
Baron beserta anak buahnya telah di bawa ke kantor polisi, harta benda telah disita sebagai ganti rugi kepada perusahaan, semua bukti kejahatan diberikan oleh Ayumi, ia sangat membnatu Viona dalam memlulihkan perusahaan dalam waktu yang cepat, bahkan Jade tidak melakukan apapun.
Viona menggantikan posisi Baron untuk sementara hingga keadaan perusahaan stabil dan mendapatkan manager baru, dengan kecerdasan Ayumi tidak butuh waktu lama, semua karyawan yang dipecat telah dipekerjakan kembali dan pembayaran gaji penuh.
Fauzan sedikit kecewa dengan cara Viona menyelesaikan masalah perusahaan, ia berharap gadis itu melakukan lebih dengan kemampuan dirinya sendiri bukan dengan bantuan Ayumi seorang bodyguard yang memiliki rahasia.
Fauzan duduk di Café depan perusahaan, ia melihat kearah Viona yang didampingi Ayumi dan Jade berdiskusi tentang perusahaan yang mulai stabil, kemungkinan mereka akan mencari manager dari kota yang akan di tempatkan di kantor cabang.
“Tuan, Nona Viona telah berhasil menyelesaikan masalah perusahaan.” Asraf tersenyum.
“Ya, tetapi dia mengecewakan diriku.” Fauzan meneguk kopi pahitnya.
“Menurut saya, jika tidak ada kekerasan Nona Viona pasti bisa melakukan semuanya sendiri.” Asraf mlihat kearah Viona.
“Apa kamu telah berhasil menemukan data tentang Ayumi?” Fauzan melihat kearah Asraf.
“Data Ayumi terkunci hanya ada riwayat sekolah saja, anda bisa membacanya di ponsel anda.” Asraf mengirimkan data keponsel Fauzan.
Pria tampan itu membuka ponselnya dan membuka pesan masuk dari Asraf, ia membaca data diri Ayumi dan tempat wanita itu menuntut ilmu dari kecil hingga sekesai kuliah.
“Apa kamu tahu tentang sekolah ini?” Fauzan tersenyum.
“Saya belum menyelidikinya Tuan.” Asraf membuka layar ponselnya.
“Ini adalah sekolah khusus yang hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu dan pilihan, siswanya hanya sedikit dengan biaya yang sangat mahal, Ayumi bukan wanita sembarangan.” Fauzan menatp Ayumi dari kejauhan.
“Jika dia dari kalangan berada untuk apa menjadi seorang pengawal?” Fauzan berpikir keras tentang Ayumi, ia khawatir wanita itu ada tujuan lain berada disisi Viona.
“Asraf, sebaiknya terus awasi Viona dan pengawalnya, aku sangat mencurigai wanita itu.” Fauzan beranjak dari kursi dna kembali ke penginapan mereka akan kembali ke kota.
“Baik Tuan.” Asraf melihat kearah Ayumi dan berjalan mengikuti langkah kaki Fauzan.
Malam semakin larut Fauzan duduk di balkon dan menghadap kearah kamar Viona dan Ayumi, ia mencarri data tentang wanita Jepang itu, terus berusaha membongkar rahasia yang tersimpan dengan memecahkan kode pada data.
“Apa kamu mencari tentang diriku?” Suara lembut seorang wanita mengejutkan Fauzan, ia melihat tubuh ramping Ayumi duduk di atas pagar balkon.
“Bagaimana kamu bisa duduk disitu?” Fauzan berusaha menenangkan dirinya.
“Sebaiknya kamu lupakan untuk mencari tentang diriku karena itu tidak penting bagi seorang pangeran, atau kamu sedang mengkhawatirkan wanita yang aku jaga?” Ayumi tersenyum dari cantik.
“Seorang pangeran menghabiskan waktunya hanya untuk mengikuti gadis kecil ke kota ini.” Cahaya lampu memperlihatkan wajah putih bersih dengan tatapan tajam.
“Anda tidak perlu khawatir aku akan menjaga Nona Viona.” Ayumi tersenyum memandang Fauzan dan terjun dari balkon.
“Apa? Kenapa aku hanya terdiam?” Fauzan beranjak dari kursi dan melihat ke bawah tetapi Ayumi telah hilang.
“Dia tahu aku seorang pangeran, apa dia akan mengatakan tentang diriku pada Viona, memalukan.” Fauzan mengusap wajahnya dan melihat ke depan balkon, Ayumi tersenyum.
“Ayumi, aku sangat senang bisa menyelesaikan tugas ini dengan tepat, terimakasih.” Viona memeluk bodyguard cantiknya dari belakang.
“Sama-sama nona.” Ayumi tersenyum.
“Ayumi, apa kamu mau jadi temanku dan mendengarkan ceritaku?” Viona melepaskan pelukannya dan berhadapan dengan Ayumi.
“Tentu saja Nona.” Ayumi memberi hormat.
“Aku jatuh cinta pada pria dewasa.” Viona tersenyum dan Aymu hanya diam tanpa komentar.
“Dia bagaikan bintang paling terang yang jauh dan sulit untuk aku gapai.” Viona menatap langit malam indah dengan taburan bintang.
“Kenapa, aku harus jatuh cinta pada pria yang sangat sulit untuk didapatkan?” Viona mengangkat tangannnya seakan ingin menggapai bintang.
“Ayumi, kenapa kamu hanya diam saja tanpa ekspresi?” Viona melihat wajah cantik Ayumi berkilau putih.
“Anda hanya mau saya jadi pendengar.” Ayumi tersenyum cantik.
“Bagaimana dengan dirimu, apa kamu pernah jatuh cinta?” Viona bersemangat.
“Tidak.” Ayumi tersenyum.
“Berarti belum ada pria yang membuat kamu jatuh cinta.” Viona menggandeng tangan Ayumi.
“Aku berharap tidak ada karena aku tidak akan percaya.” Ayumi melepaskan tangan Viona menyenderkan tubuhnya di pagar balkon.
“Ayumi, cinta itu pasti ada, aku pernah jatuh cinta pada pandnagan pertama walaupun akhirnya aku tahu cintaku bertepuk sebelah tangan.” Viona mengingat pertemuan pertama dengan Kenzo, pria begitu sempurna menatap dirinya dengan lembut.
“Aku tidak mau jatuh cinta karena orang yang kita akan menjadi kelemahan.” Ayumi tersenyum.
“Nona, sebaiknya kita tidur karena besok akan melakukan perjalanan jauh kembali ke kota.” Ayumi menatap Viona.
“Baiklah.” Viona mernarik tangan Ayumi yang melihat sekilas kearah Fauzan yang memandang mereka brdua dari kejauhan.
Pagi hari Jade, Viona dan Ayumi sarapan bersama di ruang makan penginapan, mereka akan melakukan perjalanan kembali ke kota. Menikmati makanan tanpa suara. Seorang wanita melewati meja mereka dan menyirami wajah Viona dengan air cabai membuat wanita itu berteriak.
“Aaaah.” Viona menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Jade bawa Viona ke kamar mandi.”Ayumi mencengkram tangan wanita yang telah mmegang pisau.
“Baiklah.” Jade memegang tangan Viona dan membawanya berjalan menuju kamar mandi.
“Wanita jahat berhenti, kamu telah memenjarakan suamiku.” Wanita itu berteriak mengacungkan pisau.
__ADS_1
“Nyonya, akulah wanita jahat.” Ayumi memelintir tangan wanita itu kebelakang.
“Kalian semua jahat.” Wanita itu terus berteriak, Ayumi mengambil cairan cabai yang ada di atas meja dan akan menyiram ke wajah wanita yang terus mengumpat.
“Aaarh.” Wanita itu berteriak menahan sakit pada tangannya.
“Kamu tidak boleh melakukan itu!” Fauzan memegang tangan Ayumi.
“Jangan ikut campur.” Mata tajam Ayumi manatap pada Fauzan dengan gerakan yang cepat, wamita itu menggunakan tangan yang lain menyiram air cabai pada wajah wanita itu.
“Arrrg.” Wanita yang tidak lain adalah istri Baron berteriak dan terduduk di lantai berusaha membersihkan wajahnya.
“Asraf bawa wanita itu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.” Fauzan masih memegang tangan Ayumi.
“Baik Tuan.” Asrah segera membawa istri Baron berjalan menuju kamar mandi.
“Kenapa kamu sangat kejam tanpa belas kasih, kamu adalah seorang wanita yang memiliki sisi lembut.” Fauzan menatap wajah cantik Ayumi.
“Aku hanya melakukan tugas ku Tuan Pangeran.” Ayumi menarik tanganya dengan kasar.
“Ah, tidak semua wanita di dunia ini memiliki kelembutan termasuk aku.” Ayumi tersenyum.
“Tuan Fauzan.” Viona terkejut bisa bertemu dengan Fauzan di kota kecil itu.
“Halo Viona apa kabar?” Fauzan tersenyum.
“Anda adalah pangeran Arab yang menjadi tamu di kampus.” Jade mengulurkan tangannya.
“Ya, apa kabar Jade?” Fauzan berjabat tangan dengan Jade.
“Saya baik Tuan, bagaiaman anda bisa di sini?” tanya Jade.
“Aku hanya datang untuk melihat kerja Viona dalam menyelesaikan masalah perusahaan ini.” Fauzan melirik Viona yang tersenyum.
“Sayangnya, dia mengecewakan diriku karena terlalu banyak mendapatkan bantuan dari pengawalnya dan bukan hasil kerjanya sendiri.” Fauzan menatap tajam pada Ayumi dan senyuman di wajah Viona hilang begitu saja.
“Tuan Fauzan, manusia adalah makhluk social, tidak bisa hidup sendiri begitu juga dengan sebuah perusahaan, kita butuh tim untuk menyelesaikan masalah yang ada dan membangun keberhasilan seperti Anda yang mendapat dukungan dari keluarga, saudara dan rekan bisnis.” Ayumi berdiri menatap tajam pada Fauzan.
“Dalam dunia bisnis Nona Viona telah melakukan hal yang benar.” Ayumi menyentuh tangan Viona.
“Ayumi.” Viona menggengam tangan Ayumi.
“Nona, sebaiknya kita kembali sekarang.” Ayumi menunduk, ia bisa menebak pria yang Viona cintai adalah Fauzan.
“Tuan Fauzan, maafkan asisten saya, permisi.” Viona menarik tangan Ayumi berjalan menuju mobil mereka, ia merasakan sesak didada setelah mendengar perkataan Fauzan.
“Viona.” Fauzan berteriak tetapi wanita itu tidak menoleh.
“Tuan, saya permisi.” Jade berlari mengejar Viona dan Ayumi.
“Mereka telah pulang, kita juga harus bersiap.” Fauzan berjalan menuju mobilnya.
“Bagaimana wanita tadi?” tanya Fauzan.
“Sepertinya Ayumi telah mematahkan tangan wanita itu.” Asraf menarik napasnya dalam dan membuang dengan berat.
“Ayumi adalah wanita yang berbahaya, ia harus menggantikan pekerjaannya menjadi seorang sekretaris dan bukan pengawal yang membuat dia harus menyakiti dan membunuh orang.” Fauzan duduk di kursi penumpang sambaing pengemudi.
“Anda benar Tuan.” Asraf menjalankan mobil menuju kota.
Mobil Viona yang dikendarai Jade telah lebih dulu meninggalkan kota kecil itu, mata indah adik Stevent telihat merah dan berkaca-kaca, ia sangat sedih dan merasa sesak di dada karena perkataan Fauzan, seakan ada pisau yang menusuk hatinya begitu perih.
Demi menyelesaikan tantangan Fauzan, wanita manja yang tidak pernah jauh dari Steven berani mengambil resiko datang ke kota kecil yang berbahaya hampir merenggut nyawanya tetapi pria yang sangat ia puja langsung mengatakan kekecewaan pada perjuangan dan pengorbanan dirinya.
“Apa kamu datang ke kota itu hanya untuk menghina diriku?” Viona tidak bisa menahan butiran bening yang turun melewati sudut matanya.
“Apa yang harus aku lakuakn untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan dirimu?” Viona terus berbicara pada dirinya sendiri.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” Ayumi menyentuh pundak Viona.
“Ya, aku mau tidur.” Viona memejamkan mata dan merebahkan kepala di pundak Ayumi.
***
“Sayang, bagaimana kabar Viona, kapan dia kembali?” Nisa memasang dasi Stevent yang bersiap pergi bekerja.
“Hari ini sayang.” Stevent memperhatikan wajah cantik istrinya.
“Alhamduliah, aku sangat mengkhawatirkan dirinya.” Nisa tersenyum.
“Viona ditemani Jade dan seorang pengawal wanita.” Stevent melihat Nisa berjalan mengambilkan Jas dan memakaikannya pada tubuh kekar suaminya.
“Syukurlah sayang, aku sangat kasihan pada Viona.” Nisa menatap sedih pada Stevent.
“Kenapa sayang, dia punya segalanya.” Stevent menyentuh pipi Nisa.
“Sayang, ia pasti kangen rumah, mama dan papa.” Nisa merapikan jas Stevent.
“Itu bukan rumah tetapi neraka.” Stevent berjalan dan berdiri di depan cermin.
“Viona pasti rindu Mama dan begitu juga dengan Mama Veronika tetapi mereka tidak berani mengatakannya.” Nisa memeluk Stevent dari belakang.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan untuk istriku?” Stevent memutar tubuhnya menghadap Nisa.
“Makan malam keluarga.” Nisa tersenyum.
“Tidak dirumah kita sayang.” Stevent melepaskan pelukan Nisa.
“Kita bisa datang kerumah Papa dan Mama bersama Viona.” Nisa kembali memeluk Stevent.
“Azaam dan Azzura tidak boleh ikut.” Stevent menatap tajam pada Nisa.
“Sayang, mereka cucu Mama dan Papa.” Nisa menatap sedih pada Stevent.
“Tidak ada makan malam.” Stevent memejamkan matanya tidak mau melihat wajah manja Nisa.
“Kenapa?” Nisa menyentuh lembut wajah Stevent.
“Karena aku mengkhawatirkan kalian.” Stevent menatap sedih pada Nisa.
“Baiklah, aku tidak akan membantah, kita hanya perlu mempertemukan Viona dan Mama.” Nisa tersenyum dan memeluk Stevent.
“Maafkan aku sayang.” Stevent mengeratkan pelukannya.
“Tidak, aku yang harus minta maaf, maafkan aku Sayang.” Nisa mencium bibir Stevent.
Stevent membalas ciuman hangat Nisa yang tidak ingin ia lepaskan, merasakan ketenangan dari cinta dan kasih istrinya.
“Sayang, pergilah bekerja.” Nisa membelai lembut wajah Stevent.
“Ya, aku harus pergi bekerja.” Stevent tersenyum dan melepaskan pelukan Nisa.
”Sayang bagaimana kabar Afifah dan Nathan?” Nisa tersenyum.
“Mereka telah bersama tetapi Nathan terluka dan dirawat dirumah sakit, sepertinya pria itu benar-benar telah jatuh cinta.” Steven tersenyum lebar.
“Alhamdulilah, aku sangat senang mendengarkannya, semoga mereka segera menikah.” Nisa kembali memeluk Stevent.
“Kamu benar sayang, agar wanita itu bisa menjinakkan Nathan sang raja obat.” Stevent tertawa terbahak-bahak, ia benar-benar bahagia dengan Nathan memiliki kekasih.
“Baiklah sayang, kamu harus segera pergi bekerja.” Nisa mendorong tubuh suaminya keluar dari kamar dan berjalan bersama menuju garasi mobil.
“Sampai jumpa sayang.” Stevent mencium dahi Nisa.
“Berhati-hatilah, jangan lupa membaca doa.” Nisa memeluk tubuh Stevent.
“Tentu saja Sayang.” Stevent mengecup bibir Nisa dan masuk kedalam mobil, melambaikan tangannya meninggalkan perkarangan rumah yang indah.
Nisa berjalan masuk ke rumah dan menuju kamar putra dan putrinya yang masih terlelap dalam tidur setelah bangun diwaktu subuh. Ia melihat dua robot yang siap siaga menjaga Azzam dan Azzura.
Ponsel Nisa berdering, panggilan dari Aisyah, ia segera menerima panggilan, sudah lama Aisyah kembali kerumah mereka dan tidak tinggal bersama Nisa lagi.
“Assalamualaikum Dokter Aisyah apa kabar?” Nisa duduk di sofa kamar baby twins.
“Waalaikumsalam, aku baik, Nisa ada kabar bagus dan membahagiakan.” Aisyah sangat bersemangat.
“Benarkah?” Nisa berpikir Aisyah hamil tetapi ia tidak berani menanyakan langsung karena tidak mau tebakannya salah dan membuat Aisyah sedih.
“Nathan telah punya kekasih bernama Afifah, dia sangat cantik dengna wajah yang sangat imut seperti gadis remaja.” Suara Aisyah terdengar sangat bahagia.
“Alhamdulilah, Nathan telah mengatakan kepada Stevent.” Nisa tersenyum.
“Tunggu dulu, apakah Dokter Aisyah telah bertemu dengan Afifah?” tanya Nisa.
“Ya, aku tidak sengaja ketika Afifah pingsan di jalanan.” Aisyah mengingatkan kembali pertemuan pertama dengan Afifah.
“Aku merasa wajah kami sedikit mirip.” Aisyah tersenyum.
“Apakah dia juga periang seperti dokter Aisyah?” Nisa menggoda Aisyah.
“Dia periang tetapi lembut dan pengertian seperti dirimu.” Aisyah tertawa.
“Aku sangat ingin bertemu dengan dirinya.” Nisa tersenyum.
“Aku juga berharap akan bertemu dengan dirinya dan Nathan pria gila itu.” Aisyah kesal karena tidak diizinkan datang ke pabrik obat.
“Apa kalian tidak akan menginap disini lagi?” tanya Nisa.
“Aku berharap Jhonny akan mengajak aku jalan-jalan bahkan kami belum bulan madu.” Aisyah berteriak.
“Ya Allah, aku dan Stevent melupakan itu karena penyakitku.” Nisa berbicara di dalam hatinya, ia tidak mau membuat Aisyah merasa tidak nyaman.
“Pasti Jhonny terlalu sibuk bekerja, aku akan berbicara dengan Stevent agar Jhonny mendapatkan libur.” Nisa benar-benar merasa bersalah.
“Tidak perlu, jika Jhonny tidak ada, siapa yang akan membantu Stevent?” Aisyah tertawa.
“Tenanglah, Dokter Aisyah Azzam terbangun, aku akan menutup telepon.” Nisa mengucapkan salam dan memutuskan panggilan. Ia segera menggendong Azzam dan memberikan Asi.
***
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"
__ADS_1
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.