Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Puncak


__ADS_3

Pagi ini tampak mendung di Puncak, Matahari tertutup awan, udara terasa sangat dingin, Abi dan umi telah selesai melaksanakan shalat Dhuha, mereka berdua bergandengan turun bersama menuju meja makan. Sarapan telah tersedia di atas meja. Bi Imah dan Pak Ahmad telah menggu di kursi masing-masing.


"Assalamualaikum" salam dari Abi dan Umi.


"Waalaikumsalam" pak Ahmad dan istrinya menjawab salam dan berdiri.


"Silahkan Tuan, sarapan sudah siap" lanjut bik Imah.


Mereka sarapan bersama tanpa ada yang berbicara, karena itu adalah aturan keluarga Abi Ramadhan.


Selesai sarapan, Abi, Umi dan pak Ahmad berangkat menggunakan mobil menuju restoran dan penginapan.


Sesampai di lokasi, gerimis telah turun ke bumi dengan lembutnya. Abi dan Umi terkejut hingga beristighfar. Restoran sepi tidak beroperasi lagi tapi tetap bersih, hanya penginapan yang masih ada penghuninya. Namun pembayaran penginapan tidak masuk lagi ke Abi.


Mereka berjalan memasuki restoran, tanpa di sadari mereka seseorang mengawasi mereka dari kejauhan.


Umi Fathimah telah meneteskan air mata, mereka merintis usaha itu dari bawah, ketika telah berhasil barulah mereka menyerahkan kepada Fathur.


Abi terus memegangi tangan istrinya yang begitu tampak sedih dan masih terdiam mengikuti langkah kaki Abi mengelilingi restoran, mereka tidak bisa masuk ke dalam karena terkunci.


Abi mengajak Umi dan Pak Ahmad duduk di teras restoran, dan meminta pak Ahmad menceritakan apa yang telah terjadi.


Pak Ahmad menceritakan panjang lebar, ia dan istrinya sudah di pecat dan bahkan tidak mendapatkan gaji lagi dari Fathur, hanya saja mengingat budi dari Abi dan Umi mereka berdua bertahan tinggal di villa.


"Tuan Fathur terlilit hutang tuan" kalimat terakhir pak Ahmad. Abi menghembuskan nafas panjang dan berat ia melihat istrinya. Dulu Fathur memang nakal dan suka menghambur - hamburkan uang, tapi ketika menikah ia berjanji akan berubah sehingga Abi dan umi mempercayai Fathur mengurus usah di puncak.


"Dimana Fathur dan keluarganya?" tanya Umi, Pak Ahmad melihat ke arah Abi, ia seakan ragu untuk menjawab pertanyaan Umi.


"Katakanlah" perintah Abi.


"Maafkan saya tuan, tuan Fathur di bawa orang yang tidak saya kenal, kami tida berani mendekat, yang saya ingat mereka meminta berkas gedung, untuk anak dan istri tuan Fathur saya tidak tahu, ketika tuan Fathur di bawa pergi, saya tidak melihat anak dan istrinya." jelas pak Ahmad panjang lebar.


Umi sudah sesegukan, mendengar penjelasan pak Ahmad, Abi merebahkan kepala di bahunya, dan mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi nomor Lara istri dari Fathur, namun gagal karena tidak aktif.


"Bagaimana kita mencari Fathur?" tanya Abi dalam hati, ia tidak mau menambah kekhawatiran istrinya.


Mereka terdiam tak beberapa lama datang beberapa orang pria berbaju hitam rapi mendekati mereka bertiga.


"Siapa di antara kalian keluarga bapak Fathur?" tanya seorang dari mereka.


"Saya" jawab Umi cepat dan berdiri, Abi berusaha menahan Umi.

__ADS_1


"Bagus, saya adalah asisten Tuan Jhonny orang kepercayaan Bos besar, ini adalah berkas perjanjian bapak Fathur dan bos Stevent, dan ini adalah hutang-hutang bapak Fathur." Seorang lagi menyerahkan salinan berkas.


"Dimana Fathur" tanya Umi.


"Anda tenang saja nyonya, Tuan Fathur bersama kami, silahkan hubungi nomor ini, waktu kalian 1 Minggu untuk melunasi hutang ini dan berikan nomor dan alamat rumah kalian kepada kami" jelas seorang lagi.


Dengan cepat Umi menulis alamat dan nomor teleponnya, Abi mengganti nomor ini dengan nomornya.


"Ini nomor saya" jelas Abi.


"Baiklah Tuan dan nyonya, senang bekerja sama dengan anda, secepatnya hubungi kami, permisi." ucap seorang.


"Jangan bermain-main dengan tuan Stevent, atau anda sekeluarga akan di hancurkan" Ancam seorang lagi.


Beberapa tamu tak diundang itu pun pergi meninggalkan mereka bertiga. Abi mengambil semua berkas.


"Mari kita kembali ke Villa" Abi menarik tangan umi. Pak Ahmad mengendarai mobil menuju villa.


Mereka duduk di ruang tamu, Umi hanya diam, Abi membaca berkas-berkas itu dengan teliti, ia berpikir kemana dan untuk apa uang sebanyak itu.


Bagaimana Fathur menghabiskan uang modal dari Stevent, bahkan keuntungan dari restoran dan penginapan saja lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Abi yang punya banyak anak asuh saja tidak pernah merasa kerugian bahkan restoran selalu memberikan keuntungan, dan yang Abi heran.


"Kemana Lara dan putrinya?" Umi bertanya dalam lamunan namun terdengar oleh Abi.


"Sepertinya mereka sudah pergi ke luar negeri?" ucap Abi.


Mereka semua tahu, Fathur bertemu dengan istrinya di luar negeri, wanita seksi dan glamor. Tumbuh dan besar dengan gaya Barat.


"Abi harus menghubungi Nisa" ucap umi, Abi segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia mencari kontak Nisa.


"Assalamualaikum, Abi apa kabar di sana?" suara lembut terdengar dari seberang.


"Waalaikumsalam, Abi dan Umi sehat, bagaimana dengan Nisa" tanya Abi.


"Alhamdulillah Nisa Sehat, kapan Abi dan Umi pulang?" tanya Nisa.


"InsyaAllah, besok." jawab Abi.


"Alhamdulillah, Nisa sudah kangen Umi dan Abi" ucap Nisa.

__ADS_1


Umi meminta ponsel kepada Abi.


"Nisa sayang, kamu sudah makan" tanya Umi.


"Sudah Umi" jawab Nisa.


"Jaga kesehatan, Dokter tidak boleh sakit" ucap Umi.


"Tentu saja Umi" Jawab Nisa tersenyum.


Mereka mengakhiri panggilan telepon. Waktu Zuhur telah tiba, Umi sholat di kamar, Abi dan pak Ahmad menuju Musholla dekat villa. Umi berdoa setelah sholat ia menangis dalam doanya, Ia memikirkan adik satu-satunya yang entah bagaimana keadaannya.


Apa yang terjadi sebenarnya, ia sangat ingin bertanya langsung kepada Fathur.


Bu Imah mengetuk dan mengucapkan salam, Umi beranjak dari tempat sholat dan membuka pintu.


"Maaf nyonya, Tuan Ramadhan dan suami saya sudah menunggu nyonya untuk makan siang" ucap Bu Imah.


"Terimakasih bik, saya akan segera turun" Umi melepaskan mukena dan merapikan sajadah. ia segera turun ke bawah menuju ruang makan.


Selesai makan siang Umi dan Abi mengendarai mobil menuju perkebunan Teh, milik pak Ahmad yang awalnya milik Abi.


Namun diberikan kepada pak Ahmad untuk di rawat dan dimanfaatkan hasilnya, karena Abi dan Umi juga memiliki beberapa anak asuh di Puncak yang diurus oleh pak Ahmad.


Abi dan Umi berjalan bergandengan, menikmati keindahan alam, untuk menenangkan pikiran, dan akan menyelesaikan masalah Fathur ketika kembali ke kota dan berdiskusi dengan Nisa yang kini menjadi pemilik semua usaha yang mereka jalankan.


Restoran dan penginapan di puncak belum cukup untuk membayar hutang Fathur, Jika restoran di kota juga di serahkan, bagaimana nasib pesantren, mereka tidak akan memiliki pemasukan lagi, tidak mungkin bergantung kepada Nisa.


Nisa memiliki banyak tabungan, karena uang untuk biaya sekolahnya tidak pernah Nisa gunakan, ia selalu mendapatkan beasiswa dan bahkan biaya kehidupan di tanggung sekolah, begitu juga dengan kuliah, Nisa kuliah gratis, hidup di asrama dan masih mendapat uang saku.


Saldo rekening Nisa terus bertambah. Pertama kali ia menggunakan uangnya ketika membeli mobil, itupun hanya setengah dari harga sebenarnya karena pemilik showroom mobil memberikan Potongan harga karena Nisa berhasil melakukan operasi berbahaya pada anaknya dan akhirnya berhasil.


Ada banyak hadiah yang Nisa dapatkan, kadang ia tidak tahu dari mana transferan uang yang masuk ke rekening Nisa. Setelah di usut mantap² pasien Nisa yang pernah ia operasi, buket bunga di ruangannya, bekal makan siang dan banyak lagi lainnya.


Nisa selalu berkata keberhasilan ketika operasi datangnya dari Tuhan. Ketika ia melakukan operasi, gagal atau berhasil telah ia serahkan hasilnya kepada Tuhan.


"Jadi berterimakasih lah kepada Tuhan".


"Menjaga diri dan kesehatan adalah salah satu cara kita bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan berikan" ucap Nisa kepada pasiennya


🤗 Thanks for reading 😊

__ADS_1


♥️ Love you readers 💓


__ADS_2