
Kamar Dini
Dini sangat bersemangat, rasanya ia benar-benar beruntung, di hari Konser mereka mendapatkan libur dan begitu juga di hari kegiatan operasi ia dan Nisa masih libur.
Kebetulan yang menguntungkan, Wajah Cantik dan cerah Dini memancarkan kebahagiaan luar biasa, ia telah siap di pagi hari.
Dini menatap diri di depan kaca dan tersenyum bahagia.
" Ya Tuhan, aku benar-benar Bahagia" Dini berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin.
" Aku akan menunggu Dokter Nisa di depan pintu, ia sudah dengan baik hati menjemput diriku" Dini bergegas keluar dari kamar menuju halaman rumah.
Udara pagi yang menyegarkan, Dini duduk di kursi depan rumah, ia telah mempersiapkan semuanya dengan sempurna, karena setelah kegiatan Amal Leo mengajak Dini dan Dokter Nisa makan bersama di L & L Entertainment.
Leo Juga akan membawa Dini dan Dokter Nisa berkeliling di kantor Leon, melihat tempat latihan Leo.
Dini sangat bahagia sehingga tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, yang bisa ia lakukan hanya tersenyum sendiri.
***
Rumah Rahasia.
Di pagi hari, Nisa membantu suaminya berpakaian dengan rapi, mereka berdua berdiri di depan cermin raksasa.
Pria itu sangat tampan, dengan pakaian hasil rancangan desainer ternama sangat pas di tubuh sempurna Stevent.
Nisa tersenyum menatap Stevent.
" Kamu sangat tampan" puji Nisa kepada suaminya.
" Aku tahu, karena kesempurnaan diriku, aku harus mendapatkan bidadari seperti dirimu" Stevent memeluk Nisa yang hanya tersenyum cantik.
" Sayang, hari ini aku akan membawa mobil sendiri dan menjemput Dini" Nisa berjalan mendekati cermin, merapikan jilbab putih yang berada di dalam jas putih miliknya.
Nisa menggunakan celana panjang berbahan katun berwarna putih, dan Tunik panjang dengan kancing depan hingga sampai lutut dengan warna merah muda berbahan katun lembut dan nyaman di badan.
" Sayang, kamu semakin cantik" Stevent memeluk Nisa dari belakang dan meletakkan dagunya di atas pundak Nisa.
" Untuk pantas bersanding dengan pria tampan dan sempurna " Nisa tersenyum.
" Aku tahu akan bertemu dengan seorang bidadari, Karena itulah wanita di luar sana tidak menarik bagi diriku" Stevent Mencium dahi Nisa.
Mereka berjalan bersama menuju garasi mobil. Nisa mencium punggung tangan Stevent. Stevent mencium setiap sudut wajah Nisa tidak ada yang terlewatkan.
Stevent membuka pintu mobil untuk Nisa.
" Sayang, Selesai operasi kamu langsung ke kantor!" tegas Stevent.
" Iya Sayang" Nisa menyentuh pipi suaminya.
" Kamu tidak perlu bertemu dengan si Leo itu untuk menerima ucapan terima !" Stevent menatap tajam penuh kecemburuan.
Stevent selalu berpikir setiap pria akan jatuh cinta kepada Nisa hanya dengan melihat senyumnya.
Dirinya yang mendapat gelar pria tersukses dan tertampan namun sedingin gunung Es di kutub Utara saja bisa mencair hanya dengan melihat senyuman dan mendengar suara lembut Nisa.
Apalagi pria yang di mata Stevent biasa saja dan tidak sebanding dengan kesempurnaan dirinya.
" Iya, Suamiku, Cintaku, Sayangku, Cup " Nisa mencium sekilas bibir seksi Stevent.
" Aku berangkat ya" Nisa tersenyum dan duduk di kursi pengemudi.
" Sayang, rasanya aku tidak mau melihat dirimu pergi sendirian " Stevent memasukkan kepalanya ke dalam mobil Nisa dan memasang sabuk pengaman istrinya.
" Tidak apa-apa, rumah sakit itu dekat dari kantor kamu, jika kamu kosong datanglah" Nisa meletakkan tangannya di leher Stevent yang kesulitan karena mobil yang kecil untuk tubuh jangkungnya dan mereka berciuman.
Stevent menutup pintu mobil Nisa dan melambaikan tangannya. Mobil Nisa meninggalkan perkarangan rumah.
Stevent melihat mobil istrinya keluar dari pagar dan menghilang.
Nisa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah Dini.
Mobil Nisa berhenti tepat di depan pintu pagar perkarangan sederhana rumah minimalis yang di bayar dengan potongan gaji Dini setiap bulannya.
Nisa menekan klakson mobil, Dini yang duduk melamun melayangkan khayalan bersama Leo terkejut langsung berdiri dan berlari menuju mobil Nisa.
Dini membuka pintu mobil dan duduk di samping Nisa.
" Maaf Dok, aku terlalu bahagia" ucap Dini tersenyum.
__ADS_1
" Aku harap kamu bisa konsentrasi ketika bekerja" Nisa tidak terlalu Suka dengan manusia yang mengagumi manusia secara berlebihan.
" Tentu saja Dok" ucap Dini
Nisa segera mengendarai mobil menuju rumah sakit tempat pelaksanaan kegiatan Amal.
Mereka telah sampai di Rumah Sakit Swasta, Nisa memarkirkan mobilnya di tempat parkiran yang telah di sediakan.
Dini segera melakukan pendaftaran Ulang untuk melihat ruangan yang akan digunakan Dini dan Dokter Nisa bersama tim Dokter lainnya.
Dini membawa daftar pasien yang akan mereka tangani, Mereka hanya akan melakukan operasi kecil dan ringan.
Nisa berjalan bersama dengan Dini menuju ruang tunggu para pasien mereka.
Beberapa Dokter dan asisten hanya duduk santai menunggu waktu operasi, berbeda dengan Nisa, ia akan bertemu lebih dulu dengan pasien dan memberikan semangat.
Dini telah paham dengan cara kerja Nisa, ia berjalan bersama Nisa mencari nama pasien yang ada dalam daftar.
Dini mendahului Nisa membuka pintu dan berjalan menemui Pasien mereka.
Nisa selalu memberikan kesan baik kepada semua orang yang ia jumpai.
***
Kegiatan Amal berjalan lancar, Dini dan Dokter Nisa telah selesai membersihkan diri.
" Dokter, hari ini kita akan tour ke Perusahaan L & L Entertainment" ucap Dini bersemangat.
" Aku rasa tidak ada jadwal tour" Nisa melihat Dini yang tersenyum bahagia.
" Kamu pergilah, aku sudah janji langsung ke kantor Stevent, jika Kegiatan operasi telah selesai" Ucap Nisa.
Dua orang bodyguard berpakaian serba hitam berjalan mendekati Nisa dan Dini.
" Permisi Nona - Nona, mobil tour telah menunggu " ucap pria berpakaian serba hitam.
" Pergilah Dini, aku akan bertemu dengan teman lama di sini " Nisa tersenyum dan berjalan menuju sebuah ruangan Dokter ahli Bedah teman kuliahnya.
" Terimakasih Dok" Nisa benar-benar bersemangat.
Sebuah mobil Van khusus Milih Leo telah terparkir di pintu belakang Rumah Sakit.
Ia tersenyum menyembunyikan kekecewaannya, wanita yang ia harapkan tidak ada.
" Nona Dini, Dimana Dokter anda?" tanya Leo lembut.
" Dokter Nisa tidak ikut dan dia masih di dalam untuk bertemu dengan seorang teman lama" Jelas Dini bersemangat.
Leo turun dari mobil,
" Masuklah !" perintah Leo dengan patuh Dini masuk ke dalam mobil.
Leo menutup pintu mobil yang terkunci otomatis dan berbicara dengan beberapa bodyguard yang tidak terdengar oleh Dini.
Dua orang bodyguard segera masuk ke mobil dan membawa pergi Dini yang kebingungan melihat Leo tidak ikut naik.
Leo menggunakan jaket dan masker hitam, topi serta kacamata untuk menutupi dirinya dari para penggemar.
Leo berlari cepat masuk ke dalam Rumah Sakit Menuju ruangan pusat informasi, beberapa orang kepercayaan Leo telah memeriksa kamera cctv untuk melihat kemana Nisa pergi.
Nisa berjalan menuju ruang Dokter Bedah bernama Wilma, teman kuliahnya. Ruangan berada di Ujung koridor jauh dari ruangan perawatan, sehingga tampak sepi.
Nisa telah melepaskan rindu bersama Wilma, mereka berbincang sebentar karena Stevent terus menelpon Nisa.
" Wilma, maafkan aku tidak bisa berlama-lama dengan dirimu?" tangan Nisa dan Wilma berpegangan.
" Tidak apa-apa, sepertinya suami kamu sangat protektif" Wilma tersenyum.
" Terimakasih telah berkunjung, aku akan menghubungi dirimu jika kita punya waktu untuk bertemu lagi" Wilma memeluk Nisa.
Wilma mengantarkan Nisa di depan pintu ruangannya. Nisa pamit pulang.
Nisa berjalan cepat ponselnya kembali berdering, video call dari Stevent terlihat di layar ponselnya.
Nisa hanya tersenyum sepertinya suaminya tidak bekerja terlalu sibuk menghubungi Nisa.
Nisa segera menggeser icon berwarna hijau.
" Assalamualaikum Sayang" Nisa melihatnya wajah suaminya begitu Tampan walau tidak ada senyuman di sana.
__ADS_1
" Sayang, cepatlah kembali" ucap manja Stevent.
Belum sempat Nisa menjawab Stevent seseorang menarik tangannya hingga membuat ponsel terjatuh ke lantai, menekan tubuh Nisa ke dinding.
" Astaghfirullah" Nisa terkejut seorang pria tampan dengan jaket hitam dan topi dengan masker dan kacamata telah dibuka.
" Hai, malaikatku" Leo tersenyum puas bisa melihat Nisa yang tampak lebih cantik dari terakhir kali mereka berjumpa.
" Tuan bisakah anda melepaskan tangan saya" Nisa sadar pria di depannya adalah Leo sang Bintang.
Leo tidak memperdulikan ucapan Nisa, ia memperhatikan setiap sudut wajah cantik dan sempurna Nisa, ia sangat merindukan wanita lembut di depannya.
Pegangan Leo sangat kuat, Nisa masih berpikir bagaimana melepaskan diri dari pria aneh di depannya.
Nisa mendorong tubuh Leo sekuat tenaganya yang hanya membuat tubuh Leo mundur beberapa langkah.
" Apakah Anda tahu perlakuan and itu tidak sopan " Nisa menatap tajam pada Leo
Nisa mencari ponselnya yang masih terhubung dengan Stevent, ia melihat ponsel tergeletak di atas lantai hampir jatuh ke lantai.
Nisa berjalan untuk mengambil ponselnya, namun tangan Leo telah lebih dulu mengambil ponsel Nisa.
" Aku akan menggantikan ponsel kamu dengan yang baru" Leo tersenyum.
" Tidak perlu, bisakah anda kembalikan ponsel saya?" Nisa mengulurkan tangannya.
" Dokter Nisa, apakah anda telah melupakan saya ?" tanya Leo dengan wajah sedih dan tidak mengembalikan ponsel Nisa.
Pria manja yang mendapatkan segalanya yang ia inginkan, kini terobsesi untuk mendapatkan Nisa.
" Maaf, saya tidak bisa mengingat semua orang yang pernah saya temui" Nisa berjalan meninggalkan Leo, ia tidak perduli dengan ponselnya karena bagi Nisa ponsel bisa ia beli lagi Namun yang utama adalah menghindari pria di depannya.
Melihat Nisa pergi meninggalkan dirinya Leo dengan sigap menarik kembali tangan Nisa hingga jatuh dalam pelukannya.
Mata Nisa melotot ia sangat tidak siap dengan tindakan Leo, ia tidak akan kuat mengangkat tubuh Leo yang sebanding dengan tubuh Stevent.
Leo mengunci tubuh Nisa.
" Aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi lagi " bisik Leo
Nisa berusaha mendorong tubuh Leo yang telah mengunci dirinya.
" Ya Tuhan, sekuat apapun wanita tidak bisa di bandingkan dengan pria terlatih" Bisik.
Seorang pria dengan emosi tinggi berlari ke arah Leo.
" Lepaskan istriku" teriak Stevent
Leo menoleh ke arah sumber suara dan,
" Bug " sebuah pukulan keras mendarat di wajah tampan Leo hingga la sempoyongan ke lantai.
Stevent menarik jaket Leo, dan kembali memberikan pukulan di wajah dan perut Leo.
Stevent terus memukul Leo tanpa memberikan jeda, ia ingin mematahkan tangan Leo yang telah menyentuh istrinya.
Nisa melihat Stevent yang bukan seperti dirinya lagi, wajah dan mata beringas siap membunuh Leo dengan tangan kosong.
Nisa tidak berani mendekat untuk menghentikan Stevent yang terlihat begitu mengerikan, namun jika di biarkan, Stevent akan menjadi pembunuh.
*
*
*
*
***************************"****************
**Thanks for Reading
Terimakasih atas Like dan Komentar yang diberikan pada setiap episode 😘
Terimakasih Yang setulusnya Untuk VOTE yang dengan ikhlas Readers berikan.
Semoga Readers semua selalu sehat dan Dilimpahkan banyak rezeki, amin.
Love you Readers ku**
__ADS_1