
Stevent menatap istrinya, sangat cantik dengan gaun yang sedikit berbeda dari biasanya, gaun pesta dengan bahan tile lembut dan manik-manik berkilau ketika terkena cahaya lampu.
Nisa memberikan sedikit polesan di wajahnya sehingga membuat wajah terlihat merona.
" Istriku semakin Cantik" Stevent memeluk Nisa dari belakang meletakkan tangannya di perut Nisa.
" Suamiku juga sangat tampan, pasti banyak wanita di luar sana patah hati " Nisa tersenyum dan menyentuh pipi Stevent dengan telapak tangan lembutnya.
" Sebelum menikah, aku sudah mematahkan hati mereka setiap hari" Stevent mencium kepala Nisa yang tertutup hijab berwarna peach.
" Pria angkuh dan sombong ini pasti menolak mereka dengan kasar sehingga menyakiti hati wanita yang lembut" Nisa beranjak dari depan cermin dan mencubit hidung Stevent.
" Sayang ku, lebih banyak Pria yang patah hati karena dirimu " Stevent menarik pinggang Nisa dengan kedua tangannya mendekatkan hidung mereka yang mancung.
Nisa tersenyum, ia memeluk tubuh Stevent.
" Ayo kita berangkat, aku punya surprise untuk Istriku tercinta" Stevent menggenggam tangan Nisa berjalan bersama menuruni tangga.
" Surprise, apa itu?" Nisa menarik tangan Stevent dan mendekat.
" Jika aku beritahukan berarti bukan surprise, sayang " Stevent menarik dagu lancip Nisa dan tersenyum.
Mereka berjalan bersama menuju garasi mobil, Stevent membukakan pintu untuk Nisa.
" Silahkan Ratuku" Stevent membungkuk seperti seorang pelayan.
" Terimakasih" Nisa melebarkan tangannya menarik ujung gamisnya dan sedikit menunduk layaknya seorang putri dan segera masuk ke dalam.
" Kamu sangat menggemaskan" Stevent memutari mobil sport hitam miliknya dan duduk di kursi pengemudi.
Dengan kecepatan sedang Stevent mengendarai mobilnya membelah keramaian kota pada jam makan malam setelah sholat Isya.
Stevent memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu Restoran dan seorang petugas parkir segera mengambil kunci mobil dari Stevent dan membawa mobil ke tempat parkir.
Stevent menggandeng mesra tangan Nisa tidak ingin melepaskan walaupun hanya sedetik saja.
Semua pengunjung menatap wanita berhijab dengan gaun berwarna peach sangat cantik bagaikan bidadari dari khayangan, senyuman yang tulus dan wajah yang lembut.
Stevent mulai tidak nyaman dengan tatapan semua orang pada istrinya.
"Ingin rasanya aku membuat mata Mereka buta " Gumam Stevent.
" Sayang, apa yang kamu bicarakan?" suara lembut Nisa terdengar seakan menghentikan detak jantung semua pria yang berada di dekatnya.
" Tidak ada Sayang" Stevent memindahkan tangannya dari gandengan tangan menjadi pelukan.
Nisa tersenyum, jiwa cemburu suaminya mulai berlebihan.
" Aku tidak suka membawa dirimu ketempat banyak orang " Stevent berbisik di telinga Nisa yang terlihat oleh orang lain ia mencium Nisa.
" Lalu, kenapa kamu membawa aku kemari?" Nisa tersenyum menggoda Stevent yang terlihat wajah jutek.
" Karena aku mau memberikan Surprise untuk Istriku tercinta yang paling cantik Dunia ini" Stevent kembali menggenggam tangan Nisa begitu erat berjalan menuju meja yang telah di pesan.
Seorang Pria paruh baya duduk di kursinya ia memandang foto Nisa dari layar ponselnya.
" Selamat malam Tuan Mark" Stevent menyapa dan mengulurkan tangannya.
Mark segera berdiri melihat Stevent dan berpindah kepada wanita cantik dan berjilbab di samping Stevent.
Mark segera keluar dari kursinya dan berjalan mendekati Nisa.
__ADS_1
" Putriku " Mark ingin memeluk Nisa, namun Nisa menghindar dan bersembunyi di balik Stevent, tangan Nisa memeluk pinggang Stevent dari belakang, ia terkejut dan kebingungan.
" Sayang,, saya Papa kamu, Mark " Mark ingin menarik tangan Nisa di halangi Stevent.
" Maaf Tuan Mark, silahkan Anda duduk dulu, kita berbicara dengan tenang" Stevent memegang tangan Nisa yang masih memeluk pinggang suaminya.
" Sayang, kemari duduklah" Stevent menarik kursi untuk Nisa yang melihat sekilas ke wajah Mark.
Mark menatap Nisa dengan penuh kasih sayang dan kerinduan yang mendalam serta kebahagiaan.
" Tuan Mark , bagaimana Anda yakin, Istri saya adalah putri anda?" Stevent masih menggenggam tangan Nisa.
" Ibumu, Veronika yang mengatakannya" Jawab Mark yang terus memperhatikan Nisa.
" Bagaimana Anda kenal dengan ibu saya ?" tanya Stevent.
" Kami adalah sahabat dari Kecil, Veronika melihat Liontin Biru istrimu adalah milik istriku" jelas Mark berharap bisa memeluk Nisa, tapi tidak akan diizinkan Stevent.
Nisa hanya miliknya, jangankan pria, wanita saja tidak boleh berlama-lama memeluk Nisa.
" Bagaimana jika kita melakukan tes DNA?" Stevent menatap istrinya yang cemas.
Ia tahu Nisa merasa asing dengan pria di depannya, namun Nisa juga berharap ia bisa bertemu dengan orang tua kandungnya.
" Tentu saja, besok kita akan kerumah sakit " Mark terus menatap Nisa, ia sangat yakin Nisa adalah Putrinya.
" Nisa, Papa telah mempersiapkan hadiah pernikahan untuk dirimu, maafkan Papi yang tidak tahu keberadaan dirimu?" wajah sedih Mark terlihat jelas.
" Maksud Anda?" Nisa penasaran, Stevent melihat istrinya sekilas.
" Maria , tidak ingin hamil, ia bahkan selalu minum pil kontrasepsi, sehingga papi tidak berharap akan memiliki Putri, ia meninggalkan Papi begitu saja, sehingga papi mengalami kehancuran dan meninggalkan negara ini, memulai semuanya dari awal dan terus mencari Maria " jelas Mark panjang lebar.
" Apakah Aku adalah anak yang tidak di harapkan ?" Nisa menatap Mark.
" Aku menginginkan anak namun tidak dengan Maria, tanyakan semua kepada Veronika" tegas Mark.
Stevent mengambil ponselnya mengubungi Jhonny.
" Aku telah menghubungi Jhonny, ia akan membawa Mama Veronika kemari" Stevent mencium dahi Nisa.
Mark terdiam, ia tidak bisa memeluk Putrinya, ia hanya bisa melihat dan memandang wajah Nisa.
" Tuan, bagaimana dengan kerjasama yang akan Kita lakukan?" Stevent memecahkan keheningan.
" Karena Kamu adalah membantuku tentu saja aku akan setuju, kita bisa membicarakan di kantor dirimu" Mark kembali tersenyum.
Ia bisa melihat Cinta Stevent untuk Nisa.
Jhonny dan Veronika telah sampai.
" Mama" Nisa beranjak dari kursi dan memeluk Veronika.
" Hallo Mark, Putrimu Sangat cantik" Veronika merangkul pundak Nisa.
" Kau benar aku sangat ingin memeluk Putriku tapi sepertinya Putramu tidak akan mengizinkan diriku" Mark tersenyum melirik Stevent.
" Jangankan dirimu, aku yang Mamanya sendiri tidak boleh terlalu lama memeluk Nisa" mereka tertawa.
" Jhonny, katakan kepada pelayan untuk segera mengatakan menu makan malam yang telah dipesan" perintah Stevent.
Mark dan Veronika tidak ingin membicarakan Maria, mereka tidak mau membuat Nisa kecewa dan sedih.
__ADS_1
Namun semua itu membuat Nisa penasaran dengan dirinya sendiri, mengapa ia ditinggalkan di depan gerbang pesantren? Mengapa kedua orang tuanya tidak bersama?
Mengapa Maria tidak menginginkan dirinya?
Apakah ada kesalahan pada dirinya?
Stevent memperhatikan Nisa yang terlihat murung, bahkan ia tidak terlihat bahagia walaupun telah bertemu dengan Papanya kandungannya.
" Sayang, buka mulut kamu" Stevent menyuapkan makanan ke mulut Nisa dengan tangannya tanpa sendok yang sering Nisa lakukan namun ini pertama kalinya untuk Stevent.
Nisa tersenyum ia membuka mulutnya dan memakan makanan dari tangan Stevent, Nisa mengigit sedikit jari Stevent membuat pria itu semakin gemas dengan istrinya.
" Aku akan menggigit habis dirimu Ketika di rumah" Stevent berbisik di telinga Nisa yang telah mencuci tangannya dan menyuapkan makanan ke mulut Stevent.
Veronika dan Mark menatap Putra dan Putri Mereka begitu romantis dan penuh dengan Cinta.
Veronika dan Mark saling tatap dan tersenyum.
Mereka makan malam bersama hingga sekarang. Saling berjabat tangan dan berpisah.
" Besok kita akan melakukan tes DNA" ucap Mark bersalaman dengan Nisa yang mencium punggung tangan Mark.
Nisa tersenyum.
" Mama yakin Sayang, Mark adalah Papa kamu, dia pria yang baik " Veronika tersenyum.
Mereka berpisah. Jhonny mengantarkan Veronika, Mark menggunakan Mobilnya sendirian, Nisa bersama suaminya.
" Sayang, bagaimana jika kita ke Cafe di pinggir pantai?" tanya Stevent.
" Butuh waktu yang lama untuk sampai ke sana" ucap Nisa.
" Berpeganglah" Stevent memasang sabuk pengaman untuk Nisa, ia segera menginjak pedal gas membuat mobil melaju kencang meninggalkan Restoran menuju sebuah cafe yang berada di pinggir jalan dan pantai.
Stevent ingin menghibur Nisa, ia tahu Nisa berusaha menyembunyikan kecemasan dan kebingungan.
Nisa berdiri di pinggir pantai, angin laut membuat jilbab dan gaunnya melambai-lambai.
Stevent memeluk Nisa dari belakang.
" Apa kamu tidak Suka dengan surprise yang aku berikan?" Stevent berbisik di telinga Nisa yang memutar tubuhnya menghadap Stevent.
" Aku suka, terimakasih, hanya saja aku merasa belum siap untuk menerima kenyataan tentang diriku" Nisa menatap mata Stevent yang berkilau di bawah cahaya bulan.
" Aku selalu siap menerima tentang dirimu tapi tidak akan pernah bisa jika kehilangan istriku" Stevent mencium lembut bibir istrinya.
Berciuman di bawah sinar rembulan, ditemani angin laut yang dingin menyapu wajah yang bersatu dalam kehangatan cinta halal dengan irama melodi ombak pantai, begitu Romantis dan menenangkan.
***
*
*
Thanks for Reading ♥️
Terimakasih kepada Readers atas Like, Komentar dan Vote ♥️
Author Minta Vote Doong 🤭 Biar Semangat update 💪
♥️ Love You Readers 💓**
__ADS_1