
Aisyah memandang sekeliling ruangan dan berpikir, benarkah ia telah menikah dengan Jordan, apakah tanpa mempelai wanita pernikahan dapat berlangsung.
Bagaimana buku nikah bisa terbit bila tidak ada tanda tangan kedua belah pihak.
Aisyah merasa haus, ia membuka pintu dan turun perlahan dari dari kamar, ruangan tanpa gelap.
Sayup-sayup Aisyah mendengar suara orang yang sedang berbicara.
"Jordan" gumam Aisyah dalam hati, ia berjalan mendekati asal suara dan melihat Jordan duduk di atas sofa dalam kegelapan dan sedang melakukan panggilan.
"Aku telah menemukan Aisyah, dia semakin cantik" ucap Jordan dalam panggilan telepon.
"Apakah dia akan pulang?" Tanya seseorang yang dapat di dengarkan Aisyah karena malam yg sepi.
"Tentu saja, aku mengatakan kepada kami telah sah menikah secara hukum" Jelas Jordan senang.
"Kamu membohongi Aisyah" ucap pria di sebrang.
"Jika aku tidak berbohong tentang pernikahan, dia tidak akan mau pulang, aku masih mencintainya". Tegas Jordan.
"Kamu memang cerdas, Aisyah adalah boneka kesayangan dirimu, hahaha" terdengar tawa .
"Siapkan berkas yang harus di tandatangani agar pernikahan kami sah, Aku tidak mau gagal lagi, Aisyah hanya milikku" Tegas Jordan.
"Siap Teman, tenang saja, jika mempelai wanita sudah berada di sini semua akan berjalan lancar, hanya perlu tanda tangan Aisyah saja" Seorang pria sangat yakin.
"Bagus, suruh orang mu cari tahu tentang Jhonny di kota ini! Perintah Jordan.
"Untuk apa lagi?" Tanya pria itu penasaran.
"Sepertinya dia menginginkan Aisyah ku" Jordan menyeringai.
"Baiklah, akan kulakukan semuanya untuk dirimu" pria di sebrang kembali tertawa.
Jordan memutuskan panggilan telepon, ia tersenyum puas, pencarian yang tidak sia - sia.
"Jordan membohongi diriku tentang buku nikah" bisik Aisyah dalam hati.
"Aku sangat merindukan kebersamaan dengan dirimu, memeluk dan menciummu di setiap malam ku dan setelah pernikahan ini aku akan menghabiskan setiap malam bercinta dengan dirimu" Jordan berbicara sendiri dan dapat didengarkan oleh Aisyah.
"Aisyah kamu akan mendapatkan hukuman karena telah membuat diriku menderita tanpa dirimu" Jordan beranjak dari kursi dan berjalan menaiki tangga menuju kamar.
Aisyah kebingungan, ada rasa takut di hatinya, dan ia bersyukur ternyata Jordan berbohong tentang pernikahan mereka yang telah sah secara hukum.
Aisyah mengangkat tinggi gamisnya dan mencari jalan keluar. Berdasarkan pengamatan Aisyah dari atas kamar Para pengawal hanya menjaga pintu depan.
Aisyah Berlari menuju dapur dan keluar dari belakang, ia memanjat dinding pembatas yang ditumbuhi lumut dan rumput hiasan.
Sangat tinggi, sedikit membuat Aisyah Takut tapi lebih takut lagi dengan sikap Jordan yang akan menjadikan Aisyah boneka kesayangan di rumah.
Tangan Aisyah berdarah, dinding Villa di pasang kawat berduri dan pecahan kaca. Ia merasakan perih pada telapak tangannya.
Aisyah telah berada di luar pagar Villa yang berbatasan dengan tebing tinggi berbatu dan hutan yang lebat.
Sunyi senyap hanya ada bunyi jangkrik dan hewan malam yang membuat buku kuduk berdiri. Aisyah tidak tahu harus memulai pelariannya dari mana.
Untunglah Aisyah sudah terbiasa memanjat bukit di desa terpencil, di temani cahaya bulan yang remang - remang Asiyah memberanikan diri masuk ke dalam hutan.
__ADS_1
Bersembunyi dari Jordan adalah pilihan terbaik, ia tidak mau di kurung di dalam istana mewah milik Jordan.
Aisyah terus berusaha masuk ke dalam hutan berbatu dan gelap, hanya berharap dan berdoa Tuhan akan memberikan jalan terbaik untuk dirinya.
Telapak tangan yang berdarah tidak ia hiraukan, setiap manusia harus berusaha sebelum menyerah, selalu ada harapan selama nafas masih berhembus.
Aisyah sangat kelelahan, ia menyandarkan tubuhnya di batu tebing dan melihat ke bawah, ia benar-benar berada sangat tinggi, jalanan di bawahnya terlihat seperti ular yang meliuk-liuk.
"Ya Tuhan, tunjukkan jalan untuk diriku" Aisyah memejamkan matanya dan tertidur
***
Jordan tersenyum puas melangkah kakinya menuju kamar untuk tidur kembali bersama Aisyah.
Jordan membuka pintu perlahan, matanya langsung tertuju pada tempat tidur yang kosong.
Kamar terlihat gelap hanya sedikit cahaya yang masuk ke kamar dari lampu taman dan cahaya bulan.
Jordan melangkahkan kakinya perlahan masuk ke dalam kamar dan menyalakan lampu kamar.
"Aisyah" Suara Jordan lembut.
"Sayang, kamu di mana?" Jordan mulai khawatir ia memeriksa setiap sudut ruangan kamar, tetapi tidak menemukan Aisyah.
"Aisyaaah" Jordan berteriak dan berlari ke luar kamar, ia segera menyalakan semua lampu yang ada di ruangan.
Mendengar teriakkan Jordan para pelayan dan pengawal segera masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa Tuan" tanya seorang penjaga.
"Temukan Aisyah, cepat!" Jordan berteriak.
"Kamu tidak akan bisa lari Aisyah, kamu adalah wanita yang selalu aku manjakan" Jordan mengepalkan tangannya.
Dimata Jordan Aisyah adalah wanita yang tidak bisa melakukan apapun karena. selalu didikte oleh Jordan.
Aisyah hanya belajar dan belajar, semua dilakukan oleh Jordan.
Ia tidak tahu selama Aisyah pergi jauh darinya mengajarkan Aisyah kehidupan mandiri yang keras, Aisyah berusaha untuk menjadi Aisyah berbeda, wanita kuat dan mandiri, bukan tuan putri yang terkurung di dalam istana.
Semua pengawal dan penjaga ketakutan, mereka tidak menemukan Aisyah. Tidak akan anda yang berpikir wanita cantik itu akan memanjat pagar berduri dan berani masuk ke dalam hutan.
"Maaf Tuan, kami tidak menemukan Nona Aisyah" seorang pengawal memberanikan diri melapor.
"Bug" sebuah pukulan mendarat di perut pengawal.
"Bodoh, apakah seorang wanita lemah dengan gamis panjang bisa keluar dari Villa ini?"Teriak Jordan.
"Pergi semuanya, temukan Aisyah dan jangan kembali Sebelum kalian mendapatkan Aisyah atau kematian akan menanti" Jordan mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
Jordan melirik jam di tangan kekarnya, hampir pagi, ia hanya tidur sebentar ketika berpelukan dengan Aisyah.
"Ah, beraninya dirimu Aisyah, aku akan memasang Borgol di tangan dan kakimu agar kamu tidak akan pernah bisa melarikan diri!" Jordan berteriak.
"Dor" ia menembak Vas bunga dengan ukiran Naga berukuran raksasa, barang Impor dengan harga ratusan juta pecah berhamburan di lantai.
Mendengar tembakan Jordan, burung - burung di hutan terkejut dan berterbangan membangunkan Aisyah dari tidurnya.
__ADS_1
Aisyah melihat jam di tangannya, hampir subuh, ia menghirup udara pagi yang menyegarkan, kaki dan tangan Aisyah terasa keram memanjat tinggi tebing tanpa jalur.
Berpegangan pada kayu dan batu menambah sakit dan perih pada telapak tangan Aisyah.
Udara dingin menusuk tulang Aisyah, bibir merah terlihat pucat, darah yang telah mengering di telapak tangan dan beberapa di lutut Aisyah.
Aisyah membasahi bibirnya yang telah mengering dengan air liurnya, menunggu Sang Surya memberikan cahayanya sebagai petunjuk arah.
"Aku akan memanjat lebih tinggi lagi" pikir Aisyah yang menatap ke atas tebing curam.
Pohon-pohon besar tumbuh dengan kokoh dengan akar - akar kuat menjaga tanah dan batuan agar tidak longsor.
Cahaya matahari mulai menyelinap memberikan kehangatan pada tubuh Asiyah yang telah dingin seperti Es.
"Terimakasih Tuhan, aku masih dipertemukan dengan Pagi" Aisyah tersenyum menguatkan dirinya.
Aisyah kembali melakukan pertualang memanjat tebing tinggi di kawasan gunung dan pegunungan.
"Aku harus sampai puncak dan berharap bertemu para pendaki" Aisyah bersemangat.
Bukan satu atau dua kali Aisyah tergelincir dan hampir jatuh, tetapi tidak terhitung dan semua itu menambah luka di tangan dan kaki Aisyah.
Bertemu hewan bukan masalah karena Aiysah sudah terbiasa di desa terpencil, beberapa hewan dan tumbuhan adalah bahan obat yang bisa Aisyah manfaatkan.
Aisyah terus memanjat, ia hanya fokus pada pegangan dan pijakan.
Matahari semakin hangat dan terang memberikan bantuan kepada Aisyah untuk terus memanjat.
Aisyah terengah-engah, kesulitan bernapas, ia tidak tahu gunung, pegunungan atau bukit yang ia panjat, yang pasti sangat tinggi dan melelahkan.
Aisyah benar-benar sampai di puncak, ia merebahkan tubuhnya di atas rumput yang lebih datar, ia tidak memperdulikan sekitar, ia hanya merasa puas bisa sampai di puncak.
Seorang pria menatap wanita dengan pakaian yang tidak cocok digunakan untuk mendaki.
Pria itu memperhatikan wajah pucat seorang wanita yang memejamkan matanya dan tersenyum, dengan luka di tangan dan kaki, darah yang telah mengering di gamisnya.
"Dia mendaki tanpa jalur, dengan pakaian muslimah, sangat berbahaya" pria yang duduk di samping api unggun masih menatap Aisyah.
***
**
*
*Terimakasih
*
**
**
Thanks for Reading.
Mohon dukungannya selalu 😘
Like, komentar dan Vote yang banyak yaa 😘
__ADS_1
Terimakasih, semoga Readers selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah, Aamiin.
Love You Readers, muuuuuuuaaaccch 😘**