Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Pertemuan


__ADS_3

Jhonny mengendarai mobil Stevent, ia melirik Stevent terlihat gelisah dan khawatir.


"Semoga Nona Nisa baik - baik saja" pikir Jhonny dalam hati.


Jhonny sangat khawatir pada Stevent jika terjadi sesuatu pada Nisa Jhonny yakin Stevent akan menghancurkan kota ini.


Ia akan membunuh semua orang yang pernah menyakiti Nisa hingga tak bersisa dan akhirnya Stevent akan menyakiti dirinya sendiri.


Stevent sangat mencintai Nisa.


Terdengar dering panggilan dari ponsel Jhonny, ia segera mengangkatnya dengan menggunakan earphone. Seorang di seberang melaporkan Nathan dan anak buahnya menuju sebuah klinik di desa kedua dari tempat mereka.


"Tuan kita sudah sangat dekat dengan Nathan, sepertinya ia menuju klinik di desa ke dua dari sini" jelas Jhonny


"Cepatlah pasti Nisa di sana" Stevent menatap tajam kepada Jhonny, tatapan menyeramkan.


Terdengar nada dering dari ponsel Stevent, ia mengambil ponsel dari saku celananya, ia melihat nama Tuan Ramadhan muncul di layar ponsel Stevent, dengan cepat ia menerima panggilan.


"Stevent, Nisa berada di Klinik Dokter Aisyah" Abi langsung memberikan kabar kepada Stevent bahkan tanpa memberi salam.


Tanpa sepatah kata, Stevent mematikan ponselnya.


"Berhenti!" perintah Stevent pada Jhonny yang segera menghentikan laju mobil.


Stevent keluar dari kursi penumpang dan pindah pada kursi pengemudi, Jhonny telah bergeser ke samping.


Stevent menginjak habis pedal mobil sport miliknya.


***


Klinik Dokter Aisyah


Setelah melaksanakan solat Isya, Nisa dan Dokter Aisyah duduk di ruang tengah.


"Apa kamu sudah menghubungi orang tuamu?" Dokter Aisyah memulai percakapan.


"Alhamdulilah sudah Dok, aku mengatakan agar Abi dan Umi tidak khawatir" Nisa tersenyum.


"Dokter, ceritakan tentang Anda, bagaimana Dokter sehebat Anda bisa berada di tempat terpencil seperti ini" Nisa sangat penasaran, dia telah merasakan sendiri kemampuan hebat Dokter Aisyah ketika mengobati Nisa.


Aisyah tersenyum dan mulai bercerita.


Aisyah adalah seorang ahli kimia, dan Dokter. Ia berusaha mengembangkan dan meneliti pengobatan secara tradisional.


Dan itu berhasil, namun beberapa Dokter dan rumah Sakit tidak setuju dengan pengobatan Aisyah karena keuntungan yang di dapat sangat Kecil.


Dengan menggunakan obat tradisional maka mereka tidak akan bekerjasama dengan apotek sehingga akan mengurangi pemasukan.


Aisyah menyatukan pengobatan modern dan tradisional.


Nisa sangat kagum dengan Dokter Aisyah. Setelah mendengar cerita Aisyah giliran Nisa bercerita tentang dirinya.


Seorang ahli bedah, ia lebih sering berhadapan dengan pasien kecelakaan, dan menghabiskan waktu di ruang operasi.


"Aku sangat tertarik dengan pengobatan tradisional yang anda lakukan, apa aku boleh mempelajarinya?" Nisa tersenyum.


"Tentu saja" jawab Aisyah.


" Nisa bagaimana kamu bisa keracunan?" tanya Dokter Aisyah, ia tahu racun yang disuntikkan pada tubuh Nisa adalah racun langka dan tidak dijual belikan.


Nisa menceritakan awal ia di culik sehari sebelum pernikahan hingga diberikan obat tidur dan racun.


Dokter Aisyah sangat terkejut dengan cerita Nisa. Cinta ternyata membawa petaka.


"Tubuhmu masih lemah, belum boleh melakukan perjalanan jauh, apalagi mengendarai mobil sendiri, istirahatlah di kamar" Dokter Aisyah mengajak Nisa masuk ke kamar.


Terdengar ketukan pintu depan. Nisa merasa sesuatu yang aneh di hatinya.

__ADS_1


Ketika Dokter Aisyah berjalan mendekati pintu depan Nisa menarik tangan Dokter Aisyah dan menggeleng.


Dokter Aisyah dapat melihat kekhawatiran di wajah Nisa. Aisyah kembali mendekati Nisa.


" Ada apa !" tanya Aisyah dengan suara pelan agar tidak terdengar orang lain.


" Aku merasa khawatir, tubuhku masih lemah " Nisa berbisik di telinga Aisyah.


Dokter Aisyah mengangguk, ia menarik tangan Nisa pindah ke ruangan dapur agar mereka bisa mengintip dan melihat orang yang sedang mengetuk pintu.


Ketukan semakin kuat, Aisyah dan Nisa mematikan lampu dapur mereka mengintip dari balik jendela dengan kaca Hitam.


" Nathan " suara Nisa lembut namun tertekan , ia sangat kecewa dengan apa yang telah Nathan lakukan padanya, ia benar-benar tidak percaya Nathan berbuat senekat itu.


Selama ini Nathan adalah pria yang baik, sopan dan sangat lembut.


Aisyah memperhatikan raut kekecewaan di wajah Nisa. Ia yakin Nisa tidak ingin bertemu dengan pria yang berada di depan pintu.


" Dokter Aisyah, tolong buka pintunya" Nathan mulai berteriak, ia terlihat sendirian di depan pintu, anak buah dan asistennya bersembunyi.


Nisa hanya terdiam menyenderkan tubuhnya ke dinding, tanpa sadar air matanya mengalir. Aisyah hanya memperhatikan Nisa.


" Apakah kamu takut ?" tanya Dokter Aisyah, Nisa menggelengkan kepalanya


" Aku hanya takut kepada Allah " jawab Nisa


" Lalu " Aisyah bertanya lagi


" Aku kecewa, terluka dan tidak percaya dengan apa yang aku alami, namun aku percaya Tuhan selalu bersamaku, menjaga dan melindungi ku " Aisyah memeluk Nisa.


" Semakin kuat iman seorang hamba maka semakin besar cobaan yang Allah berikan " Aisyah melepaskan pelukannya dan memegang pipi mulus Nisa dengan kedua tangannya.


Nisa mengangguk dan tersenyum.


" Nisa kumohon buka pintunya, aku tidak akan menyakitimu, aku harus mengobati mu Nisa, kamu keracunan, aku khawatir padamu " Nathan terus menggedor - gedor pintu.


Tidak ada jawaban, tidak ada yang membuka pintu.


" Bagaimana jika kita lari dengan mobilmu ? lewat belakang " Aisyah menarik tangan Nisa.


Namun niat mereka diurung, mereka dapat melihat bayangan hitam beberapa orang yang telah mengelilingi rumah dari dalam.


" Kita tidak bisa kemana-mana" ucap Nisa ia terduduk di kursi tamu, tubuhnya yang masih lemah semakin lemah karena kelelahan.


Nisa duduk di temani Aisyah menghadap ke arah pintu yang masih di gedong- gedor Nathan, mereka tidak akan bisa bersembunyi, rumah menjadi satu dengan klinik sangat Kecil dan sederhana.


Nisa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang telah ia hapalkan dengan suara lembut dan merdu untuk menenangkan hatinya dan berdoa kepada Tuhan berharap adanya pertolongan.


Nathan mendobrak pintu hingga terbuka, ia berdiri tepat di depan Nisa yang sedang duduk dengan tenang, seakan Nisa sedang menunggunya.


" Nisa " Nathan memelas melangkah kakinya mendekati Nisa


" Berhenti di situ Nathan jangan mendekat !" suara lantang Nisa dan Nathan menghentikan langkahnya.


" Aku Mohon biarkan aku memeriksa dirimu, Nisa maafkan aku" Wajah khawatir dan sedih terlihat jelas di matanya.


" Aku baik Nathan, Dokter Aisyah telah mengobati ku, aku mohon pergilah, aku perlu menenangkan hatiku " Nisa menundukkan kepalanya.


Nathan mendekati Nisa dan menarik tangannya.


" Tuan, tubuh Nisa masih lemah" Dokter Aisyah menahan tangan Nathan.


" Aku akan menggendongnya, terimakasih telah menyelamatkan Nisa " Nathan baru saja akan menggendong Nisa.


" Jangan menyentuh ku " Nisa berteriak


" Brak " Terdengar tabrakan Mobil, Stevent menabrak mobilnya pada mobil Nathan dengan sengaja.

__ADS_1


Nathan menoleh ke luar melihat apa yang telah terjadi.


Stevent segera keluar dari mobil dengan tergesa-gesa, ia berlari masuk ke dalam rumah, Tanpa bertanya sepatah kata pun, ia menarik Nathan keluar rumah dan langsung mengajar Nathan tanpa memberi kesempatan kepada Nathan untuk melawan.


Stevent memukul perut dan wajahnya, Nathan hingga mengeluarkan darah.


Para anak buah hanya menjadi penonton, mereka dilarang Jhonny dan Roy untuk ikut campur.


Nisa beranjak dari kursi mendekati Aisyah.


" Bisakah menelpon polisi ?" ucap Nisa pada Dokter Aisyah.


" Desa ini terlalu jauh dari pusat kota butuh waktu yang lama untuk sampai ke sini, tapi aku akan tetap menghubungi polisi" Aisyah mulai menekan tombol panggilan.


Nisa melihat Stevent dan Nathan masih berkelahi, Stevent seakan tak sadarkan diri terus memukul Nathan, bahkan tangannya pun telah berdarah.


Stevent mengeluarkan pistol dari saku dalam jas miliknya, Ia menodongkan pistol ke kepala Nathan yang terbaring di lantai.


Wajah tampan Nathan sudah tak terlihat, darah berhamburan di wajahnya.


" Aku mohon hentikan " Nisa berteriak.


Nathan menatap Nisa dengan mata bengkak dan wajah yang sedih.


Ia sangat menghawatirkan Nisa, wanita yang ia cintai entah telah berapa lama, hampir terbunuh oleh dirinya.


" Maafkan aku Nisa " Suara lembut namun masih dapat di dengar oleh Nisa.


" Stevent, aku mohon lepaskan Nathan " Stevent memasukkan kembali pistol ke dalam sakunya berjalan mendekati Nisa.


Memegang pundak Nisa dengan kedua tangan di penuhi darah.


" Aku mencarimu seperti orang gila, aku mengkhawatirkan dirimu, apa kau tahu Nisa, aku bahkan tidak tidur?" mata Stevent benar-benar merah.


" Ya aku tahu, Terimakasih telah menoloku " Nisa menunduk.


Stevent melepaskan tangannya yang mungkin menyakiti Nisa, Ia sangat ingin memeluk wanita di depannya wanita yang ia rindukan.


" Ayo kita pulang " Ajak Stevent lembut, Nisa menggelengkan kepalanya.


" Kenapa?" Stevent bertanya menahan amarahnya.


" Aku akan mengobati Nathan " Nisa berjalan mendekati Nathan.


Stevent menarik tangan Nisa dengan kasar hingga jatuh di pelukan Nathan,


" Jangan, menyentuhnya" Nisa hanya mengangguk, Stevent melepaskan Nisa perlahan, ia menatap Nisa dengan sorotan mata yang tajam.


" Dokter Aisyah tolong obati luka Nathan " Nisa berbicara dengan Dokter Aisyah dan segera mengambil perlengkapan medis,,


Roy membantu memindahkan Nathan ke brangkar.


" Kemarilah " Nisa menyuruh Stevent duduk di kursi, ia mengambil kotak obat dan mengobati tangan Stevent yang terluka,, dan membungkusnya dengan kasa.


" Ayo kita pulang " ajak Stevent dengan suara lembut dan manja terus menatap Nisa merawat lukanya.


" Tentu saja" Nisa tersenyum.


Stevent sangat bahagia melihat senyuman di wajah Nisa.


*****


**Mohon dukungannya Vote untuk Dokter Nisa yaa.


Terimakasih telah setia membaca " Cinta Untuk Dokter Nisa"


💓 Love You Readers 💓**

__ADS_1


__ADS_2