Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Preman Jalanan


__ADS_3

Nisa duduk di perkarangan rumah, hari sudah sangat petang, bahkan sebentar lagi azan magrib akan berkumandang. Ia menunggu Abi dan Umi.


"Kenapa mereka belum sampai, padahal hanya butuh 3 jam perjalanan?" Nisa beranjak dari duduknya.


Nisa melihat ke jalanan berharap melihat mobil Abi dan Umi ia mulai khawatir, Umi telah memberi tahu Nisa mereka pulang setelah sholat Zuhur dan ketika akan berangkat Umi masih sempat mengirim pesan.


"Apakah mereka masih mampir?" Anna Terus bertanya di dalam hati.


"Aku harus telpon Umi" Nisa berbicara sendiri, ketika akan menghubungi Umi terdengar adzan Magrib, Nisa mengurungkan niatnya untuk menekan tombol panggilan, ia segera masuk ke rumah, mengunci pintu.


Nisa mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Magrib, selesai sholat Nisa selalu melafalkan Alquran, karena Nisa sudah hapal Al-Qur'an.


Nisa mengambil ponselnya mencari kontak Umi, menekan tombol panggilan.


"Assalamu'alaikum, suara lembut Umi memberi salam.


"Waalaikumsalam, Umi dan Abi di mana?" tanya Nisa.


"Kita sudah di ujung masuk kota , mobil Abi mogok" Jelas Umi.


"Di ujung gerbang" pikir Nisa, Di sana sangat sepi dan berbahaya. Itu gerbang perbatasan kota.


"Abi mana Umi?" tanya Nisa.


"Abi sholat sayang"


Tut Tut panggilan terputus.


" Umi, Umi" Nisa segera mengganti gamis dengan celana hitam panjang, Tunik panjang berwarna putih sampai ke lutut, berbahan kaos, jilbab segiempat panjang menutupi dada, Nisa memakai jaket jeans berwarna putih di bagian terluar dan jilbab di dalam, dan sepatu sport putih supaya ia memudahkan ia bergerak.


Nisa segera mengambil kunci mobilnya, mengunci pintu, dan menuju garasi mobil. Selesai berdoa Nisa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Ia kembali mencoba menghubungi nomor Umi dan Abi tapi tidak ada jawaban. Selepas Magrib jalanan sedang ramai-ramainya.


Dengan sabar Nisa melewati kerumunan orang-orang di jalanan, Mulutnya terus bertasbih menyebut nama Allah, Nisa menjadi pembalap ketika jalanan sepi, ia sangat khawatir.


Tepat di Ujung jalan ia melihat Abi sedang berkelahi dengan beberapa orang preman, ia tidak melihat Umi.


"Mungkin di dalam mobil" pikir Nisa sebelum keluar mobil Nisa telah menghubungi polisi.


Nisa mengancing jaketnya, keluar Mobil dan menguncinya, berjalan mendekati Abi yang sudah kewalahan melawan para preman, usia Abi sudah tidak muda lagi, tentu saja tenaga Abi tidak bisa di bandingkan dengan para preman yang sedang segar-segarnya. Nisa mendekat, ia telah membawa pemukul baseball.


"Bug" pukulan mendarat di punggung salah seorang preman yang sedang memukul Abi. Para preman terkejut, mereka melihat seorang wanita cantik berkerudung hitam sehingga kontras dengan putih wajahnya.


Seorang preman yang duduk di atas kup depan mobil Abi, tersenyum ia melihat mangsa yang luar biasa, gadis muda dan cantik. Belum sempat ia mendekat menyentuh Nisa, tendangan telah mendarat di perutnya.


Nisa sangat bersemangat, sudah lama ia tidak berolahraga, tendangan, tinju dan pukulan tongkat baseball, meremukkan tulang dan menghancurkan wajah para preman,, hingga mereka terkapar di atas aspal.

__ADS_1


Nisa menarik nafas lega ketika ia mendengar sirine polisi. Para preman telah di bawa masuk ke mobil polisi. Nisa mendekati Abi yang terduduk lemas di aspal jalan.


"Abi, ayo masuk ke mobil Nisa" Abi berjalan di bantu Nisa menuju mobil Abi.


Nisa terkejut ketika membuka pintu mobil, Umi berlumuran darah dan tak sadarkan diri. Abi saja tidak tahu kapan para preman melukai Umi.


"Astagfirullah, Umi" Nisa segera menggendong Umi di bantu Abi masuk ke mobil Nisa,Ia segera melaju mobil dengan kecepatan tinggi hingga sampai ke rumah sakit, Nisa menghentikan mobilnya tepat di depan pintu UGD.


Perawat segera membantu Nisa membawa Umi ke ruang perawatan. Beberapa perawat dan dokter jaga terkejut melihat penampilan Nisa.


"Bersihkan luka, siapkan peralatan menjahit dan ambil stok darah golongan AB " perintah Nisa.


Beberapa perawat yang sedang jaga segera bergerak.


"Dimana Dokter piket?" tanya Nisa lagi.


"Sedang makan malam Dokter" jawab seorang perawat wanita gugup, Nisa mengernyitkan alisnya. Ruang UGD tanpa dokter jaga.


"Siapa Dokter piket malam ini?" Nisa memberi suntikan kepada Umi.


"Dokter Yuliana" jawab perawat yang membantu Nisa memasang cairan impuls dan telah menutup gorden ruangan karena Nisa akan segera menutup luka tusukan pada Umi, Untuk pisau tidak masuk terlalu dalam, umi pingsan karena takut melihat darah dan kondisi tubuh yang lemah.


Setelah melakukan perawatan dan pengobatan pada Umi, Nisa membuka gorden pemisah antara tempat tidur Abi dan Umi.


"Abi, apa Abi terluka ? atau ada bagian tubuh.


"Abi merasa sesak di bagian dada" Abi meringis ketika menyentuh dadanya.


"Kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut" ucap Nisa.


"Bagaimana Umi mu? tanya Abi, karena Umi masih belum sadar.


"Umi baik Abi, aku sudah menjahit lukanya, sebentar lagi Umi juga bangun." jawab Nisa menenangkan Abi.


"Dara, tolong pindahkan Pasien ke ruang inap kamar VIP atas nama saya" perintah Nisa pada seorang perawat.


"Ia Dok" beberapa perawat segera mendorong brankar.


Nisa membantu Abi pindah ke kursi roda.


"kita akan melakukan Rotgen" Nisa mendorong kursi roda Abi menuju ruang pengambilan gambar Rotgen.


Nisa menyerahkan Abi kepada seorang dokter yang sedang bertugas.


"Apa yang terjadi? kenapa pakaianmu berdarah?" tanya Dokter Yusuf kepada Nisa ketika Abi telah di bawa masuk ke dalam ruangan pemeriksaan oleh beberapa perawat.


"Abi dan Umi di serang preman jalanan, ini darah umiku" Nisa menyentuh jaket putih yang kini telah berwarna merah.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Umi?" tanya Dokter Yusuf.


"Umi baik, ia hanya panik,aku sudah menjahit lukanya"


"Kamu, bukankah ada dokter jaga?"


"UGD kosong tanpa Dokter piket" Nisa duduk di kursi depan meja dokter Yusuf.


"Aku akan melihat Abi kamu" Dokter Yusuf berjalan masuk ke ruang pemeriksaan.


Ia kembali ke mejanya membawa gambar hasil Rotgen dan menyerahkan kepada Nisa. Ia tahu Nisa pasti tak sabar ingin melihat hasilnya.


"Abi harus di operasi" Nisa menarik nafas.


"Resikonya sangat besar, Tulang dada sangat rapuh karena usia bapak Ramadhan sudah tidak muda lagi" jelas Yusuf yang sebenarnya Nisa sudah tahu itu.


"Besok kita akan melakukan operasi pemasangan pin pada dada Abi, Terimakasih Dokter Yusuf" ucap Nisa


"Sama-sama" jawab Dokter Yusuf.


Nisa mendorong kursi roda Abi menuju ruang rawat Umi, ia membuka pintu, Umi sudah sadar di temani seorang perawat.


Nisa dan Abi mengucapkan salam dan di jawab perawat dan Umi.


"Saya permisi Dokter Nisa" perawat pamit meninggalkan ruangan.


"Terimakasih banyak, kamu telah menemani Umi saya" ucap Nisa


"Sama-sama Dokter" perawat keluar ruangan dan menutup pintu.


Nisa telah menyiapkan 2 tempat tidur dalam satu kamar VIP untuk Abi dan Umi.


"Sayang, Abi kenapa?" tanya Umi.


"Tak apa sayang, sudah lama tidak bertarung tubuh tua ini terasa remuk semuanya" Abi tersenyum beranjak dari kursi roda dan menaiki tempat tidur yang di sebelah Umi.


"Abi , Umi, Nisa mau ganti pakaian dan sholat isya dulu, di ruangan Nisa"


"Iya, sayang, Umi sudah sholat duduk di bantu perawat.


"Abi?" tanya Nisa


"Sudah tadi ketika kamu merawat Umi." jawab Abi


Nisa meninggalkan ruangan perawatan, ia tidak mau mengganggu istirahat Abi dan Umi, Nisa juga harus beristirahat di kamarnya. Besok Abi harus di operasi.


♥️ Thanks for reading 😊

__ADS_1


😍Terimakasih votenya Cintaku 💓


__ADS_2