jika dalam satu Minggu kamu tidak bisa menyelesaikan masalah ini dan mereka belum mendapatkan tempat tinggal yang layak, maka kerjasama ini tidak akan aku izinkan." tegas Ayesha.


"Ah, dan gedung bertingkat ini akan aku jadikan rumah untuk mereka semua yang tidak memiliki tempat tinggal." Ayesha tersenyum dan berjalan menuju mobil Fauzan.


Kenzo terkejut dengan apa yang ia dengarkan, wanita bercadar yang cantik dan lembut itu bisa mengatakan kalimat yang sangat tegas.


"Kamu sangat mempesona." Kenzo tersenyum dan berjalan menyusul Ayesha.


Jhonny dan Stevent telah berada di mobil mereka bersiap untuk kembali ke perusahaan Stevent.


Fauzan melihat Ayesha berjalan dari arah yang sama bersama Kenzo.


"Bisakah kita berdiskusi sebentar." ucap Ayesha kepada Fauzan, Stevent dan Jhonny memperhatikan Ayesha.


"Apakah kita harus berdiskusi disini?" Fauzan menatap Ayesha.


"Sebaiknya kita membahas perkejaan di ruangan meeting Nona." Jhonny menunduk.


"Baiklah." Ayesha masuk ke dalam mobil.


Fauzan memperhatikan Kenzo yang tersenyum kearah Ayesha.


"Tidak ada pria yang bisa menghindar pesona Ayesha." gumam Fauzan masuk ke dalam mobilnya.


Semua telah berada di dalam mobil dan melaju meninggalkan lokasi pabrik, menuju perusahaan Stevent.


Dua buah mobil berwarna hitam memasuki area parkiran khusus milik Stevent.


Mereka semua memasuki lift yang sama, Fauzan menjaga Ayesha yang berada paling dinding lift.


Ruang meeting terasa menyejukkan setelah berpanas-panasan di lokasi pabrik dan kantor baru.


Semua telah duduk pada tempat masing-masing, kecuali Ayesha yang berdiri di paling depan dekat layar monitor.


"Assalamualaikum." salam Ayesha.


"Waalaikumsalam." jawab empat pria bersama.


"Tuan Jhonny bisakah Anda menampilkan lokasi gedung dan pabrik yang baru saja kita kunjungi?" pinta Ayesha.


"Tentu saja Nona." Jhonny beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati komputer sehingga menampilkan gedung dari beberapa sudut.


"Terimakasih Tuan Jhonny." Ayesha tersenyum dan Jhonny hanya mengangguk.


Ayesha memainkan gambar yang ada pada layar sehingga ia menemukan lokasi belakang pabrik.


Semua terkejut kecuali Kenzo yang telah melihat langsung ke lokasi.


"Pertama saya mau bertanya kepada semua yang ada di dalam ruangan ini, Kapan perusahaan dan pabrik ini akan mulai beroperasi?" Ayesha melihat kearah Fauzan.


"Secepatnya." Jawab Stevent, Kenzo hanya terdiam, ia tahu arah pertanyaan Ayesha.


"Bagus sekali Tuan Stevent dan aku mau secepatnya masalah ini diselesaikan!" Ayesha memperbesar gambar rumah kardus yang berada di belakang pabrik.


"Mereka tidak menggangu kerja perusahaan." ucap Stevent.


Fauzan hanya tersenyum, Stevent akan habis oleh Ayesha, Kenzo hanya terdiam dan memperhatikan Ayesha.


"Anda sangat benar Tuan Stevent, tetapi perusahaan yang akan menggangu kehidupan mereka, anda bisa makan enak dan tidur nyenyak di rumah yang megah, bagaimana dengan mereka?" Ayesha menatap tajam kepada Stevent terdiam.


"Aku memberi waktu seminggu untuk menyediakan tempat tinggal bagi mereka yang akan di gusur dan aku mau tahu di mana tempat tinggal mereka." ucap Ayesha mengagetkan Stevent.


"Jika dalam satu Minggu tidak berhasil, maka kerjasama ini batal, aku akan menarik semua saham yang ada di perusahaan anda dan memutus semua hubungan kerjasama dengan perusahaan Tuan Stevent Lu Alexander." tegas Ayesha.


Fauzan berdiri dan bertepuk tangan memberikan aplouse untuk Ayesha.


"Saya sangat setuju dengan Ayesha, satu Minggu waktu yang cukup panjang, tetapi saya harap sebelum satu Minggu perusahaan ini telah berjalan." Fauzan tersenyum.


"Tuan Stevent, berdosa lah kita apabila berbahagia di atas penderitaan orang lain." tegas Fauzan.


"Bagaimana Tuan Kenzo?" tanya Stevent pada Kenzo.


"Tentu saja saya setuju dengan keputusan Nona Ayesha dan Tuan Fauzan." Kenzo tersenyum, ia sangat kagum dengan ketegasan Ayesha bahkan Ayesha berani menekan Stevent.


"Baiklah kerjasama ini akan di tandatangani setelah menyelesaikan masalah di belakang pabrik." Fauzan tersenyum dan berjabat tangan dengan semua orang.


"Terimakasih atas perhatian, anda semuanya dan mohon maaf apabila perkataan saya menyingung perasaan anda yang ada di ruangan ini, Asslamualaikum." Ayesha tersenyum dari balik cadangan, ia keluar dari ruangan meeting tanpa bersalaman.


Fauzan dan Kenzo mengikut Ayesha meninggalkan ruangan meeting.


"Aku tidak percaya akan ditekan oleh seorang wanita dengan usia yang masih sangat muda." ucap Stevent.


"Tuan Fauzan sudah mengatakan, Nona Ayesha akan menjadi apa yang ia inginkan." tegas Jhonny.


"Jika dia seorang pria, ia akan menghancurkan banyak perusahaan yang tidak sejalan dengan dirinya." Stevent tersenyum.


"Dia adalah seorang putri dengan 4 Kakak laki - laki yang luar biasa Tuan." jelas Jhonny.


***


Selamat Menunaikan ibadah Puasa 🤗


(Jangan Minta Jhonny-Aisyah & Stevent-Nisa


Karena mereka pasti romantis 🤦)🤣


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Terimakasih yang sudah memberikan Tips, Vote, Like dan Komentar 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2