
Viona berlari ke kamarnya, ia segera mengunci pintu dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, gadis itu tersenyum menatap telapak tangan kanannya yang telah menyentuh bibir seorang pangeran, perlahan Viona meletakkan bekas mulut Fauzan pada bibirnya, memejamkan mencium dengan penuh penghayatan.
“Aaaaah.” Viona guling-guling di atas tempat tidur, ia kembali melihat dan mencium telapak tangannya.
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan pada tangan ini?” Viona menatap tangannya.
“Apa yang akan Fauzan pikirkan? Dia hanya berkata lupakan, maksudnya apa? Apa dia marah?” Viona khawatir.
“Viona Sayang, waktunya makan siang.” Suara lembut Nisa menyapa adik iparnya dari depan pintu kamar.
“Ya.” Viona segera membuka pintu kamarnya.
“Apa kamu sudah selesai salat?” Nisa tersenyum.
“Aku sedang libur.” Viona tersenyum.
“Kenapa wajah kamu merah dan terasa panas?” Nisa menyentuh wajah Viona.
“Apakah terlihat jelas?” Viona berlari menuju cermin untuk melihat wajahnya.
“Ya Tuhan, jika Kak Nisa bis amelihat merah pada wajahku, ini sangat memalukan.” Viona membuka hijab dan mencuci wajahnya di kamar mandi.
“Jika sakit kamu sakit, kakak akan memeriksa dirimu.” Nisa masuk ke dalam kamar Viona.
“Kak, apakah wajahku masih merah?” Viona menatap Nisa.
“Ada apa dengan dirimu?” Nisa menatap Viona dengan senyuman menggoda.
“Aku hanya merasa bahagia.” Viona tersenyum.
“Baiklah, ayo kita makan siang.” Nisa mengambil hijab dan memberikan pada Viona.
“Aku akan menyusul.” Viona tersenyum.
“Ya.” Nisa keluar dari kamar dan menuruni tangga.
Viona memakai hijabnya dan menatap wajah cantik yang tersipu malu dari pantulan cermin, ia masih terus mengingat kejadian di ruang tamu ketika tangan indah itu menyentuh bibir seorang pangeran yang tidka tersentuh.
“Oh my God.” Viona berteriak dan keluar dari kamar, menuruni tangga berjalan menuju ruang makan mewah. Gadis itu heran karena tidak ada siapapun disana.
“Nona, makan siang di taman belakang.” Seorang pelayan mendekati Viona.
“Terimakasih.” Viona berjalan menuju taman belakang, ia melihat semua orang telah duduk di kursi masing-masing.
“Ya Tuhan, jantukku berdetak terlalu kencang.” Viona memegang dadanya dan melihat Fauzan yang memainkan ponselnya.
“Viona kemarilah, kita menunggu kamu untuk makan siang bersama.” Nisa melihat Viona.
“Ah ya.” Viona kembali melihat Fauzan sehingga mata mereka saling bertemu, dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya.
“Ya Tuhan, apa dia marah?” Viona berjalan menuju meja makan dan melihat hanya ada satu kursi kosong tepat di depan Fauzan.
“Viona sayang, duduklah.” Nisa menatap Viona dengan lembut.
“Ya.” Viona segera duduk dan menunduk.
“Baiklah, ayo kita makan.” Stevent menyiman ponselnya.
Semua menikmati makan siang dengan tenang dilanjukan dengan membicarakan bisnis di sebelah tempat makan dengan pemandangan taman bunga dan kolam ikan, dengan perpohonan yang sangat rindang sehingga terasa nyaman dan menyejukkan membuat semua orang betah berada di sana.
Viona, Nisa dan Ayesha berada di bawah pohon, mereka bertiga duduk di atas rumput hijau dan lembut, berbicara dan bercanda dengan dua bayi yang terus berada di dalam keranjang. Sepasang robot yang selalu setia mendampingi bayi kembar dan Salsa yang siap sedia menjaga Nisa. Sesekali Fauzan dan Viona saling lirik dan membuang muka, ada rasa malu, canggung dan tidak nyaman diantara keduanya. Pria itu terlihat lebih banyak diam, entah apa yang ia pikirkan.
“Nisa, kami pamit kembali ke hotel dan besok kami akan pulang ke Arab bersama pangeran Fauzan.” Kenzo mengulurkan tangannya pada Ayesha untuk membantu wanita itu berdiri.
“Terimakasih sayang.” Ayesha memegang tangan Kenzo.
“Kenapa cepat sekali kak?” Nisa dan Viona beranjak dari rumput. Stevent memperhatikan Kenzo dari kejauhan.
“Stevent, aku sangat senang bisa bekerjasama dengan dirimu.” Fauzan berjabat tangan dengan Stevent.
“Terimakasih, semoga anda bisa melanjutkan kerjasama dengan Perusahaan Viona.” Stevent tersenyum.
“Apa? Ah tentu saja.” Pikiran Fauzan entah kemana ia terlihat kebingungan.
__ADS_1
“Kami permisi, terimakasih.” Kenzo berjabat tangan dengan Stevent.
“Viona, Kakak yakin kamu bisa menjadi wanita hebat seperti Nisa dan Ayesha.” Kenzo tersenyum pada Viona.
“Terimakasih Kak.” Viona menunduk.
“Aku akan menjaga Viona.” Valentino tersenyum dengan refleks Fauzan melihat kearah dokter muda itu.
“Ah, iya, Valentino, selamat atas keislaman dirimu.” Kenzo menepuk pundak Valentino.
“Terimakasih.” Valentino tersenyum tampan. Viona melirik Fauzan dan Valentino bergantian, ia melihat mata tajam seorang Pangeran seakan meminta penjelasan dan gadis itu hanya menggeleng bingung.
Kepergian Fauzan meninggalkan sesak di hati Viona, ia merasakan cintanya telah terbang bersama pria dewasa itu. Gadis itu berencana untuk ikut mengantarkan mereka ke Bandara untuk melihat wajah tampan, sombong dan selalu dirindukan itu untuk terakhir kalinya. Menyerah itulah yang ada di hati Viona.
Dia bukanlah seorang putri yang pantas untuk Pangeran yang menjadi idola jutaan wanita di dunia. Bertemu dan dapat bersamanya adalah keberuntungan tersendiri bagi Viona, bahkan gadis itu memiliki kesempatan di gendong dan menyentuh bibir mahal dari pria itu.
***
Pagi hari Viona sudah bangun dan berdandan cantik, ia telah minta izin Nisa dan Stevent untuk ikut ke bandara tentu saja dengan pengawal tersembunyi dan sopir. Gadis cantik telah duduk di kursi belakang mobil berwarna putih dan menunggu sang Pangeran pujaan hati di pinggi jalan depan Pesantren.
“Nona mobil hotel yang mengantarkan Tuan Fauzan telah keluar dari parkiran.” Sopir menatap fokus ke depan.
“Kita harus tiba lebih awal.” Viona melihat mobil yang baru meninggalkan hotel.
“Baik Nona.” Sopir segera menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi melewati mobil Fauzan.
Mobil terus melaju, Viona duduk tenang di belakang sopir yang mengendarai dengan kecepayan tinggi hingga mereka sampai di parkiran Bandara. Gadis itu masih berusaha menenangkan diri, ia memainkan jari jemarinya, sesekali melihat kedepan dan memperhatikan sekeliling menunggu mobil yang membawa Fauzan.
“Nona, itu mobil hotel.” Sopir melirik Viona dari kaca mobil.
“Apa yang harus aku lakukan?” Viona melihat Fauzan yang keluar dari mobil dengan tenang.
“Kenapa aku merasa dadaku sangat sesak lebih sesak ketika Kak Kenzo pergi.” Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia berusaha menahan air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.
“Apakah dia akan kembali lagi? Apakah dia akan melupakan diriku?” Ada banyak pertanyaan kekhawatiran dibenak Viona.
“Aku harus menemui Pangeranku, mungkin ini untuk terakhir kalinya aku melihat dirinya.” Viona bergegas keluar dari mobil dan berlari menyusul Fauzan masuk ke ruang tunggu.
“Maaf Nona, anda tidak boleh masuk, ini jalur khusus pesawat pribadi.” Seorang pria menahan Viona yang ingin mengejar Fauzan.
“Maaf Nona, dia adalah Pangeran kerajaan Arab keamanannya adalah nomor satu, saya heran Anda bisa mengetahui tentang Pangeran.” Pria itu menatap Viona.
“Tentu saja saya tahu, bahkan dia makan siang di rumah kami.” Viona terus menatap punggung dan senyuman pria tampan yang duduk dengan elegan di kursi.
“Nona, anda sedang berhalusinasi.” Pria itu tertawa.
“Katakan saja pada Pangeran Fauzan, Viona Alexander menunggunya di sini.” Viona tidak mengalihkan pandangannya berharap Fauzan akan melihat dirinya.
“Tuan, biarkan Nona Viona masuk.” Dua pengawal mendekati pria itu.
“Maaf, saya hanya menjalankan tugas, saya harap kalian tidak membuat keributan atau pengawal kerajaan yang telah mengamankan Bandara dari dua hari yang lalu akan turun tangan dan memasukan Negara kita pada daftar hitam.” Pria itu menjelaskan panjang lebar.
“Bagaimana Nona?” tanya seorang pengawal.
“Tak apa, aku tidak perlu masuk.” Viona berdiri di dinding kaca dan menatap kursi Fauzan yang telah kosong.
“Apa dia telah masuk kedalam persawat?” Viona berkeliling mencari Fauzan.
“Apa yang kamu lakukan di sini.” Sebuah suara datar terdengar di belakang Viona.
“Aku sedang mencari Pangeranku.” Viona menjawab tanpa menoleh.
“Untuk apa?” tanya pria itu lagi.
“Untuk melihatnya terakhir kali.” Viona terus mencari Fauzan.
“Apa kamu berpikir aku akan mati setelah pulang ke Arab?” Suara Fauzan terdengar marah, ia menekankan kedua tangannya di kiri kanan dinding kaca mengurung tubuh Viona.
“Apa?” Viona membalik tubuhnya dan mendongakkan kepala, ia melihat wajah tampan dan mempersona menatap lurus pada mata birunya.
“Ya Tuhan, Dia sangat dekat dan tampan dengan wajah sempurna tiada duanya.” Viona melotot.
“Apa Stevent mengizinkan kamu berkendara sendirian hingga sampai bandara?” tanya Fauzan menatap wajah cantik gadis yang memiliki usia jauh lebih muda dari dirinya.
__ADS_1
“Aku diantar sopir dan diikuti beberapa pengawal.” Viona berusaha menutupi kegugupannya. Tangan dan kaki terasa dingin, jantung yang berdetak kencang seakan berhenti seketika, ia bisa mencium aroma mint dari napas Fauzan dan parfum maskulin yang menenangkan.
“Apa kamu mau masuk?” tanya Fauzan lembut.
“Tidak, aku hanya mau melihat dirimu pulang ke Arab.” Viona gugup.
“Kamu bisa mengantarkan diriku sampai pintu pesawat, kami akan melakukan penerbangan tiga puluh menit lagi.” Fauzan melihat jam berwarna hitam yang melingkar di tangan kirinya.
“Apa kamu akan kembali lagi?”Viona menunduk.
“Kembali kemana?” tanya Fauzan menurunkan kedua tangannya.
“Kemari.” Viona kembali mendongak kepalanya.
“Untuk apa aku kembali?” Fauzan tersenyum tampan, membuat jantung yang telah berhenti berdenyut kembali berdetak kencang, pria itu benar-benar bisa membunuh dan menghidupkan kembali banyak wanita.
“Aaaaa ya Tuhan, itu Pangeran Fauzan.” Terdengar teriakan dari para wanita yang berada di Bandara.
Fauzan secara refleks menarik tangan Viona dan berlari menuju ruang khusus dirinya dan bersembunyi di pinggir tiang besar, menekan tubuh gadis pada dinding dengan posisi berhadapan. Pria itu tidak mau gadis kecil yang nekat menemui dirinya di tempat umum akan menjadi sasaran para fansnya.
Viona tersenyum memandang wajah tampan yang sangat dekat dengan dirinya sehingga hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan dagu tajam Fauzan yang sedang melihat sekeliling, pria itu khawatir ada yang orang yang melihat wanita yang bersama dengan dirinya.
“Apa kamu punya penutup wajah?” Fauzan menunduk dan tanpa sengaja hidung mereka bersentuhan, napas hangat dari keduanya bertukar. Pria itu segera mundur menjauhi Viona. Ia merasakan wajah dan tubuhnya terbakar karena terlalu panas.
“Ada apa dengan diriku.” Fauzan membuka jas hitam yang menempel di tubuhnya, ia melihat Viona yang masih membeku bersender di dinding.
“Maafkan aku.” Fauzan kembali mendekati Viona memakaikan jas di kepala gadis itu untuk menutupi wajah.
“Pulanglah.” Fauzan berjalan meninggalkan Vioan yang masih diam membeku, aroma dari jas itu akan memberikan kerinduan semakin dalam.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa dunia tidak berhenti berputar saja ketika dia di dekatku.” Viona masih berdiri di tempatnya.
“Apa aku harus mengantarkan kamu kembali ke rumah?” Fauzan menoleh melihat Viona yang masih terdiam.
“Ah, apa?” Viona melihat kearah Fauzan.
“Aku akan mengambil kembali jas itu.” Fauzan menatap mata Viona dan segera memutar tubuhnya membelakangi gadis itu karena ia mendenger langkah sepatu mendekati dirinya.
“Tuan, mari kita masuk ke pesawat.” Asraf mendekati Fauzan, ia tidak melihat Vioan karena tertutup tubuh sang Pangeran.
“Baiklah.” Fauzan berjalan santai menuju Asraf sesekali ia menoleh Viona.
“Tuan, dimana jas Anda?” tanya Asraf.
“Aku meminjamkannya kepada seseorang, suatu hari nanti aku akan mengambilnya kembali.” Fauzan tersenyum.
“Kak, kakak pergi kemana?” Ayesha menggandeng tangan Fauzan.
“Jangan membuat Kenzo cemburu.” Fauzan mencubit hidung Ayesha.
“Aku hanya rela berbagi dengan dirimu.” Kenzo menggandeng tangan Ayesha dari sebelah lainnya. Mereka berjalan bersama menuju pesawat. Asraf menghentikan langkah kakinya, menoleh kebelakang dan tersenyum melihat seorang gadis bersembunyi di balik jas Fauzan dan terus memandang punggung gagah yang semakin menjauh dan hilang..
“Semoga Anda beruntung Nona.” Asraf tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya.
Melihat Fauzan telah hilang dari pandangan, Viona berlari menuju mobilnya, ia berbaring di kursi memeluk jas milik Fauzan, menikmati aroma tubuh yang tertinggal. Gadis itu tidak tahu harus merasa sedih atau bahagia dengan kesan yang pria itu berikan pada dirinya. Air mata mengalir dengan sendirinya.
“Aaargg.” Viona berteriak kesal, sedih dan entah apa yang ia rasakan bercampur di dalam hatinya yang tidak bisa ia mengerti. Sopir telah duduk di kursi pengemui, ia diam menunggu Nona Viona tenang.
“Kenapa ia melakukan semua ini kepada diriku? Atau aku yang telah membuat semua ini terjadi dengan indahnya.” Viona sesegukan.
“Tunggu dulu, bukankah ia berkata akan kembali untuk mengambil jas ini?” Viona duduk, mengambil tisu dan mengeringkan air mata di wajahnya.
“Apa kamu benar-benar akan kembali?” Viona melihat pesawat yang baru saja lepas landas dan berada di udara.
“Nona, apa kita pulang sekarang?” tanya Sopir pada Viona.
“Ya, pelan-pelan saja.” Viona tersenyum.
“Aku akan menunggu cintaku kembali atau mengejarnya hingga ke Negara seberang, akan aku buktikan bahwa diriku mampu menjadi wanita mandiri yang akan bersaing dengan dirimu.” Viona tersenyum dan mencium jas milik Fauzan.
Pria sejati akan menepati janjinya walaupun itu mungkin akan terlambat. Lelaki sejati itu bukan hanya mitos. Langka, iya. Tapi bukan berarti sama sekali tidak ada. Jika kamu perempuan dan selama ini merasa bahwa lelaki sejati itu sulit dicari, atau jika kamu pria yang menganggap remeh tentang lelaki sejati, rubah pola pikir itu. Lelaki sejati adalah dia yang selalu mencintai dan mampu menghargai perempuan seutuhnya. Dia akan mencintai si perempuan tidak hanya dari fisik semata melainkan secara keseluruhan, termasuk kepribadian serta impiannya.
***LoveYouAll*** Gimana kita lanjut Sesion 2 untuk kisah Fauzan dan Viona?
__ADS_1
Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.
Baca juga Novel Author yang ada di Innovel/ Dream berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.