Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Hanya Sebagai Adik


__ADS_3

Kediaman Stevent.


Semilir udara masih dingin untuk dirasakan kulit, pantulan cahaya yang berasal dari ufuk timur perlahan merayap naik memberi kehangatan mengusir lembab dan mengeringkan embun memalui proses penguapan.


Burung-burung berkicau dari dahan pohon cemara yang berdiri koko di tama perkarangan rumah, bunga-bunga yang semula hanyalah kuntum mulai bermekaran memuji kebesaran sang Pemilik Alam. Daun yang bergoyang menyanyikan zikir syukur kepada Pencipta keindahan dunia.


Aktivitas pagi yang terus berulang oleh makhluk-makluk yang ada di atas Bumi Allah menjalankan kehidupan dengan kesibukan yang kadang melupakan kewajiban pada pemberi kehidupan. Manusia berlomba-lomba mengejar dunia tetapi mereka meninggalkan akherat yang sebenar-benarnya keabadian nyata.


Rumah mewah dengan banyak penghuni tetapi tetap tenang. Semua telah duduk di kursi ruang makan dan sarapan bersama, menyelesaikan bersama tanpa ada suara dan kembali ke kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri melaksanakan aktivitas rutin setiap hari.


Viona telah siap dengan celana jeans panjang berwarna biru langit, kemeja lengan panjang dengan motif kotak-kotak berwarna merah muda dan hijab abu-abu. Ayumi dengan pakaian, celana dan hijab berwarna gelap serta hoddie. Mereka berdua duduk di ruang tengah.


Aisyah merapikan dasi dan jas Jhonny di kamar, ia melihat mata suaminya yang menghindari tatapan dirinya, pria itu seakan menyimpan sebuah beban.


“Jhonnyku, ada apa dengan dirimu?” Aisyah menyentuh lembut pipi Jhonny dengan kedua tangannya.


“Maafkan aku.” Jhonny menatap sedih kedalam mata Aisyah.


“Untuk apa?” tanya Aisyah heran karena seharusnya dirinyalah yang harus minta maaf atas nama kedua orang tuanya.


“Maafkan aku tidak bisa membahagiakan dirimu.” Jhonny menunduk.


“Kebahagiaan yang bagaimana, aku sangat bahagia menjadi istri kamu karena kau mencintai dirimu.” Aisyah menatap Jhonny.


“Orang tua kamu pasti malu memiliki menantu seperti diriku.” Jhonny melepaskan tangan Aisyah dan mengambil tasnya.


“Maafkan aku.” Aisyah memeluk Jhonny dari belakang menghentikan langkah pria itu.


“Maafkan orang tuaku.” Aisyah mengunci tangannya di pinggang Jhonny yang hanya diam membeku.


“Kebahagiaanku adalah bersama dengan dirimu, jangan tinggalkan aku.” Aisyah menempelkan wajahnya di jas hitam Jhonny.


“Aku harus pergi bekerja.” Jhonny menyentuh tangan lembut Aisyah.


“Apa kamu marah pada diriku?” Aisyah memutar tubuh suaminya hingga menghadap dirinya.


“Tidak.” Jhonny menatap Aisyah dengan tatapan datarnya.


Aisyah menggantungkan tangannya di leher Jhonny dan menariknya agar pria itu menunduk sehingga ia bisa mencium bibir suaminya dengan lembut.


“Selamat bekerja.” Aisyah tersenyum.


“Terimakasih.” Jhonny berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga.


“Kamu tidak mau mengatakan perasaan dirimu kepadaku.” Aisyah duduk di tepi tempat tidur, ia melihat layar ponselnya dan tersenyum.


“Aku akan mengganggu Nathan dan Afifah.” Aisyah menekan icon panggilan pada nomor Afifah tetapi nomor itu tidak aktif.


“Hah, apa mereka masih tidur?” Aisyah kesal.


“Dasar Nathan, aku akan menggunakan Afifah untuk menaklukan dirimu .” Aisyah tersenyum puas dan beranjak dari tempat tidur keluar kamar untuk melanjutkan aktivitas pagi hari.


***


“Sayang, Umi akan datang untuk menemani Azzam dan Azzura.” Nisa memasang dasi suaminya.


“Menemani, apa kamu akan pergi?” Stevent menatap Nisa.


“Sayang, Senin aku akan kembali bekerja di rumah sakit.” Nisa tersenyum dan menyentuh hidung suaminya.


“Bawalah Ayumi bersama kamu, ia bisa menjadi, pengawal dan asisiten dirimu.” Stevent memakai Jas hitam dibantu Nisa.


“Apa dia serba bisa?” Nisa melihat Stevent membuka laci meja.


“Ini adalah data tentang Ayumi, kamu bisa mempelajarinya dan mencari lebih jauh tentang wanita itu.” Stevent menyerahkan amplop besar berwarna coklat.


“Bagaimana dengan Viona?” tanya Nisa heran.


“Kamu adalah kelemahan dan kekuatan diriku, para musuhku pasti lebih mengincar dirimu dan anak-anak kita daripada Viona.” Stevent memegang pudak Nisa dan mencium dahinya.


“Karena musuh terbesar diriku adalah papaku sendiri.” Stevent berbicara di dalam hati dan memeluk tubuh Nisa.


“Terimakasih sayang, aku akan menjaga diri dan berhati-hati.” Nisa tersenyum dan pria itu mencium bibir istrinya dengan lembut.


“Aku pergi dulu, jangan keluar dari lingkungan rumah kita.” Stevent menatap Nisa.


“Ya.” Nisa tersenyum.


“Aku mencintai kamu.” Stevent mencium semua bagian yang pada diwajah Nisa.


“Aku mencintai kamu sayang.” Nisa memeluk tubuh suaminya.


Stevent keluar kamar bersama Nisa menuju garasi mobil, pria itu melambaikan tangannya dan mengendarai mobil meninggalkan perkarangan rumah menuju perusahaan yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.


Nisa kembali ke rumah menuju ruang tengah, ia melihat Ayumi fokus pada layar komputer dan Viona memainkan poselnya.


“Viona. Apa kamu tidak pergi ke kampus?” tanya Nisa duduk di samping Viona.


“Hari ini tidak ada jadwal kuliah, karena aku mapir menyelesaikan kuliahku.” Viona tersenyum melihat kearah Nisa.


“Apakah kamu akan tinggal di rumah?” Nisa melirik Ayumi yang tidak menoleh sedikitpun kearah dirirnya, wanita itu benar-benar fokus pada layar computer.


“Aku mengajak Ayumi bermain di Pesantren.” Viona melihat Ayumi.


“Apa yang akan kamu lakukan di sana?” Nisa tersenyum.


“Kamu akan berlatih bela diri bersama santriwati.” Viona bersemangat.


“Baiklah, aku akan kembali ke kamar Azzam dan Azzura.” Nisa beranjak dari sofa.


“Aku dan Ayumi sudah mengunjungi baby twins dan mencum pipi mereka.” Viona tersenyum.


“Baguslah, apa mereka masih tidur?” Nisa melihat Ayumi.


“Ya, mereka tidur nyenyak.” Viona memakan buah anggur.


“Ayumi, apa kamu betah tinggal di rumah ini?” Nisa berdiri tepat di depan Ayumi.


“Tentu saja Nyonya, terimakasih.” Ayumi tersenyum cantik.


“Syukurlah.” Nisa menyentuh tangan Ayumi dengan lembut dan berjalan menuju kamar Azzam dan Azzura yang selalu di jaga sepasang robot hebat.


***


Fauzan dan Asraf duduk di ruang makan khusus restoran Abi, agar tidak menimbulkan kericuhan ketika ada yang tahu bahwa pangeran Arab ada di restora itu dan sedang menikmati sarapan.


“Tuan, apa rencana anda hari ini?” tanya Asraf, ia mlihat semua rencana Fauzan telah terselesaikan.


“Tidak ada.” Fauzan meneguk habis air putih dari gelasnya, Asraf memperhatikan pria di depannya.


“Bagaimana perasaan dirimu?” Fauzan melihat pemandangan taman dari jendela kaca.


“Aku baik-baik saja, terimakasih Tuan.” Asraf tersenyum.


“Bagus.” Fauzan menoleh kearah Asraf.


“Kita akan mengunjungi pesantren, menunggu kedatangan Kenzo dan Ayesha yang membawa banyak oleh-oleh.” Fauzan tersenyum.


“Apa kita tidak perlu menjemput mereka?” tanya Asraf.


“Ada mobil khusus yang telah menunggu di Bandara, Ayesha tidak mau membuat diriku repot dan lelah.” Fauzan menggunakan masker dan beranjak keluar dari ruang makan berjalan bersama Asraf menuju pesantrean.


Dua pria tampan dengan wajah tertutup membuka pintu pagar rumah Abi, mereka berjalan masuk menuju pintu rumah yang terbuka dan mengucapkan salam. Umi tersenyum menyambut kedatangan tamu dan mempersilahkan masuk.


Fauzan dan Asraf tersenyum melihat dua wanita cantik yang sedang duduk di ruang tamu, Ayumi segera menggengam tangan Viona memberikan kekuatan sekaligus mengingatkan untuk menahan diri agar dapat menutupi perasaan kepada Fauzan.

__ADS_1


“Selamat pagi Tuan Fauzan dan Asraf.” Viona berdiri dan tersenyum dengan elegan diikuti Ayumi yang menunduk memberi hormat.


“Pagi, Viona bisakah kita berbicara sebentar?” Fauzan menatap Viona.


“Berbicara, tentang apa?” Viona terlihat gugup dan itu adalah sikap normal pada wanita yang sedang jatuh cinta dan mengagumi pria luar biasa.


“Bisakah kita keluar sebentar?” Fauzan melirik Ayumi yang menatap tajam.


“Ayumi, apa aku boleh keluar?” Viona memegang tangan Ayumi.


“Tentu saja Nona, jaga diri anda.” Ayumi tersenyum.


“Baiklah.” Viona berjalan mendekati Fauzan dan melangkah bersama keluar dari rumah. Fauzan berhenti tepat di depan sebuah kursi taman.


“Duduklah!” Fauzan melihat Viona.


“Terimakasih.” Gadis itu berusaha untuk tenang, tetapi jantungnya seakan tidak bisa dikontrol berdetak semakin kencang, ia khawatir bahkan Fauzan bis amendnegarkan dentuman yang ada di dalam dadanya.


“Viona, apa kamu marah pada diriku?” Fauzan berdiri tepat di depan Viona.


“Ah, apa? Marah? Tidak.” Viona kebingungan


“Syukurlah, maaf jika kata-kata ku ketika di kantor cabang menyinggung dan menyakiti dirimu.” Fauzan menatap Viona dengan lembut.


“Ah tidak, aku memang pantas mendapatkannya.” Viona menunduk tersenyum, ia menyatukan kedua tangannya memainkan jari-jari yang telah dingin dan hampir beku tetapi merasakan bunga-bunga seakan bermekaran memberikanharum mewangi pada dirinya.


“Baiklah, aku menganggap dirimu seperti adik karena usia kamu yang masih muda jauh dari diriku.” Fauzan tersenyum.


Kalimat Fauzan membuat Viona mengangkat kepalanya dengan cepat dan menatap pada wajah tampan pria yang ia cintai itu dengan senyuman yang semakin mempesona tetapi perkataan pria dewasa itu bagaikan duri-duri pada mawar merah yang langsung menusuk pada hatinya memberikan luka yang menyebabkan darah membanjiri seluruh tubuhnya.


Viona berusaha menahan diri agar tidak menjatuhkan air mata atau menampakkan luka yang ia rasakan dari perkataan Fauzan. Adik, gadis itu tidak berharap menjadi adik walaupun perbedaan usia yang cukup jauh.


“Kenapa kamu menatap diriku seperti itu?” Fauzan melambaikan tangannya di depan Viona.


“Ah tidak.” Viona tersenyum menyembunyikan kekcewaanya.


“Apakah anda telah selesai berbicara?” Viona menenangkan diri, ia ingin segera pergi dari hadapan Fauzan, sesak di dadanya seakan mendorong air mata yang akan tumpah keluar.


“Aku sudah selesai, aku berharap kamu akan menjadi wanita dewasa yang luar biasa.” Fauzan tersenyum tampan.


“Terimakasih, permisi.” Viona tersenyum dan berjalan kembali ke rumah. Ia melihat Asraf dan Umi sedang berbicara di ruang tamu.


“Umi, dimana Ayumi?” Viona tersenyum.


“Temanmu sangat pendiam, ia menyendiri di ruang tengah.” Umi tersenyum.


“Aku akan menemui Ayumi.” Viona berjalan menuju ruang tengah dan melihat Ayumi yang diam menatap layar computer,


“Entah apa yang dikerjakan Ayumi?” Viona berlari menaiki tangga menuju kamar Nisa.


“Ada apa dengan dirinya?” Ayumi mematikan computer dan berjalan perlahan menaiki tangga.


“Ada apa Nona?” Ayumi masuk kedalam kamar dan melihat Viona yang terungkup di atas tempat tidur memeluk bantal.


Tidak ada jawaban yang didengar hanya isakan tangis dari mulut Viona, Ayumi duduk di kursi rias depan cermin, ia membiarkan gadis itu menumpahkan kesedihanya, membasahi bantal dengan air mata.


“Apa yang Fauzan katakana hingga Nona Viona menangis?” Ayumi kembali mengakyivkan komputernya, ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dari jauh. Wanita itu adalah seorang putri Kekaisaran Jepang.


***


Fauzan duduk di bawah pohon, ia memikirkan perkataan dirinya yang membuat perubahan wajah Viona secara tiba-tiba. Gadis itu terlihat terkejut dan langsung mengangkat kepalanya menatap Fauzan dengan tatapan kecewa.


“Apa dia tidak suka aku anggap sebagai adik?” tanya Fauzan pada dirinya sendiri.


“Tuan, sebaiknya kita pergi ke Perusahaan sebelum pulang ke Arab.” Asraf berdiri di depan Fauzan.


“Apakah terjadi seseuatu?” tanya Fauzan.


“Tidak Tuan, hanya saja ada beberapa berkas yang harus kita tanda tangani sebelum di serahkan kepada Tuan Davit.” Asraf menunduk.


“Davit adalah sahabat Tuan Kenzo yang akan datang dari Kairo pada hari ini.” Asraf memebrikan ponselnya kepada Fauzan.


“Pabrik akan di kelola oleh Tuan Davit sebagai pengganti Tuan Kenzo untuk sementara.” Asraf melihat kearah Fauzan.


“Baiklah, aku akan pamit pada Umi, kamu ambilkan mobil di Hotel.” Fauzan beranjak dari kursi dan berjalan menuju rumah.


“Baik Tuan.” Asraf berjalan menyebrangi jalanan untuk mengambil mobil.


***


Viona melihat Ayumi yang terus sibuk dengan computer, gadis itu sangat lelah menangis hingga tertidur, ia merasakan kepalanya pusing. Matanya tampak bengkak dan wajah yang sembab. Wanita hanya bisa menangis ketika terluka begitu rapuh dan lemah.


“Apa anda telah tenang?” Ayumi melirik Viona yang duduk di tepi ranjang.


“Ya, aku sangat puas menumpahkan air mata ini.” Viona menatap Ayumi.


“Baguslah, aku berharap anda tidak akan pernah lagi menangis karena pria.” Ayumi mematikan komputernya, wanita itu benar-benar sibuk.


“Apa anda menyatakan cinta kepada Tuan Fauzan dan ditolak?” Ayumi tersenyum.


“Aku belum sempat menyatakan cinta tetapi dia sudah menolak diriku.” Viona menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


“Dia menganggap diriku sebagai adiknya.” Viona kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Bangkitlah dan mulai hari dengan yang baru!” Ayumi tersenyum.


“Selama kamu bersama diriku, aku pasti mampu melewati ini, aku tidak sendiri lagi.” Viona memeluk Ayumi.


“Ponsel anda bordering.” Ayumi melepaskan pelukannya.


“Pesan dari Kak Nisa.” Viona membuka layar ponselnya.


“Makan malam di rumah Mama.” Viona melihat kearah Ayumi.


“Kenapa wajahmu terlihat aneh?” Ayumi memperhatikan Viona.


“Aku sangat rindu Mama tetapi takut pada Papa.” Viona.


“Tidak usah khawatir, aku akan bersama anda.” Ayumi tersenyum.


“Aku mengkhawatirkan Kak Nisa.” Viona berdiri di depan jendela kamar dan melihat kepergian Fauzan dan Asraf.


“Kenapa?” Ayumi memperhatikan Viona menyelidiki.


“Papa ingin menghancurkan Kak Stevent melalui Kak Nisa.” Viona menoleh.


“Bukan itu alasannya tetapi ada dendam lama antara Alexander dan Mark.” Ayumi tersenyum dan berbicara di dalam hati.


“Kehancuran penikahan Papa Mark dan Maria adalah campur tangan Alexander.” Ayumi menarik napas dengan berat dan membuangnya.


“Ayumi, ayo kita melihat anak-anak pesantren belajar.” Viona tersenyum.


“Cuci wajah anda terlebih dahulu.” Ayumi memasukan computer jinjing kedalam ransel dan membawanya kemanapun ia pergi.


***


Bandara Internasional


Kenzo menggandeng mesra istri tercinta yang menutupi wajahnya dengan nigop menyembunyikan kecantikan yang Tuhan berikan, wanita itu memperhatikan wajah tampan suaminya yang terlihat senang kembali ke negaranya.


“Sayang, bolehkah kita menunggu Davit?” Kenzo menatap mata indah Ayesha.


“Tentu saja Suamiku.” Ayesha tersenyum dan mengusap lengan kekar Kenzo.


“Terimakasih Sayang.” Kenzo mencium dahi Ayesha dan berjalan bersam menuju ruang tunggu.

__ADS_1


“Apa kamu masih ingat Davit?” Kenzo membukakan pintu ruangan.


“Dia yang menabrak diriku.” Ayesha tersenyum.


“Dia seorang pembalap dan hidup dengan bebas.” Kenzo tersenyum.


“Hey saudaraku Kenzo.” Teriakan yang mengejutkan dari seorang pria tampan dengan pakaian casual dna celana jeans, kacamata hitam melekat di wajahnya.


“Oh God.” Davit segera memeluk Kenzo dengan cepat Ayesha menghindar.


“Hey Davit, apa kabar?” Kenzo melirik Ayesha.


“Kamu kejam, tidak mengundah diriku pada pernikahanmu.” Davit meninju lengan Kenzo.


“Aw.” Kenzo mengusap tangannya.


“Apakah sakit?” Ayesha terlihat khawatir.


“Tidak Sayang, aku hanya bercanda, pukulan Davit tidak ada rasanya.” Kenzo tersenyum.


“Halo Tuan Putri Ayesha, apa kabar?” David menunduk memberi salam.


“Alhamdulilah sehat.” Ayesha tersenyum dari balik cadarnya.


“Baiklah, kami tidak perlu menunggu kita ke hotel sekarang, mobil telah menunggu.” Kenzo mendorong tubuh Davit agar menajuh dari dirinya.


“Hey, apa kamu mengusir diriku?” Davit melirik Ayesha.


“Aku harus menjaga istriku.” Kenzo segera menggandeng tangan Ayesha dan berjalan bersama meninggalkan Davit yang kesal.


“Hey, kamu menyiksa jiwa jombloku.” Davit berteriak, beberapa wanita memperhatikan wajah tampan Davit dan Kenzo.


Sebuah mobil telah megunggu di depan pintu keluar, Davit duduk di depan bersama Sopir, Kenzo dan Ayesha duduk berdua di belakang. Mobil melaju menuju Pesantren.


“Ini bukan Hotel.” Davit memperhatikan sekeliling.


“Hotel ada di depan Pesantren ini.” Kenzo membukakan pintu untuk Ayesha dan menggandengnya.


“Bagaimana dengan barangku?” tanya Davit.


“Sopir itu akan mengantarkannya, besok baru kita ke pabrik.” Kenzo berjalan bersama Ayesha menuju rumah.


“Tempat apa ini?” tanya Davit memperhatikan lingkunga, ia melihat dua wanita cantik yang sedang tertawa bersama anak-anak.


“Ini adalah pesantren tempat aku dibesarkan.” Kenzo tersenyum.


“Kenzo, ada bidadari di sana.” Davit menunjukan jarinya.


“Jilbab abu-abu adalah Viona adik Stevent dan yang satunya aku tidak kenal.” Kenzo melanjutkan langkah kakinya, ia mau menyapa Umi dan Abi.


“Wah, sangat cantik dengan wajah campuran.” Davit memperhatikan Ayumi dan Viona.


“Davit kemarilah.” Kenzo menyapa sahabatnya.


“Baiklah.” Davit berjalan menyusul Kenzo dan Ayesha.


Kenzo mengucapkan salam, dan disabut oleh Abi dan Umi, mereka melepaskan rindu dan kasih sayang dengan berpelukan.


“Kenzo, apa kalian akan berlama disini?” tanya Umi menyentuh tangan Ayesha.


“Kami sedang keliling dunia untuk berbulan madu.” Kenzo tersenyum.


“Apa kamu tidak akan mengunjung Nisa dan Stevent, mereka telah memiliki sepasang bayi kembar.” Umi tersenyum.


“Alhamdulillah, bagaimana sayang, apa kamu mau bertamu kerumah Nisa dan Stevent?” Kenzo memandang lembut pada Ayesha.


“Aku akan ikut kemanapun suamiku akan pergi.” Ayesha tersenyum.


“Ya Tuhan, kirimkan satu lagi bidadari seperti istri Kenzo untuk diriku.” Davit mengadahkan tangannya ke langit.


“Aamiin.” Jawab semua orang serempak.


“Aku melihat dua bidadari yang sednag bermain di taman.” Davit tersenyum.


“Viona dan Ayumi.” Umi dan Abi serempak dan mereka pun tertawa bersama.


“Apa aku boleh berkenalan dengan mereka?” Davit berdiri.


“Davit, siapkan mentalmu jika mendekati Viona.” Kenzo menepuk pundak Davit.


“Kenapa?” tanya Davit.


“Coba sajalah.” Kenzo tersenyum.


“Baiklah.” Davit keluar dari rumah.


Pria tampan dengan gaya badboy itu berjalan mendekati Ayumi dan Viona yang sedang main ayunan, para santri dan santriwati telah kembali ke kelas. Tetapi ia menghentikan langkah kakinya, ada keraguan di hati untuk berkenalan langsung dengan dua gadis cantik itu.


“Tidak-tidak, aku tidak akan datang langsung.” Davit kembali kerumah.


“Kenapa kembali?” tanya Kenzo.


“Aku sangat lelah, bisakah kamu mengantarkan aku ke kamar hotel.” Davit tersenyum.


“Baiklah.” Kenzo beranjak dari kursi.


“Sayang, apa aku boleh pergi menemani Davit?” Kenzo mendekati istrinya.


“Tentu saja suamiku, aku akan tinggal di sini dna mengunggu hadia kita sampai.” Ayesha tersenyum.


“Terimakasih sayang.” Kenzo mencium dahi Ayesha.


“Abi, juga akan kembali ke Restoran.” Abi beranjak dari kursi mencium kepala Umi yang langsung mencium tangan suaminya.


“Ah, mereka mempertontonkan kemesraan kepada jombli, tega sekali.” Davit menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berjalan keluar menabrak Viona.


“Aw.” Viona hampir jatuh dengan sigab Davit menangkap tubuh gadis berhijab abu-abu.


“Maaf Nona, apa kamu baik-baik saja?” Davit tersenyum tampan.


“Ya, tolong angkat tubuhku.” Viona gugup karena terkejut.


“Baiklah, maafkan aku.” Davit membantu Viona berdiri.


“Terimakasih.” Viona merapikan hijabnya.


“Viona, apa kabar?” Kenzo tersenyum.


“Kak Kenzo, aku baik.” Viona tersenyum.


“Halo Tuan Putri Ayesha.” Viona berjalan mendekati Ayesha.


“Ayo kita ke hotel.” Knezo menarik tangan Davit.


“Ah, kamu sengaja.” David mengikuti Kenzo.


***Selamat Hari Raya Idul Adha***


"Mohon Maaf Lahir dan Bathin"


Untuk yang Suka berikan like, Komentar, bintang 5, Tips, Vote serta bantu promosikan. Terimakasih.


Baca juga Novel Author berjudul “Arsitek Cantik” dan "Mengejar Cinta Ariel" dan "Tabib Cantik Bulan Purnama"


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu). Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2