Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Terluka


__ADS_3

Abi dan Umi berada di restoran, Melihat perkembangan restoran dan ramainya pengunjung.


Ponsel Abi berdering, nomor tidak dikenal muncul di layar.


" assalamualaikum, selamat siang " Abi menjawab panggilan


" Selamat siangTuan Ramadhan, Saya Jhonny asisten Tuan Stevent " Jhonny memperkenalkan diri.


" Ada yang bisa saya bantu ?" tanya Abi


" Bisakah anda kembali ke rumah, ada sesuatu yang harus saya bicarakan , Sekarang saya berada di rumah Anda " ucap Jhonny


" Baiklah, saya akan segera tiba " Abi memutuskan sambungan telepon, dan bergegas mengajak Umi kembali ke rumah.


" Ada apa Bi, kita baru saja datang " Umi bingung melihat Abi tergesa-gesa


" Kita harus segera pulang, Assisten Tuan Stevent ada dirumah" Abi membereskan meja kerjanya.


Umi terdiam dan segera mengikuti Abi menuju Mobil.


Tak berapa lama mereka telah sampai di rumah, Jhonny menunggu di dalam mobil, ia segera keluar dari mobil ketika melihat kedatangan Abi dan Umi.


" Selamat siang Tuan Ramadhan " sapa Jhonny dengan sopan.


" Selamat siang, mari silahkan masuk Tuan Jhonny " Abi mengajak Jhonny masuk.


Umi segera ke dapur membuat minuman. Abi dan Jhonny duduk di ruang tamu.


" Maaf Tuan Ramadhan, saya mengganggu waktu Anda " Jhonny mengeluarkan berkas - berkas dari tas yang ia bawa.


" Saya akan menjelaskan secara detail kasus Fathur " lanjut Jhonny


Jhonny menjelaskan bahwa utang Fathur tidak terlalu besar, ia hanya perlu mengembalikan modal, namun Istri Fathur yang punya masa lalu kelam telah menipu Fathur DNA menghabiskan semua uang dan harta benda, bahkan sebelum lari istri Fathur meninggalkan hutang kartu kredit.


Umi terdiam mendengarkan penjelasan, Jhonny, Ia segera meletakkan minuman di atas meja dan duduk di samping Abi.


" Silahkan di minum Tuan Jhonny" Abi mempersilahkan Jhonny untuk minum


" Terimakasih " Jhonny meneguk sedikit kopi panas yang telah di suguhkan.


" Apa yang harus kami lakukan?" tanya Abi


" Tuan, bagaimana keadaan Fathur "


" Tuan Fathur sekarang baik, ia sedang bernasib baik berkat Dokter Nisa" jelas Jhonny


" Maksud Anda ?" tanya Umi


" Untuk beberapa hari ini Tuan Stevent melupakan masalah Fathur, ia sedang berusaha mendapatkan hati Dokter Nisa " jelas Jhonny lagi.


Abi dan Umi saling pandang.


" Tuan, anak buah kami telah menemukan keberadaan anak dan istri Tuan Fathur" Jhonny kembali meneguk kopi


" Apa yang harus kami lakukan agar tuan Stevent melepaskan Fathur dan keluarganya?" tanya Abi dan melihat ke arah umi sekilas.


" Jalan tercepat dan terbaik adalah menerima lamaran Tuan Stevent , Karena walaupun anda menolak Tuan Stevent tetap akan berusaha untuk mendapatkan semua yang ia inginkan " Jhonny meletakkan berkas di atas meja.


" Bagaimana dengan Nisa ? " tanya Umi kepada Abi


" Keputusan ada pada Anda berdua, Tuan Stevent bukan orang yang sabar, Dia sangat menginginkan Dokter Nisa" Jhonny menghabiskan kopi dari gelasnya


" Silahkan Anda pikirkan, saya pamit dulu, hubungi saya jika anda sudah mendapatkan jawaban " Jhonny keluar dari ruang tamu meninggalkan rumah Tuan Ramadhan.


Abi membuka berkas-berkas berisi tentang perjanjian Fathur dengan Stevent, tagihan tunggakan kartu kredit yang telah di bayar lunas oleh perusahaan Stevent.

__ADS_1


" Bi, bagaimana ini, apa kita akan mengorbankan Nisa ?" Umi khawatir.


" Kita harus diskusikan semuanya dengan Nisa " Abi merapikan berkas-berkas dan membawanya ke kamar.


Umi mengambil ponsel dan menghubungi nomor Nisa.


" Assalamualaikum Umi " salam Nisa pembuka panggilan


" Waalaikumsalam, sayang kamu dimana ?" tanya Umi khawatir.


" Nisa di rumah Stevent " Nisa tidak bisa berbohong.


" Kenapa kamu bisa di sana sayang?" Umi semakin khawatir


" Stevent menolong Nisa dari gangguan para preman, tadi Nisa pingsan " jelas Nisa


" Bagaimana keadaan kamu sayang ?"


" Nisa baik , Umi ngak usah khawatir, sebentar lagi Nisa pulang, Assalamualaikum" Nisa menutup ponselnya.


***


Nisa menghubungi nomor Viona,


" Hallo Nisa ada apa ?" panggilan dijawab dengan pertanyaan oleh Viona


" Vion, kamu di mana ?" Nisa bertanya


" Aku di rumah, sedang makan cemilan " jawab Viona


" Bisakah Kamu membuka pintu kamar kakakmu, aku terkunci di sini ?"


" Apa ? kamu di rumah ku ?" Viona berteriak dan berlari menuju kamar kakaknya


" Nisa apa kamu mendengarkan ku ?" Viona mengetuk pintu dan mendapat balasan ketukan dari dalam oleh Nisa


" Bagaimana kau di terkunci di sini ?"


" Ceritanya panjang, bukakan pintu kamar ini !"


" Tidak bisa Nisa, hanya jhonny yang punya kunci kamar kak Stevent "


" Katakan pada kakak mu aku kelaparan "


" Baiklah " Viona berlari menuruni tangga, ia mencari kakaknya, dan berusaha menghubungi nomor ponsel Stevent namun tidak ada jawaban, Viona berlari ke halaman depan ia mau melihat apakah mobil Stevent ada di depan.


Langkah kaki Viona terhenti ia melihat Stevent sedang berdebat dengan seorang pria tampan dan keren di halaman rumah.


Viona mendekati dan bersembunyi di balik pintu.


" Wah pria itu tampan dan keren sekali " bisik suara hati Viona, Ia mengintip dan menguping pembicaraan Stevent dan Nathan.


" Stev, biarkan aku menemui Nisa " Nathan mendekati Stevent


" Aku tidak mengizinkan orang asing masuk ke rumah ku " Stevent menatap tajam ke arah Nathan.


" Panggilkan Nisa keluar, aku mau melihat keadaannya " Nathan berbicara tenang.


" Ooh, kamu khawatir, Kamu tidak bisa menjaga adikmu yang gila itu, lalu bagaimana kamu akan menjaga Nisa " Stevent tersenyum sinis


" Nayla menyakiti Nisa karena ia bersama kamu, Semua yang ada di dekat kamu akan menjadi bahaya " Nathan mulai emosi


" Benarkah, bagaimana dengan Mafia medis seperti dirimu, apakah Status Dokter Nisa tidak berbahaya ?" tanya Stevent menyindir Nathan


" Seorang Dokter terbaik dan terkenal berhubungan dengan Mafia Kesehatan, hahaha " Stevent tertawa mengerikan.

__ADS_1


" Bug " Pukulan mendarat di wajah Stevent yang tersenyum , ia menyentuh wajahnya


Nathan mau masuk ke dalam rumah namun Stevent menarik tangan Nathan dengan kasar dan memukul perut Nathan hingga tersungkur di tanah.


Stevent menarik kerah baju Nathan dan kembali mendaratkan pukulan di perut dan di wajah Nathan.


Mereka saling pukul dengan beringas, darah bercucuran dari wajah Nathan dan Stevent. Viona mulai ketakutan ia berteriak meminta Mereka berhenti, Namun tidak ada yang menghiraukan teriakan Viona.


" Berhenti Nisa kelaparan, ia kekurangan oksigen " Viona berteriak lagi dan dapat menghentikan baku hantap diantara Stevent dan Nathan.


" Kamu Tidak boleh masuk ke rumah ku " Stevent menarik kerah baju Nathan dan melemparnya ke tanah, mereka berdua sudah sama - sama lemas.


Stevent berjalan menuju kamarnya, Viona mendekati Nathan dan membantu berdiri, ia memapah Nathan duduk di kursi santai di pinggir taman.


" Tunggulah di sini ," Viona berlari ke ruang tengah untuk mengambil kotak p3k dan kembali duduk di samping Nathan, ia membersihkan wajah Nathan dengan kasa yang diberikan alkohol, Nathan meringis terasa perih.


" Terimakasih " ucap Nathan menyenderkan tubuhnya di kursi, ia merasa sangat lelah, tenaganya terkuras habis.


Stevent berlari menaiki tangga, baju kemeja putih telah kotor dengan bercak darah, dengan tergesa-gesa membuka pintu. Nisa terkejut ketika melihat Stevent berlumuran darah.


" Apa yang terjadi " Nisa berjalan mendekati Stevent yang langsung jatuh tersungkur, ia baru merasakan lelah dan sakit pada tubuhnya.


" Tunggulah di Sini " Nisa beranjak dari lantai namun kembali terduduk Karena Stevent menarik tangannya.


" Jangan pergi, jangan tinggalkan aku " Stevent memelas.


" Aku hanya pergi mengambil perlengkapan medis di mobil, Tunggulah di sini !" Nisa melepaskan tangan Stevent


Nisa berjalan menuruni tangga, dan berhenti di depan pintu, ia melihat Nathan di temani Viona yang juga terluka.


" Nathan apa yang terjadi?" Nisa mendekati Nathan


" Nisa " Nathan berucap lembut


" Nisa , Dia berkelahi dengan Stevent " jelas Viona


" Tunggulah di sini, aku akan mengambil perlengkapan medis " Nisa berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping mobil Stevent.


Nisa kembali, ia mengobati luka Nathan, " Viona berikan Nathan minum, biarkan ia beristirahat di sofa " Nisa berjalan menaiki tangga menuju kamar Stevent.


Stevent berbaring di atas tempat tidur, Nisa segera mengobati luka Stevent, yang selalu memandang wajah Nisa.


" Pejamkan matamu , atau aku tidak mau mengobati lukamu " perintah Nisa dan Stevent segera memejamkan matanya.


Nisa mengobati 2 pria yang tidak ia pahami, apa yang mereka pikirkan.


**


*


*



😍 Thanks for Reading 😊


Dukung terus Author yaa


komentar


like


vote


jadikan favorit

__ADS_1


terimakasih


😍 Love you Readers 💓**


__ADS_2