
" Nyonya Bangun" Seorang wanita paruh baya berusaha membangunkan Veronika, ia mengibaskan beberapa tetes air mineral ke wajah Veronika.
Perlahan Veronika membuka matanya.
" Bibi " Veronika memegang kepalanya yang terasa pusing berusaha untuk duduk. Ia melihat diary dan album foto, Veronika telah ingat semua tentang masa lalunya, Cinta pertamanya Mark dan wanita yang dicintai Mark.
" Kehancuran karena kehilangan wanita yang dicintainya, aku tidak ingin Stevent seperti Mark " Veronika menatap foto seorang pria tampan dengan senyuman menawan memeluk Veronika, saat ia bahagia kerena menemukan cinta pertamanya "Maria Selena".
" Nyonya apa anda baik-baik saja?" tanya Nini khawatir.
" Iya, bereskan semuanya, saya akan kembali ke rumah Stevent " Veronika berjalan perlahan melihat rumah dengan penuh kenangan ia bersama Mark yang selalu datang untuk mengeluh dan bercerita kepadanya.
Veronika hanya di anggap teman oleh Mark, sedangkan ia menyimpan Cinta di hatinya untuk Mark. Ia tidak membenci Maria karena kebahagiaan Mark adalah kebahagiaan Veronika.
Veronika masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah Stevent. Ia tergesa-gesa mencari Nisa. Ia harus melihat wajah Nisa mungkin ia bisa mendapatkan sesuatu.
Dua orang pelayan menyambut Veronika di depan pintu.
" Dimana Nisa?" tanya Veronika kepada pelayan.
" Nona Veronika ada di ruang perpustakaan Nyonya" ucap salah seorang pelayan, Veronika berjalan cepat menuju ruang perpustakaan. Ia melihat Nisa sedang fokus membaca buku di pinggir jendela besar, terdapat sebuah kursi dan meja baca.
Veronika berjalan mendekat dan memperhatikan wajah Nisa.
Nisa meletakkan bukunya dan melihat ke arah Mama.
" Ada apa Ma?" tanya Nisa tersenyum, Mama masih terdiam meneliti setiap sudut wajah Nisa,
" Mama sakit?" tanya Nisa ia berdiri dan mendekati Mama menyentuh lengan Mama untuk memeriksa Denyut nadi.
Veronika memeluk Nisa, yang kebingungan, ia mengelus punggung Mama.
" Ada apa Ma? Katakan pada Nisa" ucap Nisa bingung.
Mama melepaskan pelukannya dan mencium dahi Nisa.
" Tidak sayang, Mama harap kamu akan membahagiakan Stevent" Mama kembali memeluk Nisa.
" Mama Istirahat dulu" Mama mencium dahi Nisa untuk yang kedua kalinya dan berlalu meninggalkan Nisa di dalam ruangan perpustakaan.
"Ada apa dengan Mama ?"pikir Nisa yang kembali fokus membaca buku tentang pembedahan.
Mama berjalan melewati ruang kerja Stevent.
" Ma " Stevent berjalan mendekati Mamanya.
" Ada apa sayang ?" Stevent memperhatikan mata Mamanya bengkak dan wajah sebab.
" Mama nangis?" tanya Stevent yang terus memperhatikan mata Mamanya.
" Mama sedih ngak bisa selesaikan fitting baju untuk kamu dan Nisa" bohong Mama.
" Papa dimana? seharian Aku tidak melihat Papa" tanya Stevent.
__ADS_1
" Papa Sangat Bahagia dengan pernikahan kamu sehingga ia mengurus semuanya secara langsung" Mama tersenyum.
" Baiklah, Mama istirahat" Stevent kembali ke ruangan kerja.
Mama melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, Mama duduk di tempat tidur membuka layar ponselnya dan melihat foto Nisa, dan selembar foto Mark ditangannya.
"Mereka Mirip walaupun cuma sedikit, aku harus menanyakan tentang Nisa kepada Tuan Ramadhan " Mama segera menghubungi nomor ponsel Umi Fathimah.
Mama Veronika mengajak ketemuan dengan Umi di restoran terdekat dari pesantren yaitu restoran milik keluarga Ramadhan.
Hari sudah sore, Mama tetap ingin bertemu dengan Umi, ia tidak mau menyimpan rasa penasaran yang ada di hatinya. Bagaimana Nisa mendapatkan liontin biru milik Nona " M".
Mama Kembali, menggunakan Sopir untuk membawanya bertemu Umi Fathimah. Dan beberapa pengawal selalu siap sedia mengikuti Mama Veronika.
Mama telah berada di restoran tidak jauh dari pesantren, terlihat Umi duduk di kursi dekat dengan pintu masuk.
Mama memberi salam dan berpelukan dengan Umi.
" Maafkan saya mengganggu waktu anda" Mama membuka percakapan.
" Tidak apa Nyonya, hal apa yang membawa anda sangat ingin bertemu dengan saya?" Umi langsing pada permasalahan.
" Maafkan saya, apakah boleh saya bertanya tentang Nisa?" Mama bertanya dengan perasaan khawatir.
" Tentu saja, kami tidak menyimpan rahasia apa pun " Umi kembali tersenyum.
" Saya mau bertanya tentang liontin biru milik Nisa" Mama menatap penuh harap.
" Liontin itu sudah ada sejak Nisa ditemukan" Ucap Umi.
" Ya, apa Anda bisa melihat gerbang pesantren itu?" Umi menunjukkan gerbang dan Mama hanya mengangguk.
"Suamiku menemukan Nisa disana, bayi mungil dan Cantik yang baru saja di lahirkan " lanjut Umi, Mama benar-benar terkejut.
Mama berusaha menahan air matanya,
" Apa kalian tahu siapa orang tua Nisa?" tanya Mama dan Umi hanya menggeleng.
Mama terdiam,
" Jika Nisa adalah putri dari Maria berarti Putri dari Mark, liontin itu milik Maria yang selalu ia gunakan kemanapun ia pergi bahkan tidak pernah ia lepaskan " Mama berpikir keras.
Mark mengalami keterpurukan dan kehancuran karena kehilangan Maria, Mark tidak tahu Maria pergi dan merahasiakan kehamilannya hingga melahirkan seorang Putri.
" Nyonya ada apa ?" tanya Umi menyentuh tangan Mama,
" Ah tidak apa, Terimakasih kalian telah membesarkan Nisa dengan penuh cinta " Mama menggenggam tangan Umi.
Mama kembali ke rumah menjelang Magrib, membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam bersama. Mama terus memperhatikan Nisa, ada kerinduan di hati Mama ketika ia melihat wajah Nisa.
Jika benar Nisa adalah putri dari Mark dan Maria tentu saja Veronika sangat bahagia, ia bisa menjadi ibu dari putri pria yang ia cintai bahkan akan menjadi menantunya.
Veronika adalah wanita yang baik, Ia mencintai Mark dan mencintai putrinya.
__ADS_1
Veronika akan terus menyelidiki dan mencari keberadaan Mark. Seingat Veronika Mark pergi ke Jepang untuk memulai hidup baru dan Veronika kecelakaan ketika ia menyusul Mark ke Bandara.
Setelah kecelakaan Veronika mengalami koma, ketika terbangun ia hampir kehilangan semua ingatan masa lalunya. Sejak saat itu Veronika lost kontak dengan Mark hingga saat ini.
Mereka makan tanpa ada yang berbicara karena itu perintah dari Stevent sesuai dengan yang diajarkan Nisa.
Nisa menyadari tatapan Mama berubah sejak melihat liontin Nisa.
Nisa ingin bertanya mungkin Mama tahu tentang Liontinnya.
****
Hari pernikahan telah tiba, wajah merona dan bahagia Stevent tidak bisa ia sembunyikan.
Sebuah Hotel dengan Aula yang sangat besar dan luas terdapat sebuah meja kecil berlapiskan taplak meja berwarna putih dan berenda tempat ijab qobul berada di tengah-tengah aula.
Seorang pria sangat tampan dengan senyuman kebahagiaan telah duduk di samping meja di dampingi kedua orangtuanya. Umi dan Abi serta seorang hakim sebagai wali nikah Nisa karena Abi Ramadhan bukan orang tua kandung Nisa dan juga Fathur beserta istrinya juga telah berada di ruangan pesta sesuai janji Stevent.
Mereka telah bersiap melaksanakan pernikahan, mempelai wanita berada di kamar bersama Viona dan para perias.
Nisa akan keluar kamar apabila ijab qobul selesai dan Nisa sah menjadi Istri Stevent.
Stevent menggenggam erat tangan pak Hakim dan memulai prosesi pernikahan.
Ruangan sepi tanpa suara, menyaksikan acara sakral menyatukan dua insan dalam ikatan pernikahan, agar kebersamaan mereka menjadi ibadah dalam kebahagiaan.
Acara khidmat, dengan satu tarikan nafas Stevent dapat dengan mudah menyelesaikan ucapan ijab Kabul penuh semangat dan lantang, sehingga terdengar riuh kata. " Sah " dari semua orang yang ada di ruangan aula.
Stevent memeluk Papa, Mama , Abi dan tentu saja Jhonny.
" Mempelai wanita dipersilahkan keluar ruangan" suara lantang seorang MC terdengar di mikrophone. Semua tamu undangan melihat ke atas menunggu seseorang turun dari tangga.
Seorang wanita dengan busana serba putih sangat indah berjalan menuruni tangga dibantu oleh beberapa tata rias dan Viona menggandeng tangan Nisa.
Semua orang terkagum melihat kecantikan Nisa dalam balutan busana Muslimah dengan riasan kepala yang tertutup hijab, polesan make up pada wajah cantiknya, seakan melihat seorang bidadari yang turun dari langit.
Nisa tersenyum melihat semua orang yang menunggunya di bawah dan sang pangeran telah berdiri Ujung anak tangga mengulurkan tangannya menyambut sang bidadari.
" Dia sangat cantik" Suara Hati Stevent dan para tamu undangan.
Tepuk tangan riuh tamu undangan ketika tangan Nisa yang ditutup sarung tangan putih menyentuh tangan Stevent dan mencium punggung tangan Nisa.
Mereka berdua berjalan mendekati Orang tua dan sanak saudara. Semua mata terpana akan kecantikan dan ketampanan Pasangan pengantin Baru.
Gerbang Aula segera di buka lebar agar semua Tamu undangan dapat melihat dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pasangan paling sempurna abad ini. 🤗
*
*
💓 Thanks for Reading 😊
💓 Menyenangkan hati Readers 💓
__ADS_1
💓 Love you Readers ♥️