
Nisa dan Stevent tidur dengan lelapnya, mereka benar-benar lelah seharian berdiri menyambut kedatangan tamu.
Nisa sudah terbiasa bangun pagi walaupun ia sedang tidak sholat. Ia merasakan gerah dan panas sekali dari uap tubuh suaminya. Tangan Stevent masih mengunci tubuh Nisa.
" Apa ia tidak merasakan sakit?" Nisa perlahan membuka tangan Stevent.
" Kenapa tangannya panas sekali?" Nisa memutar tubuhnya untuk melihat Stevent. Ia melihat wajah Stevent Merah dan berkeringat.
" Steve, bangun! " Nisa menepuk lembut pipi suaminya.
" Ada apa dengannya, sepertinya ia sakit ?" pikir Nisa.
" Bisakah kamu memanggil ku sayang?" Stevent masih memejamkan matanya, ia merasakan sakit di kepala dan seluruh tubuhnya.
" hmm Sayang, bangunlah, apa yang kamu rasakan?" Nisa mengkhawatirkan Stevent tubuhnya semakin merah.
" Aku sangat bahagia" Stevent berusaha menahan sakit pada sekujur tubuhnya membuka matanya perlahan, ia tersenyum ingin memeluk istrinya yang telah duduk di atas tempat tidur memperhatikannya.
" Sayang, bangunlah !" Nisa mengulangi perintahnya, menyentuh pipi Stevent yang terasa panas, ia tahu Stevent sakit.
"Kemarilah aku ingin memelukmu" Stevent berusaha menggapai Nisa namun seakan tidak memiliki kekuatan.
Nisa beranjak dari tempat tidur, mengikat rambutnya, ia segera mengambil tas punggung yang selalu ia bawa kemanapun, tas berisi peralatan medis.
Nisa membuka kancing piyama Stevent, seluruh Tubuhnya terdapat bercak-bercak merah. Ia segera memeriksa detak jantung, mata dan denyut nadi suaminya.
" Ya Allah, Dia sakit " Nisa kembali memasang kancing piyama Stevent, ia bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri dan mengganti pakaian. Nisa melihat Stevent yang kembali tertidur.
" Apa kamu bisa bangun dari tempat tidur?" Nisa berbisik di telinga Stevent yang berusaha membuka matanya. Stevent dapat mencium aroma manis dari tubuh istrinya. Nisa telah berpakaian rapi lengkap dengan jilbabnya.
" Sayang kamu cantik sekali" Stevent tersenyum, ia kesulitan mengumpulkan kesadarannya.
" Kamu sakit, kita harus segera ke rumah sakit " Nisa mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Dini, ia menanyakan jadwal piket dan meminta mereka untuk segera membantu Nisa membawa Stevent ke rumah sakit.
Nisa telah memberikan alamat hotel dan nomor kamarnya. Nisa kembali menyentuh wajah Stevent, melihat pengukur suhu tubuh yang kembali normal.
" Kenapa suhu tubuhnya berubah-ubah?" Nisa khawatir.
" Sayang, buka matamu! " Nisa meletakkan kedua tangannya di pipi Merah Stevent, ia mencium dahi suaminya dengan lembut dan meletakkan kain yang telah di celupkan ke dalam air hangat.
" Sayang, aku merasakan sekujur tubuhku sakit dan tidak bertenaga" Stevent menatap istrinya dengan tatapan sayu.
" Kamu sakit, tapi gejala yang ditimbulkan tidak bisa di prediksi" Nisa memperhatikan tubuh suaminya.
" Berikan aku obat, agar aku bisa sembuh" suara Stevent sangat lemah.
" Kamu tidak boleh minum obat, kita harus melakukan pemeriksaan di rumah Sakit" Nisa merebahkan tubuhnya di samping suaminya, ia sangat kasihan melihat Stevent sakit dan tidak berdaya.
Nisa telah mengirimkan pesan kepada Jhonny, dan semua keluarga.
Terdengar bunyi bel pintu kamar, Nisa segera membuka pintu terlihat Jhonny lebih dulu datang dari para perawat.
" Maaf Nyonya, bolehkah saya masuk " Jhonny memberi hormat.
" Tentu saja" Nisa membuka lebar pintu kamar. Jhonny segera mendekati Bosnya, ia sangat mengkhawatirkannya Stevent baginya Stevent adalah malaikat penyelamat dirinya.
Selama ia bersama Stevent ini pertama kalinya ia melihat Stevent tidak berdaya karena sakit.
" Nyonya, bagaimana keadaan Tuan Stevent?" Jhonny menunduk tidak berani melihat Nisa.
Belum sempat Nisa menjawab pertanyaan Jhonny, Dini dan beberapa orang perawat telah berada di depan pintu kamar dan membawa kursi roda.
" Selamat pagi Dokter Nisa" sapa Dini dan beberapa perawat.
" Selamat Pagi, Masuklah! " ucap Nisa
" Jhonny tolong pindahkan tubuh Stevent ke kursi roda" Nisa berjalan mendekati suaminya.
" Baik Nyonya" Jhonny di bantu perawat pria mengangkat tubuh pria yang seakan tidur lelap.
Mereka segera membawa Stevent ke rumah sakit tempat Nisa bekerja.
Stevent telah melakukan beberapa tahapan pemeriksaan secara detail. Nisa hanya bisa menunggu hasilnya dari Dokter yang melakukan pemeriksaan.
Nisa di temani Jhonny duduk di ruang tunggu, Jhonny terlihat lebih khawatir, ia sibuk dengan ponselnya, menyelidiki semua kejadian selama acara pernikahan. Namun tidak ada yang ia temukan.
__ADS_1
Selama Stevent cuti menikah Papa yang akan menggantikan Stevent mengurus perusahaan utama sedangkan yang lainnya di serahkan kepada Jhonny.
Jhonny melirik Nisa yang duduk tenang dalam diam ia terus mendoakan suaminya.
Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Nisa yang berada di dalam tas punggung miliknya. Nisa mengambil ponsel dari dalam tas. Ia melihat sebuah nomor baru muncul di layar ponsel, Nisa segera menggeser icon hijau.
" Assalamualaikum" Nisa menjawab panggilan.
" Waalaikumsalam, apa kabar Nisa ku?" Suara seorang pria yang tidak asing di telinga.
" Aku baik" Nisa tahu pria yang menelpon namun ia tidak ingin menyebutkan namanya.
" Apakah kamu sudah selesai sholat Dhuha?" tanya pria begitu ramah
" Aku sedang libur" ucap Nisa pelan
" Wah, suamimu sangat tidak beruntung" terdengar suara tawa puas di seberang telepon.
" Kenapa kamu menghubungi aku sepagi ini?" tanya Nisa lembut.
" Kamu benar aku hampir lupa, bagaimana keadaan Stevent, apakah kamu telah mendapatkan hasil pemeriksaan?" suara pria di sebrang terdengar serius.
Nisa terdiam, ia berpikir, bagaimana Nathan mengetahui tentang Stevent sedang melakukan pemeriksaan.
" Nisa, kenapa kamu diam, aku sedang bertanya?" Suara Nathan terdengar mengerikan di telinga Nisa.
" Nathan, apa yang kamu lakukan kepada Stevent?" Suara Nisa terdengar tertekan, Jhonny segera menoleh ke arah Nisa ketika ia mendengar nama Nathan di sebut.
Kekhawatiran mereka terjawab, tidak ada yang tidak bisa Nathan lakukan jika itu berhubungan dengan medis. Tangan ajaib dan kecerdasan otak dapat menghasilkan sesuatu yang ia inginkan.
" Hahaha, Nisaku kamu selalu jadi yang terbaik, Aku selalu mencintaimu dari pertama kali bertemu hingga detik ini" Suara Nathan seakan aneh terdengar di telinga Nisa, terasa asing.
" Nathan aku telah menikah dan kita adalah teman" Nisa tetap berusaha tenang. Jhonny tanpa sadar terus memperhatikan Nisa berbicara dengan Nathan, ia mengepalkan tangannya penuh kebencian kepada Nathan.
" Aku ingin menjadi teman hidupmu" suara Nathan tertekan.
" Astagfirullah ya Allah, Nathan, kita tidak berjodoh, kamu harus mengikhlaskan diriku " tegas Nisa.
" Kenapa kamu berbicara seperti itu? Selama kita masih bernafas, berarti kita masih bisa berjodoh " Nathan tersenyum.
" Iya Dok" Nisa berdiri dan memutuskan sambungan telepon.
" Mari keruangan saya" Dokter Renaldy berjalan menuju ruangan ini.
" Jhonny jagalah Stevent" Nisa menoleh ke arah Jhonny, berjalan mengikuti Dokter Renaldy dan seorang perawat.
" Silahkan Dokter " Perawat menarik kursi untuk Nisa duduk tepat di depan Dokter Renaldy.
" Terimakasih " Nisa tersenyum.
" Apa kabar Dokter Nisa, " Dokter Renaldy membuka percakapan.
" Alhamdulilah, saya baik " Nisa tersenyum, mereka adalah rekan kerja.
Nisa melihat Dokter Renaldy menarik nafas dalam dan membuangnya dengan berat.
" Dokter Nisa, mari kita lihat hasil tes dari Tuan Stevent" Dokter Renaldy mengeluarkan sebuah map besar berwarna coklat dan menyerahkan kepada Nisa.
Nisa menerima map coklat dengan membaca bismillah Nisa perlahan mengeluarkan isi map dan membaca hasilnya. Nisa terkejut, ia melihat Dokter Renaldy seakan minta penjelasan untuk meyakinkan dirinya dengan apa yang ia baca. Nisa memejamkan matanya, menenangkan pikiran dan mengucapkan istighfar.
" Kami menemukan sebuah virus baru dalam darah Tuan Stevent yang menyerang darah, hanya ada sedikit dan berjalan perlahan mengikuti aliran darah " Dokter Renaldy menyala layar monitor menampilkan gerakan dalam darah.
" Bagaimana virus itu bisa masuk ke dalam tubuh Suamiku" Nisa berdiri dan berjalan mendekati layar monitor.
" Sepertinya seseorang telah menyuntikkan ke dalam tubuh Tuan Stevent" Jelas Dokter Renaldy. Nisa berpikir, Stevent selalu bersama dengan dirinya, ia tidak melihat seseorang menyuntikkan jarum atau benda tajam lainnya.
" Apakah virus ini berbahaya ?" tanya Nisa yang terus memperhatikan layar monitor.
" Berbahaya atau tidak kita belum mengetahui, namun untuk saat ini Tuan Stevent seperti sedang tidur dan anggota tubuhnya tidak akan bisa di gerakan Karena efek dari virus " jelas Dokter Renaldy.
" Apa yang harus kita lakukan?" tanya Nisa
" Kita membutuhkan ahli Kimia atau ahli pengobatan yang bisa mempelajari virus untuk mendapatkan penawar atau vaksin " Jelas Dokter Renaldy
" Tentu saja Nathan adalah ahli dalam hal ini" Nisa berbicara dalam hati.
__ADS_1
" Saya pernah mendengar seorang ahli dalam hal ini " lanjut Dokter Renaldy.
" Siapa ?" tanya Nisa kembali duduk ke kursi.
" Tuan Nathan, ia seorang ahli namun karena dia seorang pengusaha sukses dan memiliki banyak rumah sakit swasta, Sepertinya ia tidak mendalami kemampuannya" Dokter Renaldy sangat yakin Nathan hanya sibuk menjadi pengusaha atau pimpinan rumah sakit. Ia tidak tahu bisnis gelap yang Nathan jalani.
Nisa menarik nafas panjang dan berat, ia sudah dapat menebak nama yang akan di sebutkan Dokter Renaldy.
" Bisakah kita melakukan penelitian untuk mencari vaksin sementara, setidaknya meringankan rasa sakit atau membuat Stevent bisa membuka matanya" Nisa mencoba untuk tenang, ia tidak tahu apa yang Nathan inginkan.
" Tuan Stevent akan bangun di malam hari " jelas Dokter Renaldy dan membuat Nisa bingung.
" Maksud Anda ?" Nisa penasaran.
" Virus akan tidur ketika malam hari dan Tuan Stevent akan terbangun namun tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya, dan selalu Seperti itu sampai kita dapat membunuh virus" Dokter Renaldy memperhatikan Nisa.
" Baiklah Dokter, aku akan berusaha mencari ahli kimia, dan terimakasih" Nisa pamit meninggalkan ruangan Dokter Renaldy Kembali ke ruangan rawat Stevent.
Nisa melihat wajah Jhonny yang sangat khawatir.
" Jhonny " sapa Nisa
" Iya Nyonya"
" Katakan kepada semua keluarga di rumah Stevent hanya demam " Nisa menatap Stevent yang tertidur lelap, Jhonny melirik Nisa, ia tahu ada kekhawatiran di raut wajah Nisa.
Jhonny segera menghubungi assisten rumah tangga dan memberikan kabar sesuai perintah Nisa.
" Duduklah !" perintah Nisa kepada Jhonny agar duduk di Sofa.
Jhonny duduk dengan tenang ia selalu menundukkan kepalanya agar tidak melihat wajah Nisa.
Nisa menceritakan semuanya kepada Jhonny termasuk kecurigaan terhadap Nathan. Jhonny mengepalkan tangannya menahan emosi.
" Sepertinya hanya Nathan yang memiliki penawar virus di tubuh Stevent" tegas Nisa.
" Maaf Nyonya, bagaimana kita mendapatkan penawar dari Tuan Nathan ?" Jhonny khawatir.
Nisa hanya terdiam ia menatap Stevent. Terdengar nada dering panggilan dari ponsel Nisa, ia melihat nomor baru yang tadi pagi menghubungi nomornya.
Nisa melirik Jhonny dan menerima panggilan dengan di loud speaker.
" Assalamualaikum" suara lembut Nisa terdengar menenangkan hati Nathan.
" waalaikumsalam, bagaimana Nisa, sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Nathan serius
" Sudah " Jawab Nisa singkat.
" Apa kamu menginginkan penawanya dariku?" tanya Nathan lembut.
" Aku tidak berpikir kamu akan memberikan penawar itu" tegas Nisa
" Kenapa tidak, aku akan memberikan segalanya untuk kamu asalkan kamu bersama dengan diriku" Nada bicara Nathan penuh penekanan. Nisa hanya terdiam, ia tidak bisa mengambil keputusan, ia harus berdiskusi dengan suaminya dan semua keluarga.
" Berikan aku waktu " ucap Nisa
" Tentu saja, aku cukup sabar menunggu dirimu" ucap Nathan tersenyum puas, panggilan terputus.
" Kau sudah mendengarnya Jhonny" ucap Nisa berjalan mendekati dan mengusap kepala Stevent.
" Iya Nyonya" Jhonny menahan emosi ia benar-benar membenci Nathan.
" Kita harus menunggu Stevent bangun dan berdiskusi dengan semua keluarga !" tegas Nisa.
*
*
*
*
😍 Thanks for Reading ♥️
jangan lupa like dan komentar, alhamdulilah dikasih Vote 😘
__ADS_1
💓 Love you Readers ♥️