Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Konser Amal


__ADS_3

Kantor Leon


Waktu terus berlalu, Leon tidak berhasil menemukan Nisa, seakan tentang Nisa di tutup rapat oleh seorang yang sangat berkuasa, tidak ada orang yang berani menyebutkan nama Nisa ketika seorang detektif menanyakan foto Nisa kepada banyak warga.


Para Detektif menyerah, Mereka bahkan telah keluar masuk rumah sakit, setiap orang menggelengkan kepala ketika melihat foto Nisa.


Mereka Yakin, wanita itu disembunyikan dan dilindungi oleh seseorang yang sangat berkuasa sehingga dapat menutup mulut semua orang.


Leon menyenderkan tubuhnya pada kursi kerja di ruangnya, ia tidak tahu harus bagaimana menemukan Dokter berjilbab itu, Maria juga tidak berhasil.


Pintu Ruangan Leon terbuka, ia melihat adik kembarnya Leo masuk, Leon berusaha tersenyum, ia takut mengecewakan adik manjanya.


" Apakah kamu gagal?" Leo membuka jaket mahal miliknya dan duduk di sofa meletakkan kakinya di atas meja.


" Aku tidak bisa berbohong" Leon berjalan mendekati Leo.


" Aku akan memberikan Ide kepadamu" Leo menurunkan kakinya dari meja menyenderkan punggungnya pada tubuh Leon.


Saudara kembar Tampan sangat menggemaskan, sama wajah, beda gaya dan karakter, pasangan yang sempurna Mereka saling mendukung.


" Bagaimana dengan konser Amal" Leo berbaring di pangkuan Leon, ia melihat cerminan wajahnya sendiri, bedanya pada potongan dan gaya rambut.


" Ternyata kamu semakin Cerdas" Leon menarik hidung adiknya.


" Kita sama cerdas, hanya saja aku malas menggunakan otakku karena ada dirimu" Leo beranjak dari Sofa dan berjalan menuju ruang latihan.


" Aku tahu kamu bisa" Lanjut Leo di depan pintu tersenyum kepada Leon.


Leon segera menghubungi sekretarisnya untuk segera melakukan konferensi pers, "The Return Of The LEO"


Leo akan melakukan Konser perdana setelah lama vakum dan semua itu untuk amal.


Mereka membuka peluang untuk semua Dokter Bedah yang ingin ikut berpartisipasi dalam konser Amal.


Operasi gratis bagi warga yang membutuhkan, Dokter akan di bayar mahal, bertemu langsung dengan Leo, dan Leo akan mengucapkan terimakasih langsung kepada para Dokter.


Leo dan Leon akan memberikan sovenir cantik bagi pasien dan Dokter beserta asisten Dokter.


Promosi segera dilakukan, Undangan di sebarkan dan Konferensi pers segera dilaksanakan, Semuanya begitu mudah bagi Leon karena Dunia entertainment berada di genggaman dirinya.


***


Rumah Sakit


Nisa telah kembali bekerja di rumah Sakit, Stevent tidak bisa melarang Nisa, ia tidak mungkin mengurung istrinya dalam menara seperti yang di sebutkan Papa Mark.


Stevent juga harus mengurus perusahaan yang sedikit mendapatkan goncangan dari Papa Alexander yang menentang Kerjasama dengan perusahaan M di Jepang.


Nisa berada di ruangannya, Dini berteriak mengejutkan Nisa yang sedang sibuk membaca data pasien yang akan melakukan operasi.


" Astaghfirullah, ya Allah, ada apa Dini?" Nisa beranjak dari kursi dan mendekati Dini.


" Dokter, Leo, Leo, kembali" Dini kesulitan berbicara Karena ia terlalu bahagia.


" Leo, Leo siapa? tenangkan dirimu" Nisa mengusap punggung Dini.


" OMG, Dokter, apa Anda tidak pernah nonton TV atau entertainment?" Dini semakin kaget mendengar Nisa tidak mengenal Leo.

__ADS_1


" Tidak Tertarik " jawab Nisa singkat, ia kembali duduk ke kursinya, Nisa mulai berpikir, jika berhubungan dengan Entertainment sungguh tidak menarik.


" Baiklah, Dokter ku yang paling cantik, Anda tidak tertarik dengan selebriti, bagaimana dengan membantu operasi gratis bagi warga kurang mampu?" mata Dini menggoda Nisa.


Jika Nisa ikut dalam Operasi, Dini akan menjadi asisten Nisa dan dia punya kesempatan untuk bertemu dengan Leo.


Dalam pengumuman itu, disebutkan sang bintang akan berkeliling melihat-lihat proses operasi dan akan mengucapkan terimakasih langsung kepada semua Dokter yang ikut serta dalam Konser Amal.


Leo dan Leon adalah saudara kembar paling populer di dunia. Makhluk Tuhan yang paling sempurna.


Leo sang Bintang dan Leon seorang Pengusaha muda Sukses yang membuat adiknya menjadi bintang terkenal dan banyak bintang lainnya.


Dini memperhatikan Nisa yang tidak memperdulikan dirinya. Dini meletakkan selebaran tepat di atas data pasien yang sedang Nisa baca.


" Apa ini Dini?" suara Nisa lembut.


" Tidak usah lihat Bintangnya, tapi lihat Undangan untuk Dokter bedah" Dini penuh harap.


" Ada banyak Dokter bedah di luar sana, aku cukup melaksanakan tugas ku di Rumah Sakit ini" Nisa tersenyum.


" Apa , Dokter Nisa tidak tertarik, ya Tuhan hanya Dokter Nisa yang bisa mempertemukan aku dengan Idolaku ?" Bisik suara hati Dini.


" Tapi Dok" Dini Bingung bagaimana cara merayu Nisa agar bisa ikut dalam konser Amal.


" Dini, lihatlah ada banyak pasien yang harus kita operasi, dan mereka telah menunggu lama" Nisa memperlihatkan banyak dokumen di tangannya dan berjalan menuju kamar pasien.


Dengan malas Dini berjalan mengikuti Nisa.


" Dokter, jika di hari itu Anda kosong, bisakah kita mendaftar?" Dini menarik tangan Nisa dengan wajah memelas.


" Ah, Terimakasih" Dini memeluk lengan Nisa, Mereka berjalan menemui Pasien, memberikan semangat dan motivasi sebelum melakukan operasi.


Nisa selalu mendekatkan dirinya dengan pasien yang akan ia tangani. Memberikan semangat dan dukungan, agar mereka berani dan kuat untuk menjalani operasi.


Pasrahkan Semuanya kepada sang pencipta, berhasil atau gagal sebuah Operasi adalah kehendak Tuhan, Kita Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa


***


Kantor Stevent.


Jhonny melihat Stevent yang terus memandang layar ponselnya.


" Jhonny, apa yang dilakukan Istriku pada jam seperti ini?" tanya Stevent tanpa melihat Jhonny.


" Sekarang adalah jam berkeliling Nyonya Muda, Tuan" jawab Jhonny mendekati Stevent.


" Apakah pasien dia Banyak laki - laki ?" tanya Stevent lagi.


" Pasien Nyonya adalah orang yang akan melakukan dan yang telah di operasi" jelas Jhonny.


" Aku bertanya, apakah pasien Istriku banyak laki-laki?" tanya Stevent menatap tajam kearah Jhonny.


" Saya akan menyelidikinya Tuan" Jhonny menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia segera kembali ke kursinya dan menghubungi anak buahnya untuk mencari daftar pasien Dokter Nisa.


Stevent tidak bisa lagi menahan Rindu pada Nisa, ia bahkan tidak bisa fokus untuk bekerja , jam makan siang masih sangat lama, ia telah janji akan makan siang bersama di Kantin rumah Sakit.


Mata Stevent terus menatap layar ponsel dan jam tangan mewah berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

__ADS_1


Stevent segera menghubungi nomor Nisa untuk melakukan video call, namun tidak ada jawaban, ketika bekerja Nisa akan meninggalkan ponselnya di ruangannya.


" Pasti ia sedang berkeliling " Stevent memasukan ponsel ke dalam saku jas miliknya mengambil kunci mobil dan meninggalkan Jhonny yang bingung.


" Tuan Stevent Anda mau kemana?" Jhonny menahan pintu dengan tangannya.


Stevent menatap tajam ke arah Jhonny.


" Jangan halangi aku menemui Istriku !" Stevent menarik paksa tangan Jhonny dari gagang pintu.


" Maaf Tuan, hari ini adalah rapat laporan akhir bulan setiap Divisi" Jhonny kembali menahan pintu.


" Batalkan, dan menyingkirlah dari hadapan ku!" perintah Stevent dengan mata merah siap melahap Jhonny jika masih bertahan di depan pintu.


Jhonny segera menghindar dari hadapan Stevent dan membuka pintu untuk Stevent.


Stevent berjalan menuju lift akan membawa ia langsung ke lantai bawah dekat parkir.


Jhonny mengumumkan pembatalan Rapat yang di sambut riuh gembira dan bernafas lega oleh karyawan perusahaan.


Stevent melaju mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat Nisa bertugas.


Ia memarkirkan mobilnya di tempat parkir, berjalan dengan angkuh dan sombong, tanpa memperdulikan orang lain, bahkan tidak menjawab sapaan dari orang yang bertemu dengan dirinya.


Beberapa perawat, dan keluarga pasien berdecak kagum melihat mahluk Tuhan yang di ciptakan begitu sempurna, dengan postur tubuh tinggi tegap, wajah tampan dengan pahatan keras dan mata tajam yang menusuk.


Stevent terus berjalan menuju ruangan Nisa yang tidak terkunci, ia membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Stevent memerhatikan setiap sudut ruangan mengingatkan dirinya pada penolakan Nisa, dan mengusir dirinya, bahkan ia bisa melihat kilatan kebencian di mata Nisa.


Stevent duduk di kursi Nisa, ia tersenyum, bayangan Nisa menahan emosi dan marah kepada dirinya.


" Dia Luar biasa" Stevent tersenyum dan melihat Tas Nisa bergantung di tempat gantungan.


" Pasti ponselnya di tinggalkan di dalam tas punggung miliknya" pikir Stevent yang memutar-mutar kursi Nisa.


" Kemana istriku? Aku sangat merindukan dirinya" Stevent beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan Nisa.


Stevent benar-benar merasa Bosan, ia ingin segera bertemu dengan Nisa, Ia berjalan di koridor, mengikuti hati dan langkah kakinya untuk menemukan Istri yang ia cintai.


Kerinduan sungguh mengganggu kecerdasan dirinya.


**


*



Thanks for Reading


Terimakasih Like dan Komentar pada setiap episode 😘


Terimakasih banyak kepada Readers yang telah ikhlas memberikan Vote untuk Author, Semoga Readers semua semakin suka membaca Novel Author.


Semoga Readers selalu diberikan kesehatan dan Rezeki yang melimpah, Aamiin.


Love You Readers 😘**

__ADS_1


__ADS_2