Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Kepulangan Afifah


__ADS_3

Pria tampan terus berada di sisi Afifah, ia manatap wajah cantik yang tertidur pulas, hingga mata indah dengan bulu mata lentik itu terbuka perlahan.


“Selamat sore, putri tidur.” Nathan tersenyum tampan.


“Nathan.” Afifah menatap Nathan dengan tatapan penuh penyelidikan.


“Apa yang kamu rasakan?” Nathan menatap wajah Afifah.


“Lebih baik.” Afifah berusaha mengingat sesuatu yang membuat ia merasakan sakit di kepalanya.


“Apa kamu lapar?” tanya Nathan.


“Sebaiknya kamu pulang dan tinggalkan aku sendiri.” Afifah mengalihkan pandangannya.


“Sayang, apa kamu marah pada diriku?” Nathan kebingungan.


“Nathan, tolong tinggalkan aku, aku mohon.” Afifah tidak melihat kearah Nathan.


“Apa yang terjadi pada dirimu?” Nathan menyentuh pipi Afifah.


“Lepaskan!” Afifah menatap tajam pada Nathan.


“Kenapa dia marah, apakah ia mengingat semua perkataan Nayla?” Nathan berbicara di dalam hatinya.


“Afifah, maafkan Nayla.” Nathan menatap Afifah.


“Pulanglah temani adik kamu, aku mohon.” Afifah tersenyum.


“Kamu mau aku menemui Nayla?” Nathan menyakini dirinya.


“Ya, ini adalah permintaan diriku.” Afifah kembali tersenyum, ia benar-benar bisa mengingat semua hinaan Nayla yang sangat menyakitkan.


“Baiklah, aku akan segera kembali secepatnya.” Nathan tersenyum.


“Jangan terburu-buru, kamu harus berhati-hati.” Afifah tersenyum.


“Tentu saja, aku tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Nathan tersenyum.


“Nathan.” Suara lembut Afifah menghentikan langkah Nathan.


“Apa Agama kamu?” tanya Afifah pelan.


“Islam.” Nathan tersenyum.


“Benarkah, apakah kamu sholat?” tanya Afifah.


“Ya, apa kamu tidak percaya aku adalah seorang muslim?” Nathan kembali mendekat pada Afifah.


“Entahlah, adikmu tidak menjawab salamku.” Afifah menggeserkan tubuhnya menjauh dari Nathan.


“Apa kamu mau melihatnya?” Nathan tersenyum nakal.


“Melihat, melihat apa?” Afifah menatap bingung.


“Melihat bukti bahwa aku seorang muslim.” Nathan terus tersenyum menggoda.


“Apa yang bisa aku lihat, aku terus tertidur.” Afifah duduk.


“Melihat milikku.” Nathan meletakkan tangannya di celananya.

__ADS_1


“Apa yang mau kamu lakukan?” Afifah memelototi matanya.


“Memperlihatkan sesuatu yang menarik.” Nathan tersenyum.


“Apa kamu gila?” Afifah melempar guling ke wajah Nathan.


“Ayolah, kamu adalah orang pertama yang akan melihat milikku yang paling berharga.” Nathan mendekati Afifah, ia telah membuka ikat pinggangnya menggoda wanita yang memelototi mata.


“Hentikan!” Afifah berteriak, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Apa kamu malu?” Nathan berbisik di telinga Afifah.


“Pergilah, atau aku yang akan pergi.” Afifah terlihat marah.


“Baiklah, tunggu aku di kamar ini, jangan pergi kemanapun!” Nathan tersenyum dan keluar dari ruangan Afifah.


“Terimakasih Nathan, kamu pria hebat yang berhasil menyembuhkan diriku dangan cepat, aku bisa mengingat semuanya.” Afifah tersenyum, ia mencabut selang inpus dan turun dari tempat tidur, mengeluarkan dompet berisi black dan gold card dari dalam tas dan meletakkan di atas meja serta ponsel berwarna merah terang. Afifah mengambil kotak kaca yang berisi formula obat untuk dirinya.


“Jika kita berjodoh pasti akan bertemu lagi.” Afifah tersenyum, menjadi diri sendiri sungguh menyenangkan.


Afifah keluar dari kamar yang tidak terkunci, ia menghirup napas dalam dan membuangnya dengan lembut, menikmati kebebasan dari rasa bosan selama berada di dalam ruangan perawatan.


“Maafkan aku Nathan, aku tidak mau jadi pemisah dirimu dan adik kamu.” Afifah melangkahkan kakinya menuju jalanan, ia memperhatikan setiap tanda yang ada.


Sebuah mobil putih berhenti tepat di depan Afifah, pintu jendela terbuka seorang pria tampan tersenyum manis pada wanita yang sedang berpikir kemana ia akan pergi.


“Halo Nona, anda mau kemana?” tanya Kim kepada Afifah.


“Terminal yang akan mengnatarkan diriku ke desa Sinjay, apa kamu tahu?” Afifah tersenyum.


“Bagaimana jika aku mengatarkan kamu sampai ke rumah kamu?” Kim turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Afifah.


“Masuklah, kita adalah teman.” Kim tersenyum.


“Terimakasih.” Afifah masuk ke dalam mobil dengan membaca basmalah, berharap pria itu adalah orang yang Tuhan kirimkan untuk menolong dirinya kembali ke desa.


“Apa kamu tahu jalan menuju rumah?” tanya Kim.


“Tentu saja, bolehkah aku meminjam ponsel dirimu?” Afifah melihat kearah Kim.


“Ya.” Kim memberikan ponselnya kepada Afifah.


“Terimakasih, lihatlah ini adalah desaku, apa kamu tahu?” Afifah meletakkan ponsel Kim di depannya.


“Cukup jauh.” Kim tersenyum.


“Antarkan saja aku ke Terminal.” Afifah memasang sabuk pengamannya.


“Aku akan mengantar dirimu dan melihat desa yang menyembunyuikan gadis cantik.” Kim mengendarai mobil dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit.


“Kim, bisakah kita membeli makanan dan minuman untuk bekal perjalanan?” Afifah melihat mini market di pinggir jalan.


“Ya.” Kim memarkirkan mobilnya.


“Bolehkah aku meminjam uang kamu?” Afifah menatap Kim.


“Tenanglah, aku akan mentraktir dirimu.” Kim tersenyum dan keluar dari mobil, ia membuka pintu untuk Afifah.


“Terimakasih, aku akan membayarnya setelah sampai di desa.” Afifah tersenyum, mereka berjalan bersama masuk ke dalam mini market dan memilih makanan.

__ADS_1


Setelah merasa cukup mereka berdua kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju desa yang berada jauh dari kota bahkan berada di luar kabupaten. Hari semakin gelap, Afifah tertidur dengan lelap tanpa ada rasa takut sedikitpun.


Mobil terus melaju, Kim merasa lelah dan mengantuk tetapi perjalanan masih jauh, ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk beristirahat sejenak. Afifah membuka matanya dan melihat pria di sampingnya memejamkan mata.


“Kim, kita tukar saja.” Afifah keluar dari mobi.


“Apa kamu bisa menyetir?” tanya Kim.


“Jangan meremehkan gadis desa.” Afifah tersenyum.


“Baiklah, semoga kita bisa sampai dengan selamat.” Kim duduk di samping Afifah dan memasang sabuk pengaman.


“Beristirahatlah, ketika kamu bangun kita telah sampai.” Afifah menjalankan mesin mobil dan melaju dengan sedang agar Kim bisa tidur dengan tenang.


Mobil terus melaju dan berhenti di depan rumah sederhana tetapi indah, Afifah terdiam, ia tidak mungkin masuk ke rumah bersama Kim, mobil kembali berjalan menuju klinik Dokter Rian.


“Apa belum sampai?” Kim mengusap matanya.


“Sudah, hanya saja kita tidak mungkin berdua di rumah ku.” Afifah tersenyum dan menghentikan mobil di depan klinik Dokter Rian.


Rumah terlihat sepi karena merak sampai hampir lewat tengah malam, Afifah turun dari mobil dan menekan bel pintu rumah Dokter Rian, seorang pria berkaca mata melihat dari balik kaca kendela dan terkejut ketika ia melihat Afifah. Dokter Rian segera membuka pintu.


“Afifah, apa yang terjadi?” Dokter Rian melihat kearah Kim.


“Dokter, aku titip temanku untuk menginap kita akan berbicara besok, aku haru skembali ke rumah untuk beristirahat sebentar.” Afifah tersenyum kearah Kim.


“Baiklah, silahkan masuk.” Dokter Rian mempersilahkan Kim masuk.


“Terimakasih, aku pulang dulu.” Afifah kembali masuk kedalam mobil. Dokter Rian melihat ada yang berbeda dari Afifah tetapi ia tdak tahu apa itu.


***


Nathan berada di rumah sakit miliknya untuk menemani Nayla yang sedang melakukan operasi pada wajah, orang tua mereka belum juga tiba. Pria itu terus melihat jam pada tangan kirinya, ia gelisah memikirkan Afifah yang sendirian di ruang perawatan.


Ponsel Afifah belum aktif karena dilarang Nathan, tidak ada orang yang bisa dihubungi untuk melihat ruangan wanitanya. Ia juga tidak mau minta tolong kepada Samuel karena ia yakin pria itu akan berlama-lama di kamar Afifah.


Operasi selesai, Nathan kelelahan dan tidur di ruang pribadi miliknya, ia sangat lelah karena ketika bersama Afifah pria itu hampir tidak tidur sama sekali, menghabiskan wantunya untuk bekerja, menatap wajah Afifah ketika tidur dan menemani wanita itu berbicara ketika terbangun.


Nayla telah di pindahkan ke ruangan perawatan dan masih dalam pengaruh obat bius sehinga ia masih belum sadarkan diri. Tidak ada yang berani mengganggu tidur pemilik rumah sakit itu, terlelap dalam mimpi yang indah hingga ia terbangun di pagi hari.


“Oh Shit, aku tertidur hingga pagi.” Nathan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, ia harus terlihat tampan dan segar ketika bertemu dengan kekasihnya.


Nathan berjalan menuju ruangan Nayla dan duduk di samping adiknya yang manja dan arogan, wajah wanita itu masih terbungkus perban, ia berbaring di tempat tidur.


“Nayla, aku kembali ke rumah sakit Samuel.” Nathan menyentuh tangan Nayla dan mencium dahinya.


Nathan meninggalkan Nayla yang hanya terdiam karena tidak bisa berbicara, ia berharap kakaknya akan tetap tinggal menemani dirinya hingga perban di buka.


Pria itu telah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kembali ke rumah sakit Samuel, menemui wanita yang sangat ia rindukan.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5, Tips dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2