Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Sehari Sebelum Ramadhan


__ADS_3

Pasangan suami istri yang saling mencintai duduk di Sofa empuk.


Nisa berbaring di pangkuan Stevent yang sedang bekerja dengan laptopnya.


Stevent bekerja dengan satu tangan kirinya sedangkan tangan kanan mengusap kepala Nisa.


Ketika merasa lelah Stevent akan mencium Nisa.


Stevent dan Nisa telah mempersiapkan diri untuk beribadah bersama bulan Ramadhan di rumah Sakit.


"Sayang, ini adalah Ramadhan pertama dirimu." Nisa menyentuh lembut pipi Stevent.


"Dan Ramadhan pertama bersama istriku." Stevent mencium dahi Nisa.


"Maafkan aku, kita akan sahur dan berpuasa di Rumah Sakit." Nisa tersenyum menutupi kesedihannya.


"Sudah Aku katakan berkali-kali, selama bersama dengan dirimu, Aku tidak perduli dimanapun kita berada." Stevent mengusap perut Nisa.


"Apakah suamiku sudah siap untuk berpuasa?" Nisa tersenyum menggoda Stevent.


"Aku bukan anak kecil yang baru belajar berpuasa." Stevent mencubit hidung Nisa.


"Alhamdulillah." Nisa tersenyum puas.


"Sayang, bagaimana jika kita pulang ke rumah Utama?" pertanyaan Nisa menghentikan gerakan lincah jari Stevent yang sedang menari di atas keyboard.


"Bagaimana dengan pengobatan dirimu?" tanya Stevent.


"Sebagai seorang Dokter, aku tahu bahwa diriku telah sembuh, Aku hanya perlu mengambil suntikan formula sehari sekali dan itu bisa dilakukan di malam hari setelah berbuka puasa." jelas Nisa beranjak dari kursi dan berjalan menuju layar monitor.


Stevent terdiam mendengar penjelasan Nisa yang ia dapat mengerti.


"Kita hanya perlu memindahkan formula ke rumah sakit Samuel, karena lebih dekat dari pesantren dan rumah kita." Nisa tersenyum.


"Dokter Aisyah dan Dokter Nada bisa melakukan penyuntikan untuk diriku." Nisa tersenyum bahagia dengan rencananya.


Stevent beranjak dari kursi dan memeluk Nisa. dari belakang.


"Istriku sangat cerdas." bisik Stevent di telinga Nisa.


"Kita harus membicarakan ini dengan Nathan." ucap Nisa lemah.


Ia benar-benar tidak mau bertemu dengan Nathan.


Tidak ada kebencian di hati Nisa, ia hanya tidak mau mendekati dosa.


"Aku akan berbicara dengan Nathan." ucap Stevent.


"Tidak sayang, biarkan Dokter Nada yang menjelaskan kepada Nathan."Nisa memutar tubuhnya menghadap Stevent.


"Alhamdulilah ya Allah, Engkau izinkan hamba berkumpul bersama keluarga, dengan kuasaMu, aku akan segera sembuh dan beribadah bersama keluargaku." gumam Nisa dalam hati tersenyum bahagia dan memeluk erat tubuh Stevent.


Tuhan tidak akan menguji hambaNya melebihi kemampuan mereka.


Ujian yang Tuhan berikan kepada Nisa dan Stevent untuk membersihkan diri dalam menyambut ramadhan bersama.


Menguji keimanan Stevent yang baru saja ia dapatkan melalui Nisa.


Itu adalah cara - cara Tuhan mengantarkan hidayah kepada umatnya.


Stevent adalah salah satu hamba terpilih yang mendapatkan hidayah melalui cinta dan kelembutan hati dari seorang wanita yaitu Nisa.

__ADS_1


"Sayang, dimana ponseku?" Nisa meraba - raba celana Stevent.


"Jangan lakukan itu." Stevent menahan tangan Nisa.


Nisa terdiam, sentuhan seorang istri dapat membangunkan sesuatu yang tersembunyi.


Stevent tersenyum, mengeluarkan ponsel Nisa dari saku celananya dan memberikan kepada Nisa.


"Terimakasih Sayang." Nisa mencium tangan Stevent yang memegang ponsel.


Nisa menarik tangan Stevent untuk kembali ke sofa agar Stevent bisa melanjutkan pekerjaannya.


Stevent duduk di tempatnya semula dan meletakkan laptop di pangkuannya.


Nisa menyederkan kepalanya di lengan kekar Stevent, menatap layar ponsel dan melakukan panggilan dengan Dokter Nada.


Dokter Nada setuju dengan rencana Nisa, karena kondisi Nisa yang jauh lebih baik bahkan termasuk sudah sehat.


Usia kandungan yang akan memasuki delapan bulan dalam hitungan hari.


Nisa sangat bahagia, ia akan melaksanakan ibadah puasa bersama keluarga baru untuk pertama kalinya.


Dan untuk keluarga Stevent, itu adalah puasa pertama di keluarga mereka.


"Sayang, berikan aku ciuman, Aku sudah lelah melihat layar komputer ini." ucap Stevent manja dan melihat Nisa.


"Cup." kecupan diberikan Nisa di bibir Stevent.


"Sayang, aku mau ciuman bukan kecupan." mata Stevent menatap tajam membuat Nisa tertawa.


"Apa bedanya?" Nisa mencubit hidung Stevent.


Stevent mencium bibir Nisa dengan lembut dan dalam, menikmati setiap gerakan dan tarikan napas diantara keduanya.


"Ini namanya ciuman." Stevent tersenyum dan mencubit hidung Nisa.


Nisa memeluk Stevent dan menghirup aroma tubuh suaminya.


***


Ayesha merapikan pakaiannya ke dalam koper kecil, ia bersiap kembali ke Arab.


Fauzan memperhatikan Ayesha dari ujung pintu dan berjalan mendekati Ayesha setelah mengucapkan salam dan mengetuk daun pintu.


"Apa kamu mau pulang?" tanya Fauzan.


"Kita selalu berpuasa bersama." ucap Ayesha menutup kopernya.


Setiap Ramadhan keluarga kerajaan Arab berkumpul untuk melakukan sahur pertama bernama di bulan Ramadhan.


"Tidak ada yang pulang tahun ini." tegas Fauzan.


"Kenapa?" tanya Ayesha heran.


"Saudara kita semuanya sibuk, di tambah lagi bencana di beberapa negara." Fauzan duduk di kursi tepi tempat tidur Ayesha.


"Aku tidak bisa bertemu keempat Kakak ku." Ayesha sedih.


"Kakak juga tidak bisa pulang, Apa kamu mau pulang ke Kerajaan?" tanya Fauzan.


"Papa dan Mama sudah kembali kan?" tanya Ayesha.

__ADS_1


"Sudah." jawab Fauzan singkat.


Ayesha beranjak dari depan lemari dan duduk di samping Fauzan.


"Apa aku akan pulang sendirian?" tanya Ayesha.


"Bagaimana jika kamu mencoba berpuasa di negara ini?" Fauzan tersenyum menatap wajah cantik adiknya yang tidak menggunakan cadar.


"Hmm." Ayesha berpikir.


"Setiap negara memiliki keunikan tersendiri ketika ramadhan." Fauzan menyentuh pipi merah Ayesha.


"Apakah kita akan sahur di Villa dan berdua saja?" tanya Ayesha.


"Kenapa, apa kamu tidak suka?" tanya Fauzan.


"Bagaimana jika kita sahur dan berbuka bersama anak yatim di panti asuhan atau pesantren yang kemarin itu?" Ayesha bersemangat.


"Kenapa kamu selalu berpikir seperti itu?" Fauzan mengusap kepala Ayesha.


"Entahlah rasanya menyenangkan dapat berbagi dan membahagiakan banyak orang, aku mau memasak banyak makanan dan dimakan banyak orang." Ayesha tersenyum.


"Kakak telah mencari tahu tentang pesantren Abi Ramadhan." ucap Fauzan.


"Anak-anak di pesantren adalah orang yang tidak mampu yang mereka ambil dari jalanan." jelas Fauzan.


"Jadi pesantren itu menampung dan menanggung anak jalanan, fakir miskin dan yatim pintu." lanjut Fauzan.


"Masya Allah, mereka luar biasa." Ayesha tersenyum.


"Kita juga memilikinya, rumah sakit, pesantren, panti asuhan dan panti jompo." tegas Fauzan.


"Aku tahu, tetapi bedanya mereka terlihat sederhana dalam kekeluargaan." Ayesha tersenyum.


"Baiklah, Kamu sangat menyukai anak-anak." Fauzan mencubit hidung mancung Ayesha.


"Kak, sebaiknya hari ini kita berkunjung ke pesantren, aku akan menginap di kamar santri." Ayesha bersemangat.


Fauzan menggelengkan kepalanya, seorang putri yang terlahir dengan bergelimang harta dan puluhan pelayan ingin merasakan susahnya hidup sebagai rakyat biasa.


"Menghabiskan hari-hari selama Ramadhan dengan beribadah." Ayesha memeluk lengan kekar Fauzan.


"Bersiaplah, Kakak akan mengantarkan kamu ke pesantren." Fauzan mencium dahi Ayesha dan keluar dari kamar Ayesha.


Ayesha tersenyum, ia akan berpuasa di negara muslim terbesar di dunia dengan keragaman budaya dan adat-istiadat yang berbeda.


Pakaian yang telah dimasukkan ke koper akan ia bawa ke pesantren.


Fauzan dan Ayesha telah berada di dalam mobil.


Fauzan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju pesantren Abi Ramadhan.


Ayesha ingin berpuasa bersama anak-anak pesantren.


***


Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.


Baca juga "Arsitek Cantik", Nyanyian Takdir Aisyah" dan " Cinta Bersemi di ujung Musim"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇

__ADS_1


__ADS_2