Cinta Untuk Dokter Nisa

Cinta Untuk Dokter Nisa
Curahan Hati Viona


__ADS_3

Setelah solat subuh, Viona telah berpakain rapi dengan celana jeans biru langit, kemeja merah muda dipadankan dengan hijab biru langit dan sepatu kets berwarna biru navi.


Perlahan Viona menuruni anak tangga kamarnya, agar tidak diketahui papa dan mama bahwa ia pergi ke rumah sakit, Viona tidak mau berbohong ketika ditanya alasan pagi – pagi sudah keluar dari rumah.


Seorang sopir telah menunggu Viona di depan pintu dan siap siaga mengantar dan menjaga Viona kemanapun ia pergi sesuai dengan arahan Stevent.


Viona segera masuk ke dalam mobil, yang langsung melaju meninggalkan perkarangan rumah menuju rumah sakit.


Perasaan Viona kacau, ia tidak mencintai Zayn, apalagi sikap Zayn yang memaksakan dirinya menjadi kekasihnya, Viona berharap Stevent akan membantu dirinya.


Papa Alexander telah meminta Viona untuk menerima Zayn menjadi kekasihnya hingga pernikahan berlangsung ketika Viona lulus kuliah.


Mobil Viona telah memasuki tempat parkir, rumah sakit masih terlihat sepi bahkan Matahari belum menampakkan cahayanya. Viona keluar dari mobil ia melihat beberapa petugas kebersihkan sedang bekerja.


“Nona anda terlalu pagi.” Seorang pengawal berdiri di samping Viona.


“Kamu benar, pasti kakak ku sedang bermanja dengan istrinya.” Viona tersenyum.


‘Tidak Nona, biasanya setelah subuh Nyonya Nisa dan Tuan Stevent jalan – jalan di halaman rumah, mungkin sekarang mereka berada di taman belakang rumah sakit.” Pengawal menebak.


“Ah kamu benar, aku akan masuk ke dalam dan menuju taman.” Viona berjalan melewati koridor yang masih sepi.


Seperti biasa Stevent dengan pakai olah raganya melakukan olah raga ringan untuk menjaga kondisi dan bentuk tubuhnya. Berlari keliling taman, push up dan melakukan gerakan yang berfungsi untuk menjaga postur tubuh atletisnya.


Nisa berjalan santai, tersenyum melihat tubuh seksi suaminya yang hanya menggunakan kaos tanpa lengan, celana sebatas lutut.


“Pagi sayang.” Stevent berlari dan berhenti untuk mencium pipi Nisa sekilas dan kembali berlari, setiap ia melewati Nisa ia akan mencium semua bagian dari wajah istrinya.


Sepuluh kali Stevent melewati Nisa, maka ia pun mencium istrinya sebanyak sepuluh kali, Nisa hanya bisa tersenyum dan mengeringkan wajahnya dengan hijab ketika keringat Stevent menempel di wajahnya.


“Sayang apa kamu tidak lelah?” Nisa tersenyum melihat Stevent.


“Tentu saja tidak sayang.” Stevent mencium bibir Nisa sekilas dan ia melakukan pendinginan.


Nisa duduk di kursi, ia memperhatikan setiap gerakan Stevent, dan wajah tampan dengan mata yang tajam.


Dulu pertama bertemu Stevent sangat kasar dan suka memaksa, tetapi kini pria itu sangat lembut, penuh kasih sayang dan sangat mencintai Nisa.


“Kenapa kamu terus menatapku, apa aku sangat tampan dan menggoda?” Stevent berjalan mendekati Nisa.


“Ya, suamiku sangat tampan dan menggoda, lihatlah wajahnya dengan pahatan sempurna dan otot yang seksi.” Nisa mencubit dagu dan perut Stevent.


“Jangan lakukan itu, aku sedang berpuasa.” Stevent memeluk Nisa dan menempelkan hidung mereka berdua.


“Ah, aku harus ganti pakaian lagi.” Nisa melihat keringat Stevent yang telah membasahi hijab dan gamisnya.


“Kamu memiliki banyak baju sayang, jika masih kurang, aku akan memindahkan butik muslimah ke rumah sakit ini.” Stevent tersenyum.


“Jangan lakukan itu, cukup sekali kamu memindahkan restoran ke rumah sakit.” Nisa melingkari tangannya di leher Stevent.


“Jika kamu melarang, aku tidak akan melakukannya.” Stevent mencium bibir Nisa sekilas dan melepaskan pelukannya.


“Anak papa, apa yang kalian lakukan di dalam sana?” Stevent mencium dan meletakan telinganya diperut Nisa.


“Sayang, ada gerakan, ada yang menedang telingaku.” Stevent terkejut.

__ADS_1


“Benarkah, pasti dia laki – laki.” Nisa mengusap kepala Stevent.


“Dia benar – benar berani Sayang.” Stevent mengusap perut Nisa.


“Siapa yang menendang papa?” Stevent berbicara dengan perut Nisa.


“Sayang, apakah tidak bisa melihat jenis kelamin mereka?” tanya Stevent pada Nisa.


“Sepertinya mereka mau memberi kejutan untuk kita berdua sayang.” Nisa mencium dahi Stevent.


“Baiklah, Aku akan sabar menunggu kejutan dari anak kita.” Stevent memeluk Nisa.


“Kak Nisa.” Viona berlari mendekati Nisa dan Stevent.


Stevent melepaskan pelukannya menatap tajam pada Viona yang datang terlalu pagi ke rumah sakit.


“Kenapa kamu datang pagi sekali, apa kamu tidak berolah raga?” Stevent duduk di samping Nisa.


“Aku sudah lari pagi dan juga aku tidak mau Papa dan Mama tahu dengan kepergianku ke rumah sakit.” Viona duduk di samping Nisa.


“Kenapa, kamu tidak boleh keluar rumah sebelum izin papa dan mama.” Nisa menatap Viona yang kebingungan dan melihat Stevent.


“Maaf kak, aku tidak mau mengganggu istirahat Papa dan Mama.” Viona melihat Stevent.


“Tak apa Sayang, aku yang meminta Viona menemani kamu setiap hari di rumah sakit.” Stevent mencium tangan Nisa.


“Aku harus membersihkan diri dan pergi ke kantor.” Stevent membantu Nisa berjalan bersama menuju kamar mereka.


“Kak, ada yang mau aku ceritakan.” Viona berjalan di samping Stevent.


“Di kamar saja, jika kaka punya waktu untuku.” Viona menunduk.


“Baiklah, setelah aku selesai mandi dan ganti pakaian kita berbicara.” Stevent membuka pintu ruangan kamar Nisa.


“Aku mandi dulu Sayang.” Stevent mencium dahi Nisa dan berjalan menuju kamar mandi.


“Kemarilah Viona, kamu terlihat cemas.” Nisa menarik tangan Viona dan duduk di sofa berdampingan.


“Aku berharap kak Stevent dapat menolongku.” Viona tampak sedih.


“Apa kamu tidak mau menceritakan kepada diriku?” Nisa tersenyum.


“Tentu saja, aku lebih senang menceritakan semuanya kepada kak Nisa tetapi aku butuh bantuan dan dukungan Kak Stevent untuk melawan papa.” Viona merebahkan tubunya di sofa.


“Kenapa harus melawan Papa?” Nisa memperhatikan Viona.


“Papa membuat diriku dalam ikatan bisnis.” Viona menatap Nisa.


“Baiklah, kamu tunggu Kak Stevent, kakak ganti pakaian dulu.” Nisa beranjak dari Sofa dan berjalan menuju kamar ganti yang telah ada Stevent, karena Nisa butuh bantuan Stevent membantu ia berganti pakaian.


Stevent dan Nisa keluar bersama dari ruang ganti, mereka melihat kearah Viona yang sedang melamun dan memutar cincin berlian di jari manisnya.


“Siapa yang memberikan cincin itu kepada kamu?” Stevent menatap tajam pada Viona.


“Zayn.” Viona melihat kearah Stevent yang berdiri di depannya dan Nisa telah duduk di samping Viona.

__ADS_1


“Siapa Zayn?” Stevent tidak mau Viona memilih orang yang salah menjadi pendamping hidupnya.


Viona menceritakan semua kejadian waktu makan malam di rumah keluarga Tuan Zayan, dan tentang Zayn yang menjadi Dosen di kampus Viona putra dari Tuan Zayan.


“Dia memaksa diriku menjadi kekasihnya dan papa menyetujui itu.” Viona menunduk.


“Apa kamu menyukai Zayn?” tanya Stevent.


“Tidak, aku tidak menyukainya.” Viona mengepalkan tangannya.


“Kenapa Papa setuju?” Stevent melirik Nisa yang hanya diam mendengarkan dua bersaudara yang sedang berbicara.


“Karena Papa menjalin kerjasama dengan perusahaan Zayn.” Viona menggenggam tangan Nisa.


"Kak, Aku mohon bantu aku menjauh dari Zayn." Viona terlihat sedih.


“Aku akan menyelidikinya, jika kamu mau membuka cincin itu, pergilah ke toko emas langganan mama.” Stevent berjalan mendekati Nisa.


"Terimakasih kak." Viona tersenyum.


“Sayang, aku pergi ke Kantor.” Stevent memeluk dan mencium dahi Nisa.


“Hati – hati Sayang.” Nisa memeluk suaminya.


“Anak Papa Sayang, Papa pergi bekerja dulu.” Stevent mengusap dan mencium perut Nisa.


“Tetaplah bersama Nisa, jangan pergi kemanapun!” Stevent mengusap kepala Viona yang tersenyum senang dan mengangguk.


"Tenanglah, Kakak kamu pasti akan membantu dirimu." Nisa tersenyum dan memeluk Viona.


"Terimakasih kak, kamu selalu memberikan keterangan untuk diriku." Viona membalas pelukan Nisa.


Stevent meninggalkan Nisa dan Viona, ia berjalan menuju mobil sport hitam miliknya yang berada di tempat parkir.


Stevent menggubungi Jhonny untuk menyelidiki perusahan Papa Alexander dan perusahaan Zayan, serta mengirim mata – mata untuk mengawasi pergerakan Papa Alexander.


Rumah Sakit tempat Nisa dirawat telah dijaga ketat oleh anak buah Stevent dan banyak mata – mata yang selalu siap sedia menjaga Nisa dan Viona.


Hari kelahiran anak mereka semakin dekat, Stevent harus meningkatkan keamanan dan kewaspadaan, ada banyak oarng jahat yang menginginkan anak dan istrinya untuk balas dendam dan menghancurkan Stevent.


Istri dan Anaknya adalah kekuatan dan kelemahan Stevent dalam menjalani kehidupan dan menghadapi musuh – musuhnya.


Nayla dan Lola adalah wanita gila yang harus diwaspadai Stevent dan Papa Alexander yang berencana mengambil Anak mereka dan mau mencelakai Nisa.


Semakin hari Stevent semakin tidak ingin jauh dari Nisa, ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Nisa dan anaknya.


***Baca juga Novel baru Author***


(Cari : AnnaLee di aplikasi Joy lada)


Mohon dukungnnya berikan like, Komentar, bintang 5 dan Vote. Terimakasih


Baca juga Novelku “Arsitek Cantik”


Novel Kakakku “Nyanyian Takdir Aisyah dan Cinta Bersemi di Ujung Musim.” (Fitri Rahayu), Terimakasih.

__ADS_1


Semoga kita semua dalam keadaan sehat dan selalu mendapatkan perlindunganNya, Aamiin.


__ADS_2