Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Balasan Nathan


__ADS_3

Nathan tersenyum menatap Lola yang kesakitan karena tergantung di dinding.


Obat bius yang Roy suntikan membuat Lola tidak sadarkan diri cukup lama.


"Haus." Lola membuka matanya perlahan melihat pria tampan yang sangat ia cintai tersenyum melihat dirinya.


"Turunkan!" perintah Nathan kepada penjaga penjara.


"Baik Tuan." Dua orang penjaga menurunkan rantai Lola hingga ia terduduk di lantai.


"Berikan dia minum yang banyak." Nathan tersenyum.


Seorang penjaga membawa seember air dan sebuah gayung.


"Apa kamu haus, Loly ah Lola?" Nathan tersenyum tampan.


"Ya." Loly berusaha membuka matanya.


Nathan menyiram satu ember air ke tubuh Loly.


"Apa kamu sudah gila berusaha menjebak diriku dalam virus nafsu?" Nathan menjambak rambut Loly.


"Aaarg, maafkan aku Nathan, aku sangat mencintai dirimu." Air mata Loly mengalir.


"Wajah ini tidak pantas untuk dirimu." Nathan mencengkram dagu Loly.


"Aku lakukan ini untuk dirimu." Loly menatap wajah tampan Nathan.


"Kamu tidak akan pernah bisa membuat diriku mencintai kamu, wanita licik." Nathan berjalan mendekati sebuah lemari di samping penjara.


Lemari kaca terbuka, peralatan medis berupa pisau set yang digunakan untuk operasi atau pembedahan.


Nathan mengambil sebilah pisau kecil berkilau, memperlihatkan ketajaman luar biasa.


"Aku sudah lama menahan diri untuk tidak menyakiti dirimu sejak kamu menyuntikkan racun tulang pada Nisa." Nathan memainkan pisau di pipi Loly.


Tubuh Loly gemetar, ia ketakutan melihat Nathan, seorang pria yang tidak punya belas kasih ketika sedang membongkar tubuh manusia


"Nathan, aku mohon maafkan aku." Air mata Loly terus mengalir.


"Maaf?" Nathan menyeringai.


"Aaarrh." Loly berteriak merasakan perih di pipi mulusnya, pisau kecil dan sangat tajam telah menyobek kulit wajah Loly.


Darah segar mengalir perlahan dan menetes ke lantai.


"Kamu cantik, cerdas dan seksi terapi itu semua tidak cukup untuk menggoda diriku, sudah Aku katakan semua pria menginginkan wanita baik." Nathan mencengkram leher Loly.


"Ampuni aku." Loly terus memohon dengan tangisnya.


"Aku sudah memberikan kesempatan untuk dirimu pergi jauh dari diriku tetapi kamu kembali lagi." Nathan tersenyum.


"Kembali untuk menjemput kematian yang menyakitkan." Nathan tersenyum.


Pisau kecil menari di wajah Loly memberikan garis panjang dan menyakitkan dari ujung mata hingga ke dagu.

__ADS_1


Loly hanya bisa berteriak menahan perih di wajahnya. Darah menetes dan tidak mau berhenti.


Luka wajah semakin menyakitkan karena terkena air mata.


"Aku akan mengambil bekas ciuman yang ada di bibir kamu." Nathan memberikan goresan di bibir seksi Loly membersihkan ciuman dengan sebuah pisau.


Teriakan yang memekakkan telinga, jeritan kesakitan di tengah hutan tanpa ada yang mendengar.


Senyuman iblis terlihat di wajah tampan Nathan, ia benar-benar membenci Loly yang telah melakukan dua kesalahan.


"Roy, bawakan semua racun kepadaku." Nathan menatap wajah Loly yang telah belumuran darah.


"Silahkan Tuan." Roy menyerahkan kotak kaca berisi jarum dan botol cairan berwarna.


Mata Loly melotot, ia mengenali semua cairan yang ada di dalam kotak kaca.


"Kamu mau warna apa Loly, merah, putih, kuning atau merah muda?" Nathan tersenyum, ia mengambil cairan berwarna merah muda.


"Ini adalah cairan yang kamu berikan kepada diriku." Nathan tersenyum dan menyuntikkan jarum pada paha Loly yang mulus.


"Racun halusinasi bercinta, kamu akan tersiksa dengan nafsu yang tidak tersalurkan." Nathan tersenyum puas.


"Nathan, tolong maafkan aku." Loly mulai kepanasan, ia ingin merobek pakaian yang digunakan tetapi tidak bisa karena tangan diborgol.


Loly mendesah nafsunya semakin tidak tertahan melihat Nathan duduk di hadapannya.


Pria itu tersenyum menggoda, ia bahkan tidak mengunakan pakaian.


"Nathan tolong aku, lepaskan Borgol ini." Tubuh basah Loly menggeliat, ia sangat tersiksa menahan hasrat yang semakin menggelora.


"Kendurkan rantainya!" perintah Nathan.


Rantai dikendurkan sehingga Loly bisa menyentuh tubuhnya, ia berusaha memuaskan dirinya sendiri.


Tangan Loly bergerilya pada tubuhnya, memegang bagian yang sensitif dan menegang, ia sangat tersiksa dengan napas yang tersengal.


Kuku panjang Loly mencakar tubuhnya sendiri memberikan luka hingga berdarah.


Nathan tersenyum puas melihat penderitaan Loly yang menyiksa dirinya sendiri, Roy menunduk dan dua orang penjaga membelakangi Loly.


Loly terus berteriak dan mendesah, ia kesakitan karena melukai diri sendiri.


"Kunci penjara, jangan ada yang mendekati Loly!" Nathan keluar dari penjara bawah tanah diikuti Roy.


Ia tidak mau lagi menonton tingkah Loly yang telah merobek pakaiannya sehingga memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya.


Loly melakukan gerakan yang cukup menggoda dan membangunkan hasrat lelaki normal.


Penjara dikunci, Loly Asir ditinggalkan sendiri dalam penderitaan yang luar biasa.


"Ada kabar apa?" tanya Nathan pada Roy yang berjalan di belakang Nathan.


"Anda mau kabar tentang apa?" Roy balik bertanya menghentikan langkah kaki Nathan.


"Bisnis." Nathan melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


"Pesanan kesehatan telah menumpuk." Nathan membuka layar ponselnya.


"Kiriman data yang dipesan ke email ku." Nathan mengambil ponselnya.


"Baik Tuan." Roy segera mengirimkan data pesanan organ.


"Bagaimana kabar Nisa?" Nathan melihat layar ponselnya.


"Nona Nisa telah melahirkan sepasang bayi kembar." Roy menatap Nathan yang kembali menghentikan langkah kakinya.


"Bagaimana keadaan Nisa?" Nathan memutar tubuhnya menghadap Roy.


"Nona Nisa selamat, walaupun sempat terjadi pendarahan dan kritis." Roy melihat wajah Nathan.


Nathan mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari penjara bawah tanah.


"Hubungi Dokter Nada, aku mau menanyakan kabar Nisa." perintah Nathan pada Roy.


Mereka berdua telah berada di ruang kerja Nathan. Roy mengubungi nomor Dokter Nada.


"Halo Roy." dokter Nada menerima panggilan.


"Tuan Nathan mau berbicara dengan Anda." Roy menyerahkan ponsel kepada Nathan.


"Halo dokter Nada, bagaimana keadaan Nisa?" Suara Nathan terdengar lembut.


"Nisa baik-baik saja." Dokter Nada menjawab tidak bersemangat.


Ia heran kenapa Nathan tidak bisa melupakan Nisa dan membuka hati untuk wanita lain.


Nathan adalah pria tampan yang cerdas dan sangat sukses.


"Baguslah, jika formula masih ada kamu bisa memberikan kepada Nisa agar ia cepat pulih." Nathan selalu perhatikan kepada Nisa.


"Akan aku lakukan." Dokter Nada menarik napas pelan.


"Terimakasih." panggilan terputus.


"Kenapa ia tidak bisa melihat wanita lain yang mengagumi dirinya." Dokter Nada duduk di kursi kerjanya.


Dokter Nada mengagumi Nathan sebagai pria yang sangat sempurna dengan kemampuan luar biasa.


"Apakah cintanya kepada Nisa telah membutakan mata hatinya." Dokter Nada membuka layar ponselnya.


Foto Nathan yang sedang fokus bekerja di dalam laboratorium, terlihat sangat tampan dan menawan.


***


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Unforgettable Lady"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2