Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Pasangan Setia


__ADS_3

Rumah Jhonny


Aisyah terlihat kesal, ia benar-benar marah pada Nathan yang tidak mengizinkan dirinya masuk pabrik obat bahkan Roy tidak membantu dirinya, wajah wanita itu terlihat cemberut duduk di ruang tengah menghadap semangguk anggur hitam.


Jhonny memperhatikan Aisyah dari lantai atas kamar tidak berani mendekati wanita yang terlihat sedang marah dan emosi, ia tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya marah. Pria itu menyenderkan tubuhnya di dinding tangga.


“Nathan gila, aku akan membunuh kamu.” Aisyah mengigit anggur dengan kasar.


“Nathan.” Jhonny segera berlari menuruni anak tangga, jika lantai kamar tidak terlalu tinggi mungkin pria itu langsung terjun dari atas.


“Apa yang Nathan lakukan pada dirimu?” Jhonny mencengkram tangan Aisyah matanya karena emosi.


“Sayangku Jhonny kamu salah paham.” Aisyah tersenyum dan menyentuh tubuh seksi suaminya yang bertelanjang dada.


“Kamu terus menyebutkan nama Nathan.” Jhonny menatap Aisyah.


“Ya, aku sangat marah pada pria itu.” Aisyah kembali emosi.


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah lagi?” Jhonny menatap Aisyah serius.


“Aku sedang memikirkannya, ia sedang tidak ada di kota ini.” Afifah duduk di pangkuan Jhonny.


“Aku akan melakukan semuanya agar kamu tidak marah lagi.” Jhonny melihat bibir istrinya yang sedang mengunyah anggur.


“Apa kamu mau?” Aisyah menyuapkan Anggur pada mulut Jhonny, pria itu membuka mulutnya dan menggigit jari istrinya.


“Aw, apa kamu mau memutuskan jariku?” Aisyah mencubit hidung Jhonny.


Ponsel Aisyah yang tergeletak di atas meja bordering dengan nada panggilan, wanita itu segera mengambil ponsel dan melihat sebuah nama di layar.


“Mama.” Suara Aisyah lembut, sudah lama ia tidak berhubungan dengan Mamanya karena pernikahan mereka yang tidak direstui.


“Kenapa Mama menghubungi diriku?” Aisyah melirik Jhonny yang terus melihat dirinnya.


“Assalamualaikum Ma, apa kabar?” Aisyah sangat merindukan mamanya.


“Waalaikumsalam, Aisyah bisakah kamu pulang?” tanya Mama.


“Kenapa Ma, apa mama sakit?” Aisyah khawatir.


“Tidak, ada kabar bahagia yang ingin Mama katakan kepada kamu.” Suara Mama terdengar lembut.


“Baiklah Ma, aku akan pulang besok.” Aisyah melihat kearah Jhonny.


“Ada apa?” Jhonny menatap Aisyah.


“Apa besok kita bisa pulang ke rumah Mama dan Papa?” Aisyah menatap lembut pada Jhonny.


“Ya.” Jhonny memeluk pinggang Aisyah.


“Aku sangat penasaran dengan kabar baik yang mau Mama katakan padaku.” Aisyah melingkarkan tangannya di leher Jhonny.


“Apakah Jordan akan menikah?” Aisyah tersenyum.


“Bagus.” Jhonny tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya.


“Ayo kita beristirahat, besok kita akan melakukan penerbangan.” Aisyah menarik tangan Jhonny.


“Apakah mau menggunakan pesawat jet pribadi?” tanya Jhonny menahan tangan Aisyah.


“Apa kamu punya?” Aisyah balik bertanya.


“Tentu saja tetapi aku tidak pernah menggunakannya.” Jhonny menatap Aisyah.


“Ah, ternyata suamiku sangat kaya.” Aisyah mencium bibir Jhonny.


“Aku tidak tahu bagaimana cara menghabiskan uangku.” Jhonny menjilati bibirnya.


“Apa saja harta yang kamu punya?” Aisyah tersenyum menggoda Jhonny.


“Kemarilah, aku akan memberikan semuanya kepada dirimu.” Jhonny menarik tangan Aisyah menaiki tangga kamar dan menuju sebuah pintu besi di sudut kamarnya.


Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan banyak lemari besi dan kode keamanan tersusun rapi berisikan berkas berharga kepemilikan Jhonny. Pria itu membuka semua lemari besi dan mengeluarkan isinya.


“Apa ini?” Aisyah sangat terkejut, ia tidak menyangka Jhonny benar-benar kaya, pria itu menyimpan banyak harta bergerak.


“Pria ini terlihat biasa saja ternyata dia seorang Milyader.” Aisyah menggelengkan kepalanya, harta Jhonny setara dengan keluarganya,


“Pilih saja yang kamu mau.” Jhonny berbaring di sofa panjang.


“Aku akan memilih pemiliknya.” Aisyah tersenyum dan berjalan mendekati Jhonny .


“Hmm?” Jhonny bingung.


“Simpanlah semua berkas itu dan kita beristirahat.” Aisyah berbaring di atas tubuh kekar Jhonny dan pria itu memeluk istrinya.


“Disini?” Jhonny menatap Aisyah.


“Gendong aku.” Suara Aisyah terdengar manja dan dengan sigap Jhonny menggendong istrinya kembali ke kamar mereka.


***


Rumas Stevent, kamar Ayumi


Ayumi berada di kamarnya seorang diri, ruangan yang hanya di terangi lampu belajar membuat suasa remang-remang. Wanita itu berdiri di balkon kamar tatapannya lurus dengan kilatan mata yang tajam. Kecerdasaan yang ia miliki adalah hasil perpaduan orang tua yang luar biasa gadis Jepang-Indonesia dan pelatihan di sekolah khusus.


Rambut hitam pekat dan lurus menari-nari tertiup angina malam, kulit puth bersih berkilau terkena pancaran lambu dan bibir merah basah yang menggoda para pria, dengan tubuh indah dan langsing Ayumi duduk di atas pagar balkon kamar, tidak ada rasa takut sama sekali.


Rumah Stevent tampak tenang, tetapi Ayumi tahu ada banyak penjaga rahasia yang terus berjaga selama dua puluh empat jam silih berganti, kamera pengintai yang terpasang pada sudut yang pas kecuali kamar. Ada banyak tugas yang harus ia selesaikan karena kedatangannya ke Indonesia bukan untuk bekerja tetapi melakukan sebuah misi keluarga dan perusahaan.


Bukan kebetulan Ayumi lulus seleksi Bodyguard, semua telah dipersiapkan dengan sangat matang, selain memang dirinya mampu dan memiliki keahlian. Wanita cantik itu tersenyum, ia berjalan menuju tempat tidur untuk mengistirahatkan diri karena kesehatan sangat penting. Ia bisa tidur nyenyak dan tenang di rumah Stevent, tempat yang paling aman untuk dirinya.


***


Rumas Stevent, kamar Viona.


Gadis cantik masih duduk dikursi meja belajar dengan layar computer yang masih menyala, mengerjakan tugas kuliah karena besok ia akan kembali kekampus bersama Ayumi.


“Ah, akhirnya selesai juga.” Viona merenggangkan otot-otot tubuhnya.


“Aku sangat merindukan dirinya.” Gadis cantik itu merebahkan kepalanya di atas meja dan melihat layar ponsel yang menampilkan foto Fauzan.


“Kenapa kamu terlahir sempurna tanpa ada celah?” Jari cantik Viona mengetuk foto tampan Fauzan yang bahkan tanpa senyuman.

__ADS_1


“Andai saja kamu tidak pernah berada didekatku, mungkin rasa ini hanya sebatas kagum tetapi sekarang dirimu terus membayangi hidupku sehingga menumbuhkan rasa lain yang lebih menyiksa.” Viona menggeser layar ponsel dan memutarkan video Fauzan yang ada di instagram menampilkan kegiatan sehari-hari pria itu.


“Apa kamu tahu, kamu telah menyiksa jutaan wanita yang ada di dunia ini, dengan senyuman, tatapan, kecerdasan dan kemampuan yang kamu miliki.” Viona memandang wajah tampan yang sedang tersenyum pada adiknya di area balapan kuda.


“Arrrrg, apa aku akan gila?” Viona berlari ketempat tidur dan menghempaskan tubuhnya.


“Ya Tuhan, bolehkah aku mencium fotonya hanya foto saja.” Viona tersenyum dan mencium layar ponselnya.


“Biarkan aku tidur seperti ini, mencium dan memeluk fotonya berharap ia akan hadir dalam mimpiku.” Viona terus menatap layar ponselnya yang menampilkan wajah tampan seorang pangeran hingga matanya terpejam dalam kenikmatan malam berharap pria idola jutaan wanita itu hadir dalam minpi indah yang menggoda.


***


Rumas Stevent.


Sepasang suami istri berbaring di atas tempat tidur dan saling berhadapan, tangan lembut Nisa mengelus wajah tampan suaminya, ia tersenyum memberikan ketenangan pada pria itu.


“Maafkan aku pulang terlalu larut.” Stevent mencium jari-jari indah istrinya.


“Sayang, bekerja adalah ibadah.” Nisa tersenyum.


“Kamu tidak perlu menunggu diriku, jika kau pulang terlambat.” Stevent menyentuh bibir Nisa dengan jarinya.


“Aku tidak bisa tidur sebelum suamiku kembali, aku akan tenang tidur dalam dekapannya.” Nisa menempelkan wajahnya pada dada bidang telanjang.


“Aku mencintai dirimu.” Stevent mencium kepala Nisa.


“Sayang, siapa yang merekrut Ayumi?” Nisa mendongakkan wajahnya menatap suaminya.


“Jhonny, ada apa sayang? Apa kamu tidak suka?” Tangan kekar itu menyentuh pipi istrinya.


“Tidak, dia sangat cantik, terlihat cerdas dan memiliki karakter tersendiri.” Nisa tersenyum.


“Dia juga bisa bela diri seperti dirimu.” Stevent mencium bibir istrinya dengan lembut.


“Apa kamu lelah?” Tangan Nisa menyentuh leher suaminya.


“Ya, biarkan aku tidur dengan mencium dan memeluk dirimu.” Stevent kembali mencium bibir Nisa.


“Tidurlah.” Nisa memeluk tubuh suaminya, menghirup aroma maskulin yang menenangkan, tidur bersama dalam ikatan cinta yang halal.


***


Hotel Star 5.


Seorang pangeran tampan masih fokus pada layar komputernya, ia melakukan pertemuan virtual bersama saudara-saudara yang berada di belahan dunia yang memiliki perbedaan waktu. Lima orang paneran dengan wajah sama tampan terlihat di layar computer berdiskusi tentang perusahaan mereka yang tersebar di seluruh dunia.


Lima orang pangeran hanya terhubung melalui jaringan dan sudah berapa lama mereka tidak saling memeluk dengan kesibukan luar biasa karena bisnis raksasa menguasai dunia.Fauzan yang menjadi pemegang tertinggi bisa melakukan pekerjaanya dengan santai tetapi tidak dengan saudaranya yang harus terus berkeliling dunia hampir tidak punya waktu untuk memikirkan wanita.


Pertemuan selesai, merebahkan tubuhnya, ia menatap langit kamar dan tersenyum merindukan gadis kecil yang kini telah jadi milik orang, wanita yang hanya manja pada dirinya tetati tegas pada orang lain. Ayesha putri satu-satunya kerajaan Arab.


“Tanggungjawabku telah ku serahkan kepada Kenzo untuk menjaga dirimu.” Fauzan melihat layar ponsel dan menerima pesan dari adiknya. Foto-foto bulan madu keliling dunia dan mereka berdua berencana akan mampir ke Indonsia sebelum ke Kairo Mesir.


Fauzan tersenyum, ia mencoba berselanjar di intagram yang hampir tidak pernah dilihat oleh dirinya karena ada tim khusus yang memegang dan mengatur semua tentang dirinya di media social. Pria itu melihat foto dan video dirinya ketika berada di kampus Viona.


“Dia terlihat cantik dan anggun.” Fauzan tersenyum, sekilas bayangan Viona yang terlihat marah ketika berada di kota kecil.


“Apakah gertakan yang kecil bisa melemahkan dirinya, jika dia tidak mamu bertahan maka tidak akan pernah bisa menjadi orang besar yang berhasil.” Fauzan menatap foto Viona yang tersenyum manis.


“Apakah Stevent tidak memberikan yang kamu butuhkan selain harta?” Fauzan memikirkan sikap Viona yang belum dewasa bahkan seperti anak kecil sehingga tidak memanfaatkan kecerdasannya dengan tepat.


“Wanita ini juga tidak puny akewaspadaan diri yang cukup berpikir semua orang di dunia ini baik, benar-benar tidak pernah melihat dunia luar.” Fauzan tersenyum.


“Ayumi, wanita itu masih menyimpan rahasia, aku tidak percaya dia datang ke Indonesia hanya untuk bekerja.” Fauzan memejamkan matanya membayangkan semua gerakan dan tindakan bodyguard canti yang sangat luar biasa.


“Besok aku harus menghubungi pasukan rahasia kerajaan, mereka pasti bisa menemukan rahasia Ayumi.” Fauzan melepaskan semua pikiran dan tidur dalam ketenangan.


***


Rumah Keluarga Afifah.


Afifah merasakan kebahagian luar biasa di dalam hatinya sehingga membuat dirinya tidak ingin tidur, ia juga tidak sabar ingin bertemu dengan saudara perempuannya. Wanita cantik itu menuruni anak tangga dan berjalan keluar rumah meninkmati angin malam di taman yang indah.


Duduk di bawah pohon pinus, semilir angin lembut menyentuh kulit putih bersih, mengoyangkan dedaunan dan hijab, wajah cantik berkilau dengan bibir merah tersenyum menatap langit cerah di kota kelahirannya. Seorang pria tampan memandang Afifah dari sudut yang tepat dan berjalan mendekat.


“Apa aku boleh disini?” tanya Jordan.


“Tentu saja.” Afifah tersenyum dan bergeser.


“Aku tidak percaya Aisyah memiliki adik cantik yang telah lama hilang.” Jordan menatap wajah Afifah.


“Aku tidak percaya hidup jauh dari keluargaku.” Afifah tersenyum memandang bintang terang dilangit malam.


“Apakah kamu benar-benar kekasih pria itu?” tanya Jordan menyelidiki.


“Sepertinya begitu, aku telah menghabiskan waktuku bersama dirinya.” Afifah tersenyum dan menoleh pada Jordan.


“Kenapa aku terus terlambat bertemu dengan wanita istimewa.” Jordan menatap Afifah.


“Mungkin belum waktunya.” Afifah tersenyum.


“Semua ini salah diriku yang telah menyia-nyiakan kesempatan bersama Aisyah.” Jordan menunduk.


“Penyesalan selalu datang belakangan karena jika di awal namanya pendaftaran.” Afifah tertawa sangat menggemaskan.


“Kamu jauh menyenangkan dari Aisyah.” Jordan memegang pipi Afifah yang membeku karena terkejut.


“Jangan menyentuh kekasihku!” Nathan mencengkram tangan Jordan dengan kuat.


“Nathan, lepaskan.” Afifah menyentuh tangan Nathan dengan lembut.


“Aku sudah memperingatkan dirimu.” Mata Nathan memerah.


“Nathan, kita hanya berbicara tentang Aisyah.” Afifah menarik baju Nathan.


“Sebaiknya kamu segera kembali ke kamar Sayang.” Nathan tersenyum sinis.


“Kita akan kembali bersama.” Afifah tersenyum.


“Baiklah.” Nathan tersenyum dan melepaskan cengkramannya.


“Jordan, kami masuk ke rumah.” Afifah tersenyum.


“Kamu bisa memanggilku Kakak.” Jordan tersenyum.

__ADS_1


“Baiklah, sampai jumpa.” Afifah melambaikan tangannya, Nathan menatap tajam penuh ancaman pada Jordan.


“Sayang, kapan kita akan menikah?” Nathan menatap manja pada Afifah.


“Kamu bisa membicarakannya dengan Papa dan Mama.” Afifah tersenyum.


Ponsel Afifah bordering dari saku gamisnya, ia segera mengambil ponsel dan melihat nama Asrah di layar.


“Aku akan menerima panggilan.” Afifah tersenyum.


“Siapa?” tanya Nathan.


“Asraf.” Afifah menggeserkan icon berwarna hijau.


“Assalamualaikum Asraf.” Afifah menerima panggilan.


“Waalaikumsalam, Kak apa kabar? Kapan kamu akan kembali?” Ada rasa rindu di hatinya.


“Aku baik, Asraf bisakah kamu datang ke kota ini besok pagi?” tanya Afifah pelan.


“Tentu saja, apa terjadi sesuatu?” Suara Asraf terdengar khawatir.


“Tidak, aku mau berbagi kabar gembira dengan dirimu.” Afifah berusaha menenangkan Asraf.


“Kenapa di kota itu?” tanya Asraf.


“Karena kebahagian ada disini.” Afifah bersemangat.


“Baiklah aku akan menemui dirimu besok.” Asraf sangat penasaran dengan kabar bahagia dari Afifah.


“Apakah ia akan menikah dengan Nathan di kota itu?” Asraf merasakan kekecewaan di hati, ia tidak ingin kakaknya menjadi milik orang lain.


“Aku mencintai dirimu melebihi segalanya.” Asraf memejamkan matanya.


***


Singapure


Seorang wanita cantik berdiri di pinggir jendela kaca raksasa memandang laut indah berkilau pagaikan cerminan langit malam. Rambut hilamnya melambai-lambai tertiup angin. Pria tampan mencium leher yang begitu menggoda.


Ayesha hampir berteriak karena terkejut dan geli dengan ciuman tajam dari suaminya, rambut-rambut pada wajah Kenzo memberikan sensasi yang berbeda pada kulit sensitive istrinya. Tubuh indah itu semakin menggeliat menahan sentuhan dari pria halalnya.


“Apakah geli?” Kenzo berbisik di telinga Ayesha.


“Ya.” Ayesha memutar tubuhnya dan menyentuh wajah tampan suaminya.


“Apa istriku merinduan kakaknya?” Kenzo menatap lembut pada Ayesha.


“Bagaimana kamu bisa tahu suamiku?” Jari lembut Ayesha mengusap wajah suaminya.


“Istriku tidak bisa berbohong.” Kenzo mencium dahi istrinya.


“Apa kamu tidak marah?” Ayesah memandang wajah suaminya.


“Tentu saja tidak sayang, aku tahu kedekatan dirimu dan Fauzan.” Kenzo mengusap rambut Ayesha.


“Terimakasih,” Ayesha memeluk Kenzo.


“Untuk apa?” tanya Kenzo tersenyum tampan.


“Untuk semuanya.” Ayesha tersenyum.


“Bolehkah aku mendapatkan ciuman?” Kenzo menyentuh bibir Ayesha.


“Tentu saja.” Ayesha menggigit jari Kenzo.


“Hmm.” Kenzo tersenyum dan mencubit hidung Ayesha, wanita cantik itu mendekatkan bibirnya pada pria ada di depannya, berciuman dengan lembut.


“Sebaiknya kita beristirahat, besok akan melakukan penerbangan ke Indonesia.” Kenzo mencium dahi, mata dan pipi istrinya.


“Ya.” Ayesha memeluk tubuh suaminya yang langsung menggendong ke tempat tidur.


***


Pesantren


Abi duduk di ruang kerja seorang diri dan masih sibuk memeriksa laporan puncak dari Fathur, ia tidak mau adik dari istrinya melakukan kesalahan yang sama. Seorang istri yang selalu setia menemani suaminya.


“Abi, malam semakin larut sebaiknya istirahat.” Umi memijat pundak Abi.


‘Sudah pukul berapa sekarang Umi?” Abi menyentuh tangan Umi dengan lembut.


“Sudah sangat larut suamiku, usia kita tidak muda lagi.” Umi meletakkan daguny adi pundak Abi.


“Astaqfirullah, Umi pasti sangat lelah.” Abi segera mematikan komputernya.


“Maafkan Abi yang hampir lupa waktu.” Abi mencium dahi Umi.


“Karena itu Umi harus mengingatkan Abi.” Wanita itu tersenyum lembut dan menenangkan.


“Ayo kita beristirahat.” Abi mematikan lampu ruang kerja dan menggandeng tangan Umi berjalan bersama menuju kamar mereka.


“Umi sangat merindukan Kenzo.” Umi menatap Abi.


“Abi tahu, Umi mencintai Nisa dan Kenzo seperti anak sendiri.” Abi mencium kepala Umi.


“Allah menitipkan banyak anak pada kita.” Umi tersenyum.


“Ya, semua adalah kehendak Allah yang harus kita syukuri.” Abi tersenyum memandang wajah istrinya yang teduh.


“Allah tahu yang terbaik untuk hambaNya.” Umi menyentuh janggut Abi yang telah memutih.


Abi dan Umi adalah pasangan setia yang telah menjalankan usaha sesuai dengan tuntunan agama, semua dilakukan untuk ibadah. Walaupun mereka tidak dikaruni seorang anak pun tetapi memiliki banyak anak asuh yang telah sukses. Itu adalah amal jariah bagi mereka berdua yang tidak pernah mengeluh dengan keadaan dan tidak sedih dengan kenyataan bahwa mereka tidak pernah bisa memiliki anak kandung.


Allah tahu yang terbaik untuk umatnya, tugas kita adalah terus berusaha dan berdoa hasilnya serahkan pada keputusan sang pemilik alam semesta. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki.


***


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2