Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Fauzan dan Ayesha


__ADS_3

Fauzan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju Villa yang telah mereka sewa untuk beberapa Minggu kedepan sebelum kembali melanjutkan perjalanan berkeliling dunia.


Ayesha duduk manis di samping Fauzan, ia melihat sekeliling.


"Berhenti kak." tangan Ayesha menyentuh tangan Fauzan.


Perlahan Fauzan memarkirkan mobilnya di depan sebuah pesantren.


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Fauzan menatap tajam pada Ayesha.


"Lihatlah, ini adalah pesantren gratis untuk anak-anak yang tidak mampu, Kakak bisa beribadah di sini." Ayesha tersenyum dan bersiap membuka pintu.


Fauzan menarik tangan Ayesha membuat Ayesha menoleh ke arah Fauzan.


"Kenapa?" Ayesha menatap Fauzan.


"Bukankah kamu harus membawa hadiah ketika mengunjungi anak-anak?" Fauzan menatap Ayesha.


"Tentu saja, kakak bisa membelinya." Ayesha membuka pintu dan keluar dari mobil.


"Aku terlalu memanjakan dirinya." Fauzan kembali menjalankan mobilnya menuju supermarket yang tidak jauh dari pesantren.


Ayesha melangkah kakinya dengan pelan membuka pagar kecil di samping gerbang.


Ia berdiri di depan memerhatikan sekeliling, terasa tidak sopan jika ia masuk lebih dalam tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.


Gadis dengan pakaian serba hitam menutupi seluruh tubuhnya yang terlihat hanya dua buah bola mata yang indah berkilau.


Ayesha melihat pintu rumah Abi dan Umi yang terbuka, ia melanjutkan langkah kakinya.


"Assalamualaikum." salam Ayesha di depan pintu.


"Waalaikumsalam, Nisa." Umi berlari dari dapur menuju pintu depan.


"Umi hati - hati!" Abi mengikuti langkah Umi.


"Nisa Bi, itu suara Nisa." Umi melanjutkan langkah cepat kakinya.


"Nisa di Rumah Sakit Mi." ucap Abi lembut.


Umi mematung di depan pintu, ia melihat seorang wanita bercadar dengan mata yang menampilkan senyuman yang tersembunyi di balik cadarnya.


"Nisa." ucap Umi pelan dan Abi memperlihatkan Umi dan tamu yang tidak mereka kenal.


"Assalamualaikum Umi dan Abi, saya Ayesha, hanya mampir untuk bertamu di pesantren." suara lembut Ayesha membuat Air mata Umi menetes tanpa sadar.


Ayesha heran, kenapa wanita di depannya menangis, dengan lembut Ayesha mengusap air mata Umi.


"Kenapa Umi menangis?" tangan lembut Ayesha menyentuh pipi Umi.


"Silahkan Masuk nak." ucap Abi menyadarkan Umi dengan menarik Umi masuk ke rumah.


Wajar jika Umi terkejut dengan tamu di depan pintu, suara yang mirip Nisa dan kelembutan sikapnya begitu mirip dengan Nisa.


Ayesha melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu, kebiasaan yang biasa Nisa lakukan.


Umi dan Abi saling pandang, mereka seakan melihat Putri mereka Nisa yang sedang dirawat di Rumah Sakit.


"Silahkan duduk." Abi mempersilahkan Ayesha.


"Kenapa Umi menangis, apakah sedang sakit?" tanya Ayesha lembut dan kalimat itu membuat Umi semakin merindukan Nisa.


"Ya Allah, Engkau selalu mengirimkan kami malaikat kepada kami berdua." gumam Umi dalam hati.


"Umi hanya sedang merindukan putrinya yang sedang di rawat di Rumah Sakit." Abi mengusap lembut wajah Umi.


"Semoga Putri Anda segera sembuh." ucap Ayesha lembut.


"Terimakasih." Ucap Abi.


"Maaf, apakah Anda pemilik pesantren ini?" tanya Ayesha lembut.


"Iya." jawab Abi.

__ADS_1


Umi memandang Ayesha, wanita yang tetap terlihat cantik dengan sikap dan tutur katanya.


"Apa saya boleh melihat - lihat pesantren?" tanya Ayesha.


"Tentu saja, Umi akan menemani dirimu." Abi tersenyum menatap Umi.


Ayesha tersenyum melihat kemesraan dua insan manusia yang tidak muda lagi di depannya.


"Sayang, temani Ayesha berkeliling." Abi menyentuh pipi Umi.


"Apakah kamu sendirian Sayang?" tanya Umi dengan suara seraknya.


"Tidak, aku bersama saudara laki-laki ku, dia masih berbelanja." ucap Ayesha.


"Baiklah, kalian berdua berkeliling dan Abi kembali ke restoran." Ucap Abi beranjak dari kursi.


"Assalamualaikum." Abi mencium dahi Umi.


"Waalaikumsalam." jawab Ayesha dan Umi bersama.


Ayesha pindah duduk ke samping Umi.


"Apa anda mau memeluk saya?" ucap Ayesha lembut.


Umi terkejut dengan pertanyaan Ayesha, ia bisa menilai wanita di depan bukan orang biasa dengan pakaian branded uang Ayesha pakai.


Itu adalah aturan Fauzan, jika Ayesha mau ikut dengan dirinya Ayesha harus menggunakan pakaian terbaik.


Umi memeluk Ayesha dan kembali menumpahkan air matanya, rindu kepada Nisa dan sedih dengan keadaan Nisa yang dirawat.


"Masya Allah, hatimu sangat lembut nak." Umi menyentuh wajah Ayesha dari balik cadar.


Ayesha mendengar suara mobil berhenti di depan rumah Umi.


"Umi mungkin itu kakak ku." Ayesha menarik tangan Umi berjalan keluar rumah.


Dua mobil telah terparkir di halaman rumah Umi.


Ayesha berjalan menuju mobil Fauzan dan ia tidak perduli dengan pria tampan yang keluar dari mobilnya menatap Ayesha.


Ayesha tersenyum ia memutar tubuhnya dan berjongkok.


"Nama kakak Ayesha dan bukan Nisa." suara lembut Ayesha dan tersenyum melihat Angel.


"Kamu Mama Nisa." Angel menyentuh pipi Ayesha dari balik cadar.


"Bukan Sayang." Ayesha tersenyum dan beranjak dari Angel.


Samuel memperhatikan Ayesha berjalan mendekati Fauzan yang sedang menunggu mobil pengantar barang belanjaan.


Angel terdiam ia memandang bingung kepada Ayesha.


"Tuan Samuel." sapa Umi.


"Halo Umi, Angel sudah kangen dengan teman-teman di pesantren." Samuel tersenyum dan melirik Ayesha.


Ia sangat penasaran dengan wajah di balik kain hitam, suara lembut mirip dengan Nisa.


"Kak kemarilah." Ayesha menarik tangan Fauzan mendekati Umi.


"Assalamualaikum Saya Fauzan Kakak Ayesha." salam Fauzan mendekap tangannya di dada.


"Waalaikumsalam." jawab Umi.


"Kemana kita akan membawa barang-barang ini?"tanya Fauzan.


"Bawakan ke gudang barang dan akan di berikan apa bila sudah sangat dibutuhkan." ucap Umi.


"Baiklah." Fauzan memerintahkan para petugas membawa barang menuju gudang sesuai arahan Umi.


Ayesha berjalan bersama Umi diikuti Angel dan Fauzan berkenalan dengan Samuel membantu membawakan barang - barang ke dalam gudang.


"Kakak, Apa aku boleh melihat wajah Tante?" Angel menarik gamis Ayesha.

__ADS_1


"Boleh tapi tidak sekarang." Jawab Ayesha tersenyum.


"Aku kira kakak adalah Mama Nisa." ucap Angel polos.


"Jangankan Angel, aku saja mengira ia adalah Nisa." Umi berbicara dalam hati.


Ayesha berjalan melintasi kelas - kelas para santri yang sedang belajar.


Ia tersenyum melihat semangat anak-anak mengikuti pelajaran.


Samuel terus memperhatikan Ayesha, berharap kain penutup Ayesha terbuka, ia sangat yakin ada wajah cantik tersembunyi di sana.


Melihat wajah Fauzan yang sangat sempurna, seorang pria saja mengaguminya, apalagi adiknya yang seorang wanita dengan bola mata biru kecoklatan di hiasi bulu mata panjang dan lentik.


Lekukan hidung mancung yang terlihat dari balik cadarnya.


"Ayesha kita harus segera kembali ke Villa, sebentar lagi waktu Zuhur." ucap Fauzan.


"Nak Fauzan, anda bisa sholat di masjid dekat pesantren dan makan siang bersama kami, bagiamana?" tanya Umi berharap.


"Maaf Umi, saya masih harus melanjutkan perjalanan dan melakukan pertemuan, Terimakasih atas tawarannya, kami permisi." ucap Fauzan melirik Ayesha.


"Ayesha pamit Umi, Assalamualaikum." Ayesha mencium tangan Umi dan pamit, ia mengusap kepala Angel dan mengangguk kepada Samuel.


Fauzan membuka pintu mobil untuk Ayesha.


"Kenapa kakak terburu-buru?" tanya Ayesha lembut.


"Ibu Ratu meminta kamu untuk pulang." ucap Fauzan mengendarai mobilnya menuju Villa.


"Kenapa?" tanya Ayesha lagi.


"Mama merindukan dirimu Ayesha, kenapa kamu tidak memikirkan perasaan Mama?" Fauzan melirik Ayesha dan kembali fokus pada jalanan.


Ayesha hanya menunduk diam, ia sangat senang melakukan perjalanan, bertemu dengan banyak orang dan memberikan bantuan.


Ayesha sangat bosan berada di lingkungan elit, orang-orang kaya dan berkelas.


"Ayesha ,kenapa kamu tidak bertingkah seperti seorang putri?" Fauzan bingung dengan jalan pikiran Ayesha.


Ada banyak wanita yang ingin menjalani kehidupan bagaikan seorang Putri, tetapi Ayesha yang benar-benar seorang putri ia lebih sering menjadi gembel di jalanan.


"Aku akan pulang." suara Ayesha lembut menyimpan kesedihan.


"Ah, Kamu selalu begitu." Fauzan bisa memahami suara manja yang terpaksa karena ia tidak mau pulang.


Ayesha tertidur di mobil hingga mereka sampai di Villa mewah yang akan di beli Fauzan jika diperlukan.


Jiwa bisnis yang menggila tetapi ia tidak pernah lupa beribadah dan bersedekah sehingga Allah melipatgandakan keuntungan Fauzan.


Fauzan tidak pernah gagal dalam bisnis apapun.


Pria sempurna yang begitu mencintai, menyayangi dan menghormati kaum hawa.


"Ayesha, bangunlah, apa Kakak harus menggendong kamu?" Fauzan telah membuka pintu untuk Ayesha.


Terdengar adzan Zuhur dari ponsel Fauzan, ia segera menggendong Ayesha menuju villa.


Seorang petugas kemanan membuka pintu untuk Fauzan.


"Aku sudah bangun." suara manja Ayesha.


Fauzan sangat menyayangi dan memanjakan Ayesha.


"Bersihkan dirimu dan sholat, setelah itu Kita makan siang." tegas Fauzan meninggalkan Ayesha di ruang tengah.


Ayesha berlari menaiki tangga menuju kamar miliknya.


"Entah kapan Kakak akan menikah?" Gumam Ayesha.


******


Semoga Suka, Mohon Dukungan rekan semua dengan Like Komentar Vote dan Bintang 5 😘 Terimakasih.

__ADS_1


Baca juga "Arsitek Cantik" dan Nyanyian Takdir Aisyah"


Semoga Kita semua selalu dalam keadaan sehat dan mendapatkan rezeki yang berlimpah Aamiin 😇


__ADS_2