
Umi bersama Ayesha, Kenzo, Fauzan dan Asraf berada du ruang tamu mereka bercengkrama dan membicarakan tentang kepulangan ke Arab untuk perayaan ulangtahun tiga puluh tahun usia Pangeran Arab dan pembukaan lamaran untuk para calon istri dari berbagai negara Valentino dan Viona mengintip dari ruang tengah.
“Aku sudah sangat berani mendekati Fauzan dengan agresif sekarang aku malu sendiri.” Viona duduk di lantai, ia melupakan Valentino yang berdiri di dekatnya.
“Apa yang kamu bicarakan?” Valentino tersenyum dan duduk di samping Viona.
“Valen, apa kamu menunggu kak Stevent?” Viona gugup, ia benar-benar melupakan pria di sampingnya.
“Aku mau bertemu Tuan Stevent dan dirimu.” Valentino tersenyum tampan.
“Ada perlu apa?” Viona berdiri.
“Aku belum memberitahu kamu sebuah kabar gembira.” Valentino menatap Viona.
“Apa?” tanya Viona.
“Aku.” Kalimat Valen terputus karena seorang pelayan datang.
“Non Viona, di panggil Umi.” Pelayan menunduk.
“Ah, baiklah.” Viona melirik Valentino.
“Kemarilah.” Viona melambaikan tangannya mengajak Valentino ke ruang tamu bersama.
“Umi, ada apa?” tanya Viona melirik Fauzan yang bersikap acuh.
“Siapa di samping kamu?” Umi tersenyum.
“Dokter Valentino yang pernah menjadi penyelamat Kak Nisa dan Kak Stevent.” Viona memperkenalkan Valentino.
“Halo semuanya.” Valentino menunduk., Fauzan hanya melirik sekilas dan duduk dengan elegan.
“Silahkan duduk nak.” Umi mempersilahkan Valentino untuk duduk.
“Terimakasih.” Valentino tersenyum dan duduk berhadapan dengan Fauzan.
“Viona, bukankah kamu mau berbicara dengan diriku?” Ayesha tersenyum kepada Viona.
“Itu, aku sudah lupa, maafkan aku.” Viona melirik Fauzan dan pria itu tidak perduli.
Sebuah mobil merah memasuki garasi, pria itu meninggalkan mobilnya di rumah sakit agar bisa satu mobil dengan istrinya. Stevent turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Nisa. Mencium dahi dan memeluk tubuh yang baru saja keluar dari mobil.
“Ayolah, tamu kita sudah menunggu lama.” Nisa menarik tangan Stevent untuk masuk ke rumah. Mereka mengucap salam dan tersenyum melihat banyak tamu berada pada satu ruangan.
“Kak Kenzo, Ayesha, apakah kalian sudah lama?” tanya Nisa pada Kenzo.
“Kami baru saja sampai." Kenzo tersenyum.
"Kami datang kemari untuk pamit." Ayesha tersenyum dari balik cadarnya.
“Pamit?” Stevent melihat Fauzan dan Valentino.
“Ya, kami akan kembali ke Arab, pabrik dan perusahaan akan di pegang oleh David.” Fauzan melirik Viona yang terus memainkan jari-jari tangannya.
“Kapan?” tanya Stevent.
“Besok.” Fauzan menurunkan kakinya yang ia silangkan dan melihat kearah Stevent.
“Valen, kapan kamu datang?” Nisa tersenyum pada pemuda yang telah banyak berkorban untuk dirinya dan Stevent.
“Aku baru saja.” Valentino tersenyum.
“Apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu.” Nisa melirik Viona yang hanya diam seribu bahasa.
“Makan siang telah siap.” Mbak Ninis berjalan dari dapur.
“Kami akan makan siang setelah salat Zuhur.” Fauzan melihat jam di tangan kanannya.
“Bersantailah, kalian bisa berkeliling di taman belakang, aku dan Nisa mau melihat putra dan putri kami.” Stevent tersenyum.
“Maaf, anggap saja rumah sendiri, kami permisi sebentar.” Nisa tersenyum. Mereka berdua berjalan bersama menuju kamar Azzam dan Azzura.
__ADS_1
Fauzan berajak dari kursi, ia berjalan menuju mushala milik Stevent diikuti Asraf, Kenzo dan Ayesha masih berbicara dengan Umi di ruang tengah. Viona dan Valentino tinggal berdua di ruang tamu.
“Viona, apa kamu sakit?” tanya Valentino.
“Tidak, oh ya, apa yang mau kamu katakan kepada ku tadi?” Viona tersenyum dan melihat Valentino.
“Aku sudah memeluk agama Islam dan sekarang dalam proses belajar.” Valentino mentap lembut pada Viona.
“Apa?” Viona menatap Valentino, ia mengingat dirinya ketika baru belajar Islam dan bahkan sampai saat ini, ia terus berusaha memperbaiki diri, gadis itu tahu Valen sangat butuh dukungan dari orang-ornag terdekat.
“Bagaimana dengan keluarga kamu?” tanya Viona.
“Mereka sangat mendukung diriku.” Valentino tersenyum.
“Valen, selamat ya.” Viona tersenyum pada Valentino.
“Terimakasih, aku sangat berharap Tuhan akan mengirimkan seorang gadis baik seperti dirimu yang akan menjadi pendamping diriku.” Valentino tersenyum tampan.
“Aku saja sedang belajar.” Viona tersenyum tak nyaman.
“Kita bisa belajar bersama.” Pemuda itu terus memandang wajah cantik Viona.
“Valentino, apa kita bisa bicara di ruang kerjaku?” Stevent memanggil Valentino.
“Tentu saja Tuan Stevent.” Valentino beranjang dari kursi.
“Viona, aku bertemu dengan Tuan Stevent dulu.” Valentino tersenyum dan berjalan mengikuti Stevent.
Valentino adalah orang yang sangat berjasa atas kesembuhan Nisa dan Stevent yang pernah berada pada ambang kematian karena racun Nathan. Wajar jika Stevent sangat peduli dan menyukai pemuda itu karena ia merasa berhutang budi yang tidak bisa dibayar dengan apapun.
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Valentino telah memeluk Islam tetapi hatiku telah terpaut pada pria yang sangat sombong itu.” Viona melihat Fauzan yang duduk di bawah pohon depan Mushala bersama dengan Asraf, mereka terlihat sedang berbincang.
“Aku tidak berani lagi mendekati pria itu, jantungku hampir berhenti berdetak dengan apa yang aku lakukan tadi.” Viona merebahkan tubuhnya di sofa.
“Siapa?” tanya Fauzan mengejutkan Viona.
“Kamu, Ups.” Viona menutup mulutnya.
“Tak ada, kamu akan pulang ke Arab.” Viona kembali gugup.
“Kamu tidak akan bisa ikut, perusahaan kamu dalam masalah dan Papa kamu di rawat dirumah sakit.” Fauzan berdiri di depan Viona.
“Shhh.” Viona refleks menutup mulut Fauzan dengan telapak tangannya yang lembut dan wangi, pria itu terkejut dan terdiam, matanya melotot, itu pertama kalinya mulutnya di pegang oleh seorang gadis.
“Jangan katakan itu karena Kak Stevent tidak mau Kak Nisa tahu.” Viona melihat sekeliling dengan tangan yang masih menempel di mulut Fauzan.
“Ah, untung tidak ada Kak Nisa.” Viona mendongakkan wajahnya dan baru menyadari tangannya berada di mulut Fauzan, ia melihat mata tajam menatap pada dirinya pada jarak yang sangat dekat.
“Maafkan aku.” Viona menarik tangannya, ia merasakan wajahnya panas dan memerah. Fauzan hanya terdiam bagaikan patung, pria itu dapat dengan mudah menyembunyikan kegelisahannya.
“Lupakan!” Fauzan berjalan menuju dapur dan duduk di ruang makan, ia meminta air putih pada pelayan dan meneguk habis.
“Apa yang dia lakukan? Semakin dekat dengan diriku.” Fauzan menyentuh bibirnya dengan jari jempol. Pria itu beranjak dari kursi dan kembali ke Mushala karena ia mendengar suara Azan yang dikumandangkan oleh Asraf. Valentino ikut dengan Stevent dan juga Kenzo berjalan bersama menuju Mushala untuk melaksanakan salat berjamaah
***
Mobil Nathan berhenti di sebuah butik mewah, ia akan melakukan mau melihat baju pengantin dengan Afifah. Wanita itu hanya terdiam di dalam mobil dan melihat sekeliling.
“Sayang, apa kamu tidak turun?” Nathan membuka pintu untuk Afifah.
“Ini bukan kampus.” Afifah menatap Nathan.
“Kemarilah, kita akan ke kampus setelah mencoba beberapa baju dan makan siang.” Nathan menarik tangan Afifah.
“Pria ini selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya.” Afifah turun dari mobil dan mengikuti Nathan.
“Kamu mau menggunakan berapa banyak gaun pengantin?” Nathan menggandeng tangan Afifah.
“Terserah kamu saja.” Afifah tersenyum.
__ADS_1
“Kita akan mengadakan pesta dari pagi hingga malam di Villa dekat pantai.” Nathan menyentuh hidung mancung istrinya dan berjalan bersama masuk ke dalam butik.
“Selamat siang Tuan Nathan.” Seorang wanita cantik dan seksi berdiri di depan pintu menyambut Nathan dan Afifah.
“Lisa, apakah pakaian yang aku pesan sudah datang?” tanya Nathan melirik Afifah.
“Sudah Tuan, semua ada di lantai atas.” Lisa melirik Afifah yang terlihat tidak bersemangat.
“Sayang, pergilah mencoba gaun pengantin.” Nathan mendorong tubuh Afifah menaiki tangga.
“Apa kamu tidak ikut?” tanya Afifah.
“Aku akan naik sebentar lagi.” Nathan mencium kepala Afifah. Wanita itu menaiki tangga bersama Lisa meninggalkan suaminya yang duduk di sofa. Nathan harus menyelesaikan banyak pekerjaan dari banyak perusahaan miliknya, ia tidak bisa melepaskan semua urusan kepada Roy.
“Nyonya, silahkan pilih.” Lisa membuka lemari kaca memperlihatkan banyak gaun indah dan mewah.
“Semuanya bagus yang mana saja boleh.” Afifah duduk di kursi.
“Kenapa anda tidak bersemangat?” Lisa tersenyum.
“Kami telah selesai melaksanakan pesta pernikahan.” Afifah mengambil majalah.
“Nyonya ada banyak wanita yang berharap bisa menikah dengan Nathan dan anda sangat beruntung.” Lisa mengambil gaun berwarna merah.
“Syukurlah jika aku termasuk beruntung.” Afifah tersenyum.
“Apa anda mau mencoba yang ini?” tanya Lisa.
“Aku tidak perlu mencobanya, gaun-gaun ini terlihat pas ditubuhku.” Afifah beranjak dari kursi dan melihat banyak gaun cantik yang tergantung.
“Tentu saja pas Nyonya karena Tuan Nathan telah mengirimkan ukuran tubuh anda.” Lisa tersenyum.
“Ada berapa banyak gaun yang ia pesan?” Afifah melihat kearah Lisa.
“Dua belas Gaun.” Lisa memandang Afifah.
“Apa?” Afifah terkejut.
“Untuk apa gaun sebanyak itu?" Afifah kembali duduk.
“Dan satu gaun seharga puluhan juta Nyonya.” Lisa tersenyum.
“Apa? Ya Tuhan.” Afifah menggelengkan kepalanya.
“Sayang, apa kamu telah selesai mencobanya?” Nathan memeluk Afifah dari belakang.
“Aku tidak perlu mencoba gaun-gaun itu.” Afifah membuka pelukan Nathan, ia tidak nyaman di lihat Lisa.
“Kenapa?” Nathan menatap tajam pada Afifah.
“Karena semua gaun itu sangat cantik dan sesuai dengan ukuran diriku.” Afifah tersenyum.
“Baiklah, Lisa bungkus semua gaun dan kirim ke Villa!” Nathan menarik tangan Afifah menuruni tangga.
“Baik Tuan.” Lisa menunduk.
“Apa, Nathan ada dua belas gaun dan itu sangat banyak.” Afifah mengikuti langkah kaki suaminya menuruni anak tangga.
“Kamu tidak memilih satupun jadi kamu akan memakai semuanya.” Nathan tersenyum dan membukakan pintu mobil untuk Afifah.
“Apa kamu mau menyiksaku?” Afifah melihat Nathan yang baru saja duduk di kursi sopir.
“Aku lebih suka menyiksa dirimu di atas tempat tidur.” Nathan menarik dagu Afifah dan mencium bibir mungil itu dengan penuh hasrat dan bernafsu.
“Ayo kita makan siang.” Nathan melepaskan ciumannya dan menjalankan mobil menuju sebuah restoran mewah.
“Pria ini, tidak ada yang bisa membantahnya.” Afifah berbicara sendiri dan menoleh ke samping pintu mobil.
***LoveYouAll***
Halo semuanya, berikan Like, Komentar dan Vote yaa, dukungan kalian sangat berarti buat Author, terimakasih.
__ADS_1
Baca juga Novel Author yang ada di Innovel berjudul “Unforgettable Lady” dan Novel kakak ku Nama Pena “Fitri Rahayu” di Noveltoon. Terimakasih.
Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan, aamiin.