
Rumah Sakit
Nisa memiliki jadwal operasi di pagi hari, siang dan sore ia kosong.
Sebelum subuh Nisa telah selesai mandi dan berganti pakaian Dokter, mempersiapkan sarapan, pakaian kerja suaminya.
Stevent kembali tidur, Nisa berbisik di telinga suaminya.
" Sarapan sudah siap, aku akan pergi bekerja"
Mata Stevent perlahan terbuka,
" Tunggu sebentar Sayang, aku akan mengantar dirimu" Stevent mencium dahi istrinya, beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri.
Nisa merapikan dan membersihkan tempat tidur.
Melihat Stevent menuju kamar mandi berarti setelah mengantar Nisa, ia akan langsung ke kantor.
Nisa kembali ke dapur, ia membereskan semua makanan di masukan ke tempat bekal.
Ia kembali ke kamar untuk membantu Stevent berpakaian.
Mereka berjalan bersama menuruni tangga.
Nisa mengambil bekal sarapan untuk Stevent.
" Sesampai di kantor, sarapan ya" Nisa tersenyum ia menunjukkan bekal makanan untuk suaminya yang mengangguk dan mencium dahi Nisa.
Matahari belum terlihat, embun pagi masih membasahi dedaunan dan bunga, udara sejuk menusuk ke dalam rongga hidung.
Nisa dan Stevent telah membelah jalanan yang terlihat masih sepi, mata Nisa sibuk melihat kiri dan kanan.
" Sayang, Kamu mencari apa?" Stevent bingung dengan Nisa.
"Biasanya di pagi hari, kita masih bisa melihat anak-anak terlantar yang tertidur di jalanan atau depan - depan Riko" jelas Nisa tanpa melihat suaminya.
" Sayang, apa kamu mau mengotori pakaian kamu yang berwarna putih itu?" tanya Stevent sedikit kesal.
" Kenapa orang tua Mereka meninggalkan anak di jalanan menyusahkan Istriku saja" Gerutu Stevent dalam hati.
" Kita hanya melihat dan mencari lokasi mereka, selesai kerja baru kita mencari mereka sayang" Nisa tersenyum ke arah Stevent.
" Baiklah, tidak ada yang bisa menikah seorang malaikat yang akan berbuat baik " Stevent berbicara dengan dirinya sendiri.
Stevent menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk Rumah Sakit, ia segera membuka pintu untuk Nisa.
" Terimakasih Sayang, jangan lupa sarapan" Nisa mencium sekilas bibir Stevent.
" Hmmm" Stevent melihat Rumah Sakit yang masih sepi.
" Apa kamu mau masuk?" tanya Nisa.
" Aku akan mengantarkan kamu sampai ruangan" Stevent tersenyum, ia menggandeng tangan Nisa dan berjalan menelusuri koridor Rumah Sakit.
Stevent memeluk dan mencium istrinya, ia berjalan sendiri kembali ke mobil dan melaju kendaraan sampai ke kantornya yang juga masih sangat sepi.
***
Pagi sekali Nisa sudah berada di ruangannya bahkan Dini belum datang.
Nisa memeriksa data pasien dan data tim Dokter yang akan bekerjasama dengan dirinya.
Nisa berjalan menuju kamar perawatan, ia ingin mengecek keadaan pasien tanpa di dampingi Assisten.
Nisa mengetuk dan membuka pintu kaca, ia melihat perawat yang jaga masih tertidur di ruangan kerja.
" Pasti mereka lelah" Nisa berjalan menuju ruang pasien dirinya.
Ruangan VIP, kamar Pasien nomor satu, kamar khusus orang kaya.
Nisa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, pintu terbuka, seorang wanita paruh bawa memperhatikan Nisa dari ujung kepala hingga kaki dan kembali melihat name tag yang menggantung di dada Nisa.
Nisa tersenyum manis dan ramah, bagaikan malaikat penyejuk hati di pagi hari.
" Dokter" ucap wanita yang terlihat masih muda dengan pakaian bermerek dan mata yang bengkak seperti terlalu banyak menangis.
" Selamat pagi, saya Dokter Nisa" Nisa mengulurkan tangannya dan di sambut oleh wanita tersebut.
" Silahkan masuk Dok, Saya nyonya Davina" wanita itu membuka lebar pintu.
__ADS_1
" Terimakasih, maaf saya datang terlalu pagi, karena ini telah biasa saya lakukan" Nisa tersenyum.
" Iya, assisten Anda telah mengatakannya" Nyonya Davina tersenyum melihat Nisa.
" Dia sangat cantik dan terlihat masih muda" suara hatinya.
Nisa melihat seorang anak perempuan sangat cantik menatap Nisa dan tersenyum.
" Selamat pagi Gadis cantik" Nisa tersenyum dan mengusap rambut pirang gadis kecil.
" Apakah kamu Dokter Nisa?" tanya gadis kecil dan menggenggam tangan Nisa.
" Ya" Nisa tersenyum.
" Mereka berkata kamu adalah seorang Malaikat cantik" gadis kecil tersenyum.
" Lalu, apakah aku tidak cantik ?" Nisa tersenyum dan menyentuh hidung mancung gadis kecil bernama Angel.
" Kamu secantik Bidadari" tangan lembut Angel menyentuh pipi halus Nisa.
" Terimakasih" Nisa tersenyum tulus dan ikut menyentuh pipi Angel melihat mata biru begitu jernih.
Nyonya Davina adalah Nenek Angel.
" Angel artinya Malaikat, apakah sudah siap dan kuat untuk sembuh?" Nisa tersenyum dan memeriksa Angel.
" Tentu saja, selama yang merawat ku seorang Malaikat Cantik " wajah putih pucat tersenyum.
" Hebat" Nisa mengangkat kedua jempolnya.
" Kondisi Angel Bagus, ia gadis yang kuat dan bersemangat" Nisa berbicara dengan Nyonya Davina yang terlihat masih sangat muda.
" Dokter" sapa Angel.
" Iya Sayang " Nisa berjalan mendekat.
" Apakah kamu sudah punya Putri atau Putra?" tanya Angel, Nisa hanya menggeleng dan tersenyum.
" Bolehkah aku menjadi Putrimu?" Angel berharap.
" Tentu saja Sayang" Nisa mencium dahi Angel yang tersenyum bahagia.
" Tentu saja sayang, Angel pasti sembuh" Oma berjalan mendekat.
" Dokter, bolehkah aku memanggil kamu Mama?" tanya Angel lagi.
" Tentu saja" Nisa tersenyum.
Angel membentang tangannya meminta pelukan Nisa, dengan senyuman yang memperlihatkan Gigi putih bersih dan rapi, Nisa memberikan pelukan hangat untuk Angel.
Oma meneteskan air mata, sejak lahir Angel tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu, Papa sibuk bekerja sehingga Angel menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup.
Angel menyembunyikan sakitnya, tidak ada yang tahu hingga ia jatuh pingsan di sekolah.
Angel berharap dengan sakit ia bisa mendapatkan perhatian Papanya yang terlalu sibuk bekerja.
" Mama, akan menyembuhkan Angel" Angel menggenggam tangan Nisa.
" Angel harus berdoa untuk keberhasilan penyembuhan Angel" Ucap Nisa tersenyum.
" Tentu saja" Angel terlihat sangat bahagia, Nisa mencium dahi Angel.
" Baiklah Nyonya, saya permisi dulu, jam 7 Angel akan masuk ruang operasi" Nisa tersenyum.
" Terimakasih banyak" wanita itu menggenggam tangan Nisa, is terlihat bahagia melihat Nisa dapat memberikan semangat untuk Angel, bahkan Angel banyak berbicara.
" Sama-sama Nyonya" Nisa meninggalkan ruangan.
Nyonya Davina berjalan mendekati Angel yang telah memejamkan matanya.
Nisa kembali ke ruangan, ia melihat Dini masih sibuk membenah diri.
" Maaf Dok, Saya kesiangan" Nisa membereskan berkas yang akan ia bawa.
" Pelan - pelan Dini, jangan tergesa-gesa" Dini melepaskan jas putih miliknya, ia segera mencuci tangan dan bersiap sarapan.
" Apa kamu sudah sarapan?" tanya Nisa sebelum ia mulai makan.
" Sudah Dok, Terimakasih kasih" Dini sangat ingin bertanya tentang kegiatan Amal, namun ia belum menemukan waktu yang tepat.
__ADS_1
Sebelum makan Nisa mengirim pesan kepada Stevent untuk mengajak sarapan bersama di tempat berbeda.
Dini melihat Nisa menikmati makanan yang ia bawa dari rumah.
***
Operasi telah di laksanakan dan berjalan dengan lancar, Angel masuk ruang perawatan pasca operasi, ia masih tertidur.
Nyonya Davina sangat bahagia, ia mencari Dokter Nisa untuk mengucapkan terimakasih.
Nyonya yang terlalu muda untuk menjadi seorang Oma, ia mengetuk pintu ruangan Nisa dan Dini membuka pintu.
Dini mempersilahkan Nyonya masuk ruangan, karena ia telah mengenalnya.
" Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya Nisa mempersilahkan Nyonya duduk.
" Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Anda" Ucap Nyonya Davina menggenggam erat tangan Nisa.
" Ini adalah tugas dan kewajiban saya" Nisa mengusap punggung Nyonya Davina.
" Dokter, semua rumah sakit dan Dokter menolak melakukan operasi pada cucuku" Nyonya Davina semakin menangis, Nisa dan Dini Bingung kenapa mereka menolak.
" Tidak ada yang berani menerima Angel" Nyonya Davina sesegukan.
" Nyonya, sekarang Angel telah selesai di operasi dengan perawatan intensif Angel akan segera pulih" Nisa mengambil air mineral dan memberikan kepada Nyonya Davina.
Tentu saja tidak ada Rumah Sakit atau Tim Dokter yang mau menerima Angel, mereka tahu Putri dari pemilik Saham terbesar di seluruh Rumah Sakit Pemerintah.
Jika terjadi kesalahan atau kegagalan operasi dan pasca operasi, mereka tidak berani menanggung resiko pemecatan, atau Rumah Sakit akan ditutup.
Nyonya Davina kembali ke ruangan Angel, ia menemani cucu semata wayang dari Putra satu-satunya.
Nisa dan Dini mengunjungi Angel pasca operasi, Nisa akan pulang ke pesantren karena ia tidak memiliki jadwal lagi karena pesantren lebih dekat dengan Rumah Sakit tempat Nisa bekerja.
Angel tersenyum ketika melihat Nisa masuk bersama Dini.
" Halo Angel Sayang" Nisa mendekat dan mengusap rambut Angel.
" Aku tahu Mama pasti berhasil" Angel menarik tangan Nisa dan menciumnya.
" Mama?" Dini terkejut dan menutup mulutnya.
" Apakah Dokter Nisa pernah menikah dengan Seorang Direktur secara diam-diam?" pikiran Dini melayang.
" Seorang Dokter Nisa tentu saja bisa membuat banyak orang tergila-gila kepadanya, jangankan pria dewasa anak kecil saja jatuh cinta kepada Dokter Nisa" Dini melamun.
" Dini berikan dan jelaskan catatan kepada Nyonya Davina" ucap Nisa.
" Mm ba baik Dok" Dini terkejut, ia segera berbicara dengan Nyonya Davina dan menjelaskan perawatan yang harus dilakukan pada Angel.
Setelah memberikan pelukan dan ciuman untuk Angel, Nisa dan Dini pamit.
" Oma, Angel sangat bahagia sudah punya Mama yang Cantik" Angel tersenyum.
Nyonya Davina mendekati dan memeluk Angel.
*****
****
***
**
*"*"*"*"*"*"*"*"*"*"*"*'*"*
**
***
****
*****
**Thanks for Reading👍
Selalu tinggalkan Like, Komentar dan Vote yang banyaaaaaak 😘 Terimakasih🤗
Love You Readers, muuuuuuuaaaccch 😘**
__ADS_1