Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Viona Bingung


__ADS_3

Rumah Rahasia


Salsa menemani Nisa berjalan - jalan di taman.


Viona bermain ayunan yang biasa Nisa gunakan.


"Kak Stevent luar biasa." Viona memperhatikan rumah dan taman.


Viona turun dari ayunan dan berjalan mendekati Nisa.


"Kak Nisa." sapa Viona melihat Nisa yang sedang membersihkan dedaunan yang telah menguning dari pohon bunga.


"Ya." Nisa tersenyum melihat Viona.


"mmmm." Viona duduk di rumput.


"Katakan saja!" Nisa menyentuh dagu Viona dengan lembut.


"Aku mengagumi dua pria." ucap Viona malu.


"Benarkah?" Nisa duduk di samping Viona.


"Viona, mengagumi, menyukai dan mencintai itu berbeda." Nisa tersenyum dan mengusap kepala Viona.


"Aku bingung." ucap Viona.


"Apa Aku boleh tahu siapa dua pria itu?" tanya Nisa.


"Kak Nisa jangan menertawakan diriku dan jangan katakan kepada kak Stevent." Viona menggenggam tangan Nisa.


"Baiklah, kecuali dia bertanya karena Aku tidak boleh berbohong." Nisa tersenyum cantik.


"Kak Kenzo dan pangeran Fauzan." ucap Viona malu.


Nisa tersenyum untuk menahan tawanya agar Viona tidak marah dan tambah malu.


"Siapa yang kamu sukai?" tanya Nisa.


"Aku menyukai keduanya." Viona tersenyum membayangkan Kenzo dan Fauzan.


"Siapa yang kamu cintai?" tanya Nisa dan Viona terdiam.


"Kamu sudah lama mengenal Kenzo dan bagaimana dengan Pangeran Fauzan?" tanya Nisa.


"Semuanya di awali mengagumi." Viona menyenderkan tubuhnya pada dinding taman.


"Bagaimana kamu bisa langsung mengagumi pangeran Fauzan, bukankah kamu baru bertemu satu kali?" Nisa beranjak dari rumput dan duduk di kursi taman.


Nisa tidak mau kakinya kesemutan karena terlalu lama duduk di bawah.


"Ada banyak wanita yang mengagumi pangeran Fauzan." Viona membuka ponselnya dan memperlihatkan IG milik Fauzan.


"Dia sangat populer di kalangan cewek kampus." jelas Viona.


"Awalnya, aku hanya mengagumi pangeran Fauzan sebagai fans saja karena aku merasa tidak mungkin bertemu dengan dirinya yang jauh di negeri seberang." Viona tersenyum melihat foto Fauzan di layar ponselnya.


"Bagaimana dengan Kenzo?" tanya Nisa.


"Yang Aku rasakan juga sama, kelembutan kak Kenzo, membuat aku merasa nyaman." Viona tersenyum.


"Berapa umur kamu Viona?" Nisa tersenyum.


"20 tahun," Jawab Viona.


"Harusnya kamu sudah bisa menentukan pilihan dalam hati." Nisa menyentuh pipi Viona.


"Apa aku masih labil?" tanya Viona.


"Yang bisa memahami hati kita hanya diri kita sendiri, jangan sampai kamu mencintai seseorang melebihi cintamu kepada Allah, karena kehilangan itu sangat menyakitkan." Nisa tersenyum lembut kepada Viona.


"Aku sudah mengenal Kenzo, dia pria yang sangat baik, sedangkan pangeran Fauzan yang aku dengar ia belum pernah jatuh cinta dan ia sangat menghormati dan menghargai wanita." ucap Nisa.


"Ya, Kak Kenzo sudah pernah jatuh cinta kepada Kak Nisa." Viona tersenyum.


"Mungkin karena kami terus bersama dalam suka dan duka, tetapi sekarang Kenzo sudah melepaskan cintanya." jelas Nisa.


"Tidak ada yang mencintai diriku." Viona merebahkan kepalanya di pangkuan Nisa.


"Usia kamu masih muda, belajar dan beribadah, Allah akan kirimkan jodoh terbaik untuk dirimu." Nisa mengusap kepala Viona.


"Apa Kak Stevent baik?" Viona mengangkat kepalanya melihat Nisa.


"Tentu saja, Aku jatuh cinta kepada dirinya karena dia suami yang sangat baik, mencintai dan menyayangi diriku." Nisa tersenyum, ada rasa rindu di hati Nisa kepada Stevent.


Dari pagi ia belum melakukan panggilan video dengan suaminya.


Nisa tahu pasti Stevent sangat sibuk sehingga belum bisa menghubungi dirinya.


"Apa Kak Nisa pernah jatuh cinta kepada orang lain?" tanya Viona pelan.


"Tidak, Stevent adalah cinta pertama ku sebagai pasangan hidup ku." Nisa tersenyum, mengingat kemesraan dirinya dan Stevent.


"Aku sangat merindukan dirinya." Nisa melihat layar ponselnya.


"Apakah aku harus menunggu, seorang pria melamar diriku seperti kak Nisa?" Viona beranjak dari kursi dan mendekati Salsa yang sedang merapikan rumput.


"Halo Salsa." sapa Viona.


"Halo Nona." jawab Salsa.


"Jodoh akan diberikan sesuai dengan keimanan kita, Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya." ucap Nisa.

__ADS_1


Pintu Gerbang terbuka, mobil sport hitam memasuki garasi.


Nisa tersenyum, pria yang sangat ia rindukan pulang lebih awal.


"Aku akan masuk ke rumah." ucap Viona.


"Kenapa?" tanya Nisa.


"Aku tidak mau jadi lebah madu yang berterbangan di antara taman bunga." Viona tersenyum melihat Stevent yang berjalan mendekati mereka.


"Salsa ikut Viona?" perintah Nisa.


"Baik Tuan Putri." Salsa berjalan mengikuti Viona masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Sayang." Stevent mencium dahi Nisa.


"Waalaikumsalam Sayang." Nisa tersenyum bahagia, ia sangat merindukan Stevent.


Stevent menarik tangan Nisa dan memeluknya.


"Aku sangat merindukan dirimu Sayang." Stevent mencium dahi Nisa.


"Aku juga sangat merindukan dirimu." Nisa melingkarkan tangannya di leher Stevent.


"Berikan aku ciuman." Stevent memancungkan bibirnya.


"Tidak boleh!" Nisa menutup mulut Stevent dengan telapak tangannya.


"Mm." Stevent memeluk dan menyembunyikan wajahnya di dalam lekukan Leher Nisa.


"Bagaimana pekerjaan kamu dan kerjasama dengan Pangeran Fauzan?" tanya Nisa kembali duduk di kursi panjang.


"Apa kamu tahu satu lagi pengusaha yang akan berkerja sama dengan ku?" Stevent berbaring di paha Nisa dan mengusap perut Nisa.


"Siapa?" tanya Nisa.


"Kenzo." ucap Stevent.


"Lalu?" tanya Nisa.


"Sayang, bagaimana jika jodohkan Viona dan Kenzo?" Stevent mengusap dan mencium perut Nisa.


"Biarkan Viona menentukan pilihannya sendiri." Nisa tersenyum.


"Kenapa?" Stevent menatap Nisa.


"Apa kamu mau di jodohkan?" tanya Nisa.


"Tidak." jawab Stevent menarik tangan Nisa dan menciumnya.


"Viona juga pasti tidak mau." Nisa mengusap pipi Stevent.


"Terimakasih Sayang." Nisa mencubit hidung Stevent.


"Aku belum mendapatkan ciuman." ucap Stevent manja.


"Nunggu berbuka sayang." Nisa kembali mencubit hidung Stevent.


****


Mobil Fauzan telah terparkir di depan perkarangan.


"Kak, Aku mau ketempat berkuda." Ayesha turun dari mobil.


"Kakak tidak bisa, sebentar lagi akan melakukan meeting secara online." Fauzan keluar dari mobilnya.


"Aku pergi sendiri." ucap Ayesha tersenyum.


"Baiklah kakak akan mengantarkan dirimu." ucap Fauzan.


"Tidak usah, aku akan naik taksi." Ayesha mengambil tangan Fauzan dan menciumnya. Ia berlari ke jalanan.


"Apakah aku harus mengawasi adik Anda?" tanya Kenzo.


"Jika kamu tidak keberatan." ucap Fauzan melempari kunci mobilnya kepada Kenzo.


Dua pria itu melihat Ayesha yang telah masuk ke dalam mobil taksi.


"Aku akan menyusul adik Anda." ucap Kenzo.


"Terima kasih, tetapi kamu jangan macam-macam dengan Ayesha atau perusahaan kamu di Kairo hanya akan tinggal nama." Fauzan menepuk pundak Kenzo dan berlalu.


Kenzo terdiam, jika perusahaan di Kairo bangkrut, ada banyak orang yang akan Kehilangan pekerjaan.


"Ayesha tidak akan melakukan itu." gumam Kenzo dan masuk ke dalam mobil.


Sebuah mobil sport berwarna merah mengikuti taksi yang dinaiki Ayesha.


Dan mobil hitam Fauzan yang dikendarai Kenzo melaju menuju tempat berkuda.


Ayesha sangat menyukai olahraga berkuda dan memanah.


Selama Ramadhan, lokasi berkuda terlihat tampak sepi.


Ayesha telah masuk area kuda, ia memilih kuda berwarna hitam yang pernah ia gunakan.


Kenzo dan Nathan masuk bersamaan, mereka segera memilih kuda.


Nathan memilih kuda berwarna coklat tua dan Kenzo memilih kuda berwarna putih bersih.


Ayesha melakukan satu putaran berjalan santai dengan kudanya.

__ADS_1


Ia mulai menambah kecepatan kuda hingga berlari sangat kencang untuk putaran kedua, dan pada putaran ketiga Ayesha mulai memanah.


Dua pria berdiri di pinggir lintasan tersenyum melihat seorang wanita bercadar dan sangat mahir dalam berkuda dan memanah.


Nathan segera menaiki kudanya, yang ingin ia lakukan adalah menjatuhkan Ayesha.


"Aku akan menjatuhkan dirimu." ucap Nathan yang dapat didengarkan oleh Kenzo.


"Apa dia mau menjatuhkan Ayesha?" Kenzo memerhatikan Nathan dan segera menaiki kudanya.


Ayesha masih fokus dengan bidikan anak panahnya.


"Itu sangat berbahaya." pikir Kenzo yang melihat Ayesha tidak memegang tali kudanya.


Nathan bersiap menghadang dan mengejutkan kuda Ayesha dari depan.


Ayesha melepaskan anak panah terakhir, ia bisa melihat Nathan dari kejauhan dan merasakan bahaya yang mendekati dirinya.


"Apa yang akan ia lakukan?" Ayesha bertanya dalam hatinya dan berusaha memperlambat lari kuda.


Ayesha terkejut karena Nathan langsung memacu kudanya kearah Ayesha.


Kuda Ayesha terkejut sehingga secara refleks mengangkat kaki bagian depannya membuat Ayesha terjatuh dari kudanya.


Dengan sigap Kenzo menangkap tubuh Ayesha sehingga berpindah ke kuda Kenzo.


"Aah." Ayesha berteriak dan dengan cekatan ia duduk di depan Kenzo.


"Hentikan kudanya!" perintah Ayesha dan Kenzo menghentikan kudanya.


"Turunlah!" ucap Ayesha lembut.


"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Kenzo.


"Membalas pria itu." Mata Ayesha berkilau.


"Turunlah, aku akan melakukannya untuk kamu." ucap Kenzo lembut.


Ayesha segera turun dari kuda dan Kenzo memacu kudanya kearah Nathan yang memperhatikan Kenzo.


Nathan tidak mau mencelakai Ayesha, ia hanya mau membuat Ayesha jatuh dipeluknya tetapi ia salah perhitungan dan tidak tahu jika ada yang lebih cepat menyelamatkan Ayesha.


"Kenapa kamu mau mencelakai Ayesha?" tanya Kenzo.


"Kenapa kamu mengacaukan rencana ku?" Nathan balik bertanya dan meninggalkan Kenzo, ia memacu kudanya mendekati Ayesha.


"Ayesha, maafkan aku." Nathan mendekati Ayesha.


"Jangan mendekat!" tegas Ayesha menatap tajam ke arah Nathan.


"Dengar Aku tidak sengaja." ucap Nathan.


"Lupakan saja, jangan pernah lagi mendekati diriku!" Ayesha mengambil tasnya dan mau berlalu meninggalkan Nathan dan Kenzo.


Nathan mau menarik tangan Ayesha tetapi ditahan oleh Kenzo.


"Kamu tidak boleh menyentuhnya!" tegas Kenzo dan Ayesha menoleh kebelakang.


"Siapa dirimu, kenapa ikut campur dengan urusan ku?" Nathan menarik kasar tangannya.


"Aku calon suaminya." ucap Kenzo dan membuat Nathan tertawa.


"Kamu sedang bermimpi." Nathan mengayunkan tangannya dan mau memukul wajah Kenzo dengan cepat Kenzo menahan tangan Nathan dan memukul perut Nathan.


Ayesha kembali duduk menonton dua orang pria yang tidak saling kenal sedang berkelahi.


"Kalian berdua akan butuh obat." ucap Ayesha mengeluarkan obat kompres penghilang bengkak pada wajah.


"Semoga hari kalian menyenangkan, Ah, jangan sampai puasa kalian batal." Ayesha tersenyum dan berjalan meninggalkan Kenzo dan Nathan yang menghentikan perkelahian mereka.


Kenzo mengambil obat yang telah Ayesha tinggalkan dan berlari menyusul Ayesha.


"Apa benar pria itu calon suami Ayesha?" Nathan duduk di kursi menyentuh wajahnya.


"Apa Aku pernah bertemu dengan pria itu?" Nathan bertanya pada dirinya sendiri.


"Ayesha, masuklah ke mobil!" perintah Kenzo.


"Kita tidak boleh berdua dalam satu mobil." jawab Ayesha.


"Kamu duduk di belakang, sekalian aku mau mengambil mobilku di tempat teman." ucap Kenzo.


"Baiklah dan Terimakasih telah menolong ku dari Nathan." Ayesha masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi belakang.


"Sama-sama." Kenzo tersenyum.


Mobil melaju menuju tempat perentalan, Kenzo akan mengambil kembali mobil dirinya yang pernah ia jual kepada temannya untuk sementara.


Mereka berdua hanya diam tanpa sepatah katapun hingga berpisah di tempat perentalan.


Ayesha pindah ke depan dan mengendarai mobil kembali ke pesantren.


****


Semoga Suka, Mohon Dukungan dengan Like, Komentar, Vote, dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Putih Abu - Abu (Sohibul Ikhsan)" dan "Cinta Bersemi di ujung Musim (Fitri Rahayu)"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


Terimakasih yang sudah memberikan Tips, Vote, Like dan Komentar 😘😘

__ADS_1


__ADS_2