
Ayumi dan Viona selesai melaksanakan sholat zuhur, mereka berdua kembali ke mobil dan melihat pria tampan itu duduk di atas mobil sangat keren penuh dengan kharisma seorang intelektual. Viona menggandeng tangan pengawalnya, ia sangat senag memiliki seorang teman di sampingnya.
“Hai Jade, apa kami lama?” Viona tersenyum cantik.
“Tidak.” Jade tersenyum dan melirik Ayumi yang hanya menunduk.
“Aku sangat lapar, bagaimana jika kita makan siang terlebih dahulu, pasti para karyawan kantor masih beristiraha.” Viona melihat sekeliling kantor yang terlihat sepi.
“Tentu saja Nona, anda harus menjaga kesehatan.” Ayumi melihat kearah Viona.
“Terimakasih Ayumi.” Viona menggandeng tangan Ayumi dan berjalan menuju sebuah rumah makan sederhana yang berada tidak jauh dari perusahaan.
“Silahkan Nona.” Ayumi menarikkan kursi untuk Viona.
“Ayumi, jangan lakukan itu, aku mau kamu menjadi temaku dan bukan seorang pelayan.” Viona mendorong kembali kursi.
“Maaf Nona di dalam surat kontrak kau adalah seorang pelayan dan pengawal anda.” Ayumi kembali menarik kursi.
“Kamu sangat keras kepala.” Viona menarik kursi lain dan duduk.
“Ayumi, duduklah!” Viona menatap Ayumi yang masih berdiri.
“Terimakasih Nona.” Ayumi duduk, Jade memperhatikan Ayumi dan Viona, mereka berdua terlihat seusia walaupun Ayumi lebih tua sedikit dari Viona.
“Rumah makan ini cukup ramai.” Viona melihat sekeliling.
“Mungkin mereka adalah karyawan perusahaan.” Jade melihat para pengunjung menggunakan pakaian yang rapi.
“Selamat siang, nona dan tuan, silahkan pesan makanan kalian.” Seorang pelayan memberikan buku menu kepada mereka bertiga.
“Terimakasih.” Viona tersenyum.
“Nona, apakah di sekitar sini ada penginapan?” tanya Viona.
“Tentu saja Nona, restoran kecil kami menyediakan penginapan sederhana.
“Bagus, kami pesan tiga kamar.” Viona tersenyum.
“Dua kamar Nona.” Ayumi mentap Viona.
“Kenapa dua kamar?” Viona bingung.
“Aku harus bersama anda selam 24 jam.” Ayumi melihat Viona dengan sorotan mata tajam.
“Baiklah, dua kamar.” Viona merasakan tatapan Ayumi sangat mengerikan dan memiliki aura seorang pemimpin seperti Stevent.
“Baik Nona, segera saya siapkan setelah mencatat pesanan makanan.” Pelayan tersenyum cantik dan melirik Jade.
Mereka telah memesan makanan dan menikmati makan siang bersama, beberapa pasang mata tepana akan kecantikan Ayumi dan Viona, wanita kota dengan ciri khas masing-masing, gadis dengan wajah Asia-Eropa dan Jepang-Indonesia serta pria tampan oppa Korea.
Ayumi makan dengan menggunakan sumpit, jari-jari indahnya tampak mahir, menghabiskan makanannya hingga tidak bersisa dengan gaya yang elegan dan anggun, tubuhnya tetap tegak dan sangat sopan.
“Aku merasa dia bukan seorang pelayan tapi lebih mirip putri bangsawan.” Viona memperhatikan Ayumi, begitu juga dengan Jade, ia berpikir pengawal itu lebih terlihat seperti seorang wanita yang siap menjadi seeorang putri kerajaan.
Mereka telah menyelesaikan makan siang bersama dan dilanjutkan melihat kamar untuk tempat mereka menginap sebelum mulai bekerja. Viona melakukan pembayaran untuk tiga malam mereka berada di luar kota.
Jade masuk ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ayumi dan Viona, berada di lantai atas dilengkapi dengna balkon yang menjorok keluar dengan pintu dan jendela kaca.
Hari semakin larut, Ayumi berada di balkon tanpa masker dengan tetap menggunakan hijabnya, ia menatap langit cerah penuh bintang, angin berhembus lembut menyentuh wajah cantik dan menggoyangkan hijabnya.
“Ayumi, apa yang kamu pikirkan?” Viona berdiri di samping Ayumi.
“Tidak ada.” Ayumi tersenyum sangat cantik.
“Apakah kamu punya kekasih?” Viona tersenyum menggoda.
“Saya tidak punya waktu untuk jatuh cinta, karena rasa cinta dapat melemahkan seorang wanita.” Ayumi menatap lurus kedepan berhadapan dengan Penginapan lainnya.
“Kamu benar, dan aku terlalu mudah jatuh cinta selama dia adalah pria dewasa yang penuh perhatian.” Viona merebahkan tubuhnya di pagar balkon, ia membanyang wajah dua pria tampan yang begitu mempesona yang seorang telah menjadi milik oran lain.
“Kita berbeda Nona, kamu bisa jatuh cinta dengan bebasnya.” Ayumi tersenyum.
“Aku adalah putri seorang bos mafia dan senang menjadi pembunuh bayaran, aku menikmati semua tantangan.” Ayumi berbicara di dalam hatinya.
“Ayumi, aku akan tidur, tubuhku sangat lelah.” Viona masuk ke dalam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ayumi membuka layar ponsel dan berselancar di dunia maya, ia mencari tahu tentang perusahaan yang akan mereka masuki untuk penyelidikan. Wanita itu serba bisa tidak ada yang tidak bisa ia lakukan, menguasai banyak keahlian, membobol akun adalah sesuatu yang sangat mudah.
“Aku membutuhkan computer.” Ayumi masuk ke dalam kamar, ia membuka ransel yang ia bawa dan mengambil komputernya. Menyelidiki semua perusahaan yang berhubungan dengan Stevent Lu Alexander dan semua orang yang berkerjasama dalam jaringan rahasia.
“Aku adalah gadis jepang dengan otak melebihi mesin.” Ayumi tersenyum, matanya fokus pada layar computer dan telinga terpasang tajam, ia melihat Viona yang telah terlelap dalam tidur.
Ayumi mematikan computer membersihkan diri dan membuka hijabnya, rambut hijam pekat dan sangat lurus tergerai panjang melewati bahunya, wajah campuran yang sangat sempurna, ia merebahkan diri di atas kasur dengan tempat tidur terpisah dari Viona.
__ADS_1
Fauzan dan Asraf telah sampai di kota kecil tempat cabang perusahaan yang sedang bermasalah, mereka cukup punya banyak waktu untuk bisa pergi kemanapun sebelum kembali ke Arab. Memilih penginapan yang berhadapan dengan Viona agar mereka tidak bertemu dan tidak mengganggu rencana gadis itu dalam menyelesaikan masalah perusahaan.
Mereka datang ketika hari telah gelap dan langsung menuju penginapan untuk beristirahat, tidak jauh dari penginapan terdapat sebuah pantai yang berjarak 5 km. Ketika malam hari dapat melihat kilauan dari lampu-lampu kapal yang berada di pelabuahan dan sorot dari mecusuar. Fauzan dan Asraf tidur di kamar mereka masing-masing yang bersebelahan.
Pagi setelah subuh, Ayumi mengajak Viona untuk lari pagi bersama kearah pantai sebelum sarapan dan berangkat ke kantor. Dengan malas gadis manja itu mengikuti bodyguard cantiknya dan Jade. Mereka keluar penginapan bersama.
Bumi masih gelap, Matahari belum menampakan cahaya dan panasnya, rumput, bunga dan dedaunan masih basah oleh embun, udara pagi yang sejuk memberikan kenyamanan pada paru-paru, aroma lembut yang menenangkan.
Melakukan sedikit gerakan pamanasan sebelum melakukan jogging, mereka bertiga melewati Mushola, Asraf menarik tangan Fauzan untuk bersembunyi di balik pohon depan pagar dan mengintip sedikit.
“Ada apa?” tanya Fauzan pelan.
“Nona Viona.” Asraf melihat kearah Ayumi yang tidak menggunkan maskernya, tetapi wajah itu tidak terliah jelas di bawah cahaya lampu yang remang. Fauzan ikut mengintip dari balik pohon.
“Kita bisa ikut jongging.” Fauzan tersenyum.
“Jika terlalu dekat kit akan ketahuan tuan.” Asraf melihat Fauzan.
“Lakukan penyamaran.” Fauzan kembali tersenyum.
“Baik Tuan.” Asraf terlihat bersemangat, mereka berdua kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan menyamar.
Ayumi menggunakan training panjang dan astasan hoddie berwarna abu-abu dengan penutup kepala yang ia pakai membungkus hijab coklatnya dan sepatu sport putih begitu juga dengan Viona. Jade menggunakan kaos tanpa lengan dan celana sebatas lutut serta sepat sport.
Mereka telah sampai pantai indah dan masih alami, Viona terduduk di pasir karena kelelahan, berbeda dengan Ayumi, wanita itu melakukan gerakan-gerakan pertahanan diri, ia melihat samsak pasir yang tergantung di pohon dan tersenyum.
Ayumi mendekati samsak berupa karung berisi pasir, wanita itu melakukan tinju dan pukulan ringan dengan tangannya, gerakan semakin kuat dan cepat, pasir telihat keluar dari karung pasir sedikit demi sedikit karena karung telah sobek akibat pukulan Ayumi dan terakhir ia melakukan tendangan berputar sehingga karung hancur dan berserakan di pasir.
Viona terkejut begitu juga dengan Jade yang menggelengkan kepalanya dan dua pria yang melakukan penyamaran, melihat dari kejauhan. Wanita itu memiliki kekuatan yang luar biasa dan sangat terlatih.
“Nona, masih ada banya karung berisi pasir disini.” Ayumi tersenyum kepada Viona.
“Aku biasa menggunakan samsak di tempat latihan.” Viona beranjak dari pasir.
“Pasir lebih mudah dihancurkan, cobalah dengan perlahan!” Ayumi menatap Viona.
“Baiklah.” Viona memberi pukulan pelan pada samsak pasir.
“Bagaimana?” tanya Ayumi berdiri di samping Viona.
“Sakit.” Viona mengusap pungggung tangannya.
‘Tentu saja, karung ini tipis dan bercelah sehingga tajamnya pasir dapat menyakiti tangan.” Ayumi memegang samsak pasir.
“Asraf, apakah kamu sudah mendapatkan data tentang wanita itu?” tanya Fauzan tanpa mengalihkan pandangan dari Ayumi.
“Tidak ada data tentang dirinya.” Asraf fokus melihat Ayumi.
“Itu mencurigakan.” Fauzan menatap Asraf.
“Anda benar Tuan, tetapi mana mungkin Tuan Jhonny sembarangan memilih orang untuk menjadi pengawal Viona.” Asraf duduk di kursi kayu.
“Ayumi, kamu luar biasa.” Viona duduk di tanah, Jade duduk di sampingnya dan memandang Ayumi yang duduk di depan mereka.
“Aku hanya terbiasa dari kecil.” Ayumi membuka topi hoddie sehingga wajah cantik dan putih bersih terlihat jelas, keringat mengalir, hijabnya telah basah.
“Hai nona cantik, pasti kalian pendatang.” Seorang pria duduk di samping Ayumi yang langsung beranjak dari kursi.
“Hei, kamu sombong sekali.” Seorang pria memegang tangan Ayumi.
“Lepaskan tangan Anda.” Ayumi menatap tajam pada pria yang memegang tangannya.
“Wow, kamu sangat cantik.” Pria itu mau menyentuh dagu Ayumi dengan kecepatan tinggi, wanita jepang itu membanting tubuh pria yang tadi memegang tangannya.
“Arrg.” Pria terbaring di pasir.
“Hey wanita bar-bar.” Teriak seorang lagi.
“Apa kamu akan menyerang wanita dari belakang?” Jade membuka kacamatanya dan memberikan kepada Viona.
“Dia pasti bukan seorang wanita.” Pria itu memutar tubuhnya dan mau memukul Jade dengan cepat ia menghindar dan memukul balik.
“Pagi-pagi sudah ada pengacau.” Viona tersenyum melihat kearah Ayumi yang telah membuat lawannya babak belur dan tidak berdaya terbaring di atas pasir.
Ayumi melihat Jade yang kesulitan merobohkan lawannya, oppa kulit putih itu terlihat lemah tetapi bodyguard cantik tidak akan mengganggu perkelahian antar pria ia tidak mau menyinggung perasaan mereka.
“Ayumi, apa kamu tidak akan membantu Jade?” Viona memegang tangan Ayumi.
“Apa kamu mau aku membantunya?” Ayumi balik bertanya.
“Ya.” Viona khawatir wajah tampan Jade akan hancur.
“Baiklah.” Ayumi berjalan mendekati Jade yangterlihat kewalahan.
__ADS_1
“Maaf Jade, nona Viona mau saya menggantikan anda.” Ayumi memberikan tendangan memutar pada wajah pria yang menjadi lawan Jade, tendangan berkali-kali tanpa jeda membuat musuhnya tidak memiliki kesempatan untuk membalas. Pria iatu tersungkur di pasir.
“Hei Nona, kamu berani sekali bermain di daerah kekuasaan ku.” Seorang pria tampan dengan kulit sawo matang turun dari motor sport berwana hitam.
Ayumi menatap tajam pada pria yang berjalan mendekati dirinya, pria itu memainkan pisau lipat ditangannya.
“Wow, kamu sangat cantik, bagaimana jika kamu jadi kekasihku?” Pria itu mendekatkan wajahnya pada Ayumi.
“Kamu bukan tipeku.” Ayumi tersenyum menghina.
“Sombong sekali, apakah pria itu yang merobohkan anak buahku?” Pria itu menatap tajam pada Jade.
“Aku.” Ayumi mundur beberapa langkah dari pria yang ada di hadapannya.
“Kenapa kamu menghindar sayang.” Pria itu tersenyum manis.
Anak buahnya tidak bisa berbicara karena bibir telah pecah akibat tendangan Ayumi, wajah mereka bengkak dan memar, seluruh tubuh sangat sakit untuk beranjak dari pasir sudah tidak sanggup lagi, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk memberitahu Bos mereka tentang Ayumi.
“Tuan apa kita harus membantu?” Asraf berdiri.
“Kita lihat situasinya, jika pengawal itu kalah baru kita mendekat.” Fauzan melihat Ayumi.
“Baik Tuan.” Asraf fan Fauzan mengawasi dari jauh menunggu kesempatan menjadi pahlawan.
Tidah butuh waktu lama Ayumi telah merobohkan pria terakhir, wanita itu tidak luka sedikit pun, bahkan tidak ada yang bisa menyentuhnya. Mereka hanya warga sipil, hanya dengan tangan kosong saja dan tidak perlu mengeluarkan senjata untuk merobohkan lawan yang bertarung tanpa kemampuan hanya mengandalkan kekuatan.
Ayumi adalah petarung yang terlatih, selain kekuatan dan kemampuan teknik dan taktik sangat dibutuhkan, untuk seorang wanita cerdas perhitungan yang akurat dapat mengalahkan lawan dengan mudah, membaca gerakan dengan memanfaatkan lima kemampuan indra yang telah Tuhan berikan, manusia hanya perlu melatih dan mengasahnya secara rutin.
Mata Asraf dan Fauzan melotot melihat kemampuan dan kekuatan yang dimiliki Ayumi, wanita itu sungguh luar biasa, menambah kecurigaan pria itu kepadanya.
“Sebaiknya kita kembali ke penginapan.” Ayumi melihat kearah Viona dan Jade.
“Baiklah.” Viona menggandeng tangan Ayumi.
“Lepaskan Nona, tubuh saya berkeringat.” Ayumi melepaskan tangan Viona.
“Tuan Jade, apa kamu baik-baik saja?” Ayumi berjalan mendekati Jade.
“Ya, terimakasih.” Jade menatap Ayumi.
“Nona berjalan di depan besama Jade.” Ayumi menunggu.
“Kenapa?” tanya Viona.
“Tidak apa, lakukan saja.” Ayumi tersenyum.
“Baiklah.” Viona berjalan bersama Jade.
Ayumi melihat kebelakang dan meneliti setiap sudut pantai dengan mata tajamnya, ia menghentikan tatapannya pada sebuah pohon dimana Fauzan dan Asraf bersembunyi, wanita itu tahu bahwa mereka diawasi dari pertama kali datang ke pantai.
“Ayumi, ayo pulang.” Viona berteriak melihat Ayumi yang masih mengawasi sekeliling pantai.
“Ya.” Ayumi berjalan cepat mendekati Viona dan Jade.
“Pendengaran dan penglihatan wanita itu sangat tajam.” Fauzan menyenderkan tubuhknya di pohon.
“Benar Tuan.” Asraf duduk di pasir, ia baru bisa bernapas.
“Apa mereka telah pergi?” tanya Fauzan, ia membayangkan Ayumi yang bertarung dengan lincah tanpa celah.
“Sudah Tuan.” Asraf mengintip.
“Kamu harus mendapatkan data tentang wanita itu, bila perlu tanya namanya pada Jhonny.” Fauzan keluar dari persembunyiannya.
“Akan saya lakukan Tuan.” Asraf beranjak dari pasir.
"Dia bukan wanita biasa dan mencurigakan." Fauzan berjalan kearah tepi pantai dan melihat para preman yang telah dirobohkan Ayumi.
"Anda benar Tuan, wanita yang luar biasa." Asraf tersenyum mengikuti langkah kaki Fauzan.
Menatap langit indah terpantul dari Kilauan air laut yang jernih. Pasir putih dan lembut tersapu gelombang yang menyapa ramah memberikan buih-buih yang menghiasi tepian pantai bagaikan dosa yang telah manusia buat di dunia fana.
Keindahan alam ciptaan Tuhan, membuktikan dunia ini bukan milik manusia. Terjangan lembut ombak dapat berubah menjadi Tsunami yang dahsyat, menghancurkan kehidupan atas perintahNya.
***
Untuk yang tidak suka silahkan hapus dari Favorit tetapi jangan menjatuhkan Novel dengan laporan yang tidak benar dan menurunkan rate, hargailah hasil karya Author. Terimakasih.
Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.
Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan " Tabib Cantik Bulan Purnama"
Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.
__ADS_1
Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.